
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
19.20 WIB
Jakarta, Kediaman Sunjaya.
"Xander mana? Kok belum pulang, udah malam gini," ucap Yunda cemas.
"Tau tuh! Bilangnya aja bentar, nyatanya lama!" sahut Xavier.
Xavier dan sang Ibu masih berada di ruang keluarga. Mereka masih menonton tv, meski acara sebelumnya telah selesai.
"Bentar lagi waktunya makan malam, Xander gak pernah lewatin makan malam," ujar Yunda.
"Nanti juga pulang, Mi!"
"Mama nungguin Ander?" ucap Xander di belakang Yunda.
Yunda berbalik."Dari mana aja, sih? Mama khawatir sama kamu, bilangnya gak lama taunya lama!" lanjutnya kesal.
"Maaf Ma, urusan Ander ternyata lama beresnya. Jangan marah," Xander mencium pipi Yunda. "Ander bawa ini!" Xander menunjukan bungkus plastik berisi martabak telor.
Kedua mata Yunda berbinar melihatnya, "Wahh ... Ander anak Mama baik banget. Makasih ya, sayang!"
"Iya, Ma!"
"Wihh martabak! Punya gue mana?" tanya Xavier.
"Nih!" Xander menunjukan dua buah kantong plastik ke hadapan Xavier.
Xavier tersenyum senang, ia berdiri dan mengambil kantong tersebut dari Xander.
"Wihh! Martabak coklat keju kesukaan gue!" Xavier kembali duduk di sofa.
Lantas ia membuka kotak martabaknya.
"Eh, nanti dulu makan martabaknya. Kita makan malam dulu," ucap Yunda.
"Ihh Mi! Vier kan mau makan martabak!" rengek Xavier.
"Nanti makannya, sekarang makan nasi dulu!" Yunda mengusap lembut kepala Xavier.
"Iya udah deh, Vier mau makan!" Xavier berjalan menuju ruang makan sambil bersenandung ria.
"Ayo Ander!" ajak Yunda.
"Duluan aja Ma, Ander ke toilet bentar."
Yunda mengangguk kemudian menyusul Xavier menuju meja makan, Xander mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Ia mengetik sesuatu di layar ponselnya, setelah itu memasukan kembali ke saku lalu pergi keruang makan.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
+ 62 831*******
-Hallo, my name is Xander Victor Sunjaya. Can you save my number phone? I will chat you later.
"Who this?"
Seorang pria bermata biru menatap layar ponselnya setelah mendengar bunyi notifikasi. Ia membaca pesan masuk tersebut.
"Oh, Xander, huh? Okey, i will save your number phone. I want to chat you too. How much i want to know about you, Xander."
Setelah membalas pesan singkat dari Xander, pria itu melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahnya dengan tersenyum senang.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
20.30
London, Inggris.
"Saya Noah, saya asisten Tuan Xander. Beliau adalah pewaris keluarga Sunjaya, bisa saya bicara dengan anda?" tutur Noah memperkenalkan dirinya dengan bahasa asing.
Lawan bicara Noah tampak ragu untuk mengobrol dengan Noah, namun setelah Noah menunjukan sebuah benda yang menjadi lambang keluarga Sunjaya barulah pria itu mempercayainya.
"Okey, i trusth you. So tell me what you want," jawab pria tersebut.
"Tuan Xander memerintahkan saya untuk mencari keberadaan kelompok anda. Beliau ingin mencari kekuatan untuk melindungi keluarga Sunjaya dan juga kelompok anda," jelas Noah.
Saat ini, Noah berada di sebuah kafe yang ada di kota London. Noah menemui salah satu anggota dari 'Kelompok' yang dicarinya. Noah berhasil menemukan orang tersebut dengan bantuan teknologi canggih dan informasi dari Xander.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?" tanya pria itu.
"Mohon dengarkan saya Tuan Jansen. Saya hanya membutuhkan kartu identitas anda saja untuk saat ini, kedepannya Tuan Xander akan menemui anda dan membicarakan apa yang harus dilakukan," jelas Noah.
Jansen mengangguk paham, ia kemudian merogoh saku jas nya lalu mengeluarkan kartu identitas asli. Jansen menyerahkannya pada Noah.
"Berikan ini, tentu aku akan membantu kalian. Karea kalian adalah keluargaku, terlebih lagi Xander. Aku sempat mendengar kelahirannya 17 tahun yanv lalu, saat itu aku bertemu dengan paman Ardiaz, kakek dari Xander. Dia memberitahu kabar kelahiran cucu kembarnya. Dia tampak senang sekali pada waktu itu," ucap Jansen kembali menungkit ingatan lamanya. "Paman Ardiaz, dia sepertu ayah bagiku. Paman orang yang sangat baik, dia selalu menjagaku dan menyayangiku seperti putranya sendiri," lanjutnya dengan tatapan sendu.
Jansen menatap Noah yang tersenyum hangat, Jansen menghapus jejak air matanya.
"Maaf, aku jadi bercerita padamu."
"No problem, saya tidak masalah dengan itu," jawan Noah.
Jansen mengangguk, Noah menerima kartu identitas Jansen dan memasukannya ke dalam saku.
"Terima kasih atas kerjasama anda. Saya pamit pergi untuk mencari anggota yang lain," pamit Noah.
"Tentu, sampaikan salamku pada Xander dan Xavier," sahut Jansen.
"Baik, saya permisi. Sampai jumpa lagi, Tuan!" Noah berjalan keluar dari dalam kafe.
