
09.10 WIB
Jakarta, Kediaman Sunjaya.
"Gue udah di depan rumah lo, nih," ucap Kanaya.
Xander melihat keluar jendela dengan ponsel yang menempel di telinganya.
"Masuk aja, bilang ke security kalo lo ada janji sama gue," sahut Xander.
"Oke!" jawab Kanaya.
Kanaya mematikan ponselnya, ia berbalik mengetuk kaca mobil hitam milik sang ayah. Kaca mobil turun perlahan, menampakan seorang pria dewasa.
"Naya masuk dulu, Om pulang aja gak usah nunggu Naya. Takutnya Naya lama di dalam," ujar Kanaya.
"Beneran nih?" tanya Arman memastikan.
Kanaya mengangguk yakin.
"Nanti kalo Naya mau pulang pasti telepon Om, kok!"
"Iya udah," Arman menjeda ucapannya, ia menatap keluar mobil.
"Rumahnya gede amat, beneran ini rumah guru les kamu?" tanya Arman.
"Iya, Om. Karena dia kaya raya, jadi harga les nya juga murah. Soalnya dia gak perlu duit, udah banyak," sahut Kanaya diselingi kekehan kecil.
Xander terus menatap Kanaya dari atas rumahnya, bersidekap dada memperhatikan Kanaya yang tak kunjung masuk ke dalam rumahnya.
"Iya udahlah, Om pamit pulang," pamit Arman.
"Iya, hati-hati Om!" Kanaya melambaikan tangannya, mobil Arman menjauh dari Kanaya.
Setelah itu barulah Kanaya menekan tombol di samping pagar, seorang security muncul dari dalam pagar.
"Cari siapa, Mbak?" tanyanya sopan.
"Mau ketemu Xander, Pak," jawab Kanaya dengan ramah.
"Ohh ...." security itu menganggukan kepala. "Udah ada janji belum, Mbak?" tanyanya lagi.
"Sudah, Pak!" jawab Kanaya.
Security itu mengangguk sambil tersenyum ramah, ia membuka gerbang mansion Sunjaya untuk Kanaya masuk.
"Silakan," ucapnya.
"Mau saya antar ke ruang tuan muda?" tawarnya.
"Nggak usah, Pak," tolak Kanaya.
Kanaya lantas pamit untuk masuk ke dalam Mansion, Kanaya mengetuk pintu lalu muncul seorang pembantu.
"Ada apa ya, Mbak?" tanya pembantu itu sopan.
"Saya mau ketemu Xander, dia ada di dalam gak?" sahut Kanaya.
"Oh ... ada Mbak. Mari, saya antar." Pembantu itu mempersilakan Kanaya masuk ke dalam rumah.
Kanaya berpapasan dengan Yunda saat akan masuk ke dalam lift. Yunda tersenyum ramah, Kanaya menyalami tangan Yunda.
"Ehh ... ada anak gadis di sini. Cari Xander atau Xavier, nih?" tanya Yunda sedikit menggoda Kanaya.
"Cari Xander, Tante," jawab Kanaya.
"Aihh ... Tante kira cari Xavier, biasanya gadis-gadis cari Xavier ke sini. Tapi, gak pernah masuk ke rumah, sih," ujar Yunda.
Kanaya hanya tersenyum, ia memang sudah tahu betul bagaimana sikap Xavier. Kanaya khawatir Xavier akan mencampakan Sanaya.
"Ayo, Tante anter kamu ke ruangan Ander." Yunda mengantar Kanaya ke ruang kerja Xander diikuti pembantu tadi.
Setibanya di lantai 2, Kanaya dibawa menuju ruang kerja Xander.
Yunda mengetuk pintu, lalu keluarlah Xander dari dalam ruangan.
Kanaya tertegun melihat penampilan Xander, Xander memakai kaos putih dengan celana hitam pendek, jam tangan bertengger di pergelangan tangannya. Rambut Xander yang biasa rapi saat sekolah, kini terlihat acak-acakan.
"Nih, Mama antar calon mantu ke depan ruang kerja kamu," gurau Yunda.
Xander menatap Kanaya, keduanya beradu pandang. Dengan cepat Kanaya menunduk, dan Xander menatap Yunda.
"Oh ya, kalian mau ngapain? Kencan?" tanya Yunda penasaran.
"Ma, masa iya kencan di ruang kerja?" sahut Xander.
"Bisa aja tuh, contohnya papa kamu dulu," ucap Yunda.
Xander menggelengkan kepala pelan.
"Kana cuma mau belajar sama Xander, Tan. Selama seminggu yang lalu Xander jadi guru les nya Kana," jelas Kanaya.
"Ohh ... begitu, iya sudah kamu belajar yang baik ya!" ucap Yunda.
"Ander, jagain Kana. Ajarin dia yang bener," ucap Yunda.
"Iya, Ma," sahut Xander.
