
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
10.30 WIB
Jakarta, Winter's Highschool.
Ilona berlari menyusuri koridor setelah meninggalkan kantin, air mata membasahi wajahnya. Ia menangis melihat semua orang mengabaikannya, Ilona berhenti kemudian jatuh terduduk lemas di lantai yang dingin.
"Ck! Mereka keterlaluan!" umpatnya kesal.
Drap
Drap
Drap
Mendengar derap langkah kaki seseorang, Ilona mendongak menatap sosok laki-laki di depannya. Laki-laki itu berjongkok di depan Ilona sembari memamerkan senyum manisnya.
"Gue bisa bantu lo," ucapnya.
"Hah? Apa maksud lo?" tanya Ilona bingung setelah ia mengusap kasar air matanya.
"Gue tau lo suka sama Xander, dan gue bisa bantu lo buat dapetin dia," jelasnya menyeringai.
"Gue gak butuh bantuan lo!" tolak Ilona, ia lantas berdiri kemudian melangkah meninggalkan laki-laki tersebut.
"Gue yakin lo butuh bantuan!" seru laki-laki tersebut sembari berdiri.
Ilona menghentikan langkahnya. "Gue udah bilang kalo gue gak butuh bantuan lo!" tegas Ilona kembali menolak lantas ia melanjutkan langkahnya.
Laki-laki itu menyeringai menatap kepergian Ilona. Keras kepala, gue tau lo butuh bantuan gue.
"Apa-apaan sih! Cowok gak jelas!" gerutu Ilona sepanjang perjalanannya menuju kelas.
"Ilona!" panggil seorang perempuan di belakang Ilona.
Ilona berbalik menatap perempuan yang memanggilnya tadi.
"Lo dari mana aja sih? Gue cari-cari dari tadi," tanya gadis itu.
"Gue abis dari kantin, kenapa nyari gue?" jawab sekaligus tanya Ilona.
"Bentar lagi masuk kelas, lo tau 'kan abis istirahat bakal ada ulangan harian kimia?"
"Gue tau, makanya gue mau balik ke kelas," jawab Ilona.
"Tunggu. Lo abis nangis?" tanya gadis itu setelah ia melihat mata merah Ilona.
"Ngga, gue gak nangis. Tadi cuma kelilipan aja," elak Ilona.
"Mata lo merah gitu, mau diobatin gak?" tawarnya.
"Gak usah, buruan ke kelas. Nanti keburu gurunya masuk."
Gadis itu mengangguk lalu menyusul langkah Ilona menuju kelas mereka berada.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
12.00 WIB
Jakarta, Winter's Highschool.
Bel istirahat kedua berbunyi, murid yang beragama Islam bergegas menuju mushola sekolah untuk ibadah. Sementara lainnya mengerubungi kantin sekolah.
Ilona berpapasan dengan Kanaya saat ia hendak menuju kantin sekolah. Sebuah ide jahat tiba-tiba muncul di benaknya. Ilona menghampiri Kanaya untuk menyapa.
"Hay!" sapa Ilona sambil tersenyum.
"Ya? Ada apa?" tanya Kanaya.
"Lo bisa bantu gue gak?"
"Bantu apa? Kalo gue bisa, gue pasti bantuin lo,"
"Jam tangan gue kecebur di kolam renang, lo bisa bantu gue ambilin gak?" tanya Ilona dengan memasang ekspresi wajah sedih.
"Emangnya di sana gak ada orang?"
"Gak ada, makanya gue ke sini buat minta bantuan," jawab Ilona sambil menghapus air mata buayanya. "Jam tangan itu pemberian eyang gue, eyang udah gak ada jadi itu satu-satunya kenang-kenangan dari dia."
Kanaya terdiam, ia sedikit ragu untuk membantu Ilona. Dan lagi, keadaan koridor kelas IPS cukup sepi sehingga tak ada yang bisa menolong Ilona selain dirinya.
Kolam renang berada di gedung kelas 10 berdampingan dengan lantai kelas IPS. Entah kenapa Ilona bisa ada di sana padahal keadaan kolam begitu sepi.
"Iya udah, gue bantu lo," putus Kanaya meski ia merasa ragu.
"Beneran? Kalo gitu, ayo ikut gue!" Ilona menarik tangan Kanaya menuju kolam renang sekolah.
Sesampainya di pinggir kolam, Ilona menunjuk ke dasar kolam dan menceritakan bagaimana jam tangannya bisa jatuh ke kolam.
"Tadi ada anak-anak cowok di sini, mereka keliatan lagi renang atau sekedar saling bercanda. Terus gue diganggu sama mereka, dan gak sengaja jam tangan gue jatuh ke sana," jelas Ilona tentu ceritanya palsu.
Setelahnya Kanaya kembali ke pinggir kolam, ia berjongkok sambil memasukan alat pel ke dalam kolam. Kanaya mengorek-orek kolam mencari keberadaan jam tangan.
"Di mana jam tangannya, sih," gumam Kanaya.
