
...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...
12.10 WIB
Jakarta, City Mall.
CUP
Kanaya mendekat kemudian mencium pipi kiri Xander. Alangkah terkejutnya Xander menerima kecupan dari Kanaya, hampir saja mobil yang dikendarainya oleng akibat ulah Kanaya.
"Gak adil kalo cuma gue yang dapat," ucap Kanaya saat Xander menatapnya.
Xander membuang napas perlahan kemudian kembali fokus menyetir mobil. "Lain kali jangan di ulang, boleh lakuin itu tapi jangan waktu gue lagi fokus nyetir."
Kanaya cemberut mendengarnya. Xander melirik Kanaya sekilas lalu kembali fokus dengan senyum mengembang di wajahnya.
Tak berapa lama kemudian, tibalah mereka di sebuah pusat perbelanjaan. Xander menggenggam tangan Kanaya membawanya ke sebuah toko mainan, Kanaya mengernyitkan dahi bingung saat Xander membawanya ke tempat tersebut.
"Lo mau beli mainan buat siapa?" tanya Kanaya ketika ia melihat Xander memilih mainan.
"Syifa sama Dani," jawab Xander tanpa menatap Kanaya.
"Siapa mereka?"
"Adik Noah," jawab Xander. "Gimana menurut lo mainan ini, bagus gak?"
Kanaya mengambil kotak mainan yang berisi sebuah mobil-mobilan berwarna biru tua, Kanaya menatapnya seksama. "Ini bagus,"
Xander tersenyum mendengarnya, lantas ia mengambil beberapa mainan lagi lalu memasukannya ke dalam troli.
"Ayo, ke tempat lain!" ajak Xander saat Kanaya tengah melihat-lihat mainan.
Kanaya menoleh menatap Xander kemudian berjalan menyusulnya, Kanaya menggenggam tangan Xander.
"Lo beli mainan banyak banget," ucap Kanaya melihat troli yang di bawa Xander terisi penuh.
"Gak apa-apa, bukannya lebih baik punya banyak mainan selagi ada yang memberi?" tanya Xander.
"Iya, sih. Tapi mainan sebanyak ini gak bakalan di pake terus sama mereka, 'kan?"
"Mereka bisa kasih mainannya ke orang lain," jawab Xander kemudian ia meletakan semua mainan di meja kasir.
"Abis ini kita ke mana?" tanya Kanaya.
"Toko baju, toko kue, dan restoran. Lo belum makan makan, 'kan?" jawab sekaligus tanya Xander.
Kanaya menggelengkan kepala. Xander membayar barang belanjaannya kemudian menyuruh pengawal mengambilnya nanti.
"Kenapa gak lo aja yang bawa?" tanya Kanaya bingung.
"Repot," jawab Xander singkat.
Kanaya membuang napas panjang. "Dasar sultan."
Setelahnya mereka melanjutkan perjalanan menuju toko pakaian, Xander membelikan banyak pakaian untuk Syifa dan Dani. Xander juga membeli pakaian untuk Kanaya, setelahnya mereka membeli kue lalu mampir ke sebuah restoran yang ada di mall tersebut.
"Lo sampe beliin gue baju segala," ucap Kanaya.
"Gak apa-apa, anggap aja sebagai hadiah atas keberhasilan lo memenangkan olimpiade," jawab Xander.
"Thanks, berkat lo gue bisa menang," ujar Kanaya tulus.
"Semua hasil dari usaha lo yang mau belajar." Xander mengacak rambut Kanaya membuatnya cemberut. "Cepet makan, jangan banyak omong lagi."
...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...
13.20 WIB
Jakarta, Rumah Noah.
"Permisi."
KLAK
"Lho ada Nak Xander, masuk Nak," ucap ibu Noah.
Xander melangkah masuk dengan Kanaya yang mengikuti di belakang. Kanaya meletakan paperbag berisi kue yang dibeli Xander di atas meja kemudian ikut duduk di sofa lusuh di samping Xander.
"Tumben Nak ke sini, ada apa?" tanya ibu Noah.
"Cuma mau liat Syifa sama Dani sekalian kasih mereka hadiah," jawab Xander seraya tersenyum ramah.
Ibu Noah membalas senyuman Xander lalu menatap Kanaya, Kanaya yang merasa ditatap melemparkan senyum ramahnya.
"Aihh ... ada anak gadis, pacarnya Nak Xander kah?" tanya ibu Noah.
"Bukan."
"Iya."
Xander dan Kanaya saling menatap setelah menjawab pertanyaan tersebut. Xander mengakuinya sementara Kanaya tak mengakuinya. Karena memang sejatinya Xander tidak memberitahunya ajakan pacaran.
