
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
SET
"Siapa lo?"
Suara berat Xavier yang terlihat marah mengejutkannya apalagi sebilah pisau kecil bertengger di lehernya.
"S-saya ...." ucapnya terbata.
Xavier menekan pisau ke leher pria itu. "Gue tanya, lo siapa?" ulang Xavier menahan amarahnya.
Pria itu tampak memberontak, ia berhasil melepaskan pisau yang bertengger di lehernya dengan menyikut perut Xavier lalu ia kabur dari jangkauan Xavier.
GREP
"Mau kemana, hm?" Xander menangkap tangan pria itu memelintirnya ke belakang.
Nean, Vian, dan Arka menghampiri dengan tergesa-gesa. Ketiganya bingung mendapati Xander menangkap seekor tikus.
"Siapa sih lo itu?" kesal Xavier.
Pria itu diam seribu bahasa, ia hanya menunduk tidak berani menatap mata Xavier maupun Xander.
"Bawa dia ke markas, suruh anak-anak jagain!" titah Xander.
"Siap!" jawab ketiga temannya.
Arka dan Vian membawa pria itu menuju mobil Vian, dan Nean mulai membuka tabletnya untuk mencari informasi mengenai pria tadi.
"Heran, ditanya malah diem aja bukannya jawab. Enakan dijawab dari pada kagak, kan disekap jadinya," celoteh Xavier.
Xander mengalihkan pandangannya menatap keempat gadis yang masih mengobrol tanpa menyadari sekitarnya. Senyum tipis terukir di bibirnya, Xavier tidak bisa melihatnya, ia mengusap tengkuknya kesal dengan pria tadi.
"Ck! Kalo sampe Sanaya kenapa-kenapa, gue habisin tuh cowok!" marahnya.
"Lo gak nyamperin dia?" tanya Xander.
"Mau sih, tapi ada mak lampir di sana. Males gue," jawab Xavier.
Xander mengangguk kecil, kemudian berbalik pergi meninggalkan taman.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
15.30 WIB
Jakarta, Markas Dark Boy
"Ck! Dari tadi gue tanya, lo diem aja!" kesal Arka sambil berkacak pinggang.
Terlihat pria yang tadi di sekolah telah terikat di sebuah kursi dengan wajah yang babak belur, tentu itu ulah Arka dan Vian. Nean tak ingin terlibat perkelahian, bukan karena tak mampu, tapi ia terlalu malas.
"Udah cukup, dia mungkin kagak mau ngomong karena takut sama bos nya," ujar Nean yang duduk di sofa sambil menonton televisi.
Markas Dark Boy bukanlah sebuah markas biasa yang digunakan geng lain. Mungkin geng lain memanfaatkan sebuah gudang tak terpakai untuk dijadikan markas.
Berbeda dengan Dark Boy, mereka memanfaatkan Villa Sunjaya untuk dijadikan markas. Bukan Villa sembarangan, Villa itu dilengkapi dengan teknologi canggih yang diprogram oleh Nean.
"Terus harus diapain nih anak?" tanya Arka kelewat kesal.
"Biar gue yang urus," ujar Xander yang baru saja masuk ke dalam Villa.
Xander melangkah mendekat, sontak pria itu menunduk. Xander mengangkat dagu pria itu menggunakan ujung pistol yang dibawanya.
"Siapa lo sebenarnya? Apa tujuan lo?" tanya Xander beruntun.
"S-saya ...." jawabnya takut.
Xander mengangkat sebelah alisnya.
"Nean! Jelaskan!" titah Xander tanpa menoleh kearah Nean.
"Bara, seorang bodyguard keluarga Trivara. Butuh waktu sekitar 2 jam buat nemuin informasi soal dia, keamanan Trivara cukup kuat. Tapi gue berhasil membobolnya," Nean tersenyum bangga.
"Bagus," puji Xander.
