SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 27



15.30 WIB


Jakarta, Winter's High School.


"Kanaya!" panggil Leon sedikit berteriak.


Kanaya menoleh, ia menghambuskan nafas kasar. Leon berlari ke arah Kanaya dengan memamerkan senyumannya.


"Lo belum pulang?" tanya Leon saat tiba di depan Kanaya.


"Udah!" kesal Kanaya.


"Kalo udah ngapain di sini bukannya di rumah?"


Kanaya gemas sendiri dengan Leon, entah kenapa pria di depannya itu sangat menjengkelkan.


"Leon, lo liat gue masih di sini kan?" Leon mengangguk membenarkan. "Ya berarti gue belum balik, gimana sih!"


Kanaya membuang muka ia lebih memilih menatap ke depan melihat beberapa kendaraan keluar dari gerbang.


"Kenapa belum balik? Mau gue anter ke rumah lo?" tawar Leon.


"Gak usah! Gue bisa pulang sendiri!" tolak Kanaya cepat.


Sebuah mobil berhenti di depan Kanaya, Xander keluar dari dalam mobil. Ia memandang Leon dengan tanda tanya di benaknya.


"Nah, jemputan gue udah nyampe. Gue balik dulu, lo hati-hati di jalan!" Dengan cepat Kanaya menarik tangan Xander untuk menjauh dari Leon.


Xander membukakan pintu mobil untuk Kanaya, Kanaya masuk ke dalam mobil Xander sekilas ia menatap Leon dari kaca mobil.


Xander sendiri melirik Leon dengan ujung matanya lalu masuk ke dalam mobil, tak lama mobil itu melaju meninggalkan Leon yang berdiri mematung.


"Ck! Siapa sih tuh cowok?!" kesal Leon dengan tangan terkepal kuat.


.....¤◇¤.....


15.50 WIB


Jakarta, Kafe Pandhora.


"Tadi siapa?" tanya Xander setelah keduanya memesan minuman.


"Leon, murid baru di kelas," jawab Kanaya.


Kanaya mengeluarkan buku catatannya dan meletakannya di atas meja, Xander memeriksa buku catatan Kanaya. Ia meneliti semua jawaban Kanaya dari soal yang dia berikan.


"2 minggu lagi olimpiadenya dimulai, lo udah siap?" ujar Xander.


Kanaya mengangguk ragu, sebetulnya ia sangat gugup mengikuti olimpiade tersebut. Xander menatap Kanaya yang terlihat gelisah.


"Gue tau lo pasti bisa, jangan takut untuk memulai hal yang luar biasa," ucap Xander, Kanaya mendongak menatap wajah tampan Xander.


"Gue ... gue agak gugup buat ikut," cicit Kanaya pelan.


"Tenang aja, gak usah gugup. Kalo lo di sana ngerasa gugup, lo pikirin gue aja. Bayangin wajah gue," sahut Xander.


"Hah? Apa hubungannya coba!"


"Wajah gue bisa memberi lo semangat lebih," jawab Xander dengan senyuman tipis di wajahnya.


"Dih, apaan!" Kanaya membuang muka menatap ke luar jendela.


"Ini, semua jawaban lo udah bener. Selama ini lo belajar dengan baik." Xander mengembalikan buku catatan Kanaya. "Hari ini kita lanjut materi berikutnya, dengerin gue jangan ngelamun!"


"Iya, siapa juga yang bakal ngelamun." Kanaya menyiapkan alat tulisnya ke atas meja.


Xander mulai menjelaskan materi fisika, agar tak lupa, Kanaya merekam penjelasan Xander di ponselnya agar nanti saat di rumah Kanaya bisa mendengar ulang penjelasan tersebut.


Selesai memberi penjelasan, seperti biasa Xander akan memberi soal untuk menguji kemampuan Kanaya.


"Ini gimana?" tanya Kanaya saat ia bingung mengerjakan soal tersebut.


Xander melihat soal di buku Kanaya, lalu ia menjelaskan kembali dengan perlahan. Setelahnya Kanaya kembali mengerjakan soal tersebut.


Xander menatap wajah cantik Kanaya. Ia tersenyum kecil melihat ikatan rambut Kanaya. Seperti keinginannya, Kanaya mengikat rambutnya saat akan melakukan les private dengan Xander.


"Udah." Kanaya menyodorkan buku catatannya ke hadapan Xander.


Xander memeriksa jawaban Kanaya di atas buku tulisnya. "Oke, semuanya udah bener. Lo cepat paham juga ternyata," ujar Xander.


"Iyalah, gue gitu lho!" seru Kanaya membanggakan diri sendiri.


Xander kembali tersenyum kecil, akhir-akhir ini Xander sering sekali tersenyum.


