SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 42



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


10.20 WIB


Jakarta, Winter's Highschool.


Xander selesai membeli barang yang dibutuhkan Kanaya, ia berjalan dengan langkah santai menuju UKS. Banyak pasang mata yang menatapnya penuh tanda tanya melihat 1 buah paperbag dan 1 buah kantong plastik minimarket berwarna putih.


Jika ditatap dengan baik akan terlihat jiplakan benda-benda di dalam kantong plastik tersebut. Salah satu siswi menutup mulutnya ketika ia tahu apa yang ada di dalam kantong tersebut.


"Gila, idaman banget!" pekiknya senang.


"Maksud lo apaan?" tanya temannya bingung.


"Xander idaman para cewek!" jawabnya lebih senang dari sebelumnya.


Klak


Xander membuka pintu UKS, di dalam terlihat sosok Savian tengah memeluk pinggang Tania dari samping.


Keduanya lantas menoleh begitu mendengar suara pintu terbuka. Xander berjalan mendekat ke arah brankar.


"Ganti dulu sana, bareng sama Tania," ucap Xander sembari mengelus kepala Kanaya yang terbaring di brankar.


Kanaya mengangguk, Xander membantu Kanaya untuk turun dari atas brankar. Setelahnya Tania menemani Kanaya ke kamar mandi sambil menenteng barang bawaan Xander.


"Lo gak malu beli begituan?" tanya Savian dengan tatapan mencurigakan.


"Ngapain malu, gue udah sering beli begituan," jawab Xander.


"Hah? Buat siapa?" tanya Savian kaget.


"Nyokap," singkat Xander.


Savian mengangguk paham, kemudian keduanya mulai berbicara mengenai bisnis. Kalian tahu bukan jika Savian ini seorang pewaris keluarga ternama? Saat ini Vian menjadi rekan bisnis Xander, hebat bukan?


"Hmm ... lo kirim aja berkasnya ke rumah gue, nanti gue periksa dulu," titah Xander.


"Oke. Ngomong-ngomong, thanks ya udah bantu perusahaan gue."


"Gue lakuin ini bukan tanpa alasan, lo juga tau 'kan alasan gue bantuin lo?"


"Iya, gue tau. Maka dari itu, kalo lo perlu bantuan jangan ragu buat bilang ke gue," jawab Savian sembari menepuk bahu Xander.


Tak lama Kanaya dan Tania kembali masuk ke dalam UKS. "Kanaya masih sakit, kayaknya dia gak bakal masuk kelas deh," ucap Tania setelah ia membantu Kanaya duduk di atas brankar.


"Hm ... biarin dia istirahat di sini. Lo masuk kelas aja," ujar Xander.


"Yakin lo mau ninggalin kelas?" tanya Savian.


"Ya, Kanaya lebih penting dari pada masuk kelas. Gue gak perlu denger penjelasan guru berulang kali," jawab Xander mendekat ke arah brankar membantu Kanaya berbaring di atasnya.


"Iya juga, lo kan pinter." Vian mengangguk paham. "Iya udah, gue balik dulu." Savian menggandeng tangan Tania membawanya keluar dari UKS.


"Masih sakit?" tanya Xander menatap perut Kanaya.


"Masih," jawab Kanaya parau.


Xander mengambil paperbag yang berada di atas meja, kemudian ia mengeluarkan sebungkus roti dari dalam paperbag.


"Makan dulu, setelah makan minum obat supaya gak sakit lagi," titah Xander.


Kanaya mengangguk, Xander kembali membantu Kanaya untuk duduk. Xander membuka kemasan roti kemudian memberikannya pada Kanaya.


Selesai makan, Xander memberikan obat pereda nyeri pada Kanaya. Setelahnya Kanaya kembali tidur di atas brankar.


Xander mengelus lembut kepala Kanaya sambil duduk di sampingnya. Tangan Xander merangsek turun ke perut Kanaya.


"Eh, mau ngapain?" pekik Kanaya kaget.


"Tenang aja, gue gak bakal macam-macam." Xander memijat pelan perut Kanaya, membuat Kanaya merasa nyaman.


"Ander ...." lirih Kanaya memanggil Xander.


"Hmm?"


Kanaya memutar bola mata ke samping, wajahnya seketika memerah. "Makasi udah beliin gue itu," ucap Kanaya pelan.


Xander tersenyum mendengarnya. "Sama-sama, itu kewajiban aku sebagai pelindung kamu," jawab Xander lembut.


Aku? Kamu? Manis banget sih pacar gue, batin Kanaya.


"Ander," panggil Kanaya.


