Temporary Wife

Temporary Wife
Rumah Mertua



Di rumah yang tak lagi asing bagi Anya ,wanita itu perlahan menginjakkan kakinya diatas lantai yang berkeramik putih dengan corak abstrak. Reyhan yang sudah lama sekali tidak berkunjung ke rumah orang tuanya ,tentu sangat canggung saat memasuki rumah itu. Rumah yang ditempati kedua orang tuanya juga adiknya Radit. Reyhan sejak kuliah sudah memutuskan untuk hidup mandiri dengan tinggal di Apartemen.


Mama yang memang masih khawatir dengan keadaan Qila ,mengajak mereka untuk sementara waktu tinggal di rumah. Walaupun Anya ikut andil menjaga Qila ,namun bukankah lebih aman jika tinggal di rumah. Di rumah, Qila bisa main diluar dengan bebasnya ,bisa berlarian karna ada halaman yang luas. Tentu anak si kecil Qila sangat suka kebebasan. Tidak terus di Apartemen yang sempit.


"Opa...." Qila menghampiri Opanya yang sedang duduk didepan teras. Lembaran koran yang menutupi seluruh wajahnya. Lelaki paruh baya itu melipat korannya dan menyambut uluran tangan sang cucu yang sudah bersiap memeluknya.


"Papa tidak ke kantor hari ini?" tanya Reyhan ,ia menghentikkan langkahnya didepan Papa. Koper yang ia bawa langsung diambil alih oleh pembantu yang menyambut kedatangan sang majikan.


"Tidak ,Papa sengaja ingin menyambut kedatangan cucu papa dan menantu papa," ucap Papa dengan tersenyum ke arah Anya. Anya pun membalas senyuman papa mertuanya. Senyuman yang tak pernah berubah dari dulu saat ia masih dengan Radit hingga kini ia menikah dengan Reyhan.


Langkah mereka masuk kedalam rumah ,saat Mama mengajak untuk beristirahat. Kamar yang dulu pernah dipakai Reyhan ,terlihat rapi dan bersih. Bahkan letak perabotan di kamarnya pun masih sama persis seperti dulu ,tidak ada yang berubah. Yang berubah hanyalah sprei yang berubah menjadi motif bunga. Padahal Reyhan lebih menyukai sprei yang tanpa motif.


Anya mendudukkan tubuhnya diatas ranjang ,matanya menangkap sebuah pigura kecil yang berada diatas nakas. Foto masa kecil Reyhan dan Radit ,dengan Reyhan yang merangkul Radit dengan rasa sayangnya sebagai kakak. Mereka berdua tersenyum lebar ,walaupun badan mereka penuh dengan lumpur tanah. Anya ikut tersenyum saat melihat keakraban mereka berdua.


Sebentar lagi jam makan siang tiba ,Anya sebagai seorang istri tentu tidak seharusnya bersantai didalam kamar. Meskipun badannya lelah karna dua hari menjaga Qila di rumah sakit ,namun ia paksakan untuk ke dapur. Sekedar membantu para pembantu dalam menyiapkan makan siang.


"Anya, kamu mau kemana?" tanya Mama saat berpapasan dengan Anya.


"Mau ke dapur ,Ma" Anya melihat Mama sedang memegang nampan berisikan dua cangkir minuman.


"Ya sudah ,Mama mau kedepan dulu nganterin minuman buat Papa sama Reyhan"


"Biar Anya saja Ma," ucapnya cepat sebelum Mama melangkah jalan.


"Hmm ya sudah ,Mama mau nemenin Qila di kamar."


Dengan hati-hati Anya membawa minuman itu ke teras. Tepat Papa mertuanya dan suaminya sedang mengobrol ringan.


"Anya ,kamu tidak istirahat?" tanya Papa saat Anya menaruh cangkir ke atas meja. Anya melirik ke arah Reyhan sekilas ,lalu beralih ke Papa.


"Tidak Pa ,sebentar lagi jam makan siang. Anya mau ke dapur bantu-bantu bibi masak," jawabnya lalu berpamitan kedalam.


Mata Reyhan tak lepas memandang wajah Anya yang sedikit pucat. Ia menyadari bahwa wanita itu pasti sangat lelah ,namun dipaksakan untuk beraktivitas.


