Temporary Wife

Temporary Wife
Putriku Tersayang



Tangannya yang gemulai mencoba untuk membuat sebuah kepangan yang indah pada rambut putrinya. Satu persatu rambut disusun dan silang dengan rapi menjadi satu kesatuan yang indah. Dia belajar mengepang rambut dari sang ibu. Waktu Anya kecil, dia sering kali meminta untuk rambutnya dikepang. Anya kecil akan terus bercermin saat rambutnya selesai dikepang, dia menyukai hasil kepangan dari ibunya yang menambah kesan cantik untuk wajahnya yang manis.


Apa yang ibunya lakukan padanya dulu, dia praktekan juga kepada Qilla. Gadis kecil itu nampak bersemangat saat Anya mulai bermain dengan rambutnya. Wanita itu sesekali melirik Reyhan yang duduk tidak jauh dari tempatnya. Dia terlihat sibuk dengan laptopnya, padahal hari ini weekend.


"Sudah selesai," ujarnya membuat sang putri membalikkan tubuhnya. Tangannya yang mungil meraba-raba rambutnya.


"Qilla mau lihat dicermin," gadis itu sangat tidak sabar untuk melihat rambutnya. Anya memberikan cermin kecil untuk putrinya.


"Bagaimana, apa Qilla suka ?" Gadis itu mengangguk. Pandangannya beralih pada Papihnya.


"Pih, lihat rambut Qilla. Bagus, kan ?" Reyhan tersenyum dan mengangguk.


Anya beranjak mendekati Reyhan, wanita itu berbisik. "Bee ... Kita ajak Qilla ke taman hiburan, yuk."


Qilla yang sedang asyik menggambar tidak melihat kedekatan Mamihnya dan Papihnya yang dengan mesra sedang berdekatan, tapi pemandangan itu tidak lolos untuk Mbak Ratna yang tersenyum-senyum sendiri melihat kedua majikan dengan posisi dekat seperti itu.


Reyhan menjawab dengan berbisik juga. "Oke sayang, tapi nanti malam kau harus lembur," ucapnya dengan senyum menyeringai. Wajahnya memerah saat mendengar permintaan dari suaminya. Dia segera menghampiri Qila.


"Qila sayang, mau jalan-jalan gak ?"


Gadis itu saat mendengar kata jalan-jalan langsung meletakkan pensil warnanya dan menegakkan tubuhnya, tanpa mengeluarkan suara, gadis itu langsung mengguncangkan tubuhnya dan kepalanya mengangguk. Qila terlihat senang, matanya berbinar-binar.


"Aku sama Kak Rey mau bawa Qila pergi dulu ya, Mbak. Mbak Ratna bisa istirahat saja di kamar," wanita dengan setelan baju baby sitter pun mengangguk. Dia juga merasa bahagia melihat keluarga majikannya bisa harmonis.


"Iya Nyonya, selamat bersenang-senang ya, Nyonya."


.


.


.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mereka bertiga akhirnya sampai juga di Taman Hiburan. Banyak pengunjung yang didominasi oleh anak-anak juga remaja. Wajah mereka terlihat ceria semua. Bahkan tidak ada rasa beban di wajah mereka walaupun harus mengantri panjang bak ular untuk menaiki satu wahana yang mereka sukai.


Anya ingat, dia terakhir ke tempat seperti ini adalah saat dulu. Saat dirinya diajak Radit ke tempat ini, wanita itu tidak memungkiri jika memang kenangan dengan Radit sangatlah banyak. Tidak bisa dihilangkan begitu saja, semuanya tersimpan rapi di memorinya. Yang harus dia lakukan adalah menganggap itu semua adalah sebagai takdir Tuhan, dengan caranya mempertemukannya dengan Radit terlebih dahulu lalu dibuat sakit hati dan akhirnya bahagia dengan Reyhan.


Tatapannya beralih pada suaminya yang sedang menggendong Qila, dia berkali-kali berucap syukur atas takdir indah ini.


"Kenapa memandangku seperti itu ?"


Anya menggeleng. Dia kembali melihat wahana-wahana yang tersedia di taman hiburan ini. Ada Roller Coaster yang sangat memacu adrenalin, wahana ini sangat cocok untuk orang-orang yang pemberani, jujur saja Anya tidak berani menaiki ini. Juga ada wahana Komedi Putar, Bianglala, Bumper Car, Sky Swinger, dan lain-lain.


