
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
09.30 CEST
Jenewa, Kediaman Utama Sunjaya.
"Soal pertemuan ke markas besar Gelliodes gimana?" tanya Xavier setelah mereka selesai membahas rencana untuk esok hari.
"Angga belum sempat pergi ke sana, ada beberapa masalah yang menghalau tujuan utama kita ke sini," jawab Jarvis.
"Apa mereka tau kedatangan kita ke sini?" tanya Xander sembari menyesap teh hangatnya.
"Sepertinya mereka telah lama menunggu kedatangan Angga. Aku sudah memperkirakan akan terjadi penyerangan, tapi tak kusangka mereka melakukannya dengan sangat hebat," jelas Jarvis.
"Tidak mungkin Sunjaya kalah hanya karena remehan roti seperti itu," ucap Xander dengan pandangan menelisik ke luar jendela.
"Itu karena kita kalah jumlah dengan mereka saat itu, aku berpikir anggota pengawal yang bertugas menjaga Angga akan cukup untuk melawan mereka. Tak kusangka anggota dari mereka memiliki kemampuan yang sangat hebat," jawab Jarvis.
"Baiklah, kita harus menemui markas Gelliodes terlebih dahulu," putus Xander. "Kalian istirahat, biar gue sama Xavier yang pergi."
"Aku akan ikut pergi bersama kalian," tegas Jarvis.
"Iya udah, kalian pergi aja. Biar kami di sini yang jaga tante Yunda," ucap Vian.
"Tolong jaga Sanaya, Vi. Jangan sampe dia kenapa-kenapa," pesan Xavier.
"Tenang aja, dia pasti gue lindungin kok," jawab Arka menyela Vian yang hendak menjawab.
Keputusan telah dibuat, Xander, Xavier, Jarvis, dan Noah pergi menuju kota Zurich tempat markas utama Gelliodes berada.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
11.00 CEST
Zurich, Markas Utama Gelliodes.
Gelliodes merupakan sahabat lama dari Sunjaya, dia bersama dengan Lamesious berkelana hingga menemukan pulau harta karun. Gesula adalah nama dari pulau tersebut yang memiliki arti Gelliodes Sunjaya Lamesious, nama dari ketiga pemuda pengembara.
Tak memakan waktu lama, Xander tiba di markas utama Gelliodes. Markas itu nampak tertutup dan sulit untuk di temukan, namun berkat beberapa informasi dari anggota Gelliodes, Xander dapat tiba dengan mudah.
"Silakan masuk Tuan, Ketua menunggu Anda di dalam." Seorang pelayan mempersilakan keempat tamu untuk masuk.
Xander memimpin yang lain masuk ke dalam markas. Markas yang terlihat seperti mansion besar yang bersembunyi di sebuah hutan misterius.
"Selamat pagi, Tuan Gelliodes," sapa Xander ketika ia tiba di ruang tamu. Xander menatap seorang pria paruh baya yang tengah duduk di sofa tersenyum ramah padanya.
"Duduklah," suruhnya.
"Terima kasih." Xander duduk di atas sofa diikuti yang lain.
"Pelayan, bawakan teh untuk mereka!" titah pria tersebut pada pelayan yang berdiri di belakang sofa tamu.
"Baik, Tuan." Lantas seorang pelayan menuju dapur untuk membuatkan teh.
"Nah, apakah kau ini Xander atau Xavier?" tanya pria itu menunjuk Xander.
"Saya Xander," jawab Xander.
Pria itu mengangguk. "Kalau begitu, kau pasti Xavier." Pria itu kembali menunjuk kini ke arah Xavier.
Xavier mengangguk heboh. "Benar, bagaimana bisa Anda tahu nama kami?"
"Apa yang tidak aku ketahui mengenai sahabatku," jawabnya sembari menunjukan senyum misterius.
"Apa maksud Anda?" tanya Xander meminta penjelasan.
"Kakek kalian Ardiaz adalah sahabatku, sejak pernikahannya dengan Gaby aku menjadi sahabat dekat Ardiaz. Gaby nenek kalian dulunya adalah anggota keluarga Gelliodes," jelas ketua Gelliodes.
"Lalu, siapa nama Kakek?" tanya Xavier dengan bahasa santainya.
