
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
17.00 WIB
Kediaman Sunjaya
Suasana sore hari begitu damai, Xander memilih untuk bersantai di kolam renang sementara Xavier pergi dengan motor kesayangannya entah kemana.
Ting
Mendengar ponselnya berbunyi, Xander meletakan buku bacaannya kemudian melihat layar ponselnya.
Noah
- Tuan, saya berhasil menemukan anggota lainnya yang berada di wilayah Negara Inggris. Saya kirimkan kartu identitas keduanya.
- Noah mengirimkan foto
Setelah membaca pesan tersebut, Xander mengetik balasan.
^^^ Anda^^^
^^^ - Ok, lanjutkan perjalanan lo^^^
Noah
- Baik tuan.
Percakapan selesai, Xander menatap foto yang dikirim Noah padanya. Dua buah kartu identitas asli dengan lambang batu Ruby.
"Noah," gumam Xander. "Gak sia-sia gue bantuin lo,"
2 bulan yang lalu
DRAP
DRAP
DRAP
"WOYY!! JANGAN KABUR LO!!"
"CEPETAN KEJAR!! JANGAN SAMPAI LOLOS!!"
Teriakan para warga mengundang perhatian orang di sekitar, mereka mengejar seorang pencuri yang berhasil kabur.
"Ibu, maafin aku," gumam sang pencuri sambil berlari menghindar dari kejaran warga.
"WOYY!! KEJAR DIA CEPET!!"
"JANGAN SAMPAI KABURR!!"
Sang pencuri berhenti sejenak, ia kelelahan setelah berlari selama 30 menit. Pencuri itu mengatur nafasnya, terdengar teriakan para warga semakin mendekat, pencuri itu kembali berlari.
Ia berlari sampai kejalan raya, tanpa menengok kanan dan kiri ia menyebrang begitu saja.
TINN
DUGH
Sebuah mobil melaju ke arah pencuri itu, beruntung si pengendara mobil dapat mengerem tepat waktu sehingga hanya menyenggol pencuri itu.
"Sial!" umpat pengendara mobil, ia keluar dari mobil mewahnya.
"Lo kalo mau nyebrang liat-liat!" ujarnya kesal dengan nada dingin.
Pencuri itu berusaha bangun setelah tadi terjatuh, ia tidak menghiraukan si pengendara mobil, ia malah melihat ke samping kanan tepat pada segerombolan warga.
"Sialan!" umpatnya.
Pencuri itu bersiap-siap akan kabur, namun si pengendara mobil mencegatnya dengan memegang tangan si pencuri.
"Lepas, gue gak ada urusan sama lo!" kesalnya sambil meronta.
"Lo harus tanggung jawab atas apa yang lo perbuat!" balas pengemudi mobil.
"Nah, ketangkep juga lo!" ujar salah satu warga.
Warga lainnya menyusul dan mengerubungi si pencuri.
"Hajar dia! Buat sampe babak belur!" seru salah satu warga.
"Ayo hajar!" warga lain mendekat, salah satu tangan warga menarik kerah baju si pencuri.
Pengendara mobil tak melepaskan cengkramannya, ia justru menarik pencuri itu ke sampingnya.
"Jangan main hakim sendiri, ini negara hukum. Jika pencuri ini mati, kalian yang akan disalahkan. Lebih baik membawanya ke kantor polisi, dari pada menghabisinya," tuturnya dengan bijak.
"Tolong, jangan bawa gue ke kantor polisi ...." mohon si pencuri sambil menyatukan kedua tangannya.
"Gue tau, gue salah karena udah mencuri. Tapi, gue terpaksa lakuin itu," lanjutnya.
"Walaupun lo terpaksa, lo harus tetap dipenjara!" ucap seorang pria.
"Bener itu!" jawab warga lainnya.
"Apa yang bikin lo terpaksa mencuri?" tanya pengemudi mobil.
"Adek gue sakit parah, gue pengangguran, gue gak punya uang. Sementara ibu gue cuma jualan kue keliling, adek gue harus dirawat di rumah sakit, tapi gue gak punya uang buat bayarnya," jawab pencuri itu sambil menangis. "Gue terpaksa mencuri karena gue pengen adek gue sembuh," lanjutnya.
