
Setelah kepulangan Mama, sepasang suami istri itu terlihat menjadi canggung satu sama lain. Anya sebenarnya merasa kesal karna Calista sepertinya tidak menyerah untuk mendapatkan suaminya kembali. Juga Reyhan yang merasa bahwa istrinya saat ini sedang mendiamkannya.
"Sayang ..."
Setelah keheningan cukup terjadi pada keduanya, kini sang suami perlahan membuka pembicaraan. Kepala Anya bergerak menoleh ke arah suaminya. Reyhan tersenyum, dia meraih jari jemarinya untuk digenggam.
"Percayalah, hatiku sekarang cuma milik kamu," ujarnya penuh keyakinan.
Anya menatapnya dalam-dalam. Sebenarnya dia tidak ragu akan perasaan Reyhan terhadapnya tapi sepertinya akan banyak duri yang mewarnai perjalanan kisah cinta mereka.
"Aku mengantuk Bee ..."
Anya membaringkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Reyhan. Suaminya mendengus kesal, sang istri melupakan sesuatu. Janji yang telah diikrarkan.
"Apa kau melupakan sesuatu sayang ?"
"Tidak."
"Sungguh tidak ?"
"Iya."
"Baiklah." Reyhan juga membaringkan tubuhnya dan membelakangi istrinya juga. Dia merasa kesal karna istrinya ternyata tidak mengingat hal itu.
Tanpa dia sadari tawa istrinya sedang menggema di dalam hati. Tentu Anya ingat bahwa Reyhan menyuruhnya untuk lembur malam ini.
"Aku mengingatnya Bee ..."
Tangannya memeluk Reyhan dari belakang. Menggesekkan wajahnya pada punggung Reyhan membuat lelaki itu merasa kegelian. Perlahan senyumannya mengembang, melihat tingkah laku istrinya yang menggemaskan.
"Kau menginginkannya ?"
"Kau yang menginginkannya ?"
Mereka saling lempar pertanyaan. Dengan satu gerakan Reyhan membalikkan tubuhnya. Mereka kini saling berhadap-hadapan. "Apa kau sudah tidak sabar ?"
"Kau yang sudah tidak sabar ?"
Suami istri itu saling menertawakan satu sama lain. Dibelai lembut rambut istrinya yang hitam lurus, dikecup keningnya dengan penuh perasaan.
Walaupun tubuh istrinya tertutup oleh setelan piyama yang panjang, namun lekuk tubuhnya bisa dia lihat dengan mata telanjang. Dia memang bertubuh mungil tapi berisi.
Satu persatu kancing piyama istrinya dia lepas. Menampakkan bra yang berwarna hitam. Melihat kedua dadanya yang indah dibalut bra yang pas untuk ukurannya menambah kesan sexy dimatanya. Baru melihat buah dadanya saja, Reyhan sudah menelan salivanya berkali-kali. Padahal dirinya sudah sering melihat tubuh polos istrinya namun tidak ada kata bosan. Bahkan bertambah hari tubuh istrinya semakin membuatnya tergoda.
Setelah baju piyamanya terlepas, perlahan tali bra yang menggantung dia turunkan sampai ke siku. Pundaknya kini telanjang bebas walau bra masih menempel di buah dadanya yang berisi. Bibir yang sedari tadi menggodanya untuk segera dicumbunya, dengan gejolak ***** yang membara Reyhan ********** pelan. Menyusupkan lidahnya disela-sela rongga mulut istrinya. Reyhan memang bukan seorang lelaki yang pandai berciuman namun dirinya pandai membuat Anya terbuai mengikuti arah permainannya.
Perlakuan Reyhan yang lembut membuat istrinya nyaman. Ciuman yang semakin dalam dan juga lama tidak membuat keduanya berhenti begitu saja. Ada banyak perasaan yang mereka keluarkan saat berciuman. Rasa sayang, cinta, takut kehilangan dan juga rasa ingin memiliki selamanya. Tertuang dalam satu perpaduan yang menciptakan kenyamanan bersama. Anya melingkarkan tangannya pada leher sang suami, saat bibir suaminya perlahan turun di lehernya. Membuatnya mengeluh merasa nikmat juga geli dalam waktu bersamaan.