"Lah? Ngapa lo kagak bilang dari tadi, bocah?!" kesal Arka.
"Lo nya aja yang kagak nyuruh gue buat jelasin," jawab Nean santai kembali memakan camilan dan menonton TV.
"Sialan!" umpat Arka.
"Karena sekarang udah jelas siapa dia, gue cabut dulu. Ada urusan," pamit Vian.
"Mau kemana lo?" tanya Arka.
"Kepo!"
"Gue tau, lo pasti mau ketemu ayang kan?" goda Arka dengan menaik-turunkan alisnya.
"Sok tau lo! Gue disuruh bokap ngurusin berkas di perusahaan!" jelas Vian.
Arka mencebikkan bibirnya, sementara Xander telah sibuk mengotak atik ponselnya. Xavier tidak ikut bersama karena mengantar Sanaya pulang ke rumah.
"Kurung dia!" titah Xander pada kedua bodyguard yang ada di depan pintu.
Keduanya mengangguk lalu membawa Bara menuju ruang bawah tanah Villa tersebut.
Xander menempelkan ponselnya ditelinga, suara seseorang menyahut panggilannya
"Dimana?" tanya Xander.
"Amsterdam, Tuan!"
"Hati-hati, gue denger orang-orang di sana lebih waspada. Jangan sampe mereka salah paham!" ingat Xander.
"Baik Tuan! Anda tenang saja, kebetulan saha telah bertemu salah satu anggota mereka, beliau mempercayai saya dan siap membantu anda," jelas Noah.
"Kalian kagak balik?" tanya Xander setelah memasukan ponselnya ke dalam saku.
"Entaran aja, gue masih betah di sini," jawab Arka.
"Gue juga," sahut Nean.
"Hay guys! Gue bawa kue buat kalian!" seru Xavier saat masuk ke dalam Villa.
Nean, Arka, da Xander menatap ke arahnya. Xavier nampak senang, ia berjalan ke arah sofa dan duduk di sana.
"Nih buat lo pada!" Xavier meletakan bungkusan tersebut ke atas meja.
Nean dengan cepat membukanya, anak itu sangat menyukai kue terlebih lagi kukis coklat yang manis. Bahkan Nean sendiri berwajah tampan dan juga manis, orang-orang menyebutnya sebagai bayi di antara anggota Dark Boy yang lain.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
16.00 WIB
Jakarta, Kediaman Trivara.
KLAK
Kanaya masuk ke dalam rumah dengan menghela nafas berat, hari ini cukup melelahkan namun sangat membahagiakan. Dia akhirnya bertemu sang kakak yang sangat dirindukannya.
Kanaya melangkahkan kaki menaiki anak tangga.
"Kemana kamu?" tanya sang papa di bawah tangga.
"Kamar," jawab Kanaya menoleh ke arah papa nya.
"Entaran aja, ke ruang kerja Papa dulu. Ada yang mau Papa tanyain ke kamu," ucapnya.
Kanaya mengangguk patuh, ia penasaran sang ayah akan menanyakan hal apa sampai ia harus menemuinya di ruang kerja. Sang papa lebih dulu masuk ke dalam ruang kerja, disusul Kanaya.
"Tutup pintunya!"
Kanaya terkejut, ia mendadak sangat takut. Bahkan jantungnya berdetak sangat kencang, akankah hal buruk terjadi padanya hari ini?
Kanaya menutup pintu ruang kerja papanya, keadaan hening sejenak, tak ada yang membuka suara.
"Papa denger ada murid baru di sekolah, bener itu?" tanya sang Papa menatap tajam putrinya.
Kanaya tersentak kaget, ia mendongak menatap wajah ayahnya. Dengan ragu Kanaya menganggukan kepala.
"Jadi bener ya, siapa namanya?"
"S-Sana ...." jawab Kanaya takut.
"Sana? Kayaknya Papa kenal nama itu," sang papa menopang dagu sambil bersender di depan meja kerjanya.
