
Peresmian perusahaan yang dibangun atas kerja kerasnya sendiri, membuat Radit bangga. Setidaknya papanya tidak akan selalu membanggakan kakaknya saja. Dia bahkan bisa mendirikan sebuah perusahaan yang terbilang cukup singkat. Sudah sejak lama dia berkerja sekeras mungkin untuk mewujudkan impian itu, tanpa orang tuanya tahu juga tanpa Anya tahu. Dulu dia sudah berdiri sendiri dengan kakinya yang kokoh. Mencari beberapa investor yang mau membantu dirinya. Hingga hari itu datang, dimana dia akan menerima penawaran terbaik dari investor asing dan tanpa berpikir dua kali meninggalkan calon istrinya. Menggagalkan pernikahan yang sangat dia harapan sejak dulu. Meninggalkan seorang wanita yang sangat dia cintai.
Menyesal. Satu kata yang tidak mungkin bisa merubah segalanya. Hanya kata 'ikhlas' yang kini menjadi kekuatan baginya.
Perusahaan yang dibangun Radit bisa dikatakan lebih besar dan maju dari milik kakaknya sendiri. Dia tidak berniat menyaingi perusahaan kakaknya, apa yang dia dapatkan hari ini sungguh diluar ekspektasi. Bahkan bisa dibilang dia menjadi pengusaha termuda yang berhasil memiliki perusahaan terbesar di kotanya.
Lee, sahabat terbaiknya yang kini menjadi asisten pribadinya menghampiri dirinya yang sedang duduk bersantai disebuah kursi dengan ditemani beberapa rekan kerjanya.
"Ikutlah denganku, aku punya kejutan untukmu," bisiknya pada telinga bosnya itu.
Radit berpamitan kepada rekan kerjanya untuk mengikuti arah jalan Lee. "Ada apa? Apa kau ingin mengerjaiku?"
Lee berhenti tepat didepan seorang wanita dengan dress berwarna purple yang melekat ditubuh indahnya.
"Kenalin, dia Sheryl sepupuku," ucapnya seraya menyenggol bahu Radit untuk menyalami Sheryl.
Dia menatap Lee dengan bingung, hingga gadis itu yang akhirnya mengulurkan tangannya. "Kenalin, aku Sheryl. Senang bertemu denganmu Tuan Radit."
Bibirnya yang indah menarik senyumannya hingga terlihat sangat manis. Matanya yang teduh membuat Radit terpesona akan keindahan matanya itu.
"Aku membawa sepupuku kemari. Dia baru saja menyelesaikan kuliahnya di Jepang."
Radit diam saja, bahkan sejak tadi dia tidak mengeluarkan suaranya. Lagi-lagi Lee menyenggol lengan sahabatnya.
"Lee, aku akan ke toilet sebentar. Permisi, Tuan."
"Sheryl Clarinta ...." Radit mendekat pada wanita itu yang menghentikan langkahnya saat namanya disebut. Lee dibuat terkejut akan Radit yang ternyata mengenali sepupunya.
"Kau ...." Sheryl tercengang. Dia tidak menyangka bahwa Radit akan mengenalinya.
"Seorang gadis yang pernah mengirimkan aku surat cinta pada jaman SMA dulu. Kau gadis tidak tahu malu itu, kan?" Pipi Sheryl merah, dia sangat malu saat hal konyol yang pernah dia lakukan teringat jelas diingatan pria itu.
"A-aku ... aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Kau salah orang!" bantahnya.
"Aku masih mengingat jelas semuanya," kata Radit yakin.
***
Beberapa bulan yang lalu, Calista melangsungkan pernikahannya bersama Ramon di Prancis.
Sebuah gaun indah yang dirancang khusus untuknya membuat penampilan wanita yang sebentar lagi akan menjadi Nyonya Ramon. Pernikahan yang digelar di Prancis itu dihadiri oleh beberapa sanak keluarga saja. Nyonya Nathalie tak melunturkan senyumannya saat melihat putrinya yang begitu cantik sedang bersanding dengan calon suaminya.
Prosesi pernikahan secara agama yang mereka lakukan berjalan dengan lancar. Mereka semua ikut terharu menyaksikan serangkaian proses pernikahan yang menguras air mata. Bagian yang paling menyayat adalah saat kedua mempelai meminta restu kepada orang tua masing-masing. Calista yang tidak bisa menahan harunya terjatuh lama dalam pelukan sang Mama.