"Hm?" Xander masih memijat pelan perut Kanaya dengan pandangan fokus ke layar ponsel.


"Kenapa?" tanya Xander tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Ander!" panggil Kanaya sedikit membentak.


Xander menatap Kanaya dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa, sayang?"


Deg


Sayang? Sayang katanya, astaga jantung gue deg-degan, batin Kanaya.


Xander menyunggingkan senyumannya, lengannya ia angkat untuk mengelus lembut rambut Kanaya. Xander mengangkat rambut Kanaya kemudian menciumnya.


"Stroberi," gumam Xander menatap dalam Kanaya.


Saat ini, detik ini, wajah Kanaya memerah sempurna bak kepiting rebus.


"Masih sakit?" tanya Xander melirik perut rata Kanaya.


"U-udah mendingan," jawab Kanaya terbata.


Kanaya mencoba untuk duduk, Xander membantunya bangun. Xander menyelipkan anak rambut Kanaya ke belakang telinganya.


"Kenapa wajah kamu merah? Kamu sakit?" tanya Xander khawatir sembari menempelkan telapak tangannya di kening Kanaya.


"A-aku gak sakit. Di-di sini panas, jadi muka aku merah," jawab Kanaya melepaskan tangan Xander dari keningnya.


"Perasaan di sini dingin, dari tadi kipasnya nyala," ucap Xander bingung setelah ia melihat kipas angin yang menempel di dinding.


"Itukan perasaan kamu, menurut aku di sini panas," sahut Kanaya.


"Beneran gak sakit?" tanya Xander kembali memastikan.


"Bener ih." Kanaya memeluk Xander, menyembunyikan wajah merah meronanya.


"Katanya panas, kenapa malah meluk?"


"B-bisa diem gak?"


Xander tertawa kecil lantas membalas pelukan Kanaya seraya mengusap rambut panjang Kanaya.


Tanpa mereka sadari, sosok pria melihat keromantisan keduanya di luar ruangan. Tangannya terkepal kuat kemudian beranjak pergi dengan perasaan marah.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


16.30 WIB


Jakarta, Kediaman Trivara.


"Tuan Trivara, bagaimana ini? Mengapa saya masih belum mendapatkan putri Anda? Apa yang Anda lakukan selama ini?" tanya seorang pria dengan tatapan tajam yang membuat Trivara tertekan.


"M-maaf, saya sudah berusaha mencari keberadaan putri saya. Sudah sebulan putri saya tak ada di rumah, dia juga tidak pernah kembali ke rumah ini," jawab Trivara dengan menundukan kepala.


"Tidak berguna! Aku telah melakukan berbagai usaha untuk membantu perusahaanmu hingga saat ini! Lantas, apa balasan yang aku dapatkan darimu, hah?!" sentaknya marah.


"Maaf Tuan, saya akan berusaha mencari putri saya lagi."


"Bisamu hanya meminta maaf! Kapan aku akan mendapatkan Kanaya!" Pria itu mengerang kesal dengan tatapan menghunus ke arah Trivara. "Jika aku tidak bisa mendapatkan Kanaya dalam waktu dekat ini, perusahaanmu akan hancur. Ingat itu Trivara!"


Pria itu pergi meninggalkan kediaman Trivara.


"Sial!" umpat Trivara. "Ke mana perginya anak itu?"


Trivara mengeluarkan ponselnya dari dalam saku kemudian mengetik sebuah nama untuk ia hubungi.


"Ada apa, Tuan?" tanya seseorang setelah sambungan telepon terhubung.


"Nak, apa bisa kamu kembalikan anak saya?" tanya Trivara tanpa basa-basi.


"Sudah saya katakan, saya akan menjaga putri Anda. Mengapa Anda bersikeras sekali?"


"Saya hanya takut terjadi sesuatu dengan puri saya, lagipula bukankah tidak baik seorang gadis tinggal di rumah pria tanpa adanya hubungan pernikahan?"


"Ah jadi begitu. Anda tidak perlu khawatirkan soal itu, dengan senang hati saya akan menikahi putri Anda malam ini juga," jawabnya dengan seringai di wajahnya.


"Apa? Tidak bisa! Kamu tidak bisa menikahi putri saya!" bantah Trivara marah.


"Mengapa tidak? Bukankah itu akan menjadi keuntungan besar bagi Anda jika Kanaya menikah dengan saya?"


Trivara terdiam. Benar, itu akan jadi keuntungan bagiku. Sunjaya berkuasa saat ini, mungkin saja dia bisa mengembangkan perusahaanku, batin Trivara.


"Tuan, apa Anda mendapat ancaman dari pria itu?"


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...