"Alec," jawab sang ketua Gelliodes sembari tersenyum ramah.
"Apa aku boleh memanggilmu kakek?" tanya Xavier lagi sedikit ragu.
"Tentu saja, cucu Ardiaz cucuku juga," jawab Alec sembari tertawa kecil.
"Sepertinya kalian berteman dengan baik, aku tidak menyangka mengenai sejarah keluargaku sendiri," ucap Xander.
"Yah ... masalah itu memang menjadi kesepakatan kita berdua untuk tidak menceritakannya kepada generasi selanjutnya," jawab Alec, Alec menatap lama wajah Xander. "Kau terlihat mirip dengan ayahmu."
"Ya, semua orang mengatakan itu," sahut Xander.
"Tapi kenapa aku berbeda? Seharusnya wajah kami sama karena kami terlahir kembar," balas Xavier.
"Memangnya kau mau memiliki wajah yang sama dengan Xander? Kau tidak takut kekasihmu itu salah mengenalimu?" tanya Alec setengah bercanda.
"Tidak! Lebih baik kami berbeda daripada sama," jawab Xavier gelagapan.
Alce tertawa melihat sifat kekanakan milik Xavier. "Kau terlihat seperti Gelliodes meski wajahmu dominan Indonesia," gumam Alec menatap lama wajah Xavier.
"Kakek, ke mana anggota keluarga Kakek yang lain?" tanya Xavier sambil mengedarkan pandangan. Sedari tadi ia hanya melihat beberapa pengawal dan pelayan yang berlalu lalang.
"Mereka berada di mansion masing-masing. Mansion utama Gelliodes berada di kota Bern, sementara markas utama berada di kota Zurich," jawab Alec setelah ia meneguk tehnya. "Oh ya, aku mendengar kabar mengenai ayahmu. Tak kusangka dia akan tertangkap oleh mereka."
"Ya, begitupun kami," jawab Xander.
"Jadi, apa yang bisa aku bantu?" tanya Alec yang kini memasang raut wajah serius.
"Aku membutuhkan kekuatanmu, Kakek," ujar Xander dengan tegas.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
09.00 CEST
Jenewa, Borncity park.
Berada di peringkat 20 besar ekonomi dunia, Swiss merupakan tempat bagi banyak perusahaan multinasional dan beberapa organisasi internasional – termasuk Markas Besar PBB dan WTO. Memiliki empat bahasa nasional (Jerman, Perancis, Italia dan Romansch).
Swiss selain dikelilingi pegunungan juga dikelilingi 7000 danau. Mulai dari Danau Jenewa yang merupakan danau terluas di Swiss, Danau Neuchatel hingga Lac Leman alias danau yang dibagi dengan Prancis.
Swiss adalah negara yang memiliki pemandangan indah. Begitupun dengan taman yang dimilikinya. Salah satunya adalah taman ...
Sedari pagi pengawal Sunjaya mengawasi taman tersebut, mereka menunggu kedatangan musuh.
"Semua udah diatur?" tanya Xander memastikan.
"Beres, taman ini udah kita amankan. Nanti ada beberapa pengawal yang menyamar jadi pengunjung," jawab Nean.
"Terus, masalah kamera pengawas?" tanya Xavier yang mendongkan tubuh ke depan melihat layar laptop Neandro.
"Beres, semuanya nyala dan tersembunyi. Gue pake kamera mini keluaran terbaru keluarga Sabian," jawab Nean sedikit sombong.
Saat ini kelima pemuda itu berada di lantai atas gedung yang tak jauh dari taman. Jarvis dan Noah berada di taman menunggu kedatangan pihak musuh. Namun, saat ini keduanya masih bersembunyi.
"Gue harap ini berhasil," ucap Xander penuh harap.
Tak lama kemudian, 4 buah mobil hitam berhenti di area parkir taman tersebut. Dari mobil itu keluar beberapa pria berpakaian hitam yang terlihat mencurigakan. Mereka mengambil posisi masing-masing, ada yang bersembunyi di balik pohon, tembok, tong sampah, bilik telepon, bawah kursi, di balik semak-semak dan lainnya.
"Dugaan gue bener, mereka gak mungkin dateng pake 2 pengawal," ucap Xander terlihat puas melihat layar laptop Nean.
