SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 49



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


"Basten."


"Oh, namanya Basten. Gue kira baskom," celetuk Arka diikuti tawa renyahnya.


"Qual è il tuo scopo nel venire qui? (Apa tujuanmu datang kemari?)" tanya Xander dingin.


"Sto solo consegnando un messaggio, (aku hanya menyampaikan pesan)" jawab Basten santai.


"Kau terlalu santai," ucap Xander kesal.


"Ceritakan dengan benar apa yang kalian rencanakan!" seru Xavier marah.


"Seharusnya kalian pergi menemui ayah kalian, kenapa kalian malah repot-repot menanyaiku!" kesal Basten menatap malas Xavier. "E non dimenticare di portare la tua chiave del tesoro. (Dan bawalah kunci harta karun kalian.)"


"Tch! Rispondimi mentre parlo bene! (Cih! Jawablah aku selagi aku berkata dengan baik!)" kesal Xavier.


"Nean, apa lo berhasil cari tau soal dia?" tanya Xander menatap Nean yang fokus ke layar laptopnya.


"Bentar lagi," jawab Nean. "Beres!" sambungnya tak lama kemudian.


"Apa yang lo dapet?" tanya Vian penasaran.


"Namanya Basten Beufort, lahir pada tanggal 10 Februari 1999. Dia tinggal di kota Meyrin. Ayahnya meninggal pada tanggal 23 Agustus 1990, saat ini dia hanya tinggal bersama sang ibu dan kedua adiknya," jelas Nean membacakan data diri dari Basten yang didapatnya setelah bersusah payah mendapatkan informasi tertutup itu.


"Keren juga lo," puji Arka.


"Inikan Neandro Sabian! Jelas gue hebat!" sahut Nean sedikit menyombongkan diri.


"chi ti ha mandato qui? (Siapa yang mengirimmu ke sini?)" tanya Xander.


"Non hai bisogno di saperlo, (kau tidak perlu tau)" jawab Basten tersenyum miring merendahkan Xander.


"Wah, ngelawan bener nih anak! Perlu gue buat lo geger otak baru ngomong, hah?!" sentak Arka marah.


"Persona pazza, (orang gila)" ujar Basten menatap malas Arka.


"Lo ngatain gue gila? Lo mau gue buat masuk ke neraka?!"


"Sabar, sabar. Lo ngomong kayak gitu dia gak bakalan ngerti." Nean mengelus pelan punggung Arka yang terlihat naik turun.


"Lo gak mau buka mulut rupanya," desis Xander menatap tajam Basten dengan seringai di wajahnya.


"Wahh ... auranya makin mencekam nih," bisik Arka pada Nean.


"Gimana kalo kita kasih musik ke dia?" usul Xander menatap keempat temannya.


"Ide bagus tuh!" jawab Xavier semangat.


Nean, Arka, Vian, dan Xavier keluar dari ruangan tersebut. Xander menyalakan tombol suara ultrasonik setelahnya ikut keluar membiarkan Basten mendengarkan musik tersebut sendirian.


"Arrghh... smettila con questo suono! Ma siete pazzi?! (Arrghh ... hentikan suara ini! Apa kalian gila?!)" jerit Basten merintih selepas ia mendengarkan suara tersebut.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


10.00 WIB


Jakarta, Markas The Dark Boy.


"Sialan tuh bocah! Susah banget cuma disuruh buka mulut juga!" kesal Arka sembari menggebrak meja.


Xavier duduk di atas sofa setelat ia menghembuskan napas kasar. Xander memilih berdiri memainkan ponselnya mencoba menghubungi Noah. Sementara Savian membantu Nean menggali informasi lebih dalam perihal Basten atas perintah Xander.


"H-halo Tuan," sahut Noah dari seberang telepon.


"Gimana keadaan di sana?" tanya Xander to the point.


Noah terdiam cukup lama, di seberang sana Noah menatap Jarvis meminta saran melalui kode mata.


"Noah?" panggil Xander setelah cukup lama menunggu Noah berbicara.


"Ah, iya Tuan. Di sini baik-baik saja," jawab Noah berbohong, sebelumnya ia melihat Jarvis menggeleng pelan tanda bahwa ia tidak boleh menceritakan perihal penculikan Angga pada Xander.


"Lo yakin baik-baik aja?" tanya Xander dingin, ia sedikit marah karena Noah berani berbohong.


"Y-ya Tuan." Noah merasa tertekan setelah mendengar pertanyaan Xander yang terdengar sangat dingin.


