
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
16.30 WIB
Jakarta, Kediaman Sunjaya
Hari berganti, siang tenggelam bergantikan dengan sore hari. Senja mulai terlihat, semburat-semburat orange kemerahan di langit yang megah.
Kediaman Sunjaya tampak masih ramai, tukang kebun baru saja selesai memotong tanaman dan menyiramnya. Ia membawa alat-alat kebunnya, memasukannya ke dalam gudang peralatan yang nampak seperi sebuah rumah.
Ia lalu berjalan menuju pavilliun keluarga Sunjaya yang berada di belakang mansion. Di sanalah tempat para pekerja tinggal, paviliun besar dan terlihat mewah menampung 20 pekerja mansion.
"Kami pamit pulang, tadi pembantu rumah kami bilang kalo rumahnya sudah selesai dibersihkan," pamit Senna.
"Iya sudah, hati-hati!" jawab Yunda.
"Dadahh Kakak! Nanti kapan-kapan Kakak main ke rumah Rea ya?" ujar Edrea.
"Iya, nanti Kakak main," jawab Xander.
"Ck! Masa kamu cuma nempel sama dia doang, sama Bang Vier gak nih?" tanya Xavier yang sudah pulang sejak siang tadi.
"Ngga mau! Nanti Rea dilabrak cewek-cewek yang suka sama Bang Vier!" jawab gadis itu membuat semua orang tertawa.
"Jahat banget, mana ada yang kayak begituan!" bantah Xavier.
Edrea tertawa renyah lalu meneluk Xavier, tak lupa memberi kecupan di pipi putihnya.
"Bye Bang Vier! Kapan-kapan main ke rumah Rea,"
Keluarga Senna masuk ke dalam mobil, mobil mereka menjauh dari pekarangan rumah mewah Sunjaya.
"Yuk masuk!" ajak Yunda. "Papa gak ikut pulang?" tanya Yunda saat masuk ke dalam rumah.
"Lusa papa pulang, ada yang harus diberesin dulu," jawab Xander.
"Bang, gue mau ngomong ama lo," ucap Xavier.
Xander mengangguk, ia dan Xavier mengantar Yunda ke kamar. Keduanya menyuruh Yunda untuk beristirahat. Setelah memastikan Yunda tertidur di kasurnya, si kembar keluar dari dalam kamar menuju ruang baca milik Angga.
KLAK
Pintu ditutup rapat agar tak ada seorang pun yang bisa mendengar obrolan keduanya.
"Apa yang mau lo bahas?" tanya Xander to the point.
"Masalah perusahaan, gue udah cek semuanya dan masih aman terkendali," ucap Xavier mengacungkan jempolnya. "Oh ya! Gue lupa, apa di London ada yang ngintipin papi?"
Xander mengangkat sebelah alisnya. "Justru gue juga mikirin itu,"
"Lah?" bingung Xavier.
"Liat dah, bawahan gue motoin orang yang lagi ngintip papi di perusahaan." Xavier menunjukan layar ponselnya yang terpampang sosok seorang pria.
Foto itu terlihat tidak jelas dikarenakan diambil secara terburu-buru. Xander mengambil alih ponsel itu dari tangan Xavier, ia menatapnya secara teliti.
Setelah cukup puas memandang foto itu, Xander mengembalikan ponsel pada Xavier dengan wajah datarnya.
"Itu bawahan gue," jelas Xander.
"Hah? Jadi bawahan kita saling nuduh, gitu?" tanya Xavier.
"Hmm ...." jawab singkat Xander. "Masalah penyelidikan lo gimana?"
"Yah, gue belum berani nyuruh bawahan gue terjun langsung ke sarang orang itu. Gue cuma bisa suruh dia perhatiin setiap gerakan orang itu," jawab Xavier. "Gue yakin mereka bukan orang-orang biasa, gak mungkin kalangan rendah kayak mereka ngincar Sunjaya," sambungnya.
Xander mengangguk setuju, ia melangkahkan kaki menuju sebuah rak buku. Xander mengambil satu buku dari sana.
"Sunjaya punya sejarah yang panjang, kalo mereka ngincar Sunjaya, kenapa baru sekarang?"
"Dari dulu bukannya sering ada perang?" tanya Xavier bersidekap dada memperhatikan sang kakak.
"Benar, tapi mereka bukan mengincar seluruh Sunjaya. Sepertinya, masalah kakek buyut beralih pada kita. Lo siap buat perang kan?" Xander berbalik menatap Xavier dengan senyum miring diwajahnya.
Ngeri liatnya gue batin Xavier
Xavier mengangguk dengan mengacungkan jempol. Xavier menunduk, terlihat urat lengannya menonjol karena ia mengepalkan tangan dengan kuat.