"Halah! Bohong! Jangan dipercaya omongan dia Mas! Bawa aja dia ke kantor polisi!" ucap seorang wanita.
"Apa yang lo curi?" tanya pengemudi itu lagi dengan wajah datar.
"Kalung emas," jawabnya.
"Bodoh! Lo nyuri kalung emas lalu jual di toko emas lainnya?" ia tersenyum miring. "Balikin!" titahnya.
Pencuri itu menurut, ia merogoh saku celana usangnya dan mengeluarkan kalung emas. Seorang wanita yang berpakaian seperti pegawai itu merebut kalung emas tersebut dari sang pencuri.
"Lo pegawai tokonya?" tanya si pengendara.
"Iya Mas," jawab wanita itu dengan malu-malu.
Ganteng banget sih batinnya.
"Baik, barangnya sudah diambil kembali. Silakan kalian bubar, biarkan saya yang mengurus pencuri ini," ucapnya.
"Ayo bubar! Bubar!"
Setelah semuanya bubar, tersisa pengendara mobil dan pencuri.
"Siapa nama lo?" tanyanya.
"Noah," jawab pencuri itu.
"Hm, gue Xander. Adik lo di mana?" tanya nya lagi.
"Di rumah," jawab Noah.
"Tunjukin jalannya!" Xander berjalan ke arah mobilnya disusul Noah.
Xander melajukan mobilnya menuju rumah Noah. Noah menunjukan jalan menuju rumahnya berada.
Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di depan rumah kecil yang terpencil. Halaman depan rumah tersebut dipenuhi rumput liar, dinding rumah itu dipenuhi dengan lumut.
Xander turun dari mobil begitu pula Noah, Noah membawa Xander masuk ke dalam rumahnya.
"Bu, Noah pulang!" ucapnya.
"Noah, gimana? Kamu dapat uangnya?" tanya seorang wanita yang menyibakan gorden kamar. "Lho?" kagetnya melihat Xander.
"Di mana dia?" tanya Xander pada Noah.
"Di dalam," jawab Noah. "Bu, Syifa gimana?" tanya Noah menghampiri ibunya.
"Masih demam, dari tadi panasnya gak turun-turun," jawab sang ibu.
"Itu!" tunjuk Noah ke arah seorang anak kecil yang terbaring di tempat tidur usang.
Xander masuk ke dalam kamar tersebut, ia memeriksa suhu tubuh Syifa.
"Namanya Xander, Bu," jawab Noah.
Setelah memeriksa suhu tubuh Syifa, Xander menggendongnya.
"Lo mau bawa adek gue kemana?" tanya Noah sedikit emosi.
"Rumah sakit," jawab Xander datar.
"Apa?!" kaget Noah dan ibunya.
Xander tak menghiraukan keduanya, ia berjalan keluar dari kamar. Noah dan sang ibu menyingkir dari jalan, memberikan jalan untuk Xander.
"Ibu!" panggil seorang anak laki-laki.
"Iya Dani?" sahutnya.
"Siapa kakak itu? Kenapa dia bawa Syifa?" tanyanya.
Xander berhenti di depan pintu, ia berbalik.
"Kalian ikutlah!" ucapnya lalu kembali berjalan.
Selang beberapa menit kemudian, Xander beserta keluarga Noah tiba di rumah sakit. Xander bergegas membawa Syifa menuju UGD untuk diperiksa. Dokter tiba dan memeriksa keadaan Syifa.
"Bagaimana?" tanya Xander.
"Demamnya sangat tinggi, apa sebelumnya dia mengalami kejang?" ucap Dokter.
"Tadi dia sempat kejang, Dok," jawab sang ibu.
"Begitu, saya sarankan agar anak ibu dirawat di rumah sakit. Takut jika nanti anak ibu kembali kejang," ujar Dokter.
"Tapi Dok, saya tidak punya u-"
"Biar saya yang bantu," potong Xander.
Noah dan keluarganya terkejut.
"Nak, kamu serius mau bantu Ibu?" tanya ibu Noah terharu.
"Iya," jawab Xander. "Jadi Dok, berapa hari anak ini dirawat?" tanya Xander.
"Hanya sampai kondisinya membaik, dan saya juga membuat resep obat untuk menurunkan demamnya," ujar Dokter.