"Posisikan pasukan kita buat nyerang mereka secara diam-diam, dan perintahkan yang lain buat buang mayat mereka!" titah Xavier pada Arka.
"Siap!" sigap Arka lantas ia menelepon salah satu anggota pengawal Sunjaya untuk menyampaikan pesan dari Xavier.
Pengawal anggota Sunjaya mulai bergerak diam-diam, masing-masing dari mereka ada yang menyuntikan racun ada juga yang menggorok leher mereka dengan belati.
Pengawal lain membereskan mayat, kemudian sisanya mengganti pengawal musuh. Selang beberapa saat kemudian, sebuah mobil putih tiba. Dari dalam mobil keluar seorang pria memakai jas dan topi, dia membawa seorang pria lainnya.
Dua orang pengawal mengantarkan mereka sampai di taman. Pengawal yang menyamar menjadi penduduk lokal memperhatikan keempat pria yang baru saja tiba itu.
"Duduklah Al," pintanya pada pria yang dibawanya.
"Kau tidak meletakan apapun di kursi ini, bukan?" tanya Al penuh waspada.
"Astaga, kau tidak percaya padaku? Duduk saja, aku tidak menaruh apapun di sana," ujar Yohan tersenyum.
Al duduk dikursi tersebut, kedua pengawal yang bersama mereka mengikat tubuh Al dengan kuat.
Orang-orang yang berada di taman memperhatikan mereka sembari berbisik-bisik, tentu saja mereka berpura-pura tidak tahu.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Al menatap Yohan yang berdiri di sampingnya.
"Membawamu kembali pulang," jawab Yohan kembali menampilkan senyumannya.
Jarvis dan Noah tiba, mereka berjalan bersama menuju Yohan dan Al.
"Lepaskan Angga," pinta Jarvis tanpa basa-basi.
"Aihh ... kau langsung menyuruhku tanpa menyapa dulu?" tanya Yohan merasa kecewa.
Jarvis memutar bola matanya malas. "Untuk apa aku menyapamu," sinisnya.
Yohan memasang wajah sedih. "Lihatlah Al, asistenmu itu sangat keterlaluan padaku!" rengeknya mengadu.
"Bukan urusanku," ketus Al membuang muka.
"Haish ...." Yohan menggeleng pelan lantas menatap tajam Jarvis dan Noah. "Berikan kuncinya setelah itu aku akan menyerahkan Alsangga."
"Tidak, sebaiknya kau lepaskan dulu dia baru aku berikan kuncinya," tolak Jarvis.
"Aku tidak percaya padamu."
"Aku lebih tidak percaya padamu!" balas Jarvis sengit.
"Sudahlah, berikan saja padaku. Aku berjanji akan melepaskan Al setelah mendapatkan kunci itu," paksa Yohan.
"Sudah kukatakan aku tidak akan menyerahkannya sebelum kau melepaskan Angga!"
"Tidak! Serahkan kuncinya cepat!" desak Yohan marah.
"Berikan saja," suruh Al.
"Tapi, bagaimana jika dia tidak melepaskanmu?" tanya Jarvis.
"Biarkan saja, lagipula aku akan mati," jawab Al.
"Jangan bercanda! Kau tidak memikirkan perasaan istrimu?!" marah Jarvis menatap tajam kedua mata Al.
"Dia ...." Al terdiam menunduk. "Dia akan baik-baik saja," lirihnya.
"Ck! Sekarang kenapa kau terlihat lemah, Angga? Padahal dulu kau begitu kuat," cibir Jarvis.
"Aku tidak lemah!" bantah Al marah.
"Lalu kenapa kau menyerah begitu saja?!" marah Jarvis.
"Hey-hey, tenanglah. Kenapa kalian bertengkar, apa kalian tidak mau dilihat banyak orang?" tanya Yohan berusaha melerai keduanya.
"Persetan dengan orang-orang!" umpat Jarvis kesal.
"Cepat berikan saja kunci itu padaku, setelah itu kalian bisa bertengkar lagi," ucap Yohan.
Jarvis menghela napas panjang, kemudian ia melempar sebuah kertas ke arah Yohan. Yohan menerimanya dengan senang hati, ia membuka gulungan kertas tersebut.
Dorr
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...