SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 41



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


10.00 WIB


Jakarta, Winter's Highschool.


Bel istirahat berbunyi dengan keras, mata pelajaran selesai, guru yang mengajae keluar dari kelas, sorak sorai siswa dan siswi menggema.


"Akhirnya!"


"Sesak banget, akhirnya itu guru keluar juga."


"Bener, auranya serem banget. Dia mau ngajar atau mau perang, sih? Serem amat."


"Tatapanny itu lho, mampu membuatku meninggoy."


Tawa renyah seketika menggema setelah mendengar candaan dari Tania. Kanaya menggeleng pelan mendengarnya.


Benar, rasanya melegakan setalah guru mata pelajaran kimia keluar dari kelas. Sepanjang jam pembelajaran, keadaan kelas begitu hening. Bahkan beberapa di antara siswa merinding ketakutan merasakan aura mencekam dari sang guru.


"Makan bareng yuk!" ajak Leon.


Sejak kapan ini bocah ada di sini? batin Kanaya.


"Boleh tuh," jawab Kanaya.


Akhir-akhir ini Leon terlihat tenang, tak ada pergerakan yang menjengkelkan bagi Kanaya. Biasanya Leon akan membacakan puisi ketika pelajaran kosong atau menyanyikan lagu cinta. Kanaya benar-benar jengkel dengan hal itu.


"Gue ikut, ya!" seru Tania bersemangat.


"Ya." Meski kesal Leon tetap menyetujuinya.


Kanaya bangkit dari duduknya, namun mendadak ia kembali jatuh duduk sambil memegangi perutnya yang sakit. Kanaya menyembunyikan raut wajah resahnya dari Leon.


"Kenapa duduk lagi?" tanya Leon heran.


"I-itu, gue lupa kalo gue punya tugas," jawab Kanaya berbohong.


Tania melirik tangan Kanaya yang kini mencengkram roknya dengan kuat.


"Leon," panggil Raka yang berada di ambang pintu kelas.


Leon menoleh menatap Raka, Raka menghampiri Leon. "Kenapa lo?" tanya Leon.


"Makan yuk, traktir gue sekali-sekali," ajaknya dengan alis naik-turun.


Leon menatap Kanaya, Kanaya tersenyum. "Lo pergi aja, nanti gue bisa nitip makanan sama Tania," ucapnya.


"Iya udah, gue pergi dulu." Leon menatap mata Kanaya sebelum ia beranjak pergi.


Tangan Leon terangkat mengelus puncak kepala Kanaya dengan lembut. Setelahnya ia beranjak pergi keluar dari kelas.


"Arrgh ... sakit banget ...." rintih Kanaya selepas kepergian Leon.


"Lo sakit perut karna apa?" tanya Tania yang kini kembali duduk di samping Kanaya.


"K-kayaknya tamu gue dateng deh," jawab Kanaya.


"Astaga ... disaat lo lagi sekolah? Dan lo gak bawa pengaman?" tanya Tania.


"Bahasa lo astaga, otak gue traveling denger kata 'pengaman' dari lo!" ujar Kanaya sedikit kesal.


"Kana," panggil Xander di luar kelas.


Tania dan Kanaya menoleh ke arah pintu, Xander berjalan masuk ke dalam kelas. Suasana kelas begitu sepi, hanya ada mereka berdua di dalam kelas.


"Kenapa?" tanya Xander begitu ia tiba di samping Kanaya.


Tatapan Xander terfokus pada tangan Kanaya yang mencengrak perutnya dengan erat. Kanaya terdiam tak menjawab, ia sangat malu untuk mengatakannya.


"Itu ... tamu bulanan Kanaya tiba-tiba dateng. Jadi, Kanaya gak bawa pengaman," jawab Tania mewakili Kanaya.


Xander mengangguk paham, ia melepas jas almamater yang melekat di tubuhnya. "Berdiri dulu," pintanya.


Kanaya menurut, ia berdiri di depan Xander dengan kepala menunduk dalam.


"Angkat tangannya," pinta Xander lagi dan Kanaya menurutinya.


Xander tersenyum kecil melihat Kanaya yang menuruti perkataannya. Xander memasang jas almamaternya ke pinggang Kanaya, menutupi bagian belakang gadisnya.


"Lo gak apa-apa jasnya kotor?" tanya Kanaya pelan dengan kening berkerut.


Xander berbisik di telinga Kanaya. "Gak masalah, apapun gue lakuin buat lo."


Tania mendadak iri melihat kemesraan kedua sejoli di depannya. "Aah ... jadi kangen Vian," gumamnya.


"Temani dia ke UKS," pinta Xander pada Tania.


"Siap, gue temenin kok. Tapi, soal pengaman gimana?" tanya Tania.


"Gue yang beli," jawab Xander santai.


Tania dan Kanaya membelalakan mata mendengar jawaban Xander. Jarang sekali ada pria yang bersedia membeli kebutuhan wanita dengan suka rela seperti Xander.