"Biar saya tebus obatnya," sahut Xander.
Dokter memberikan resep obat kepada Xander.
"Tolong anda membayar biayanya, agar anak ini dapat dipindahkan ke kamar rawat inap."
"Ya pindahkan dia, saya akan urus semuanya," jawab Xander.
"Baik,"
Xander berbalik, ia hendak melangkah keluar namun ibu Noah mencegatnya.
"Nak Xander!" panggilnya.
Xander kembali berbalik menghadap ibu Noah.
"Terima kasih banyak, Nak Xander mau bantu anak ibu," ucapnya tulus.
Xander tersenyum kecil. "Tidak masalah,"
Setelahnya ia keluar dari ruang UGD menuju tempat administrasi.
Beberapa menit berlalu, Syifa telah dipindahkan ke kamar rawat inapnya. Xander kembali dengan menenteng 3 buah kantong plastik.
"Ini, obat untuk Syifa." Ia menyerahkan kantong plastik kecil ke ibu Noah.
"Dan ini makanan, kalian belum makan siang bukan?" Xander memberikannya pada Noah
"Dari mana Kakak tahu?" tanya Dani.
Xander berjongkok didepan Dani yang sedang duduk di bangku tunggu.
"Tadi, Kakak dengar perut kamu berbunyi," jawab Xander lembut.
Dani tersenyum malu sambil memegang perutnya, Xander mengusap rambut Dani.
"Noah, ikut gue!" Xander berdiri lalu pergi meninggalkan kamar Syifa.
"Ibu sama Dani makan dulu aja, Noah ada urusan sebentar!" ia meletakan makanan itu di samping Dani.
"Iya, pergilah!" jawab sang ibu.
Noah menyusul Xander, keduanya tiba di lobi rumah sakit.
"Noah, semua ini gak gratis!" ucap Xander.
"Gue tau, gue udah menduga sebelumnya. Mana ada orang kaya yang gak minta imbalan setelah membantu orang miskin kaya gue," sahut Noah sinis. "Sebutin berapa yang perlu gue bayar!" lanjutnya.
Xander tersenyum miring, ia melipat tangannya di depan dada.
"Gue gak butuh uang lo," ujar Xander.
"Terus, apa yang lo mau?" tanya Noah dengan tidak ramah.
"Lo harus kerja sama gue, turutin semua perkataan gue!"
Noah terlihat bingung, "Maksud lo? Lo ngasih pekerjaan ke gue?"
"Ya, semacam itu. Gimana?"
Noah mengangguk dengan cepat. "Tentu gue mau!"
"Tapi, dengan lo kerja sama gue. Maka lo bakal jauh dari keluarga lo," ucap Xander.
Noah kembali ragu, ia berpikir sejenak.
"Gak masalah, asalkan keluarga gue hidup aman dan terjamin. Gue bakal lakuin apapun itu," jawab Noah.
"Bagus! Lo punya HP?"
Noah menggeleng.
"Gue bakal ke sini lagi entar sore, gue pergi dulu. Titip salam sama nyokap lo!"
"Oke, thanks!"
Xander berjalan menuju mobilnya terparkir, senyum Noah mengembang. Ia kembali masuk ke dalam rumah sakit.
Begitulah awal dari kisah pertemuan Xander dan Noah
"Haaa ...." Xander menghela nafas panjang.
"Kejadian itu 2 bulan yang lalu," gumamnya.
"Kejadian apa Ander?" tanya Yunda sambil meletakan susu hangat di meja kecil dekat kursi.
"Bukan apa-apa," jawab Xander.
Yunda mengangguk. "Vier kemana? Kok belum pulang juga,"
"Mama, Xavier udah biasa keluyuran kemana-mana tapi nanti dia juga bakal pulang kalo laper;" jawab Xander setelah meneguk susu hangatnya.
"Anak itu, hobi banget bikin Mama cemas." Yunda duduk di kursi.
"Papa belum ada kabar kapan dia pulang, Ma?" tanya Xander.
"Belum, papa bilang urusan di sana masih belum beres. Mungkin dia pulang bulan depan, sampai semuanya benar-benar beres," jawab Yunda.
Xander mengangguk.
Masalah kali ini, pasti bukan masalah biasa, batin Xander.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...