
Keadaan pun menjadi serasa canggung tatkala Reyhan melepaskan ciumannya. Pandangan mereka saling bertemu. Saling menatap satu sama lain. Dalam hati Anya ,ia bingung dengan sikap suaminya itu. Apa alasan tiba-tiba menciumnya. Sorot matanya tak terbaca.
Reyhan mengendurkan pelukannya. Ia melangkah mundur. Lelaki itu merasa bersalah ,ia takut Anya menjadi tidak nyaman dengan sikapnya. Melihat Anya yang hanya bisa diam mematung ,ia tambah bersalah.
"A-nya... maaf," ucapnya pelan dengan sedikit terbata. Ia mengatakan maaf saat berbalik badan untuk menghindari tatapan Anya.
Anya tak menjawab ,ia langsung melangkah keluar kamar. Wanita itu berjalan ke arah kamar mandi yang berada di dapur. Ia jadikan cermin untuk melihat betapa merahnya muka Anya sekarang. Namun rasa takut lebih mendominasi dari dalam dirinya.
Ia takut ,kejadian ini akan menambah sulitnya mengontrol perasaannya terhadap Reyhan. Sedangkan nanti saat Calista kembali ,ia harus siap menghadapi yang akan terjadi. Reyhan lelaki normal ,mungkin hari ini ia tak bisa mengontrol nafsunya. Anya berpikir demikian. Walaupun ia merasa sakit jika kenyataannya begitu ,namun ia tak pernah menyesal. Mereka suami istri jadi sah-sah saja.
Hari ini mereka berdua meninggalkan Villa. Namun tidak sesuai rencana akan berangkat pukul 9 pagi ,mereka baru jalan sekitar pukul 11. Tak ada percakapan diantara mereka didalam mobil. Anya mungkin sudah terbiasa akan suasana yang demikian.
Namun Reyhan yang sedari tadi merasa gelisah. Ia bingung harus minta maaf lagi-kah kepada Anya atas perlakuannya tadi pagi? Atau pura-pura saja tidak terjadi apa-apa. Tapi melihat wanita itu yang diam saja ,Reyhan menjadi lebih bersalah. Ia takut ,wanita itu akan membencinya.
Apa dia merasa jijik denganku? Atau bahkan benci? Atau merasa-----. Reyhan tidak bisa menghentikan pikiran-pikiran buruknya terhadap Anya.
"Kak Rey...Awassss" tiba-tiba Anya berteriak. Reyhan yang pikirannya sedang kacau ,tidak menyadari ada seekor ayam yang melintas didepan.
Tubuh mereka terguncang ke depan karna Rey menginjak remnya dengan sangat mendadak. "Ya Tuhan ,untung saja" ucap Rey.
"Anya.. kau tidak apa-apa?" Reyhan menoleh ke arah Anya ,memastikan wanita itu baik-baik saja.
"Tidak apa-apa kok Kak ,cuma kaget," jawabnya sambil mengelus dada.
"Ayam gak ada akhlaq emang," sebal Kak Rey.
"Kenapa nyalahin ayamnya? Kakak aja yang gak fokus menyetir," bela Anya.
Reyhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia jadi salah tingkah ,memang benar ia sedang tidak fokus. Dari pada Reyhan semakin gelisah ,ia bergerak menepikan mobil.
"Kenapa berhenti ,Kak?" Anya pun bertanya.
"Ada yang ingin aku katakan."
"Iya ,apa?" Mereka saling memandang.
"Aku minta maaf soal tadi dan----"
"Lupakan." Anya langsung memotong perkataan Rey. Ia menduga Reyhan akan berkata demikian. "Itu kan yang mau Kakak omongin?"
"Bu---- ,baiklah terserah." Reyhan pun segera melajukan mobilnya kembali. Ia ingin membantah ,tapi ya sudahlah. Reyhan tidak mau memperpanjangnya.
Sebenarnya Anya tidak ingin membahas itu kembali ,ia tak ingin mendengar penjelasan apapun dari Reyhan. Takut jika itu menyakitkan bagi dirinya.
**
Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam ,Anya sudah terlelap setelah makan malam. Mereka tiba di Apartemen sekitar sore hari. Reyhan menutup laptopnya , setelah mengecek semua email yang dikirimkan Doni.
