
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
12.30 WIB
Jakarta, Winter's Highschool.
"Kenapa lo bisa tau gue ada di kolam?" tanya Kanaya setelah meneguk teh hangat.
"Aku yang kasih tau!" seru Edrea memberi jawaban seletah ia masuk ke dalam UKS.
Sanaya, Kanaya, dan Xander menatap ke arah pintu. Terlihat Rea tersenyum lebar ke arah mereka bertiga.
"Kok bisa?" tanya Kanaya lagi yang masih kebingungan.
Edrea melangkahkan kaki menuju ke samping Xander, Xander tersenyum kecil lantas mengelus rambut Rea yang tergerai.
"Jadi begini ceritanya." Edrea mulai menceritakan semuanya.
30 menit yang lalu.
"Hay!" sapa Ilona sambil tersenyum.
"Ya? Ada apa?" tanya Kanaya.
"Lo bisa bantu gue gak?"
"Bantu apa? Kalo gue bisa, gue pasti bantuin lo,"
"Jam tangan gue kecebur di kolam renang, lo bisa bantu gue ambilin gak?" tanya Ilona dengan memasang ekspresi wajah sedih.
"Emangnya di sana gak ada orang?"
Edrea tengah berjalan melewati koridor kelas 10 IPS, ia hendak menuju salah satu kelas IPS kelas temannya berada. Edrea menghentikan langkahnya saat ia melihat Ilona tengah berbicara dengan Kanaya.
"Kenapa itu cewek ngobrol sama kak Kana?" tanya Edrea pelan. Edrea menyembunyikan tubuhnya di balik tembok.
Ilona membalikan tubuhnya, ia menarik tangan Kanaya membawanya ke kolam renang. Edrea menyembunyikan kepalanya saat Ilona berbalik, Ilona melewati Edrea tanpa ia ketahui.
Edrea menyusul keduanya dengan jarak yang cukup jauh. Edrea mengernyitkan dahi saat tahu kemana Ilona membawa Kanaya. Edrea ikut masuk ke dalam ruang kolam renang secara sembunyi-sembunyi.
Keadaan kolam begitu sepi, hanya ada mereka bertiga di sana. Edrea mengedarkan pandangan menatap sekitar kolam sampai suara air mengejutkannya.
Edrea kembali memfokuskan pandangannya ke arah Ilona yang tertawa melihat Kanaya berada di dalam kolam renang. Edrea membulatkan matanya terkejut, ia mendengar dengan jelas teriakan Kanaya yang meminta bantuan.
Dengan cepat Edrea berlari keluar dari ruang kolam renang, berlari menuruni anak tangga sampai ia menabrak tubuh seorang pria. Pria tersebut memeluk Edrea yang terlihat berantakan.
"Rea, kamu kenapa?" tanyanya dengan kening berkerut.
Edrea mendongak dengan napas memburu. "Kak Xan!" pekiknya.
"Iya, ini Kakak. Kenapa kamu lari, hm?" tanya Xander sembari mengusap keringat Edrea yang membasahi keningnya.
"I-itu Kak," ucap Edrea menggantung. "Kak Kana jatuh ke kolam! Ilona yang dorong dia."
"Sial," umpat Xander setelah mendengar pengakuan Edrea. "Kamu kembali aja, Kakak mau selamatin Kanaya dulu." Setelahnya Xander berlari menaiki anak tangga yang tak seberapa untuk sampai di ruang kolam renang.
Edrea memegang dadanya yang terasa sesak sehabis berlari, lantas setelah dirasa lebih baik Edrea kembali berlari menuju suatu tempat. Mungkin lebih banyak bala bantuan akan semakin baik.
Selesai bercerita bagaimana Edrea bisa meminta bantuan pada Xander, Edrea pergi kembali ke kelasnya. Kanaya mengucapkan rasa terima kasihnya pada Edrea, jika bukan karena Edrea mungkin saja Kanaya akan mati tenggelam.
"Kan, ini baju ganti buat lo." Xavier masuk ke dalam UKS tanpa mengetuk pintu.
Xavier berjalan ke arah Xander untuk menyerahkan paperbag yang dibawanya kemudian kembali ke sisi Sanaya.
"Naya, kamu ganti baju dulu. Biar Kakak yang temenin kamu," ujar Sanaya yang diangguki Kanaya.