"Sebentar ya Pa ,Reyhan ingin ke toilet"


Reyhan tidak benar-benar ke toilet ,lelaki itu menuju dapur. Mencari seseorang yang benar saja berada di dapur. Beberapa kali Reyhan melihat Anya menggerakan kepalanya , seperti orang yang terlihat lelah.


"Anya..."


Anya mendengar suara yang tak asing memanggilnya dengan jarak yang cukup dekat. Anya mengangkat kepalanya dan mencari sumber suara. Entah sejak kapan lelaki yang sekarang menjadi suaminya itu berada di dapur. Matanya menatap Anya dengan perasaan tak bisa ditebak. Anya meletakkan pisau yang sedang ia genggam. Ia menghampiri suaminya.


"Iya ,ada apa Kak Rey?" jawabnya dengan bingung. Bukankah tadi sedang di teras bersama Papa? Kenapa lelaki itu malah ke dapur?


"Kau ikut aku sebentar," katanya dan langsung berbalik arah. Anya pun mengikuti dari belakang. Dalam hatinya bertanya-tanya ,apa Anya membuat kesalahan?


"Masuklah" katanya singkat sambil membuka pintu kamar dengan lebar.


"Masuklah dan istirahat. Jam makan siang masih 1 jam lagi. Gunakan waktu untuk istirahat, tidak usah membantu pekerjaan rumah saat badanmu masih lelah."


Dia memperdulikan aku? batin Anya


Anya melihat sorot matanya yang tulus saat mengatakan itu. Lelaki itu benar-benar susah ditebak. Ia terkadang bisa sangat baik seperti hari ini.


Karna tidak ada pergerakan sama sekali dari Anya. Terpaksa Reyhan menarik Anya untuk masuk kedalam. "Istirahatlah," katanya kembali. Dan lelaki itu segera menutup pintu.


Anya masih tidak menyangka atas perlakuan suaminya itu.


Bagaimana dia tahu kalau aku lelah?


Anya pun tidak menyia-nyiakan waktu ,ia lantas segera beristirahat sebelum jam makan siang tiba. Ia berbaring di ranjang yang super nyaman. Ranjang yang sudah lama tidak dipakai oleh Reyhan.


Reyhan merasa lega setelah menyuruh istrinya untuk beristirahat. Ia lalu menghampiri Papa di teras.


"Lama sekali ke toiletnya, Rey?" tanya Papa yang merasa Rey terlalu lama jika hanya ke toilet.


"Iya Pa ,tadi sekalian nyuruh Anya istirahat. Dia kelihatan lelah."


"Papa bangga dengan kamu ,Rey" Papa pun tersenyum ,melihat putranya sangat perhatian dengan istrinya. "Papa kira kamu tidak bisa menghargai Anya sebagai istrimu ,ternyata Papa salah menilaimu. Semoga pernikahan kalian bahagia selalu," ucap Papa dengan menepuk pundak Reyhan. Reyhan hanya merespon mengangguk.


**


Malam hari yang sangat sunyi. Dua orang manusia dalam satu kamar namun tidak ada percakapan diantara mereka. Yang satu sibuk dengan laptopnya ,yang satu sibuk dengan pikirannya sendiri. Anya sedang duduk diranjang dengan kaki berselonjor. Sesekali ia melirik suaminya yang sedang duduk disebelahnya ,dengan laptop yang berada dipangkuannya. Ia terlihat sibuk mengetik ,mungkin banyak kerjaan yang harus ia selesaikan malam ini. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Anya sempat ingin mengajak Qila tidur bersamanya ,namun Mama terlebih dulu mengajak Qila. Jadi ,Anya tidak mau mengecewakan Mama walaupun mungkin Qila akan memilih tidur dengannya. Reyhan terlihat melipat laptopnya ,lelaki itu memandang Anya dari samping


"Kau kenapa belum tidur?" tanyanya kemudian setelah keheningan sedari tadi tercipta.


"Belum mengantuk" padahal Anya beberapa kali menguap ,namun rasanya ia sulit terpenjam. Apalagi melihat suaminya tadi masih sibuk bekerja ,ia tak mungkin mendahului suaminya untuk tidur. Melihat betapa baiknya suaminya tadi siang ,ia tentu akan balas budi.


"Tidurlah ,jangan sampai kurang beristirahat."


Anya pun mengangguk patuh. Wanita itu mulai merebahkan tubuhnya dan menyelimuti tubuhnya.


.


.


.


.


.