SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 37



...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...


14.30 WIB


Jakarta, Rumah Sanaya.


"Lo kenapa bawa gue ke sini?" tanya Kanaya bingung melihat rumah kecil di depannya.


Xander tak menjawabnya, ia menarik tangan Kanaya untuk mengikutinya berjalan mendekat ke pintu rumah tersebut.


TOK


TOK


TOK


"Permisi," panggil Xander.


Klak


"Ya, ada apa?" sahut seorang wanita setelah ia membuka pintu.


Wanita tersebut terkejut melihat Kanaya di samping Xander, begitupun dengan Kanaya. Kanaya menarik-narik tangan Xander menatapnya dengan gelisah.


"Xan, bawa gue pergi dari sini," pintanya berbisik.


"Kenapa?" tanya Xander ikut berbisik.


"Gue gak mau bokap tau," jawab Kanaya takut, lengannya gemetar membayangkan sang ayah akan menyakiti wanita di depannya.


"Naya ...." lirih wanita tersebut sembari menangis.


"Gak usah takut, gue di sini bakal lindungin kalian," ucap Xander meyakinkan Kanaya. "Bu, perkenalkan saya Xander. Saya ke sini membawa Kanaya," ucap Xander memperkenalkan diri serta mengungkapkan tujuannya.


"M-Mama ...." lirih Kanaya.


"Naya, kenapa kemarin kamu pergi? Kamu marah ya sama Mama?" tanya ibu Kanaya sedih.


Kanaya menggeleng, ia menggigit kuat bibirnya menahan isak tangisnya. Air mata keluar dari kelopak mata Kanaya membasahi kedua pipi. Xander mengusap air mata Kanaya serta mengusap bibir Kanaya agar gadis itu tak lagi menggigitnya.


"Masuk sayang." Ibu Kanaya mempersilakan putrinya masuk ke dalam rumah kecilnya.


Kanaya dan Xander melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa. Ibu Kanaya pamit sebentar untuk mengambilkan minuman, Kanaya menangis setelah kepergian ibunya. Xander mengusap lembut rambut Kanaya juga menyeka air mata Kanaya.


"Kenapa?" tanya Xander pelan.


"Gue takut ...." lirih Kanaya.


"Gue udah bilang jangan takut, semua akan baik-baik aja," ucap Xander.


"Naya, Xander, ayo minum dulu." Ibu Kanaya meletakan minuman yang dibawanya ke atas meja.


"Terimakasih," ucap Xander.


Kanaya terdiam dengan bahu yang bergetar menahan tangis, ibu Kanaya menatapnya dengan raut wajah sedih.


"Naya, gak mau peluk Mama?" tanya ibu Kanaya sambil tersenyum.


Kanaya menoleh ke samping menatap sang ibu, pandanga Kanaya kabur akibat air mata yang berkumpul di kedua matanya. Kanaya menangis lantas menghambur ke pelukan sang ibu.


"Naya kangen Mama ...." lirihnya dengan diiringi isakan kecil.


Setelah beberapa saat menangis di pelukan sang ibu, Kanaya menceritakan kesehariannya ketika ia tinggal bersama ayahnya. Kemudian Xander pamit untuk pulang, Kanaya mengantar Xander menuju pintu sementara ibu Kanaya membereskan gelas dan membawanya ke dapur.


"Sore nanti Noah bakal ke sini buat jemput lo," ucap Xander.


"Iya." Kanaya mengangguk.


"Sekalian keluarga lo juga, jadi bantu mereka buat kemasin baju mereka."


"Eh? Kami mau dibawa ke mana?" tanya Kanaya bingung.


"Nanti juga tau, intinya bantuin nyokap lo kemasin baju." Xander mengelus lembut rambut Kanaya.


Kanaya mengangguk. "Thanks, udah bantu gue," ucap Kanaya tulus.


"Sama-sama, gue pergi dulu. Titip salam buat nyokap lo," pamit Xander.


"Iya, nanti gue sampein. Hati-hati di jalan."


Xander melangkahkan kaki meninggalkan pekarangan rumah Sanaya kemudian masuk ke dalam mobil. Mobil Xander melaju menjauh dari rumah Sanaya.


Jadi ini sebabnya Xander beliin gue baju, pikir Kanaya.


...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...


16.00 WIB


Jakarta, Kediaman Sunjaya.


Xander tiba di pekarangan rumah, ia keluar dari mobil secara perlahan. Xander menghela napas panjang sebelum masuk ke dalam rumah, ia tahu apa yang akan terjadi setelah dirinya masuk.


KLAK


"Di mana ibuku?" tanya Xander sembari mengedarkan pandangan.


"Nyonya berada di taman, Tuan," jawabnya dengan membungkuk sopan.


Xander berdehem kemudiam melangkahkan kaki masuk ke dalam lift. Pelayan tersebut memperhatikan Xander yang terluka, sebetulnya ia terkejut namun ia harus menyembunyikan keterkejutannya.


