SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 50



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


11.00 WIB


Jakarta, Kediaman Sunjaya.


"Xan, gue udah urus semua surat permohonannya," lapor Nean ketika ia berada di rumah Xander saat ini.


"Bagus, kita berangkat hari ini," ujar Xander.


"Apa? Tiket pesawat kan belom beli, prosesnya lama gak bisa apa kita berangkat besok aja?" tanya Vian sedikit terkejut mendengar keputusan Xander.


"Kita gak perlu beli tiket. Sunjaya punya pesawat pribadi," jawab Xavier mewakili Xander.


"Lah, iya juga ya." Savian manggut-manggut paham.


"Ander, ada apa ini? Rame banget," tanya Yunda ketika ia keluar dari lift.


"Gak ada apa-apa, Ma," jawab Xander sembari tersenyum.


"Halo Tante!" sapa Vian, Arka, dan Nean bersamaan.


"Halo anak-anak. Ada urusan apa kalian ke sini?"


Semua terdiam menatap Xander. "Mereka cuma mau main," jawab Xander.


"Oh begitu, Mama buatin teh ya!" Yunda hendak melangkah pergi namun Xavier memegang tangannya.


"Gak usah, Mi. Bentar lagi mereka bakal pergi," cegahnya.


"Lho? Kok cepet banget sih?"


"Iya Tante, Vian masih ada kerjaan jadi gak bisa lama-lama mainnya," jawan Savian tersenyum kikuk.


"Nean juga punya banyak PR, jadi Nean harus kerjain semuanya. Besok 'kan sekolah," timpal Neandro.


"Kalo Arka sih, mau urus Timy. Harimau kesayangan Arka." Arka menggaruk belakang tengkuknya yang terasa gatal.


"Begitu ya, sayang banget padahal Tante pengen ngobrol sama kalian," ujar Yunda sedikit sedih.


"Lain kali aja ya Ma," bujuk Xander.


"Oh ya Ander. Gimana soal Papa kamu?" tanya Yunda.


Sudah hampir 1 minggu ini sang suami tidak menghubunginya, bahkan ketika ia mencoba menghubungi ponselnya sama sekali tak terjawab. Yunda merasa cemas semenjak pulang dari villa Sunjaya semalam.


Belum sempat Xander menjawab, tiba-tiba seseorang berlari masuk ke dalam rumahnya dengan tergesa-gesa.


"Ander, katanya kamu bakal ke Swiss hari ini. Apa benar?" tanya Kanaya dengan napas tak beraturan.


Sial, umpat Xander dalam hati. Ia lantas melirik sang ibu yang terkejut mendengar pertanyaan Kanaya.


"Vier, kamu juga bakal ikut?" tanya Sanaya yang baru saja tiba di samping Xavier.


"A-ada apa ini?" tanya Yunda bingung.


Xander mengusap wajahnya, ia sangat frustasi dan lelah saat ini. "Kita duduk dulu ya, Ma."


Lantas mereka berdua berjalan menuju sofa kemudian duduk di tempat masing-masing.


"Xander dan yang lain bakal pergi ke Swiss. Di sana ada masalah besar yang gak bisa ditangani papa sendirian," ucap Xander mulai bercerita.


"Masalah apa, Ander?" tanya Yunda dengan kening berkerut.


Xander terdiam, begitu juga yang lain. Yunda bingung dengan keadaan saat ini, Yunda menatap satu-persatu pemuda di depan dan sampingnya.


"Gak ada yang jawab?" tanya Yunda pelan. "Jadi ... soal papa diculik itu, benar?"


Deg!


Seketika semua jantung mereka terhenti mendengar pertanyaan terakhir dari Yunda. Xander menatap sang ibu yang tertekuk, Xander tahu saat ia hati ibunya retak tapi ia masih bisa menyembunyikannya dengan senyuman.


"Mama tau dari Jarvis, Mama telepon dia karena khawatir sama papa. Tapi, setelah Mama dengar papa kamu diculuk awalnya Mama gak percaya. Melihat kalian yang mau pergi, sepertinya berita itu benar," jelas Yunda terdengar sendu.


Kanaya menunduk dalam-dalam, seharusnya tadi ia tidak bertanya dengan keras. Jadilah Yunda tahu mengenai kebenaran yang pahit itu.


"Kalo kalian pergi, Mama harus ikut!"


"Gak boleh!" tolak Xander dan Xavier bersamaan.


"Kenapa? Kenapa kalian larang Mama? Apa gunanya Mama di sini kalo kalian semua pergi dari rumah ini? Mama gak mau sendirian di sini." Setelah mengatakan itu Yunda menangis sejadi-jadinya.


Melihat itu Xander dan Xavier saling pandang dengan. "Ma, Ander gak mau Mama terlibat dalam urusan ini. Biar Ander sama Vier yang ke sana," bujuk Xander pelan dan lembut.


"Kenapa? Apa Mama gak boleh tinggal di sana? Mama takut di sini," ucap Yunda sembari terisak pilu.


"Di sana lebih berbahaya, Mi," ujar Xavier mengelus lembut punggung mami tercintanya.


"Di sana ada kalian, di sini siapa yang mau melindungi Mama?" tanya Yunda menatap Xander dan Xavier bergantian dengan berlinang air mata.


"Ma, Ander mohon--"


"Jangan larang Mama lagi, Xander!" tegas Yunda memotong ucapan sang putra.