"Cukup untuk hari ini, gue kasih lo tugas terus kita pulang." Xander menuliskan beberapa soal di buku catatan Kanaya.


Kanaya mengangguk semangat, ia sangat senang belajar bersama dengan Xander. Meski Xander terasa dingin dengan mimik datar, namun ia sangat sabar dalam mengajari Kanaya. Bahkan penjelasannya sangat mudah dimengerti Kanaya.


.....¤◇¤.....


Jakarta, Kediaman Sunjaya.


"Vier! Bantu gue beresin kerjaan!" ujar Xander saat keduanya berpapasan di lift.


"Ya," jawab Xavier singkat.


Keadaan lift hening, tak ada yang membuka suara sampai pintu lift terbuka. Xavier dan Xander keluar dari lift, Xavier hendak berjalan menuju meja kerjanya namun Xander memegang bahunya, mencegatnya pergi.


"Apa?" tanya Xavier dengan alis terangkat.


"Berkasnya ada di ruangan gue, lo ambil dulu!" ujar Xander.


"Ck! Lo bisa kan kasih ke gue aja? Kenapa harus gue yang ambil!" Xavier menepis kasar tangan Xander dari bahunya lalu ia berlalu meninggalkan Xander.


Xander memijat pangkal hidungnya, entah apa yang terjadi dengan Xavier. Xander menyuruh Mira untuk membawa berkas kantor ke ruang kerja Xavier. Kebetulan Xander melihat Mira di lantai 2.


TOK


TOK


TOK


"Tuan Xavier?" panggilnya.


"Masuk!" sahut Xavier dari dalam ruangannya.


KLAK


Mira masuk ke dalam ruang kerja Xavier, ruangan itu terlihat gelap. Syukurlah lampu dari luar ruangan sedikit menerangi ruang kerja Xavier.


"Tuan, ini berkasnya. Saya juga membawa teh untuk anda atas perintah nyonya," ujar Mira sambil meletakan teh dan berkas yang di bawanya ke atas meja.


"Ya, simpan aja di sana. Lo bisa pergi!" ucap Xavier.


Mira mengernyitkan dahi saat hidungnya mencium aroma asap rokok, Mira mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan tersebut. Pandangan Mira berhenti ke arah luar jendela, terlihat sesosok pria bertubuh tegap membelakangi jendela dengan asap rokok yang mengepul.


Mira menggelengkan kepalanya. "Saya permisi dulu, Tuan!" Lantas Mira keluar dari ruangan tersebut.


Xavier menatap ke atas, melihat hamparan langit luas yang berhiaskan bintang-bintang. Xavier menyesap rokoknya lalu menghembuskan asap rokok keluar dari mulut dan hidungnya.


Itulah kebiasaan Xavier saat ia memiliki beban pikiran, tak ada lagi keceriaan yang tergambar di wajahnya. Semuanya seakan redup dan suram.


Xavier menghela nafas panjang kemudian ia menunduk, Xavier menyeka setetes air yang keluar dari ujung matanya.


Xavier membuang batang rokoknya lalu berjalan gontai masuk ke dalam ruang kerjanya. Xavier merebahkan diri di atas kasur, menutup mata dengan lengan kekarnya.


.....¤◇¤.....


20.30 WIB


Jakarta, Kediaman Sunjaya.


"Mira, kamu udah kasih tehnya ke Ander sama Vier?" tanya Yunda saat ia melihat Mira tengah berjalan menuju dapur.


Mira mengangguk seraya tersenyum. "Sudah Nyonya!"


"Iya sudah, kamu boleh istirahat!" ucap Yunda.


Mira terdiam, ia sedikit ragu untuk menceritakan perihal keadaan Xavier pada Yunda.


"Emm ... Nyonya," cicit Mira.


"Kenapa, Mir?" tanya Yunda.


"Anu ... itu ...." Mira tergagap.


"Kenapa? Apa ada masalah?"


"Itu Nyonya, saya lihat tuan muda Xavier sedang merokok di ruang kerjanya," ucap Mira dengan kepala tertunduk.


Yunda mengernyitkan dahi. Merokok? Gak biasanya Vier ngerokok.


"Terima kasih kamu sudah mau memberitahu saya," ujar Yunda.


Sudah menjadi kewajiban seluruh pegawai di kediaman Sunjaya untuk melaporkan hal-hal yang tak biasa dilakukan oleh Xander dan Xavier pada tuan atau nyonya di kediaman tersebut.


Mira mengangguk lalu beranjak pergi menuju paviliun. Yunda terdiam setelah mendengar penuturan Mira sebelumnya.


Vier kenapa ya? Apa dia punya masalah? Batin Yunda.


......Xiexie......