SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 4



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


Ujian sekolah


19 Desember, Winter's High School.


"Gue deg-degan, ujian hari pertama. Semoga ujiannya gampang," ucap Tania.


"Berdoa aja, semoga kita bisa ngerjainnya," sahut Kanaya.


Bel masuk berbunyi, seorang guru pengawas memasuki kelas. Semua murid duduk di kursi masing-masing, kelas 10 disatukan dengan kelas 12. Dalam satu meja terdapat 1 siswa kelas 10 dan 1 siswa kelas 12 begitu seterusnya.


"Selamat pagi, semuanya!" sapa guru.


"Pagi, bu!" jawab siswa serentak.


"Sebelum mulai silakan kalian berdoa terlebih dahulu, siapa yang mau memimpin doa?"


Seorang murid laki-laki mengakat tangannya.


"Silakan!" ujar sang guru mempersilakan


"Semuanya, sebelum mengerjakan ujian alangkah baiknya membaca doa terlebih dahulu sesuai kepercayaannya masing-masing. Berdoa dalam hati, mulai!"


Seluruh siswa menundukan kepalanya, mereka berdoa di dalam hati.


"Selesai!" Lantas siswa serempak mengangkat kepalanya.


"Baik, sekarang ibu mau bertanya. Di sini siapa yang non muslim?" tanya sang Guru.


Kanaya, dengan 2 siswa lainnya mengangkat tangan.


Guru pengawas yang melihat mereka lantas berjalan sambil membawa amplop coklat. Guru tersebut memberikan lembar soal dan jawaban untuk mereka yang non muslim.


"Dikerjakan, ya!" ucapnya.


Ia lalu membagikan lembar soal dan jawaban bagi muslim.


Kanaya mengisi data pribadi pada lembar jawaban, lalu mulai mengisi soal tersebut.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


"Xan! Oyy!" panggil Xavier setengah berbisik.


Xander yang berada di depan Xavier menoleh ke belakang, ia mengangkat sebelah alisnya.


"Kita non muslim kan?" tanyanya.


"Lo lupa?" tanya balik Xander.


"Apa?"


"Lo udah jadi mualaf," jawab Xander dingin.


"Masa sih? Perasaan gue belum ngucap Solawat deh,"


"Syahadat bego!" geram Xander.


"Nah iya!"


Xander kembali membelakangi Xavier.


"Jadi, gue masih non Islam kan?"


"Tanya nyokap!" ketus Xander.


Xavier mengangguk, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sang mami tercinta. Kebetulan kelas mereka belum kedatangan guru pengawas, jadi aman untuk memainkan ponsel.


Xavier selesai bertanya pada mami-nya.


"Mami bilang kalo kita masih Non Muslim!" ujar Xavier.


Xander diam tak menjawab, ia hanya fokus pada layar ponselnya.


"Ya udahlah," Xavier mengangkat bahu acuh.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


10.00 WIB


Jakarta, Winter's High School.


Bel istirahat berbunyi, Guru pengawas menyuruh semua murid mengumpulkan soal dan lembar jawaban ke depan. Setelah selesai, seluruh siswa keluar dari kelas menuju kantin sekolah.


The dark boy telah duduk rapi di meja tempat mereka makan, Xander dan Arka pergi memesan makanan untuk teman-teman mereka.


"Susah banget sih soalnya!" keluh Tania.


"Gampang, kok!" sahut Kanaya.


"Iyalah, lo kan pinter!"


Kanaya tersenyum kecil.


"Bu, pesen kebabnya 2 ya?" ucap Kanaya memesan.


Xander yang mendengar suara Kanaya menoleh ke samping, ia menatap Kanaya dengan wajah datar. Kanaya tak menyadari keberadaan Xander, ia asyik mengobrol bersama Tania membahas drakor yang telah mereka tonton.


"Si cowok bego amat sih, masa dia mau-mau aja disuruh ini itu sama mantannya," ucap Tania kesal. "Padahal ya, dia kan udah punya cewek! Ceweknya cantik lagi, lebih cantik dari mantannya!" lanjutnya


"Dia kayak gitu karena takut sama ancaman si mantan," sahut Kanaya.


Xander mengangkat sebelah alisnya, ia terus menyimak percakapan keduanya sambil menunggu makanan mereka siap.


"Halah! Dia kan cowok masa takut sama cewek!"


"Xan!" panggil Arka menepuk bahu Xander.


"Ssstt ...." Xander melirik Arka.


Arka ikut menyaksikan keduanya.


"Cowok itu harus tegas, kuat, dingin, gak mudah digodain sama cewek," ucap Tania.


"Kayak siapa tuh?" tanya Kanaya bermaksud menggoda.


"Kayak Savian lah, siapa lagi," jawab Tania bangga.


"Pft!" Arka menahan tawanya.


Xander menatap tajam Arka, Arka seketika bungkam.


"Woy Vian!" teriak Arka memanggil.