Kanaya dan Xander hanya tersenyum malu, kemudian Syifa bersama Dani menghampiri ruang tamu sambil berlari.
"Kak Xan!" seru keduanya menyambar ke pelukan Xander.
"Kakak, Syifa kangen banget sama Kakak!" ujar Syifa senang.
"Dani juga kak!" timpal Dani.
"Eh? Wajah Kakak kenapa?" tanya Syifa saat ia melihat banyak luka di wajah Xander.
"Astaga ... Ibu baru sadar kalo wajah Nak Xander luka-luka," ucap ibu Noah.
"Gak apa-apa, cuma karena kecoak aja," jawab Xander sambil mengelus kedua anak kecil di depannya.
"Ih Kakak takut sama kecoak?" tanya Dani.
"Kalo kecoaknya banyak Kakak takut apalagi mereka bisa terbang," jawab Xander membuat Dani dan Syifa tergelak tawa.
Bisa aja dah ngasih alesan, masa iya kecoak bisa sampe bikin babak belur kayak gitu, batin Kanaya.
"Oh ya, Kakak bawa hadiah buat kalian. Nanti om pengawal bakal bawa ke sini," ujar Xander.
"Asyik!" pekik Syifa senang.
Dani ikut senang mendengarnya lantas ia menoleh ke samping menatap Kanaya, Kanaya tersenyum membalas tatapan Dani.
"Kakak, kakak ini siapa?" tanya Dani sembari menunjuk Kanaya.
"Dia kak Kana," jawab Xander.
"Pacar Kakak, ya?" tanya Syifa seraya tertawa kecil.
"Eh, anak kecil kok tau soal pacar sih," ujar ibu Noah.
Xander tersenyum seraya mengusap lembut rambut Syifa. "Syifa masih kecil, tau dari mana soal itu?" tanya Xander lembut.
"Dari TV," jawabnya.
"Ibu, Noah pulang!" seru Noah sambil masuk ke dalam rumah. "Eh? Tuan, Anda di sini rupanya."
"Syifa sama Dani main sama kak Kana dulu ya, Kakak mau bicara sama kak Noah," pinta Xander.
Syifa dan Dani mengangguk. "Ayo Kakak kita main di kamar Syifa!" ajak Syifa sambil menarik tangan Kanaya.
"Ayo!" Kanaya bangun lantas mengikuti Dani dan Syifa menuju kamar.
"Ibu siapin dulu makanan, kalian ngobrol aja," ucap ibu Noah kemudian beranjak pergi menuju dapur.
"Kita bicara di luar." Xander berdiri lalu melangkah keluar dari rumah Noah. "Katakan laporanmu!" pinta Xander setelah keduanya berada di teras.
"Saya sudah membereskan orang-orang yang tadi melawan Tuan, mereka di bawa menuju kantor polisi dengan laporan pengeroyokan," ucap Noah mengatakan laporannya.
"Lalu, soal markas kelompok itu bagaimana?" tanya Xander.
"Saya telah mengumpulkan informasi mengenai markas tersebut, rencananya lusa saya akan berangkat untuk menyelidiki markas tersebut," jawab Noah.
Xander menganggukan kepala. "Berhati-hatilah, di sana berbahaya. Pasti ada banyak anggota kelompok yang akan nyerang lo."
"Baik, Tuan. Saya akan berhati-hati," jawab Noah.
"Tuan." Seorang pengawal berdiri di samping keduanya sambil menenteng beberap paperbag. "Ini barang-barang Anda," ucapnya.
"Letakan di dalam," titah Xander.
"Baik." Pengawal tersebut masuk ke dalam rumah untuk menyimpan barang bawaannya.
"Tuan, Anda membelikan banyak barang untuk Syifa dan Dani?" tanya Noah.
"Ya, mereka membutuhkannya," jawab Xander.
"Tapi itu terlalu banyak, Tuan. Saya juga selalu membelikan barang untuk mereka, jadi Anda tak perlu lagi membelikan barang."
"Lo ngatur gue?" tanya Xander dengan nada dingin.
"Saya tak berani melakukannya Tuan," jawab Noah menunduk.
"Gue tulus kasih mereka barang, mereka udah gue anggap sebagai adik gue sendiri."
"Terimakasih atas perhatian Anda," ucap Noah tersenyum tulus.
"Tuan, barangnya sudah saya letakan. Saya pamit untuk kembali," pamit pengawal.
"Ya, pergilah," sahut Xander. "Gue bakal tanya bokap soal markas itu, sementara tinggal aja di sini. Temani adik-adik lo, gak ada tugas buat lo besok jadi ajak jalan keluarga lo," tutur Xander.
"Baik, terimakasih Tuan!" ucap Noah.
...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...