Mau gimana pun, masalah ini bukan masalah kecil. Sunjaya dipertaruhkan, itu artinya anggota keluarga dalam bahaya. Mami, gue gak mau sampe kehilangan Mami.
Xander menyimpan kembali buku tua itu ke dalam rak, ia menepuk bahu Xavier.
"Jangan khawatir, Mama bakal baik-baik aja selama ada kita yang jagain." Ucapnya kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
06.00 WIB
Jakarta, Kediaman Sunjaya.
TOK
TOK
TOK
"Iya Mami!" sahut Xavier dari dalam.
Terdengar suara ribut dari dalam kamar Xavier, nampaknya sang Putra tengah terburu-buru bangun dari tempat tidur. Yunda menggelengkan kepalanya dengan tingkah Xavier.
KLAK
"Mi, Mami masak apa hari ini?" tanya Xavier setelah pintu terbuka.
"Sandwich isi daging, mau?"
"Mau banget!" jawab Xavier.
"Iya udah, sana mandi. Cepet siap-siapnya, abis itu sarapan!" Yunda mengelus lembut kepala Xavier.
Yunda meninggalkan kamar Xavier, beralih menuju kamar Xander.
Yunda hendak mengetuk pintu, namun pintu kamar Xander terbuka lebih dulu.
Semerbak aroma wangi parfum Xander, ditambah shampo dan sabun yang dipakai Xander masuk ke indra penciuman Yunda.
"Mama mau bangunin Ander, hm?" tanya Xander sedikit tersenyum.
"Iya, tapi kamu udah bangun duluan. Mana udah siap lagi," jawab Yunda.
"Kalo gitu, gih turun buat sarapan!" lanjutnya.
Yunda sedikit merapikan rambut Xander yang terlihat berantakan, setelahnya membetulkan kerah kemeja sekolah Xander.
"Anak Mama ganteng banget, persis kayak papa kamu," puji Yunda.
"Mama Ander juga cantik, persis kayak bidadari." Xander tersenyum.
"Sejak kapan kamu pinter muji cewek?" heran Yunda.
"Ketularan Xavier, kali," jawab Xander.
Yunda tertawa pelan, lalu keduanya pergi bersama menuju ruang makan.
"Pagi, Pa!" sapa Xander sambil menarik kursi untuk ia duduk.
Angga telah kembali dari Paris 2 hari setelah Xander pulang, hari ini masa libur sekolah berakhir. Seperti biasa, anggota keluarga Sunjaya memulai aktivitas hariannya.
"Pagi. Mana Xavier?" tanya Angga sembari membetulkan kacamatanya.
"Masih mandi, Mas," jawab Yunda.
Yunda mengisi piring Angga dengan sandwich, ia mengambil alih koran yang sedari tadi dibaca Angga.
"Makan dulu," Yunda mengacak-acak rambut suaminya itu.
"Sayang, rambut Mas udah rapi masa sekarang berantakan lagi," gerutu Angga.
"Biarin, biar gak ada wanita yang nempel sama kamu," jawab Yunda santai.
"Ciee ... Mami cemburu nih yaa?" goda Xavier saat ia tiba di ruang makan.
Yunda membuang muka lalu duduk di kursi, acara sarapan pagi dimulai dengan damai dan tentram. Yunda tersenyum, berharap kebahagiaan ini selalu hadir dalam keluarga kecilnya.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
07.30 WIB
Jakarta, Winter's High School
"Kana!" sapa Tania saat ia tiba di kelas.
Kanaya menoleh, melemparkan senyum cerianya.
"Gimana liburan lo?" tanya Tania ketika ia baru saja duduk dikursi.
"Bosen, di rumah terus. Bokap gue ngelarang gue buat keluar, mana dia juga kagak ajak gue liburan," gerutu Kanaya.
"Ya Ampun, sabar ya." Tania mengusap punggung Kanaya.
"Oh ya, gue denger-denger bakal ada anak murid baru di sekolah ini."
"Tau dari mana, lo?" tanya Kanaya heran.
Tania menunjukan senyum lebarnya, Kanaya menatapnya sinis.
"Tau dah gue," ucapnya sedikit kesal. "Kapan sih kalian bakal jadian? Greget gue sama kalian berdua,"
"Lain kali aja, gue belum siap punya pacar. Dan lagi, dia kan punya banyak fans gue takut disambar fansnya," jawab Tania lesu.
Kanaya mengangguk paham. "Terus, siapa anak barunya? Lo tau?" tanya Kanaya.
Tania menggeleng. "Katanya sih kelas 11, jadi kita gak bakal liat dia."
Kanaya mengangguk lagi, entah kenapa ia sangat pensaran dengan murid baru itu. Ditambah perasaannya tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu yang besar.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...