Kanaya dan Tania terkejut, lantas keduanya menoleh ke belakang.


"Mampus gue," gumam Tania.


"ADA YANG NAKSIR LO NIH!"


"Eh ... t-tunggu! Jangan dikasih tau plis!" mohon Tania.


"SIAPA?!" tanya Savian dengan mengangkat sebelah alisnya.


Arka tersenyum, "ORANG UTAN!" jawabnya


"SIALAN!"


"CANDA BRO!"


"GAK USAH BERCANDA LO!"


"YAELAH NGAMBEKAN LO!"


"DIEM SIALAN!!" teriak Xavier


"Kalian teriak kayak gitu kagak malu diliatin orang?" tanya Nean.


Tania mengelus dada, ia selamat kali ini. Xander menggeleng pelan melihat kelakuan teman-temannya, Kanaya tetap menatap Xander tanpa henti.


Xander balas menatap Kanaya karena ia merasa ada yang memperhatikan, Xander mengangkat kedua alisnya. Ia lantas mengangkat tangan, dan ....


CTAK!


"Aww!"


Xander menyentil dahi Kanaya, Kanaya mengelus dahinya.


"Apaan sih lo?" kesal Kanaya.


"Ngapain liatin gue?" tanya Xander dingin.


"Sakit gak?" tanya Tania.


"Sakitlah," jawab Kanaya kesal.


"Lo itu ya, jangan kayak kembaran lo! Udah cukup gue diganggu sama dia, gue kagak mau diganggu sama lo juga!"


"Hm?" Xander mengangkat sebelah alisnya.


"Bro, ambil tuh nampan! Kita makan!" ucap Arka sambil membawa nampan berisi minuman dengan 2 makanan.


Xander berbalik, ia mengambil 2 buah kebab dari atas meja.


"Gue gak ada niatan buat ganggu lo, gue sibuk!" ujar Xander sambil memberikan kebab itu pada Kanaya.


"Sok sibuk lo!" cibir Kanaya, ia menerima kebab itu.


Xander mengambil nampan, ia membungkuk, mensejajarkan tingginya dengan wajah Kanaya. Sontak Kanaya berhenti bernafas, begitu gugup. Tania yang melihat juga ikut syok, bahkan semua murid yang ada di kantin memperhatikan keduanya dengan nafas yang terhenti.


Xander mendekat ke telinga Kanaya.


"Lo menarik perhatian gue, gadis gila!" bisiknya.


Lantas Xander berjalan menjauh dari Kanaya menyusul Arka yang telah sampai lebih dulu.


Kanaya merasa kedua kakinya lemas, ia hampir terjatuh namun Tania menahannya.


"Lo kenapa?" tanya Tania khawatir. "Dia bilang apa sama lo? Kanaya?" sambung Tania karena Kanaya hanya diam. "Kanaya jawab?!" ia kesal karena Kanaya tak kunjung menjawab.


Kanaya memejamkan mata, ia mengambil oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi paru-parunya.


"Dia bilang gue gadis gila," ucap Kanaya.


"Kirain dia ngancam lo, panik banget gue!" ucap Tania.


"Gue lemes karena belum makan, yok makan!" Kanaya menarik tangan Tania mencari kursi yang kosong untuk makan.


Cowok sialan! Cowok aneh! Aneh! Gila! batin Kanaya.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


17.30


Kediaman Sunjaya.


"Papi belum pulang juga?" tanya Xavier.


"Belum, papi bilang urusan disana belum selesai," jawab Yunda.


Saat ini, keluarga kecil Sunjaya tengah berada di ruang keluarga menonton tv dengan berbagai cemilan.


"Ma, Xander keluar dulu bentar!" pamit Xander.


"Mau kemana?" Tanya Yunda.


"Ada urusan di luar, gak lama kok," jawab Xander.


Yunda mengangguk, "Janji ya jangan lama? Udah sore banget soalnya,"


"Iya Ma," jawab Xander.


"Gue ikut dong!" pekik Xavier antusias.


"Kagak boleh!" tolak Xander cepat.


"Ck! Pengen ikut juga." Xavier cemberut.


Yunda mencubit pipi Xavier gemas.


"Gemoyy banget sih anak Mami," ucapnya.


"Ya udah, Xan pamit ya Ma!" Xander mencium kening Yunda lalu melangkah pergi.


"Hati-hati ya," ucapnya.


"Jangan lupa pulangnya bawa martabak!" sahut Xavier yang kini berada di pelukan Yunda.


Yunda tertawa pelan.


"Makanan mulu yang dipikiran kamu,"


"Gak cuma makanan sih Mi, banyak yang Vier pikirin. Malahan nih ya, ada satu hal yang sering Vier pikirin,"  Xavier melepaskan diri dari dekapan Yunda.


"Apa tuh?" Yunda menyisir rambut Xavier dengan tangannya.


"Mami!" jawab Xavier.


"Dasar!" Yunda menggelengkan kepalanya.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...