"Iya sudah, Mama tinggal dulu," ujarnya. "Mira, buatin dua gelas susu sama cemilan, terus bawa ke ruang kerja Xander!" titah Yunda.
"Baik, Nyonya!" jawabnya
"Dah, sana masuk. Mama mau lanjut nonton." Yunda mendorong pelan punggung Kanaya untuk masuk ke dalam ruang kerja Xander.
"Belajar yang baik, ya!" Yunda lantas pergi dari depan ruang kerja Xander, kembali ke kamarnya.
Kanaya masuk ke dalam ruangan tersebut, ia mengedarkan pandangannya melihat begitu luasnya ruang kerja Xander. Tak seluas milik Angga, karena ruangan itu khusus untuk tuan muda Sunjaya.
"Duduk! Gak pegel berdiri mulu?" ucapan Xander menyadarkan Kanaya.
"Duduk di sana!" Xander menunjuk sofa di samping meja kerjanya.
Kanaya lantas duduk di sofa, ia keluarkan buku catatannya dari dalam tas. Xander berjalan menuju rak buku, terdapat 3 rak di sana, dan di ruangan itu juga terdapat kasur untuk Xander jika harus menetap di ruang kerja atau malas kembali ke kamar setelah seharian bekerja.
Xander mengambil sebuah buku dari dalam rak, lalu melangkah mendekat ke arah Kanaya. Xander duduk di samping Kanaya, membuka buku yang dibawanya dan menunjukannya pada Kanaya.
"Lo pelajari dulu ini, baca aja dulu, kalo udah selesai, coba kerjain soal yang ini." Xander menunjuk lembar soal di buku tersebut.
"Gue mau beresin kerjaan dulu," lanjutnya.
Lantas Xander kembali duduk di kursi kerjanya, kembali mengerjakan berkas-berkas yang menumpuk.
.....¤◇¤.....
09.30 WIB
Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah.
"Lo suka gak?" tanya Xavier.
"Suka, makasih kamu udah bawa aku jalan-jalan kesini," sahut Sanaya.
"Sama-sama, kebetulan gue lagi gak sibuk makanya ajak lo jalan-jalan ke sini," ucap Xavier.
Sanaya mengangguk, saat ini keduanya tengah duduk di kursi taman memperhatikan orang-orang yang berada di sana untuk berlibur.
"Xavier," panggil Sanaya.
"Hmm?" Xavier menatap Sanaya.
"Sejak kapan kamu suka jahil sama Kanaya?" tanya Sanaya balas menatap Xavier.
"Udah lama, sejak pertama kali dia sekolah disini kalo gak salah," jawab Xavier.
"Selama itu? Dan kamu gak ada perasaan apapun sama dia?" tanya Sanaya dengan ekspresi wajah terkejut.
"Nggak tuh, justru gue malah sukanya sama lo ketimbang Mak Lampir itu," jawab Xavier.
"Aku?" Sanaya menunjuk dirinya sendiri.
Xavier mengangguk heboh.
"Iya, kamu. Aku suka sama kamu,"
"Eh? K-kamu bercanda kan?" tanya Sanaya memastikan.
"Iya, gue bercanda," jawab Xavier disusul cengiran tak berdosanya.
Sanaya cemberut, ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Kesal dengan Xavier yang terus bercanda jika Sanaya menanyakan hal serius.
Xavier tertawa, ia menggenggam erat tangan Sanaya.
Ini masih awal, Xavier belum yakin dengan perasaannya sendiri. Ia belum bisa mengungkapkan isi hatinya jika belum jelas dengan perasaannya sendiri.
Hanya saja, saat ini Xavier berjanji akan melindungi Sanaya, ia akan menjaga Sanaya dari bahaya apapun. Meski perasaannya belum jelas, ia telah menetapkan Sanaya sebagai gadisnya.
Ingat, gadisnya! Siapapun tidak boleh merebut Sanaya darinya, tidak boleh dan tidak akan bisa!
"Sana, lo mau nunggu gue kan?" gumam Xavier.
Sanaya menoleh, menatap Xavier penuh tanda tanya.
"Gue belum tau perasaan gue yang sebenernya, tapi gua bakal terus jagain lo. Gue bakal lindungin lo dari bahaya," ujar Xavier penuh ketulusan.
"Maka dari itu, lo mau kan nunggu gue?" Xavier memohon dengan hati yang tulus.
Dia tidak ingin kehilangan Sanaya, dan dia juga tidak bisa mengatakan bahwa dia mencintai Sanaya ketika perasaannya sendiri belum ada kejelasan.
"Aku gak mau kehilangan kamu, Sanaya. Aku tau perasaan ini belum jelas, tapi aku tak ingin kamu pergi dariku," Xavier menggenggam erat tangan Sanaya, menciumnya dengan lembut.
"Vier, aku mau kok tunggu kamu. Asalkan kamu gak mengkhianati aku," jawab Sanaya sambil tersenyum, ia mengelus lembut rambut Xavier.
......Xiexie......