"Lia, tadi saya dengar ada suara Xander, apa dia sudah pulang?" tanya Yunda yang baru saja tiba sambil membawa vas bunga.


"Benar Nyonya, Tuan Xander sudah pulang," jawab Lia.


"Iya sudah, kamu kembali bekerja saja."


"Baik, saya permisi Nyonya," pamit Lia kemudian ia kembali ke dapur menyelesaikan pekerjaannya.


Yunda meletakan vas yang di bawanya ke atas  meja samping pintu, lantas ia membawa langkahnya menuju kamar Xander.


"Sayang," panggil Angga sesaat sebelum Yunda masuk ke dalam lift.


Yunda menoleh menatap suaminya kemudian ia tersenyum. "Sudah pulang mas."


Yunda menghampiri Angga, memeluknya sekilas kemudian mendapat kecupan singkat di dahinya.


"Dimana anak-anak? Bilangnya ada yang mau di bicarakan," tanya Angga.


"Mereka di kamar, Ander juga baru pulang tadi," jawab Yunda.


"Ya sudah, Mas temui mereka dulu." Angga mengelus rambut Yunda lalu masuk ke dalam lift menuju ruang kerjanya.


Xander pergi menemui Xavier yang berada di kamarnya, mereka bersama-sama pergi menemui sang ayah yang telah pulang ke rumah.


KLAK


"Oh, kalian sudah datang rupanya," ucap Angga melihat kedatangan kedua putranya.


Xander menutup pintu, ruang kerja Angga kedap terhadap suara sehingga orang yang berada di luar tak dapat mendengar obrolan di dalam ruang kerjanya.


"Katakan, kalian ingin membicarakan soal apa," suruh Angga.


"Pi, Papi tau soal markas kelompok yang kami cari?" tanya Xavier membuka percakapan.


"Papi tidak tahu itu, kenapa?" jawab sekaligus tanya Angga.


"Markas Gelliodes berada di Swiss," sahut Xander.


Angga menoleh menatap Xander. "Tunggu, ada apa dengan wajahmu? Apa kelompok Earthen menyerangmu di sini?" tanya Angga terkejut melihat wajah Xander.


"Bukan, sampai saat ini mereka tidak ada di Indonesia. Ini karena hal lain," jawab Xander.


"Dia dikeroyok Pi, masa tiba-tiba ada yang nyerbu dia," adu Xavier.


"Apa? Siapa yang berani melakukan itu?" tanya Angga marah.


"Lupakan itu, kita kembali pada topik awal," ujar Xander.


"Baiklah, sekarang katakan apa yang kalian tahu."


"Kami belum tahu nama dari kelompok Earthen, tapi anak buah Vier berhasil menemukan salah satu markas mereka," jelas Vier bangga.


"Dimana?" tanya Angga antusias.


"Swedia, disana mereka bersembunyi. Sebetulnya itu bukan markas besar," jawab Xavier sambil menopang dagu. "Vier belum berani suruh anak buah Vier untuk mendekati markas mereka," lanjutnya.


"Tidak, itu sudah cukup. Bahaya jika dia hanya sendiri di sana," sahut Angga.


"Ada beberapa markas lain yang ditemukan, yaitu di Belanda terdapat 5 markas kecil, masing-masing ketua di markas tersebut berhasil dikurung," jelas Xander mengingat laporan Noah tadi siang.


"Hey! Gak adil, masa lo dapat banyak ketimbang gue," gerutu Xavier.


"Jelas," sahut Xander.


"Lalu apa rencana kalian sebenarnya? Kenapa kalian mencari anggota Gelliodes?" tanya Angga sembari menopang dagu.


"Hanya untuk berjaga-jaga, kami menduga kelompok Earthen bukan kelompok biasa. Mereka mengincar kita yang menjadi penguasa, tidak mungkin jika itu hanya kelompok kecil," jawab Xander.


"Benar, Pi. Apalagi mereka sulit ditemukan, markas mereka juga banyak," timpal Xavier. "Vier pernah suruh Nean buat lacak keberadaan mereka, cuma beberapa yang bisa di dapat. Jaringan mereka terlalu sulit."


Angga mengangguk paham. "Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa mereka mengincar kita?"


Xander dan Xavier terdiam, sebetulnya mereka juga memikirkan hal yang sama sejak beberapa waktu yang lalu.


"Mungkin ada sesuatu yang tidak kita ketahui di Swiss," ucap Xander.


"Nah, Swiss. Kita harus pergi ke sana supaya tau apa yang menjadi incaran mereka," timpal Xavier.


"Hmm ... Papa akan pergi ke sana, sementara Papa pergi, Papa harap kalian bisa menjaga perusahaan." Angga terdiam, ia menatap kedua putranya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dan jagalah ibu kalian."


...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...