Temporary Wife

Temporary Wife
Mengatakan Cinta?



Anya mendengar sayup-sayup orang yang sedang bertengkar di luar. Ia segera letakkan gelas yang baru saja diambilnya dan berjalan keluar.


"Kau jahat ,Reyhan!"


Plak !


Anya melihat Calista menampar suaminya.


"Kau ?" Calista menunjuk wajah Anya dengan segala amarahnya. Wanita anggun itu sudah mengetahui bahwa Reyhan telah menikahi wanita itu.


"Aku sepertinya sudah berbicara baik-baik kepadamu ,Calista. Aku minta kau pulanglah sekarang."


"Tidak ! Aku tidak mau!." Calista menghalau cairan bening yang ingin menetes di pipinya. Ia tak mau terlihat lemah dihadapan mereka. "Aku tidak mau berpisah denganmu Rey ,aku mohon." Calista yang tadinya tegar ,tiba-tiba menumpahkan air mata yang mengalir deras dipipinya. Wanita itu sangat terpukul saat Reyhan memutuskannya begitu saja dan yang lebih menyakitkan ternyata Reyhan sudah menikah.


"Anya ,masuklah.." Reyhan menyuruh Anya untuk meninggalkan mereka berdua. Dalam hatinya Anya tidak mau ,namun melihat tatapan Reyhan yang menakutkan Anya tidak punya pilihan.


"Pulanglah Calista ,aku tidak ingin berdebat. Hubungan kita sampai disini." Calista mengangkat kepalanya yang semula menunduk ,ia raih dagu Reyhan dan mencoba untuk menjangkau bibirnya ,bibirnya yang selalu memanjakannya dulu. Nyaris saja bibirnya yang sexy menyentuh bibir Reyhan ,namun dengan cepat Reyhan menghindar. Lelaki itu tidak mau terhanyut dalam suasana.


"Ini terakhir kalinya ,aku memintamu untuk pulang. Tolong jangan kemari lagi ,karna ada Qilla."


Calista menghapus seluruh air matanya ,ia sedikit menyunggingkan senyumannya.


"Tenanglah Darling ,aku akan menunggumu sampai kau menceraikannnya," ucapnya sambil membelai lembut pipi Reyhan. Reyhan mengerjab ,pasti Calista tau sesuatu tentang pernikahannya dengan Anya.


Reyhan menarik tangan Calista ,meminta penjelasan akan maksud ucapannya tadi.


"Kenapa ? Apa kau merasa tertarik dengan ucapanku barusan atau kau masih tertarik denganku?" Calista tersenyum penuh kemenangan. Ia letakkan kedua tangannya dipundak Reyhan ,perlahan turun kebawah menyentuh dada bidangnya. Lagi-lagi Reyhan menepis tangan Calista yang dengan lancangnya menyentuh tubuhnya.


"Jaga perilakumu ,aku sudah beristri," ucap Reyhan dengan tegas.


"Istri sementara bukan? Sampai adikmu nanti kembali." Calista lagi-lagi tersenyum. Ia seperti melupakan adegan dramatisnya tadi yang menangis penuh air mata. Calista berhasil membuat Reyhan tidak bisa berkata apapun. Lelaki itu terdiam membisu.


Calista membalikkan badannya dan melangkah pergi. Tak lupa ia memberikan kecupan jauhnya dengan menempelkan telapak tangannya ke bibir dan melepaskannya.


"Aku akan kembali pada pelukanmu," teriak Calista dari kejauhan.


Diam-diam Anya menguping pembicaraan Reyhan dan Calista dibalik pintu. Hatinya sungguh sesak. Bahkan Calista tau tentang pernikahannya dengan Reyhan yang berdiri tanpa cinta.


"Anya..." Reyhan melihat Anya yang berlari menuju kamar.


Brakkhh...


Anya menutup pintunya dengan keras. Untung saja jarak kamarnya dengan Qilla lumayan jauh. Perlahan Reyhan mengetok kamarnya ,karna ternyata pintunya dikunci.


"Anya.. buka pintunya," Reyhan terduduk dilantai. Lelaki itu merasa tidak berdaya sebagai seorang suami. Dari awal bahkan dia tidak menempatkan dirinya sebagai suami yang baik ,walaupun pernikahan mereka karna terpaksa. Tapi pernikahan ini bukanlah untuk ajang main-main. Reyhan sudah tidak memiliki perasaan apapun dengan Calista.