"Dulu, sekarang atau nanti. Kamu tetap putri Mama yang cantik. Status istri yang sekarang melekat di diri kamu, semoga akan bisa membawa kamu menjadi seseorang yang lebih baik lagi dan memahami kehidupan dan percintaan yang sebenarnya," kata Mama.
"Papa minta maaf sama kamu, Calista. Semoga kamu dan suamimu selalu bahagia" ucap Papa seraya meneteskan air mata tulusnya.
"Papa ...." Calista memeluk erat Papa yang telah memberikan seluruh cinta kepadanya. Papa tidak pernah kasar, hanya beliau sangat tegas.
***
Satu tahun kemudian. Seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir dua terlihat duduk manis disebuah bangku kecil. Matanya yang bulat tak hentinya memandangi sebuah kue yang membuatnya sangat penasaran. Dengan sesekali kepalanya menengok kearah kanan dan kiri. Dia nampaknya sedang menunggu kedatangan seseorang.
"Qilla sayang, kenapa duduk disini sendirian? Bukannya Mamih sudah menyuruhmu untuk menunggu didalam kamar?"
"Mamih terlalu sibuk dengan baby Gavin. Qilla merasa kesepian," ucap Qilla dengan cemberut. Reyhan merasa gemas dengan jawaban putrinya.
"Baiklah. Papih akan menemanimu disini."
Hari ini perayaan ulang tahun Gavin yang pertama. Sebenarnya Anya tidak suka jika dibuat acara perayaan seperti ini. Tapi ini semua atas permintaan dari Mama mertua.
"Gavin ... cucu Omah. Sini sayang, gendong Omah ya. Iya sayang." Mama sangat bahagia sekali saat mendapatkan cucu laki-laki. Cucunya sekarang lengkap ada perempuan juga laki-laki.
Perayaan ulang tahun Gavin hanya dihadiri para anak-anak tetangga juga orang tua dari Anya dan Reyhan. Acaranya tidak besar, hanya ada acara tiup lilin, potong kue juga makan nasi tumpeng bersama. Juga Anya menyiapkan bingkisan untuk para anak-anak saat mereka pulang.
"Bee, bantu aku potong kuenya. Kenapa kamu lihat kearah pintu terus. Tamu kita sudah datang semua."
"Ah iya-iya." Reyhan memang sedari tadi tidak fokus.
Saat anak dari para tetangga sudah seluruhnya pulang. Bi Nah dan Mbak Ratna sibuk untuk merapikan ruangan. Anya juga terlihat sibuk menenangkan Gavin yang mulai rewel. Qilla asyik bermain dengan Nenek dan Omahnya.
Dan tiba-tiba bel rumah berbunyi. Reyhan yang tidak melakukan tugas apa pun bergerak ke depan untuk membuka pintu.
"Radit ...." Reyhan tidak menyangka bahwa adiknya akan datang ke rumah. Dia memang sengaja mengundangnya ke acara ulang tahun Gavin, tapi dia kira adiknya tidak akan datang.
"Kak, maaf aku terlambat. Apa acaranya sudah selesai?" Radit menengok kearah dalam yang terlihat sepi.
"Iya baru saja selesai. Masuklah." Reyhan mengajak adiknya untuk masuk. Walaupun dirinya sudah lama tidak bertemu Radit, tapi Reyhan berusaha membuat suasana menjadi hangat. Meskipun kecanggungan masih sangat dirasakan oleh mereka berdua.
"Tunggu, Kak. Aku lagi nunggu seseorang. Dia sebentar lagi akan kemari."
Reyhan melongok kearah depan. "Siapa?"
Sebuah taxi terlihat berhenti di depan rumah. Seorang wanita keluar dengan anggunnya dari dalam taxi. Radit menghampiri wanita itu yang terlihat kebingungan.
"Kak, kenalin ini Sheryl. Dia calon istriku," ucapnya setelah membawa Sheryl kehadapan kakaknya. Reyhan menyambut hangat kedatangan Sheryl. Dia mengajak mereka untuk masuk kedalam.
Reyhan mengajak Radit untuk menjauh sebentar setelah menyuruh Sheryl menunggu di ruang tamu.
"Ada apa, Kak?" Radit menatap kakaknya yang sangat dia sayangi itu. Sebagai seorang adik dirinya sering merasa iri terhadapnya, padahal apa yang telah kakaknya capai ya karna kerja kerasnya sendiri.
