
Anya terbangun dari tidurnya karna mendengar pintu kamarnya diketok-ketok.
"Anya ,kenapa pintunya dikunci?" suara Kak Rey memanggil Anya sambil mengetok pintu.
"Ya Tuhan ,aku lupa pintunya kan aku kunci semalam."
Buru-buru wanita itu membuka pintunya ,karna Kak Rey pasti akan segera mandi dan bersiap ke kantor.
"Maaf Kak Rey," Anya mengembangkan senyumnya seakan tak punya dosa. Kak Rey hanya mendengus kesal.
"Kau tidurnya seperti kerbau tau gak ,aku dari tadi mengetok-ngetok pintu sampai tanganku pegal. Lain kali tidak perlu kau kunci ,barangku kan disini semua."
Lelaki itu terus memarahi Anya tanpa henti sambil berjalan kearah lemari mengambil setelan baju untuk ke kantor.
Anya hanya diam mendengar ocehan lelaki itu ,dilihatnya dengan saksama wajahnya yang sedang marah sangat berkarismatik.
Kak Rey menyadari sedari tadi bahwa Anya memandangnya tanpa henti. "Kenapa kau memandangku terus?" tanyanya yang kini berdiri tepat dihadapan Anya.
Wanita itu memundurkan sedikit badannya ,bagai terhipnotis melihat wajah lelaki itu yang memang rupawan persis didepan matanya.
"Hey.. kenapa melamun?" Lelaki itu mengibaskan tangannya diwajah Anya.
"Ah.. tidak-tidak," jawab Anya dengan cepat.
"Dasar aneh." Kak Rey langsung berjalan keluar kamar. Seperti biasa ,dia akan mandi di kamar sebelah.
Aku bisa-bisa hampir gila ,jika harus terus satu atap dengannya. Melihatnya setiap hari , berbicara dengannya ,makan bersama ,dan semuanya. Jangan sampai aku jatuh ha----. Aaaa...tidak-tidak ,tidak boleh Anya. Dia punya Calista (dalam hati Anya)
Disaat Anya sedang merenungi nasib kehidupannya sendiri ,dia mendengar bunyi bel Apartemen berbunyi , pertanda ada yang bertamu.
Bi Nah yang mendengar langsung lari membukakan pintu. Sedangkan Anya yang memang sudah tak tahan lagi kebelet buang air kecil akhirnya masuk kedalam kamar mandi ,sebelum ia menyapa siapa orang yang bertamu pagi-pagi sekali. Didalam kamar mandi ,Anya pun berpikir. Siapa yang bertamu? tidak mungkin Papa dan Mama. Kalau tidak mereka ,berarti?
"Bunda ,Ayah....." Anya memanggil Bunda dan Ayahnya yang kini sedang duduk di ruang tamu.
"Sayangnya Bunda.." Anya dan Bunda pun berpelukan ,meluapkan rasa rindu yang begitu meluap-luap.
"Om Tante apa kabar?," Reyhan yang baru saja keluar dari kamar sebelah setelah selesai mandi pun langsung menghampiri orang tua Anya.
"Eh ganteng ,kenapa masih manggil Om dan Tante sih ,kan sekarang kamu sudah jadi anak Bunda juga," Bunda pun tanpa aba-aba mencubit lengan Kak Rey ,membuat lelaki itu pun mengaduh kesakitan.
Bunda memang orangnya ramah banget dan suka sok kenal gitu ,hehe. Dulu waktu Bunda ketemu Radit pun ,Bunda suka peluk-peluk dia kaya anak sendiri.
"Hehe ,iya Ayah Bunda ,maaf ya tadi Reyhan baru selesai mandi" jawab Reyhan masih agak kikuk.
"Tunggu deh ,kamu mandi di kamar itu?" tanya Ayah.
"Iya Ayah ," jawab Reyhan dengan polosnya. Lelaki itu tidak paham apa maksud dari pertanyaan Ayah.
"Ayah tadi lihat Anya keluar dari kamar ini ,lalu kau keluar dari kamar yang sebelah itu? Apa dikamar ini tidak ada kamar mandinya?"
Reyhan pun baru tersadar apa maksud Ayah.
"Oh iya Ayah ,tadi kamar mandinya lagi aku pakai ,jadi Kak Rey mandi dikamar mandi sebelah ,kan Kak Rey buru-buru mau berangkat ke kantor," jawab Anya dengan santainya.
"Aduh .. Ayah ini bagaimana ,masalah kamar mandi aja dipermasalahkan ,kan terserah mereka mau mandi di kamar mandi yang mana ,yang penting kan gak mandi di kamar mandi tetangga ," Bunda pun tertawa dan Anya pun ikut tertawa ,melihat Bunda bisa sekocak ini.