Dulu Reyhan merasa khawatir saat Anya belum pulang dari Butik ,Reyhan merasa khawatir saat ia jatuh sakit ,Reyhan juga merasa sangat khawatir waktu Anya hilang di kebun ,rasa khawatirnya sama seperti dirinya mengkhawatirkan saat Qilla terbaring di rumah sakit. Dan saat ini hatinya sakit saat Anya tidak membukakan pintu untuknya ,hal yang sangat sepele tp entah mengapa begitu sakit seperti ini ,suami mana yang tahan jika berjauhan dengan istrinya.


"Anya.. tolong buka pintunya. Kau tidak mungkin membiarkan Kakak tidur diluar kan? Kau tahu sendiri kamar sebelah sudah ditempati Mbak Ratna. Kau tidak mungkin membiarkan Qilla tau kalau kita se--"


Belum selesai Reyhan berbicara ,Anya sudah membukakan pintunya. Reyhan lega ,setidaknya dia tidak kedinginan tidur di luar. Anya merebahkan tubuhnya diatas ranjang ,menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Reyhan berjalan mendekat , menyibak selimut yang menutupi wajah istrinya.


"Kau menangis?" Reyhan menahan tangan Anya yang ingin menarik selimutnya kembali. "Apa yang kau tangisi?"


Anya berusaha menatap suaminya , matanya yang terlihat sembab membuat dada Reyhan merasa sakit. Kesakitan terdalam adalah melihat wanita itu menangis. Reyhan baru menyadarinya ,bahwa membuat wanita menangis itu mudah sekali bahkan tanpa ia sadari sendiri.


"Apa kau akan meninggalkanku?" lirihnya hingga Reyhan menundukan kepalanya lebih mendekat untuk mendengar suara istrinya.


"Meninggalkanmu?" Anya mengangguk. "Kau berpikir ,aku akan meninggalkanmu?" Anya mengangguk kembali. "Itu tidak akan pernah terjadi," ucapnya serius. Anya menatapnya dengan ragu-ragu.


"Tatap mataku ,apa terdapat kebohongan disana?" Reyhan mendudukkan tubuhnya disamping istrinya yang berbaring ,ia meraih jari jemarinya yang tersembunyi didalam selimut. "Anya ,aku tahu pernikahan kita tidak dilandasi cinta ,namun ijinkan aku untuk menjadi suami yang baik untukmu dan ayah yang baik juga untuk Qilla. Aku ingin mempertahankan pernikahan ini."


Mata Anya berkaca-baca bukan karna pernyataan yang baru saja terucap dari mulut Reyhan , tapi ekspektasinya yang sudah berangan bahwa Reyhan akan mengatakan cinta untuknya. Reyhan hanya ingin mempertahankan pernikahan ini ,bukan karna dia sudah jatuh cinta kepada Anya.


Tes.


Air mata Anya jatuh ,namun pandangannya tak beralih kemana pun ,masih tetap memandang suaminya. Reyhan ,kakak dari Radit. Entah takdir yang baik atau buruk ,ia harus menikah dengannya. Ia jadi membayangkan jika saat ini suaminya adalah Radit ,apa pernikahan mereka akan bahagia? Tidak merasakan sakit seperti ini.


"Anya ,kumohon jangan menangis. Aku hanya ingin kita berdua bisa membangun rumah tangga yang harmonis."


"Tanpa cinta?" batin Anya. Ingin rasanya kata-kata itu keluar dari mulutnya ,namun hanya bisa ia tahan didalam hatinya.


"Kapan Radit kembali?" Reyhan berhenti mengusap air mata Anya yang jatuh di pipi. Tangannya tiba-tiba melemah saat Anya menanyakan Radit.


Mata Reyhan memerah ,seperti menahan tangis atau amarahnya. Sepertinya dua-duanya. Jantungnya seperti berhenti berdetak ,rasanya nyeri sekali. Reyhan beranjak berdiri walaupun tubuhnya seperti rapuh ,tak mampu berdiri.


"Kau masih menginginkannya?" air mata Reyhan menetes dari sudut matanya. Menandakan ia sangat terluka. Anya terkesiap melihat Reyhan menangis. Ia bangun dari posisi berbaringnya.


Reyhan membuka kasar kemeja kantornya dan berjalan menuju kamar mandi. Air menjadi pelampiasannya ,ia duduk dibawah shower dan mulai mengguyur seluruh badannya. Tanpa membuka celana yang masih melekat di badannya. Reyhan menangis ,lelaki itu menangis bersama air yang mengucur dari shower.


Anya mendadak cemas ,karna sudah 1 jam berlalu ,Reyhan tak kunjung keluar dari kamar mandi. Anya masih terbayang bagaimana tadi Reyhan meneteskan air mata ,apa dia juga merasakan sakit?


"Aku tidak menginginkannya lagi. Aku mencintaimu sekarang." (batin Anya)


.


.


.


.


.


.


.