Reyhan pun merasa lelah dan mengantuk. Ia lantas tidur disebelah Anya. Iya ,lelaki itu memilih tidur satu kamar dengan Anya dan dalam ranjang yang sama. Kebetulan Anya tidur lebih menepi kesisi kiri ,jadi terdapat sisi kanan yang masih kosong.
Dengan pelan-pelan Reyhan menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang ,berharap tidak membangunkan Anya. Reyhan merasa kedinginan ,namun hampir semua selimutnya membalut tubuh Anya.
Ia ragu-ragu untuk menariknya ,berharap ia mendapatkan sedikit saja jatah selimut untuk menutup tubuhnya yang merasa dingin. Pelan... pelan.. Reyhan menarik selimutnya ,mencoba berbagi.
Kak Rey ,kenapa dia tidur disini? Aku tidak sedang mimpi kan? (dalam hati Anya)
Dengan kesadaran yang masih setengah ,ia berusaha bangun dan beranjak duduk. Harus memastikan bahwa yang berada disebelahnya adalah Reyhan-suaminya.
Anya berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia tatap lekat-lekat wajah suaminya ,bagai mimpi bisa menikah dengan Reyhan. Lelaki yang tak pernah ia liat selama berhubungan dengan Radit. Seorang kakak yang misterius.
Saat sedang memandangi wajah Reyhan. Anya melihat tubuh Reyhan seperti meringkuk. Seperti orang yang sedang kedinginan. Dengan rasa peduli ,ia menarik selimutnya dan membalutkan ke tubuh suaminya. Lalu Anya pun berusaha tidur kembali walaupun sulit. Karna adanya sosok Reyhan disampingnya.
Hari pun berganti pagi. Pasangan suami istri itu masih terbaring bersama berdua. Tak ada pergerakan diantara mereka. Sampai Bi Nah harus turun tangan membangunkan majikannya. Takut jika mereka ternyata kesiangan ,dan sebagai pembantu tentu itu akan menjadi sebuah masalah.
Tok.. Tok... Tok..
"Tuan , Nyonya ? Sarapan sudah siap," teriak Bi Nah dari balik pintu.
Sampai ketokan yang ketiga kali ,baru ada sahutan dari dalam.
"Iya Bi ," Anya menyaut dengan suaranya yang masih lemas. Ia masih merasa lelah dan mengantuk. Dengan tubuh yang sempoyongan ,Anya turun dari ranjang. Ia berusaha menjangkau tembok untuk menjaga keseimbangannya.
Anya merembet dari tembok ke tembok untuk sampai ke kamar mandi. Ia harus segera mandi ,karna sudah berapa hari tidak berkunjung ke Butik. Asistennya tentu kewalahan mengerjakan semuanya sendiri.
Saat Anya sedang mandi ,Reyhan pun baru terbangun. Ia menyadari Anya tidak ada disebelahnya. Saat melihat pintu kamar mandi yang tertutup , pertanyaan Reyhan pun terjawab.
"Jam setengah 8? lumayan siang," Reyhan merenggangkan otot-ototnya sebentar. Lelaki itu berjalan ke tepi jendela. Sekedar ingin menghirup udara segar. Rasa malas menjalar ditubuhnya. Ia tidak bersemangat hari ini. Reyhan masih merasa lelah.
Ceklek..
Pintu kamar mandi terbuka. Anya terlihat keluar dengan menggunakan handuk bermodel kimono. Anya tidak menyadari suaminya berada di tepi jendela. Karna ia tak melihat ke arah samping kanan.
Anya duduk didepan meja rias. Ia mulai merias diri. Melihat ranjang sudah kosong ,pastilah Reyhan sudah keluar kamar. Saat Anya mulai membuka kimono untuk memakai pakaian ,ia melihat bayangan orang dari pantulan cermin berdiri dibelakangnya.
Handuknya belum terlepas semua. Hanya bagian talinya sudah dibuka. Dan menampakkan tubuh bagian depannya terekspos bebas didepan cermin. Tentu saja orang yang dibelakangnya bisa melihatnya.
"Tidak usah di ikat kembali. Aku kan suamimu ,aku berhak atas semuanya," perkataanya menghentikan Anya yang ingin mengikat kembali kimononya.
Anya berbalik dan berkata. "Lalu apa maumu?" tantang Anya.
.
.
.
.
.
.
Selamat membaca ya... jadwalnya malem ya...