
Di pagi yang cerah ini ,sebuah keluarga yang sangat bahagia sedang duduk bersama di meja makan. Menyantap makanan yang tersaji dengan lahapnya. Si kecil dengan manjanya meminta disuapi mamihnya ,Anya. Yang sebelumnya ia selalu bermanja dengan papihnya ,sekarang berganti ke Anya.
Dengan telaten ,Anya menyuapi Qila dengan penuh rasa sayangnya. Anak sekecil Qila bisa merasakan nyamannya bersama orang yang benar tulus menyayanginya. Papa dan Mama pun melihatnya dengan perasaan haru ,mereka tak pernah menyangka mereka berdua bisa sedekat ini. Bahkan seperti sudah mengenal lama.
"Rey ,bagaimana dengan perusahaanmu. Apa ada kendala?" tanya Papa disela-sela makannya. Lelaki paruh baya itu meletakkan sendok dan menatap putranya.
"Sejauh ini ,tidak ada Pah," jawab Reyhan dengan balik menatap Papa.
"Kalau kamu butuh bantuan ,bicaralah ke Papa. Jangan ke orang lain. Papa ini masih peduli sama kamu ,walaupun Papa tau kamu sangat keras kepala."
Reyhan tertawa. "Iya Pah ,Reyhan sampai saat ini juga masih harus banyak belajar sama Papa. Papa adalah guru terbaik Reyhan."
Papa melengos ,merasa berlebihan kata-kata dari putra pertamanya tersebut.
"Tapi Rey, jangan terlalu sibuk dengan perusahaan. Kamu juga harus memberikan adik untuk Qila," ucap Mama dengan senyuman yang lebar.
Uhukk..
Uhukk..
Anya tersedak. Reyhan dengan sigap mengambilkan air minum untuk istrinya.
"Pelan-pelan," ucap Reyhan setengah berbisik.
"Anya ,kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Mama merasa khawatir.
"Iya Ma ,tidak apa-apa." Semua mata tertuju pada Anya ,dengan pelan-pelan Anya pun mencoba memakan kembali sisa nasi yang ada diatas piringnya. Namun bayang-bayang ucapan Mama tentang adik untuk Qila ,terus saja menghantui pikirannya. Anya melirik Reyhan yang berada disebelahnya ,melihat lelaki itu tetap tenang.
"Ucapan Mama barusan ,kamu dengar kan Rey?"
"Iya Ma ,aku dan Anya sedang berusaha kok. Doain aja," ucap Reyhan dengan tersenyum.
Apa ? Usaha apaan. (batin Anya)
Setelah semuanya telah menyelesaikan sarapannya ,Papa pun berpamitan kepada Mama untuk berangkat ke kantor. Papa dengan mesranya mencium kening Mama ,setelah istrinya tersebut mencium tangannya.
Tiba-tiba Anya dan Reyhan saling tatap ,mereka bingung harus bersikap bagaimana didepan Mama dan Papa.
"Papih.. cium Mamih dong , seperti Opa yang cium Oma," entah dapat ide darimana ,anak sekecil Qila bisa meminta hal seperti itu. Walaupun mereka pernah berciuman ,namun Reyhan tidak pernah mencium keningnya saat akan berangkat ke kantor. Berpamitan juga tidak.
Reyhan pun jongkok , mensejajarkan tingginya dengan Qila. Lalu berbisik pelan, "Cium mamihnya nanti ,kalau di kamar. Papih malu ada Opa sama Oma."
"Ke--- ," Qila yang ingin menjawab segera dibekap mulutnya oleh Reyhan.
"Sssttt... Papih janji ," Reyhan mengulurkan kelingkingnya dengan Qila. Qila pun menyambut uluran kelingking Papihnya.
"Ada apa sih kalian ini ,kenapa bisik-bisik," tanya Mama dengan penasaran.
Anya juga merasa penasaran ,namun ia tak mau ambil pusing.
"Gak ada apa-apa ,Ma. Sudah siang ,Reyhan berangkat dulu. Anya..."
"Iya Kak ,hati-hati," jawabnya cepat ,dengan mencium tangan suaminya. Memberi hormat seperti layaknya istri kepada suami. Reyhan juga tak lupa memberi usapan lembut ke kepala Qila.