"Oh! Papa ingat!" Trivara menjentikan jarinya. "Dia ... Sanaya Yusha bukan?" sang Papa menyeringai menunjukan senyum menakutkannya.
"P-Papa ...." cicit Kanaya.
"Naya, kamu tau kan anak itu bukan anak yang baik?"
Kanaya hanya terdiam.
"Kenapa kamu deket sama dia?"
Kanaya kembali terdiam sambil menunduk, ia memainkan jemarinya untuk mengurangi rasa takut.
Sang papa berjalan mendekat, dengan cepat ia mencengkram bahu Kanaya.
"Kenapa diam, hah?" ujarnya marah. "Kenapa kamu deket sama anak itu? Kenapa? JAWAB!!" sentaknya membuat Kanaya takut.
"N-Naya cuma kangen kakak, Naya udah lama gak ketemu kakak. Apa salah kalo Naya main sama kakak sebentar?" jawab Kanaya.
"Kakak? Dia bukan kakak kamu, Kanaya! Jangan panggil dia kakak! Karena dia bukan kakak kamu! Berapa kali Papa bilang ke kamu, kalo dia bukan kakak kamu!" bentak sang papa sambil mengguncang-guncang bahu Kanaya.
"Tapi, kakak juga anak Papa. Dia anak pertama Papa di keluarga ini," balas Kanaya.
"DIA BUKAN ANAK PAPA!" jawab Sang Papa dengan marah. "Dia tidak pernah jadi anak Papa! Selamanya dia hanya anak jalanan yang tidak tau diri!"
"Kakak bukan anak jalanan, Pa! Dia anak Papa! Papa yang bawa dia ke sini! Papa yang rawat dia, sekarang Papa bilang dia anak jalanan?!" balas Kanaya ikut marah, Kanaya menarik nafas dalam-dalam. "Kalo emang kakak anak jalanan, kenapa Papa pungut dia dan bawa ke rumah ini? Kenapa, Pa?!"
"DIAM!" sentak Trivara. "Jangan meninggikan suara kamu di depan Papa kalo kamu tidak ingin bernasib sama dengan kakak kamu!"
"Apa salah kakak, Pa? Kenapa Papa usir kakak?" tanya Kanaya dengan lirih.
Sang Papa melepaskan cengkramannya.
"Bahkan Mama ikut pergi, Papa gak kangen Mama?" Kanaya menatap wajah sang ayah dengan berurai air mata. "Naya kangen, Pa. Naya kangen mama, Naya kangen disayang mama. Naya kangen masakan mama, Naya pengen dipeluk mama. Kakak dapat semua perhatian mama, sementara aku gak dapet itu semua ...."
"Papa gak kasian sama Naya? Apa sebenernya mau Papa? Kenapa Papa terus kekang kita semua? KENAPA, PA?!" Kanaya meninggikan suaranya di kalimat terakhir.
PLAK!
"Beraninya kamu bentak saya!" marah sang Papa
Kanaya menangis memegang pipinya yang panas, selama ini ia sangat merindukan ibunya. Sudah lama ia tidak melihat wajah cantik sang ibu, sementara Sanaya melihat wajah itu setiap hari. Kanaya iri, dia juga ingin melihat wajah ibunya.
"Papa jahat," lirihnya.
Kanaya berbalik hendak keluar dari ruangan yang sesak itu.
"Papa gak mau liat kamu ketemu dia lagi besok! Kalo sampai kamu ketahuan ketemu dia, Papa gak akan segan-segan buat dia menghilang dari bumi! Bahkan ibumu akan Papa buat jauh darimu!" ancamnya.
Kanaya kembali menangis, ia keluar dari ruangan itu dengan terisak hebat. Kanaya berlari menaiki anak tangga, masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Kanaya melemparkan tasnya, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Kanaya menenggelamkan wajahnya di bantal untuk merendam suara tangisannya.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...