"What wrong? Apa akan terjadi masalah pada Sunjaya?" gumam Jansen selepas kepergian Noah.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
Winter's High School
"Aahhh ...." Kanaya meregangkan tangannya ke atas.
"Pegel banget badan gue," keluhnya.
"Lega sih ujian dah kelar, cuma hasilnya itu yang bikin deg-degan," sahut Tania.
Seminggu telah berlalu, masa ujian sekolah telah selesai. Saat ini siswa-siswi tidak mengerjakan apapun, besok akan diadakan acara Porklas sebagai hiburan setelah ujian.
"Besok, lo mau ikut apaan, Kan?" tanya Tania.
"Voli paling," jawab Kanaya.
"Iya udah, gue ikut sama lo."
"Eh, lo jangan ikut. Nanti nyusahin tim!" ucap Kanaya.
"Tega bener dah lo! Gue jago voli tau!" sahut Tania tak terima.
"Apa iya? Bukannya waktu olahraga voli lo selalu gagal servis?" goda Kanaya sambil mencolek bahu Tania.
"Apaan sih! Gue bisa, cuma waktu itu kebetulan aja gagal," elak Tania.
"Yodah lah, jajan yuk! Laper gue," ajak Kanaya.
"Tumben lo duluan yang ngajak, kiw lah."
Lantas keduanya keluar dari kelas menuju kantin, saat sampai keadaan kantin begitu ramai. Kanaya dan Tania memesan makanan namun dibungkus karena mereka kehabisan tempat duduk. Hanya ada satu meja kosong, tapi meja itu selalu digunakan The Dark Boy. Tak ada yang berani menempati meja itu. Padahal Xander dan kawan-kawan tak masalah jika ada yang duduk di sana.
"Ini Neng, pesanannya." Ibu kantin memberikan pesanan Kanaya dan Tania.
Setelah membayar makanan, Kanaya dan Tania pergi ke taman sekolah. Taman sekolah Winter dipenuhi oleh bunga dan pohon, tempat itu sering dijadikan sebagai tempat kencan para pasangan.
Kanaya dan Tania duduk di bangku di bawah pohon rindang, Kanaya memakan makannya dengan tenang sambil melihat pemandangan sekitar yang membuatnya jijik.
Pasangan muda-mudi yang tengah jatuh cinta membuat Kanaya geli sendiri, mereka terlihat bersenda gurau, berpelukan, pegangan tangan, cium-ciuman, cubit-cubitan, Kanaya benci itu. Tapi apa boleh buat, meja kantin dipenuhi siswa-siswi jadi terpaksa ia makan di taman.
"Suasana taman bener-bener bikin gue pengen muntah!" ujar Tania.
"Lo juga ngerasain?" tanya Kanaya.
"Iyalah, mereka keliatan alay banget. Pake colek-colek dagu lah, pingganglah, gimana gue gak muntah kalo tontonannya kayak gitu?" kesal Tania.
"Bener juga sih lo, tumben sepemikiran. Biasanya lo suka liat orang pacaran,"
Tania menatap Kanaya dengan tatapan tajam, Kanaya kaget ia hanya bisa cengengesan.
"Hello baby, gue sukanya nonton di
drama Korea atau China, kalo di kehidupan nyata, ya gua ogah liatnya," jelas Tania.
Tania meneguk minumannya,
"Bener juga sih," Kanaya mengangguk.
"Wah-wah, cewek gila ada disini. Piye kabare?" ucap seorang pria yang tiba-tiba muncul di depan Kanaya.
"Lo lagi, bisa gak sih lo diem sehari, gak usah ganggu gue, bisa?!" ucap Kanaya mulai kesal.
"Gak, gak asik kalo gak ganggu lo!" jawab Xavier.
Ya, siapa lagi jika bukan Xavier. Hanya dia yang bisa menganggu ketenangan Kanaya.
"Eh, bagi dong! Gue juga kan mau!" Xavier merebut makanan Kanaya.
"Lo ini ya! Main rebut makanan orang aja! Balikin!" pekik Kanaya.
"Vier, sehari aja lo gak ganggu Kanaya. Bisa ya? Pleasee ...." mohon Tania.
"Ogah! Siapa lo berani ngatur gue, bukan mak gue juga," jawab Xavier.
"Woy bro! Bilang apa lo tadi?" Vian tiba di samping Xavier, ia mencengkram kuat bahu Xavier.
"Hehehe ... gue kagak bilang apa-apa kok,Vi!" jawab Xavier sambil cengengesan.
Savian memutar bola mata malas, ia melepas cengkramannya. Xavier memijat pelan bahunya yang sakit, sementara Kanaya merebut kembali makanannya.
"Hai!" sapa Vian pada Tania.
"Hai juga," balas Tania.
"Pulang bareng lagi, yuk!" ajak Vian.
"Gak usah, gue bisa pulang sendiri," tolak Tania.
"Gak ada penolakan, gue maksa!" ucap Vian.
"Mana bisa gitu bro!" ucap Nean yang baru saja tiba, disusul Xander dan Arka.
Melihat kedatangan Xander, Kanaya tak lepas memandangi wajah Xander. Sementara Xander sibuk memperhatikan layar ponselnya dengan jari yang lincah mengetik sesuatu di sana.
Merasa ada yang memperhatikan, Xander mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Kanaya. Kanaya tersentak kaget saat Xander balas menatapnya, ia dengan cepat membuang muka.
Apa-apaan tadi?! batin Kanaya
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...