Karna mereka mengajak Qila, tentu akan mencari wahana yang bisa dinaiki oleh anak seusianya. Pilihan jatuh pada wahana Bianglala. Bianglala berbentuk lingkaran besar yang pada tiang-tiangnya ada kereta gantung. Karna mereka membeli tiket VIP jadi bisa langsung naik tanpa harus mengantri panjang. Saat naik kereta gantung, mereka bisa melihat pemandangan sekitar atau bahkan seluruh kota dari atas ketinggian.


"Mih, Qila takut ..." Gadis itu mulai ketakutan saat kereta gantungnya mulai bergerak keatas.


"Tenang sayang, tidak apa-apa. Pemandangannya sangat bagus kalau dari atas."


Anya mendekap Qila dengan erat, menyalurkan ketenangan pada putrinya.


"Mih ... Qila mau naik kuda."


Selesai turun dari bianglala, Qila menunjuk wahana komedi putar. Dengan langkah semangatnya Qila menarik-narik baju yang dikenakan Anya. Reyhan hanya mengikuti dari belakang. Saat mereka berdua akan naik komedi putar, Reyhan berjalan menjauh dari mereka. Anya menarik tangan suaminya.


"Bee ... Mau kemana ? Ayo naik."


"Aku naik ini ? Bagaimana mungkin, ini khusus anak kecil."


"Gak apa-apa mumpung sepi. Ayo temenin Qila juga."


"Tidak, Tidak mau."


"Pih ... Ayo ..." Qila membantu Mamihnya menarik Reyhan. Dia merasa sangat malu jika harus menaiki komedi putar ini.


"Aku naik yang mana ?"


"Naik kuda, Pih."


Qila menunjuk kuda yang kosong. Sedangkan Anya duduk manis disebuah mobil yang hanya muat diduduki oleh satu orang dewasa. Reyhan tidak punya pilihan lain, dia pun menurut saja. Anya cekikikan, dia melihat suaminya yang nampak tidak nyaman. Tapi dirinya senang sudah mengerjai suaminya yang cuek itu.


"Apa kau mau lagi, Bee ..." bisiknya. Reyhan hanya menatap sebal pada istrinya.


"Kita makan siang dulu ya, sayang."


Di sebuah restoran kecil yang terdapat di taman hiburan ini mereka mendudukkan tubuhnya di salah satu meja yang hanya terdapat 4 kursi yang mengelilinginya.


Saat sedang asyik menyantap makanan, ada sebuah pesan masuk ke ponsel Anya. Wanita itu meraih ponselnya yang sengaja ia letakan diatas meja.


"Siapa ?" Reyhan merasa penasaran saat ada pesan masuk di ponsel istrinya.


"Mama ke apartemen."


"Omah, Mih ?" Qila langsung menangkap maksud Anya.


Baru saja Mbak Ratna memberitahu bahwa Mama ke apartemen. Anya pun segera membalas pesan dari Ratna bahwa mereka sebentar lagi akan pulang.


"Iya sayang, habis makan kita pulang ya."


Qila mengangguk. Gadis itu tidak sabar untuk bertemu dengan omahnya.


"Bee ... Kira-kira ada apa ya mama ke apartemen ?"


"Mama ke apartemen kok ada apa. Ya pasti mama kangen sama kita."


"Iya bukan gitu maksud aku. Aku takut mama akan bahas itu lagi."


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sayang. Mama sangat sayang denganmu, dia pasti sudah memaafkan kita berdua."


Reyhan berusaha menenangkan perasaan Anya yang dibalut kecemasan. "Ayo masuk ..." Reyhan menyuruh Anya segera masuk mobil yang sebelumnya sudah ada Qila yang sudah masuk duluan.


Sesampainya di apartemen, Mama yang sudah sejak tadi menunggu menyambut baik kedatangan cucunya yang menggemaskan. Wanita paruh baya itu menciumi wajah Qila bertubi-tubi.


Anya masih berdiri ditempat, rasanya sangat canggung setelah kejadian waktu itu. Papa dan Mama terlihat kecewa dengan mereka berdua.


"Kalian habis kemana ?"


"Ke taman hiburan, Ma."


Kali ini Anya memberanikan diri untuk menjawab. Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan mertuanya.


.


.


.


.


Selamat membaca ya para readers..


Maaf kalau up.nya lama... hehehe