"Kakak bangga kepadamu, Radit. Setelah apa yang sudah terjadi, kau belajar menjadi pria yang lebih dewasa dan bertanggung jawab. Kakak minta maaf jika pernah membuatmu terluka." Reyhan berbicara sangat serius. Tanpa sadar bahwa ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka.
"Tidak usah berlebihan, Kak. Aku bukan anak kecil lagi," kata Radit sambil memutar bola matanya jengah.
"Baiklah. Kamu sudah dewasa," ucapnya sambil menepuk punggung adiknya. Radit secara tiba-tiba memeluk Reyhan. Dia merindukan sosok kakaknya yang tegas namun sangat penyayang.
Saat Reyhan dan Radit kembali ke ruang tamu, ternyata semua orang sudah berkumpul disana. Ayah, Bunda, Papa, Mama dan juga Qilla sudah duduk bersama sambil saling mengobrol. Terlihat Sheryl yang sudah gampang akrab dengan keluarga dari Reyhan.
Sejak peresmian perusahaan Radit disini, dia memutuskan untuk tinggal sendiri. Dia membeli sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari kantor. Jadi itu sebabnya dia jarang bertemu keluarganya.
"Radit ... Mama sangat merindukanmu," ucap Mama seraya memeluk putranya yang kedua.
"Radit juga sangat merindukan Mama," balasnya kemudian.
Reyhan ingin memanggil Anya tapi ternyata sang istri sedang berjalan kearahnya.
"Gavin ... apa itu Gavin?" Radit melepaskan pelukan dan menatap Anya yang sedang berjalan mendekat. Terlihat Anya sedang menggendong Gavin.
"Iya itu Gavin, dia keponakanmu yang kedua."
Rasanya Radit ingin sekali menggendong keponakannya itu, tapi dia takut jika Anya tidak mengijinkannya. Saat manik mata mereka berdua bertemu, tidak ada lagi cinta yang terpancar di mata mereka. Rasanya biasa saja, bahkan Radit tidak merasakan debaran yang sangat saat berhadapan dengan Anya. Wanita yang dulu sangat dia cintai.
"Apa kau ingin menggendong Gavin?" tawar Anya yang membuat seluruh orang kaget atas perkataan Anya, tak terkecuali Reyhan.
"Apa boleh?" Radit menjawab dengan takut-takut, bahkan dia menoleh kearah kakaknya terlebih dahulu. Reyhan mengangguk yang artinya mengijinkan.
Anya perlahan memberikan Gavin untuk Radit gendong. Gavin terlihat tenang saat Radit menggendongnya. Biasanya baby Gavin akan menangis jika disentuh oleh orang yang tidak biasa menyentuhnya, tapi kali ini baby Gavin diam.
***END***
TERIMA KASIH PARA READERSKU TERSAYANG ...
SUDAH STAY SELAMA INI DENGAN PUTRIE ...
Mungkin cerita ini sangatlah singkat, tapi semoga ada beberapa pesan yang bisa kita ambil dari cerita ini...
Versi aku ya...
*Jika kalian sudah memutuskan untuk membangun sebuah pernikahan, artinya kalian tidak boleh main-main dengan ikatan sakral itu dan apa yang sudah Anya lakukan adalah benar. Dia dari awal sudah berniat untuk tetap mempertahankan pernikahannya, walaupun tanpa cinta awalnya dan akhirnya dia bisa meluluhkan hati Reyhan yang keras.
Bersatunya Anya dan Reyhan memang sudah digariskan oleh sebuah takdir. Coba deh kalian bayangkan jika Anya dengan Radit menikah? Dua-duanya sama berambisi dengan karirnya. Anya yang baru saja membuka butiknya juga Radit yang ingin memiliki perusahaan sendiri. Bisa jadi setelah menikah, mereka akan sibuk dengan dunia masing-masing.
Dan jika bersama Reyhan. Reyhan yang notabenenya sudah memiliki seorang anak, itu membuat Anya harus siap menjadi seorang ibu yang harus selalu memperhatikan putrinya. Itu membuat Anya rela meninggalkan karirnya.
Banyak pesan yang dapat kita ambil. Dari Calista yang umurnya sudah matang tapi belum memikirkan pernikahan bahkan terlalu fokus dengan karirnya. Juga Radit yang terlalu gampang membuat sebuah keputusan,dll.
Bye Bye ...
Di tunggu ya, part bonusnya. Hehhe
I LOVE YOU SO MUCH