Mereka bertiga pun sarapan bersama. Ayah merasa bahwa semua ini seperti ada yang janggal.
"Rey ,kau kan belum sempat mengenal Anya lebih jauh sebelum menikah ,lalu kesan kamu apa setelah menikah dengan Anya ,apa anak Ayah itu pernah menyusahkanmu?" tanya Ayah dengan rasa penasaran.
Reyhan memberanikan diri menatap Ayah ,walau sebenarnya ia takut ,apa yang ia jawab nanti tidak sesuai harapan Ayah. Karna jujur ia belum terlalu mengenal Anya.
"Tidak pernah menyusahkan kok Yah ,Anya bisa memposisikan diri sebagai istri dan ibu yang baik untuk Qila," jawab Reyhan dengan senyuman yang lebar.
"Syukurlah kalau begitu ,kalau dia menyusahkanmu ,hukum saja dia Rey. Bunda juga kadang sebal sama dia kalau dibilangin suka gak mau nurut," Bunda ikut menimpali.
Memang dasar wanita itu keras kepala (dalam hati Rey)
**
Kondisi Anya memang sudah fit kembali ,setelah kemarin ia sakit karna kelelahan. Tapi karna orang tua Anya berkunjung ke Apartemen ,jadi Anya tidak berangkat ke Butik.
Anya dan Bunda saat ini sedang duduk berdua dipinggir kolam renang. Sedangkan Ayah sibuk menonton tv ,acara kesukaannya.
"Reyhan itu lebih tampan ya dari Radit dan juga kelihatan lebih dewasa ,Bunda suka," Anya mengernyit heran melihat Bunda berkata seperti itu.
"Ya jelas lebih dewasa Bun ,kan umur Kak Reyhan lebih tua darinya. Bunda suka apanya?" tanya Anya dengan sedikit menggeser tubuhnya kesamping ,agar leluasa melihat wajah Bunda.
"Hmm... suka semuanya. Anaknya itu baik , ganteng , perhatian ,lembut ,duh... emang menantu idaman Bunda banget. Gak nyesel deh Bunda sudah menyetujui kamu menikah dengan Reyhan," Bunda mengembangkan senyumannya.
Pada waktu itu ,saat Anya menangis terisak di Bandara. Ayah dan Bunda menghampirinya ,Anya mengirimkan pesan bahwa Radit akan terbang ke Singapore dan Anya akan menuju ke Bandara dengan harap Anya bisa mencegahnya.
Anya saat itu sedang berada di Butik ,dengan segera ia menuju Bandara. Namun Radit tetap kekeh dengan keinginannya ke Singapore.
"Sayang ,sudah sudah ,Nak. Jangan menangisi lelaki seperti dia." Bunda menghampiri Anya dan memeluknya. Tak kuasa saat putri satu-satunya menangis seperti ini. Kesedihan putrinya juga kesedihannya juga. Bahkan lebih menyakitkan bagi Bunda.
Ayah ,Bunda dan Anya pun mendatangi rumah Radit. Meminta penjelasan atas semua kekacauan yang diciptakan oleh Radit.
"Sebelumnya kami meminta maaf atas kelakuan putra kami ,yang sudah---" Papa mencoba meminta maaf kepada orang tua Anya ,namun perkataannya langsung dipotong oleh Ayah.
"Saya tidak mau basa-basi ,persiapan pernikahan sudah hampir selesai ,tidak mungkin dibatalkan ,sanak saudara kami sudah mengetahui tentang pernikahan putri kami," suara Ayah melemah ,Ayah merasa malu dan juga merasa buang waktu akan semua persiapan pernikahan ini.
"Kami sudah menyayangi Anya seperti anak kami sendiri ,kami ingin Anya tetap menjadi menantu kami. Kalau tidak keberatan ,bagaimana kalau Anya menikah dengan putra sulung kami ,kakaknya Radit namanya Reyhan."
Ayah pun langsung berdiri. "Apa-apaan ini ,memangnya putri kami ini barang ,bisa main oper sana-sini. Tidak-tidak ,tidak bisa."
"Ayah... sudah ,sudah. Kau ini memalukan saja." Bunda pun menyuruh Ayah untuk duduk kembali. "Maaf ,memangnya kakaknya Radit belum menikah?" tanya Bunda pelan.
"Belum mbak ,nanti malam kalau diperbolehkan kami ingin berkunjung ke rumah. Untuk memperkenalkan anak saya yang bernama Reyhan."
"Baiklah ,kami tunggu," jawab Bunda dengan tenang.
.
.
.