Bra yang tadinya masih menempel, kini sudah tergeletak dengan bebasnya diatas lantai. Reyhan terkadang merasa bingung, mengapa dada dari seorang perempuan bisa membuatnya mabuk. Bahkan itu hanya gundukan daging yang kenyal dengan sebuah biji kismis yang warnanya agak cerah. Itu adalah bagian favoritnya, walaupun yang membuatnya hampir melayang adalah bagian tubuh istrinya yang berada dibawah perut.
Diturunkanlah celana piyama yang istrinya pakai. Juga menampakkan ****** ***** yang warnanya senada dengan branya. Dengan satu gerakan persatuan antara tubuhnya dan tubuh istrinya pun terkunci. Anya mencengkram erat bahu suaminya seraya memejamkan matanya. Dia tidak bisa berkata apapun, hanya bisa berteriak dalam hati atas kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Sayang ..." Reyhan memanggilnya dengan suara penuh *****. Dia tidak bisa menghentikkan permainan hingga Anya menambah kekuatan pada cengkraman tangannya di bahu suaminya.
Tangan Reyhan tidak dibiarkan menganggur begitu saja, tentu dengan penuh inisiatifnya dia memainkan buah dada istrinya dengan lembut. Beberapa kali meninggalkan tanda cinta disana. Reyhan tidak meninggalkan tanda cintanya pada leher istrinya, dia tidak mau jika Anya merasa tidak nyaman saat esok pagi.
Hingga hampir tengah malam permainan mereka berdua belum berakhir. Reyhan benar-benar membuat istrinya lembur, dia terus saja membuat Anya merasa terbang di atas awan bersamanya.
Setelah mereka berdua saling puas, baru Reyhan merebahkan tubuhnya disamping istrinya. Tubuh Anya dipenuhi keringat begitupun Reyhan. Anya yang kelelahan langsung tertidur saja, tapi Reyhan masih membuka matanya lebar-lebar. Tubuh istrinya yang polos dia balutkan selimut. Dia melingkarkan tangannya yang besar diatas tubuh istrinya yang mungil.
CUP.
Dia mengecup kening istrinya dengan penuh cinta. Wajah istrinya yang manis tidak bosan untuk ditatapnya. Dia masih tidak menyangka bahwa pernikahan mereka yang dulunya tidak didasari cinta, kini bahkan Reyhan merasakan cinta yang begitu besar. Lebih besar dari perasaan pada Calista dulu. Rasanya bukan hanya ingin sekedar memiliki, namun ingin selalu menjaganya seumur hidup.
Tapi tiba-tiba bayangan wajah adiknya muncul di pikirannya. Walaupun adiknya terkadang menyebalkan, tapi secara tidak langsung dia telah merebut apa yang dia sukai. Walaupun dirinya tahu bahwa apa yang dilakukan adiknya salah. Radit telah memutuskan sebuah pilihan yang salah. Tidak memikirkan dampak yang dia putuskan sendiri. Selalu menganggap enteng suatu permasalahan.
Dia terlalu percaya diri bahwa wanita yang dicintainya pasti akan kembali padanya. Tidak berfikir kalau perasaan bisa saja berubah. Apa jadinya nanti jika tahu wanita yang dicintainya malah kini sudah mencintai kakaknya sendiri.
"Radit, maafkan kakak," batinnya.
Setelah sekian lama merenung, Reyhan pun terlelap bersama istrinya yang sudah lebih dulu berada di alam mimpi.
***
Hari-hari pun berlalu. Rumah tangga Reyhan dan Anya pun tenang tanpa gangguan dari Calista lagi. Sudah satu bulan ini wanita cantik itu tidak menemui suaminya lagi. Walaupun dia tahu bahwa Calista masih berada di negara ini.
"Mamih ... Lihat ini cantik, kan ?"
Boneka barbie dengan rambut pirang terlihat cantik dengan gaun pesta yang indah. Beberapa hari yang lalu Qilla merengek untuk dibelikan boneka barbie karna tidak sengaja melihat di televisi. Tanpa sepengetahuan putri kecilnya, Reyhan membelikan satu set boneka barbie dengan beberapa pasang baju yang beraneka ragam.
"Cantik banget, sayang."
Qilla terlihat sangat bahagia bermain dengan boneka barbienya. Dia berkali-kali mengganti baju barbienya dengan pilihan lain. Seharian ini Qilla bermain dengan Anya, sedangkan Mbak Ratna dia suruh untuk membantu Bi Nah di dapur.
.
.
.
Selamat beraktifitas...
.
.