"Kita juga ikut," ucap Sanaya.


"Jangan! Kalian tetap di sini," larang Xavier menatap cemas Sanaya.


"Biarkan mereka ikut untuk menamani Mama," tegas Yunda.


Semua terdiam, keputusan Yunda tidak bisa diganggu gugat lagi. Yunda beranjak dari sofa berjalan menuju kamarnya, Kanaya dan Sanaya membuntiti Yunda mereka ingin mencoba menenangkan hati wanita tersebut.


Drrtt


Dering ponsel Xander mengalihkan atensi semua orang. Xander mengambil ponselnya kemudian menjawab panggilan telepon yang masuk ke ponselnya.


"Tuan, pesawat sudah siap," lapor seorang pria.


"Ya," singkat Xander lantas memutus sambungan telepon.


"Nean, buatkan surat permohonan untuk Kanaya dan Sanaya. Mereka juga akan menjalani sekolah online seperti kita," titah Xander pada Nean kemudian ia beranjak dari ruang tamu menuju kamarnya.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


11.50 WIB


Jakarta, Bandara Soekarno-Hatta.


"Kenapa kalian harus ikut?" tanya Ivan khawatir melihat kedua putrinya dengan tatapan sendu.


"Maaf Pak, saya yang meminta putri Anda untuk ikut bersama," jawab Yunda yang berjalan mendekat ke arah keluarga Trivara.


"Tapi Bu, bukankah akan berbahaya bagi mereka untuk ikut?"


"Anda tidak perlu khawatir. Saya jamin kedua putri Anda akan selamat bersama saya," jawab Yunda dengan tegas.


Ivan tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya melirik Aileen yang terdiam menyembunyikan kesedihannya. Kanaya dan Sanaya bergantian memeluk kedua orangtuanya sebelum akhirnya mereka naik ke dalam pesawat.


Pesawat lepas landas naik ke udara menuju Swiss, negara asal dari keluarga Sunjaya. Ivan dan Aileen termenung melihat pesawat yang ditumpangi kedua putrinya dengan tatapan sendu.


"Mereka akan baik-baik aja 'kan Mas?" tanya Aileen lirih.


Ivan menatap Aileen kemudian merangkulnya. "Mereka akan baik-baik aja, doakan mereka ya."


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


07.00 CEST


Swiss, Jenewa , Kedimaman Utama Sunjaya.


"Selamat datang Tuan muda, Nyonya besar," sambut seluruh pelayan yang ada di mansion Sunjaya.


Yunda mengangguk sekilas kemudian masuk ke dalam mansion. Xander dan Xavier ikut masuk bersama dengan yang lain.


"Mewah bener," takjub Arka.


"Kayak gak tau aja gimana Sunjaya," sahut Vian menatap malas Arka yang terlihat norak.


"Tuan-tuan silakan lewat sini." Seorang pelayan laki-laki membungkuk sekilas kemudian menunjuk jalan menuju kamar tamu.


Vian, Arka, dan Nean paham mengenai bahasa Italia yang di gunakan sebagian pelayan di kediaman utama. Namun tidak bagi Kanaya dan Sanaya, mereka tidak mempelajari bahasa tersebut sehingga mereka menggantinya dengan bahasa Inggris.


Ketiga pemuda itu mengikuti pelayan hingga tiba di sayap kiri tangga. "Ada beberapa kamar tamu di sini, silakan beristirahat dengan nyaman," ujar pelayan ketika mereka tiba di barisan kamar.


"Grazie," sahut Vian ramah.


Pelayan itu mengangguk kemudian meninggalkan ketiganya. Sementara di lain sisi, seorang pelayan wanita mengantar Kanaya dan Sanaya menuju sayap kanan tangga.


"This is your room, please rest comfortably," ujar pelayan dengan sopan.


"Thank you," sahut Kanaya tak kalah sopan.


Pelayan itu pamit pergi menuju tempatnya semula. Kanaya masuk ke dalam salah satu kamar, begitupun dengan Sanaya.


Sementara Xander saat ini berada di ruang kerja kepala Sunjaya. Ruangan itu nampak bersih meski tak ada yang menghuninya, Xavier masuk ke dalam kamar Xander dengan tergesa.


"Kenapa?" tanya Xander bingung.


"G-gue nemu ini." Xavier menunjukan sebuah buku yang ia dapat dari perpustakaan di dalam mansion.


Xander mengambilnya kemudian mulai membaca isi dari buku tersebut. "Ini semacam buku harian."


"Iya, yang nulis kakek buyut kita. Gue akhirnya tahu apa yang dimaksud Basten."


"Peta?" Xander menarik secarik kertas berwarna coklat dari dalam buku tersebut.


"Harta karun," ujar Xavier menatap peta tersebut.


Xander menduduki kursi kepala keluarga sambil membaca buku, sementara Xavier pergi keluar mencari informasi lain yang mungkin bisa ia temukan di dalam mansion.


Sebetulnya ini kali ketiga mereka mendatangi mansion, pertama saat usia mereka baru menginjak 1 tahun, kemudian ketika hari raya Natal pada usia ke-8 tahun. Dan kali ini adalah kali ke-3 mereka mengunjungi mansion utama Sunjaya.


"Pulau Gesula?" Xander mengernyitkan dahinya setelah ia membaca seluruh isi dari buku harian tersebut.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...