Xander membantu Kanaya untuk turun dari brankar, setelahnya Sanaya membawa Kanaya menuju toilet sekolah.
"Berani bener tuh cewek," ucap Xavier berkacak pinggang dengan kepala menggeleng pelan. "Untung Sanaya gue gak kenapa-kenapa," lanjutnya.
"Ngomong-ngomong soal Bara, sampai kapan dia bakal tinggal di markas?" tanya Xavier.
"Entah, Trivara gak nyari dia sama sekali. Jadi, biarin aja dia di sana," jawab Xander terkesan tak peduli.
"Iya sih, kenapa bokap Kanaya gak nyariin dia kalo emang dia suruhannya. Harusnya sebagai bos pasti bakal nyari anak buahnya," celoteh Xavier.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
07.30 WIB
Jakarta, Winter's Highschool.
Hari berlalu dengan cepat, sudah sebulan lamanya semenjak kejadian Kanaya tenggelam di kolam. Selama itu pula Ilona masih berusaha mengusik ketenangan Kanaya, entah dengan cara dia menjahili Kanaya atau menyindirnya secara terang-terangan.
Ilona bukan gadis yang mudah menyerah, dia akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Terlihat kendaraan dari most wanted sekolah memasuki halaman sekolah, Xander baru saja keluar dari mobil dan ingin menghampiri teman-temannya namun dering ponsel mengurungkan niatnya. Xander menggeser tombol hijau ke atas untuk menjawab panggilan telepon tersebut.
"Halo Nak Xander," sapa seorang pria paruh baya di seberang telepon.
"Ya," sahut Xander singkat
Sudah beberapa kali pria paruh baya itu menghubunginya, sebetulnya Xander begitu jengkel dengannya akan tetapi ia harus tetap menjawab panggilannya.
"Begini, saya hanya ingin menanyakan keberadaan anak saya. Kapan Nak Xander mau kembalikan anak saya?" tanyanya dengan nada keraguan yang kentara.
"Bukankah sudah saya katakan berulang kali bahwa putri Anda baik-baik saja bersama dengan saya?" tanya balik Xander.
"Iya, saya tau itu. Saya hanya ingin putri saya kembali, Nak Xander juga gak mau kasih tau saya di mana putri saya berada," sahutnya.
"Tuan Trivara, Anda tidak perlu khawatirkan mengenai keadaan putri Anda. Saya pastikan dia aman bersama saya."
"Anu, saya hanya khawatir jika--"
"Apa Anda meragukan keamanan keluarga Sunjaya?" tanya Xander memotong ucapan Trivara dengan nada yang teramat dingin.
Savian menepuk bahu Xander pelan. "Kenapa bro?" tanyanya.
Xander sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga. "Bukan apa-apa," jawab Xander, ia kembali menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Bukan maksud saya untuk meragukan keluarga Sunjaya, saya minta maaf atas itu," ujar Trivara.
Xander menghela napas panjang membuat Savian mengerutkan keningnya. "Tenangkan diri Anda, Tuan. Putri Anda aman bersama dengan keluarganya." Xander menutup sambungan telepon secara sepihak.
"Bokap Kanaya nyariin anaknya?" tanya Savian.
"Ya," jawab Xander singkat.
"Kenapa gak lo kembaliin aja, sih? Kasian bokapnya nyariin."
"Gue belum percaya kalo dia mau jagain Kanaya dengam baik," jawab Xander yang mulai melangkah meninggalkan halaman parkir.
"Iya sih, lo pasti begitu. Kalo dipikir-pikir udah banyak juga perlakuan kasar yang diterima Kanaya," sahut Savian ikut menyusul Xander. "Oh ya, lo bawa Kanaya ke mana?"
"Villa Sunjaya," jawab Xander.
"Lo punya berapa villa sih?" tanya Savian penasaran.
Xander terdiam sejenak, ia tengah menghitung berapa banyak villa yang dimilikinya. "10 mungkin," jawab Xander.
"Banyak amat dah, udah mah lo punya mansion gede. Ditambah villa yang banyak, bener-bener sultan."
Xander tersenyum miring mendengarnya, ia melirik Savian sekilas. "Jangan ragukan kekuasaan Sunjaya," ucapnya tersenyum puas.
Savian terbelalak mendengarnya. "Iya dah iya, Sunjaya yang terbaik."
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...