Tak menghiraukan kedua gadis yang terkejut, Xander mencium kening Kanaya setelahnya keluar dari kelas untuk membeli 'barang' yang  dibutuhkan Kanaya saat ini.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


Jakarta, Winter's Highschool.


"Enak banget kue buatan kamu," puji Xavier setelah selesai menelan kue yang dimakannya.


"Udah dari dulu kamu makan kue aku, masa  baru sekarang bilang kayak gitu," sahut Sanaya dengan diiringi kekehan kecil.


"Masa sih? Bukannya aku sering bilang gitu ya?" tanya Xavier tak percaya.


"Iya, baru sekarang kamu bilang," jawab Sanaya. "Ayo makan lagi." Sanaya menyuapkan kue ke dalam mulut Xavier.


"Makin enak kalo disuapin," gumamnya.


"Yaelah, kalian romantisan kayak gitu gak liat sekitar? Please, hargai perasaan kaum jomblo," ujar Arka dengan nada dramatis.


"Salah sendiri, ngapain masih di sini bukannya pergi aja," sahut Xavier.


"Jahat amat ngusir gue."


"Iya udah diem, terima kenyataan!"


"Gue sih enak-enak aja selagi masih bisa makan kue manis gratis," celetuk Nean yang masih setia memakan kue buatan Sanaya.


Sanaya tertawa kecil mendengarnya.


"Lo mah mana paham, lo kan masih bocil!" ujar Arka kesal.


Nean mengangkat bahu tak peduli. "Kak Sana, aku mau lagi dong kuenya," pinta Nean dengan menunjukan ekspresi wajah memelasnya yang imut.


"Eh anak bebek! Ambil sendiri ngapa, jangan ngerepotin pacar orang!" kesal Xavier.


"Yaelah, Sanaya aja gak bilang apa-apa kok lo malah ribut sih," balas Nean.


"Haduh, gak ada yang bener di sini." Arka menghela napas berat. Ekor matanya menangkap sosok Xander yang mendekat. "Eh Xan, mau ke mana lo?" tanya Arka saat Xander mendekat.


"Beli pengaman," jawab Xander sekenanya. Entah kenapa kalimat itu yang diucapkannya.


"Apa?!" seru Nean, Arka, dan Xavier bersamaan.


"Eh Xan! Lo ngapain beli begituan?" tanya Arka yang tak habis pikir.


Xander tak mempedulikan ketiga temannya, ia memilih berlalu meninggalkan mereka. Arka dan Nean menggelengkan kepala mereka.


"Lebih parah dari lo Vier," celetuk Arka.


"Bahkan lo aja kalah sama dia Ka," sahut Nean.


Arka melirik tajam Neandro yang kini menatap punggung Xander sambil memakan kue.


"Jelas gue lebih baik dari dia," sahut Xavier bangga.


"Tapi, masa iya Xander beli pengaman?" tanya Arka kurang yakin dengan jawaban dari Xander.


"Mungkin dia udah gak tahan pengen cepet-cepet malam pertama," jawab Nean dengan wajah polosnya.


"Cil, gak baik lo ngomong kayak gitu. Lo itu masih bayi." Arka menoyor pelan jidat Nean.


"Kayaknya yang dimaksud pengaman sama Xander bukan balon itu deh," celetuk Sanaya setelah ia menatap layar ponsel.


"Eh? Kamu tau kebenarannya, sayang?" tanya Xavier antusias.


Sanaya mengangguk kemudian menunjukan layar ponselnya pada ketiga pria di depannya. Setelah melihat ponsel Sanaya, ketiganya bernapas dengan lega.


"Syukur kalo dia masih waras," ucap Arka.


"Ngomong-ngomong, Savian ke mana dah?" tanya Xavier sembari mengedarkan pandangan mencari sosok Savian di kantin sekolah.


"Lagi nyari janda kali," jawab Nean asal.


"Astaga ini bocah dari tadi jawabannya melenceng mulu. Gak sesuai sama umur lo, bayi!" kesal Arka.


"Umur gue udah 17 tahun, cukup dewasa untuk dibilang bayi," sahut Nean masih setia memakan kue sampai-sampai kue yang dibawa Sanaya habis dimakan Nean seorang diri.


"Tapi muka lo kayak bayi, bayi gede!" ucap Xavier.


"Bagus dong, gak kayak kalian. Muka tua umur tua."


Xavier dan Arka terdiam menatap datar wajah Neandro. Nean tak peduli, ia malah meminta Sanaya mengambilkan kue lagi untuknya.


"Gue lupa bocah ini asalnya dari mana," ucap Xavier.


"Perasaan gue bawa bocah ini dari gerobak sampah dah," sahut Arka.


"Kok bisa ya kita melihara makhluk kayak gitu?"


"Takdir dari Tuhan. Gimana pun bentuknya, dia cukup berguna bagi kita," sahut Arka.


"Untung punya bakat."


"Kalo kagak, udah gue tendang dari dulu," sambung Arka.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...