
Beberapa bulan kemudian. Langit yang mendung menandakan akan turunnya hujan. Petir yang bersahut-sahutan membuat keadaan semakin mencekam dan menakutkan. Ini masih pagi hari, tapi bukannya menyambut pagi yang cerah namun pagi ini sebuah keluarga kecil harus menghadapi situasi menegangkan. Seorang istri yang telah hamil besar, pagi itu mengalami kontraksi yang hebat dan mengharuskan untuk segera dibawa ke rumah sakit.
Suami yang siap siaga bahkan melupakan dirinya yang belum mandi atau pun sekedar mengganti pakaiannya yang lebih layak. Dia dengan tergesa pergi ke rumah sakit dengan masih mengenakan piyama tidur. Bukan lagi tatapan aneh dari para dokter maupun perawat yang melihat penampilannya, juga para pengunjung rumah sakit yang tertawa sembunyi-sembunyi.
Pria itu menyadari bahwa hari ini, dia terlihat sangat aneh. Tapi untuk kali ini dia tidak mau menghiraukannya. Dia bersikap masa bodo. Hanya keadaan istrinya yang sangat ia cemaskan. Seorang dokter yang sedang menangani istrinya tidak mengijinkan dia untuk ikut masuk. Entah peraturan yang berlaku sejak kapan, bahwa suami tidak boleh menemani istrinya yang akan melahirkan.
"Reyhan ...." Suara wanita paruh baya dengan wajah sangat cemas menghampiri dirinya yang sedang gelisah.
"Bunda...." Bunda Anya setelah mendapat kabar bahwa putrinya akan segera melahirkan, segera bergegas ke rumah sakit bersama Ayah. "Dimana Anya?" tanyanya dengan wajah panik.
"Ada di dalam, Bu."
Mereka bertiga akhirnya duduk. Berdoa didalam hati masing-masing untuk keselamatan Anya. Terakhir USG waktu itu, dokter mengatakan bahwa anak mereka berjenis kelamin laki-laki. Reyhan bahagia sekali jika sebentar lagi dia akan memiliki satu jagoan setelah sudah ada Qilla sebagai putri kecil mereka.
Sebuah nama sudah disiapkan untuk putra mereka. Hasil dari perundingan mereka berdua. Juga beberapa perlengkapan baju bayi atau pun perlengkapan lainnya yang sudah mereka beli beberapa bulan lalu. Si kecil Qilla juga tidak sabar untuk melihat adik kecilnya. Setiap hari dia mengelus perut Anya yang semakin besar juga menciuminya setiap waktu. Dia bahkan berjanji akan selalu mengajaknya bermain juga mau menjaganya sebagai seorang kakak yang baik.
Setelah Reyhan melewati masa ngidam Anya yang aneh-aneh. Hari ini dia akhirnya bisa bernapas lega, bahwa perjuangan juga kesabaran dia menuruti kemauan Anya atau pun keinginannya bisa berbuah manis juga.
Kebahagiaan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya bahkan selama hidupnya. Pria itu akhirnya bisa melihat wajah jagoan kecilnya. Matanya, bibirnya bahkan hidungnya sangat mirip dengannya.
"Reyhan kecil ...." Mama dan Papa yang baru saja datang menyambut cucu mereka dengan senyuman merekah.
Reyhan menggenggam erat jemari istrinya yang masih terlihat lemah. Memberikan kecupan hangat pada tangan istrinya juga dahinya. "Terima kasih. Terima kasih telah mau mengandung dan melahirkan seorang putra untuk keluarga kecil kita. Semoga aku dan kamu bisa menjadi orang tua yang baik. Dan aku akan selalu menjadi pelindung untukmu dan anak-anak kita."
Kata-kata Reyhan membuat Anya menitikkan air mata. Walaupun saat melahirkan tadi dia tidak didampingi suaminya namun kekuatan doa dari suami juga keluarganya membuat dirinya semangat untuk menghadapi itu semua.
Operasi yang berjalan sempurna, membuat mereka semua tersenyum bahagia bahkan sampai meneteskan air mata. Air mata kebahagiaan. Ketakutan, kecemasan hingga kegelisahan yang wanita itu rasakan tak berarti apa-apa setelah melihat wajah putra mungilnya.