Ilona menyeringai, ia menatap sekitar memastikan tak ada seorang pun di sana. Kemudian Ilona mendorong punggung Kanaya, Kanaya terkejut dirinya kemudian jatuh ke dalam kolam.
Byurr
"Akh ... tolong ... tolongin gue ...." seru Kanaya sembari berusaha memunculkan kepalanya ke atas air.
Ilona tertawa puas melihat Kanaya tercebur ke dalam kolam, Kanaya menatap tajam Ilona yang tertawa melihatnya.
"Rasain!"
"Kanaya!" seru Xander berlari ke arah kolam.
Xander melepaskan jas almamater sekolah kemudian melemparnya ke sembarang arah, kemudian Xander menceburkan diri ke dalam kolam untuk menyelamatkan Kanaya.
"Astaga ... Kanaya!" seru Sanaya syok melihat sang adik berada di dalam kolam.
"T-tolong ...." Kanaya kehabisan tenaga untuk berusaha ke tepi kolam, kolam itu terlalu dalam untuknya dan lagi ia tak bisa berenang.
Kanaya tenggelam ke dasar kolam, sesaat sebelum matanya tertutup Kanaya melihat sosok Xander berenang mendekatinya mencoba meraih tangannya.
Ilona panik di tempat, saat ini keadaan kolam begitu ramai akibat kejadian Kanaya yang jatuh ke dalam kolam. Setelah kedatangan Xander, muncul teman-temannya yang menyusul Xander.
Sanaya menangis di pelukan Xavier melihat sang adik tenggelam. Arkano menatap tajam Ilona yang tengah gelisah sambil mengigit jarinya.
Arka melirik Nean yang juga tengah menatap Ilona, Arka menepuk bahu Nean.
"Kuy!" ajaknya yang diangguk Nean dengan semangat.
Arka dan Nean menghampiri Ilona yang nampak gemetar ketakutan.
"Hey cantik, ngapain di sini?" tanya Arka menggoda Ilona.
Ilona terkejut mendengar suara Arka dari belakang, tangan kekar Arka merangkul bahu Ilona sembari menyeringai. Sementara Nean tampak tak peduli dengan aksi Arka, ia lebih memilih diam memerhatikan Xander yang kini berhasil membawa Kanaya ke tepi kolam.
Xavier membantu Xander mengangkat Kanaya, Kanaya diletakan di tepi kolam. Xander duduk di samping Kanaya, ia melatakan kepala Kanaya di pangkuannya.
"Kana, bangun Kan!" seru Xander sambil menepuk pipi Kanaya.
"Kasih napas buatan aja, Xan!" usul Vian.
Xander, Xavier dan Sanaya menatap tajam Savian.
"Kenapa kalian liat gue kayak gitu? Gue gak salah 'kan?" tanya Vian bingung.
Sontak ketiganya menggeleng pelan, Sanaya mengusulkan untuk memiringkan tubuh Kanaya lalu menepuk punggungnya.
"Kanaya, bangun sayang ...." bisik Xander di telingan Kanaya.
Kanaya terbatuk dengan air kolam yang keluar dari mulutnya, Kanaya membuka kedua matanya menatap Xander dengan lekat.
"X-Xander ...." lirihnya.
Xander tersenyum kecil kemudian membantu Kanaya untuk duduk. Semua orang terdiam melihat keadaan Kanaya, Xander menatap Xavier dan juga Vian yang menatap lekat Kanaya.
"K-kenapa kalian liatin gue gitu?" tanya Kanaya bingung.
"Sanaya, bawa jas gue," titah Xander.
Sanaya mengambil jas Xander yang tak jauh darinya kemudian menyerahkannya pada Xander. Xander menyelimut jas almamaternya pada tubuh Kanaya, jas itu terlalu besar untuk tubuh ramping Kanaya.
"Seragam lo nerawang," bisik Xander.
Kanaya membulatkan matanya, terkejut mendengar bisikan Xander lantas wajahnya memerah padam.
"Yah, kenapa ditutup sih?" tanya Vian terlihat kecewa.
"Mau mati lo?" Xander menatap tajam Savian. Savian menunjukan cengirannya.
Xander meliril Arka yang kini tengah merangkul Ilona dengan wajah menyeramkan. Xander membuang napas panjang kemudian ia menggendong Kanaya.
"Vi, bantu mereka," suruh Xander pada Savian.
Savian melirik ke belakang, kedua temannya nampak berbincang dengan Ilona. Savian menyeringai kemudian menghampiri Arka dan Nean.
"Vi, kita punya mainan baru," ujar Arka yang melihat kedatangan Savian.
Ilona terkejut mendengarnya, ia tak berani mendongak menatap Vian.
"Ayo sayang, ikut kami. Tenang aja, kami gak akan nyakitin kamu kok," ujar Savian sembari mengangkat dagu Ilona. "Cantik banget sih." Savian mengelus wajah Ilona.
Sentuhan dingin Savian membuat Ilona merinding dibuatnya.
"Haa ... mulai lagi dah." Nean menghela napas panjang sembari menggelengkan kepala.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...