Anya menemani Reyhan sampai ke teras , pandangannya tak lepas sampai mobil yang dipakai suaminya tak terlihat lagi.
**
Tak ada kata penolakan dari bibir Anya ,wanita itu selalu mengiyakan permintaan Qila. Bukan terpaksa ,lelaki itu bahkan bisa melihat ketulusan yang nyata terpancar dari matanya. Sungguh ,hanya wanita luar biasa yang bisa menyayangi seorang anak yang bukan darah dagingnya sendiri.
Saat pandangan Reyhan masih tertuju ke Anya ,tiba-tiba wanita itu menoleh ke arahnya. Reyhan pun langsung memalingkan muka ,ia langsung sok sibuk dengan laptopnya. Padahal pekerjaannya sudah selesai.
"Belum selesai ,Kak?" tanya Anya memberanikan diri. Wanita itu terlihat peduli ,setelah Reyhan seharian di kantor ,lelaki itu masih saja membawa pekerjaannya ke rumah.
"Hah... Oh ini iya ,sebentar lagi. Kamu tidur duluan aja," kata Reyhan.
Tidak lama kemudian ,Reyhan melipat laptopnya. Namun ,ia berjalan keluar kamar. Anya yang masih belum terlelap ,merasa penasaran akan kemana suaminya itu pergi. Karna ia pun merasa haus ,Anya pun berniat ke dapur. Kecanggungan pun tercipta ,saat tanpa disengaja mereka bertemu di dapur. Reyhan terlihat sedang meneguk air dingin dan masih bertengger disamping lemari es.
"Ah... Anya ,kau mengagetkanku," ucap Reyhan sambil memegang dadanya karna merasa terkejut ,saat berbalik ia mendapati Anya berada dibelakangnya.
"Maaf Kak ,aku hanya haus ingin minum," Reyhan pun menggeser posisinya dengan masih memegang sebuah botol air mineral.
"Anya..berapa hari kau cuti dari pekerjaanmu?"
"Kenapa Kakak bertanya seperti itu?" Anya mendudukkan tubuhnya dikursi. Meneguk air yang baru saja ia ambil.
"Tidak ,hanya ingin tau saja."
"Sepertinya usul dari Mama akan aku pakai," ucap Anya dan beranjak berdiri ,menaruh gelas pada wastafel dapur.
"Usul apa?" tanya Reyhan ,lelaki itu tak lepas memandang istrinya.
"Aku akan menyuruh orang untuk mengurus Butikku dan aku bisa memantaunya dari rumah. Seminggu sekali aku akan berkunjung ke Butik."
"Kau serius dengan ucapanmu?"
"Iya ,"ucapnya tegas.
Reyhan tak melihat keraguan pada diri Anya , namun lelaki itu masih sangat menyayangkan jika Anya mengambil keputusan yang terkesan tiba-tiba. Lelaki itu tau bahwa Anya sangat mencintai pekerjaannya itu. Tidak mudah baginya untuk menyerahkan tanggung jawabnya kepada orang lain. Tapi apapun keputusan Anya ,sebagai suami ia pasti akan mendukung yang terbaik. Dalam arti lain ,Anya sangat memprioritaskan keluarga.
"Ayo tidurlah ,sudah malam," ajak Kak Rey setelah mematikan lampu area dapur. Karna pandangan menjadi terbatas , Reyhan menggandeng Anya sampai ke kamar. Wanita itu tidak menyangka ,sikap suaminya saat ini sangat manis sekali. Ia tak hentinya menatap tangannya yang sedang digandeng sang suami. Rasanya ia ingin berteriak kegirangan ,namun ia tahan.
Saat ia masih mengembangkan senyumnya ,tiba-tiba Reyhan memergoki Anya yang sedang senyum-senyum sendiri.
"Kau kenapa senyum-senyum sendiri?" langkah Reyhan terhenti dan beralih menatap istrinya.
"Hah a--ku??? A---ku cu-ma.." Anya kebingungan mencari alasan.
"Cuma apa? Kau tidak sedang sakit kan?" Reyhan menempelkan telapaknya ke dahi Anya. Mata Anya membola penuh. Gerakan refleks yang Reyhan lakukan padanya ,sungguh diluar pikirannya.
.
.
.
.
.
.