"Anya ... selamat ya sayang. Kamu sudah jadi seorang ibu sekarang. Bunda selalu mendoakan yang terbaik untuk keluargamu," ucap sang Bunda tulus.
"Bunda ... maafin Anya, kalau selama ini sering membuat Bunda kesal. Sekarang Anya tahu, bahwa melahirkan itu sangat sakit. Maafin Anya, Bun."
Keduanya saling berpelukan menumpahkan kesedihan juga kebahagiaan bersamaan. Reyhan juga memeluk Mama yang telah melahirkannya. Mengucapkan beribu maaf juga terima kasih untuk pengorbanan dan kasih sayangnya selama ini.
Disisi lain, Papa yang sedang menerima telfon diluar ruangan juga meneteskan air matanya.
"Anya sudah melahirkan. Anaknya berjenis kelamin laki-laki," ucapnya dengan suara bergetar.
"Syukurlah, Pa. Keponakanku bertambah satu," ucapnya dari seseorang disebrang telfon.
"Kapan kau akan pulang, Radit?"
"Jika Papa masih marah denganku, aku tidak akan pulang."
"Papa tidak pernah marah denganmu. Papa hanya mau kamu berpikir bahwa apa yang kamu lakukan itu salah, Radit."
"Iya Pa. Radit akan pulang nanti," ucap Radit.
"Iya Reyhan kecil," ucap Papa menyetujui.
"Apakah kalian sudah menyiapkan sebuah nama untuk Reyhan kecil?"
Anya dan Reyhan tersenyum, saat Papa dan Mama menyebutnya dengan panggilan Reyhan kecil. "Aku dan Anya sudah menyiapkan sebuah nama untuk jagoan kecil kita."
"Siapa namanya?" tanya Mama penasaran.
***
"Mamih, adik Gavin apa sudah bobo?" Qilla yang masih belum juga tertidur mendatangi kamar kedua orang tuanya. Sejak kelahiran adiknya, Qilla menjadi sangat manja. Dia seperti takut akan kehilangan perhatian dari Anya dan Reyhan. Padahal mereka berdua tidak pernah lupa untuk memperhatikan Qilla juga.
"Sudah sayang. Kenapa Qilla belum bobo?" Anya menggendong Qilla dan mendudukkannya diatas ranjang. Membelai rambut putrinya yang sudah panjang dengan sangat lembut.
"Qilla mau tidur disini," rengeknya.
"Ya sudah. Ayo kita tidur," ajak Reyhan dan melingkarkan tangannya untuk memeluk Qilla yang berada ditengah.
"Papih, Mamih, apa Qilla boleh selamanya tidur disini bareng Papih dan Mamih?"
Mereka berdua saling menatap, bukan ingin menolaknya namun mereka cukup heran dengan keinginan putri kecil mereka. "Memangnya kenapa dengan kamar Qilla? Apa kamar Qilla kurang nyaman?"
Mata kecilnya bergantian memandang Papih dan Mamihnya. Bibirnya sedikit dia manyunkan seperti merasa sebal. "Adik Gavin saja bisa tidur disini, kenapa Qilla tidak bisa?"
Anya mengulum senyumnya setelah paham dengan perkataan putrinya. "Qilla cemburu dengan adik Gavin?"
Reyhan menciumi pipi Qilla dengan gemasnya. Juga Anya yang memeluk putrinya dengan erat. Mereka hanya ingin Qilla tahu bahwa kasih sayang mereka tidak akan pudar sampai kapan pun.
Anya memberi penjelasan untuk putrinya. Bahwa mereka tidak akan melupakan Qilla atau bahkan mengurangi rasa perhatiannya. Mereka akan sangat adil membagi waktu dan juga Qilla harus mengerti bahwa Gavin masih kecil, adiknya masih butuh perhatian dari semuanya. Bahkan Qilla harus mengerti, bahwa saat Qilla masih kecil pun diperlakukan sama seperti itu.
Setelah mendengar penjelasan dari Mamihnya, Qilla segera turun dari ranjang dengan dibantu Anya. Gadis kecil itu menghampiri Gavin yang sedang tertidur pulas disebuah box bayi berukuran besar. Tangannya yang mungilnya menyentuh sedikit jari jemari Gavin yang terbuka. Bahkan dia sedikit menggenggamnya dalam waktu yang cukup lama, itu membuat Anya tersenyum haru.
.
.
.
.
.
.
.