Meskipun jarak keduanya sangat jauh, namun Noah masih bisa merasakan aura tajam dari Xander. Hal itu membuatnya bergidik ngeri.


"T-Tuan besar ...." Noah menggantungkan ucapannya, ia kembali menatap Jarvis meminta bantuan pada sang senior.


"Berikan padaku!" pinta Jarvis dengan suara pelan sembari mengulurkan tangan.


Noah memberikan ponselnya pada Jarvis. "Halo Xander, ini aku."


"Oh? Om Jarvis, di mana papa?"


"Angga sedang menemui klien hari ini," jawab Jarvis berusaha tenang agar ia tak dicurigai berbohong.


"Menemui klien?" beo Xander dengan tersenyum miring. "Haaa ... benar-benar." Xander menghela napas panjang sembari mengusap rambutnya.


"Xander, kau tak perlu khawatir. Ayahmu baik-baik saja," ujar Jarvis, ia sedikit ragu untuk mengatakannya.


"Tidak," bantah Xander.


Jarvis mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"


"Kalian berbohong, jawablah dengan jujur. Jujur lebih baik daripada berbohong, bukan begitu Paman Jarvis?" tanya Xander menekan kata 'Paman'.


Celaka, jika dia memanggilku begitu maka bahaya akan datang, batin Jarvis panik.


Jarvis bisa membedakan cara bicara Xander ketika ia biasa saja dan ketika Xander marah, saat ini Xander benar-benar marah karena Xander memakai bahasa formal padanya.


"X-Xander, apa yang kau katakan?" tanya Jarvis masih berusaha menutupi kebenarannya.


"Ah, Paman. Seharusnya Paman tahu situasi saat ini," desis Xander, kepalan tangannya mengeras.


Dugh!


"Eh kambing!" latah Arka terkejut mendengar suara bogeman dari arah Xander.


Lantas keempat pemuda yang tengah duduk santai menatap Xander, seketika mereka bergidik merasakan aura mencekam keluar  dari diri Xander.


"Mati dah gue," ujar Arka takut.


"Gak bisa gini, gue belom nikah. Gue gak boleh mati," tambah Vian dengan tangan yang memegang cangkir gemetar.


"Berasa liat iblis," ucap Xavier tanpa sadar.


"Pura-pura gak denger aja dah gue." Nean menutup telinga dengan mata yang terpejam.


"Xander ... tenangkan dirimu dulu," ujar Jarvis dari seberang telepon.


Dinding sebelah kanan Xander terlihat retak, Xander belum menurunkan tangannya dari dinding ia tak peduli pada darah yang keluar dari tangannya.


"Katakanlah, Paman!" pinta Xander dengan suara rendah menahan amarah.


"Baiklah, akan aku katakan." Jarvis meraup wajahnya kasar sebelum melanjutkan, ia sangat frustasi. "Ayahmu diculik."


"Aku tahu," desis Xander. Jarvis tercengang mendengarnya.


"Bagaimana bisa--"


"Mereka mengirim seseorang ke sini," potong Xander menyela ucapan Jarvis.


"Apa?! Jadi mereka tahu keberadaan kalian?" tanya Jarvis kelewat kaget sampai menggebrak meja di depannya.


"Ya. Maka dari itu aku akan pergi ke sana," ujar Xander. Jarvis hendak membuka mulut untuk melarang Xander pergi namun Xander lagi-lagi menyela ucapannya. "Jangan larang aku melakukan ini, Paman!"


"Haah ... baiklah, aku tidak bisa melarang jika kau sudah seperti ini." Jarvis menghela napas panjang.


Xander memutus sambungan telepon, ia menatap nyalang ke luar villa. Tangannya ia turunkan dari dinding kemudian ia gunakan untuk mengusap rambutnya ke belakang.


Xander menarik napas panjang kemudian menghembuskannya pelan dengan mata terpejam. Xander menatap keempat pemuda yang tengah memerhatikannya dengan takut.


"Bersiaplah, kita akan melakukan perjalanan panjang!" titah Xander kemudian ia berjalan keluar dari villa.


"Barusan beneran Xander, 'kan?" tanya Vian memastikan.


"Dari mukanya sih beneran Xander, tapi dari auranya bener-bener berbeda," jawab Arka.


Xavier tiba-tiba memasang ekspresi wajah serius. "Kita urus surat permohonan homeschooling ke Winter's Highschool segera."


Vian, Arka, dan Nean memandang Xavier penuh tanda tanya. "Biar gue yang urus," ujar Nean kemudian ia kembali mengotak-atik leptop di pangkuannya.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...