
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
18.00 CEST
Swiss, Lausane city.
"Sial! Kita kehilangan jejak mereka!" umpat seorang pria.
Saat ini disebuah stasiun kereta bawah tanah, seorang pria tengah bertolak pinggang dengan ekspresi wajah kesal. Beberapa pria berpakaian hitam berdiri di belakangnya, seorang pria dengan kemeja putih mendekat ke arahnya.
"Tuan, sepertinya mereka telah meninggalkan kota ini," ucapnya.
"Kau tahu ke mana mereka pergi, Noah?" tanyanya menatap Noah yang berdiri di sampingnya.
"Tuan! Kami mendapatkan sesuatu di sini!" teriak pengawal dari kejauhan.
Pria itu bergegas menghampiri di susul oleh Noah, mereka melihat seorang mayat dengan luka dibagian lehernya.
"Ini ... bukankah dia anggota kelompok kita?" tanyanya setelah memastikan jasad tersebut.
"Benar Tuan Jarvis, dia adalah Bobby. Pengawal yang ditugaskan untuk mengawal Tuan besar hari ini," jawab salah satu dari pengawal.
"Tuan, saya menemukan secarik kertas dari jasad Bobby." Pengawal lain memberikan kertas tersebut pada Jarvis.
Jarvis menerima surat yang diberikan padanya. "Il tuo padrone è con noi, non ti preoccupare perché non morirà presto. incontraci tra 3 giorni al parco Borncity e portaci la chiave del tesoro. Pieno d'amore da parte nostra." Jarvis membacakan surat yang menggunakan bahasa Italia.
"Apa arti dari surat itu?" tanya Noah bingung.
"Tuan kalian bersama kami, jangan khawatir karena dia tidak akan mati dengan cepat. Temui kami 3 hari lagi di taman Borncity dan bawalah kunci harta karun itu. Penuh cinta dari kami. Itu yang mereka katakan," jelas Jarvis, ia meremas dengan kuat surat tersebut. "Sialan, tikus-tikus itu rupanya begitu berani melawan kami!"
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
20.30 WIB
Jakarta, Villa Sunjaya.
"Papa, kami memang belum bisa terima maaf dari Papa. Tapi, kami juga gak bisa pisahin Mama dari Papa," ujar Kanaya sembari mengusap air matanya.
"Iya Pa, Sana gak benci kok sama Papa. Tapi Sana gak bisa maafin Papa yang udah nyakitin Naya," sahut Sanaya tersenyum menatap wajah sang ayah yang dirindukannya.
"Terima kasih kalian mau menerima Papa. Papa gak masalah meski kalian belum bisa maafin Papa," ucap Ivan lega.
"Kalo gitu, Papa tinggal aja di sini semalam. Temenin Mama tidur, udah lama juga kalian gak tidur bareng," goda Kanaya sembari tertawa kecil.
Tak
"Aah ...." Kanaya meringis setelah mendapat sentilan dari Xander yang berdiri di belakangnya.
"Otak kamu ini lagi mikirin apa, hm?" tanya Xander.
Kanaya menoleh ke belakang menatap Xander. "Aku gak mikir apa-apa," jawab Kanaya.
"Nak Xander, terima kasih banyak atas semuanya," ujar Aileen tersenyum tulus.
"Sama-sama, saya hanya ingin membuat keluarga calon istri saya baik-baik saja," jawab Xander dengan menekan kata 'calon istri'
Sontak wajah Kanaya memerah mendengarnya.
"Cieee ... calon istri gak tuh," goda Sanaya tertawa melihat wajah merah Kanaya.
"Kakak apaan sih!" protes Kanaya malu.
"Oh ya, kami pamit pulang. Ibu saya sepertinya kelelahan, dia harus istirahat dengan baik," ucap Xander.
"Oh benarkah? Sepertinya Yunda terlalu memaksakan diri. Baiklah, sebaiknya bergegas membawa Yunda pulang," ujar Aileen ikut khawatir setelah mendengar kondisi Yunda.
"Aya!" teriak Xavier memanggil Sanaya sembari berlari ke arahnya.
"Vier, kenapa kamu lari-lari gini?" Sanaya menghampiri Xavier, memisahkan diri dari keluarganya.
"Kalian sebaiknya masuk ke dalam, udara sangat dingin tidak baik bagi kalian," saran Xander.
"Iya Ma, biar Kanaya yang urus Xander. Mama masuk aja," sahut Kanaya.
"Iya sudah. Nak Xander, kamu hati-hati ya bawa mobilnya, titip salam buat Yunda."
"Iya Tante, selamat istirahat Tante."
Aileen dan Ivan melangkah pergi menuju villa. Kanaya terdiam menatap punggung kedua orang tuanya.
"Kamu juga harus istirahat," ucap Xander menatap Kanaya.
Kanaya mendongak membalas tatapan Xander, tangannya terulur menggapai wajah tampan Xander. "Kamu ganteng banget," puji Kanaya pelan.
Xander menyunggingkan senyum terbaiknya, ia memegang tangan Kanaya yang berada di wajahnya. "Kamu juga cantik."
Xander mengernyitkan dahi bingung. "Kamu punya masalah?"
"Setahu aku sih gak ada. Tapi, entah kenapa waktu aku liat kamu saat ini perasaan aku tiba-tiba berubah," jawab Kanaya menatap sendu wajah Xander.
"Gak apa-apa, bentar lagi juga baikan. Jangan terlalu dipikirkan," ucap Xander menenangkan Kanaya.
Xander menangkup wajah Kanaya lantas mencium kening gadisnya. "Aku pulang dulu, baik-baik di sini."
Kanaya menganggukan kepala. Xander dan Xavier masuk ke dalam mobil, Kanaya dan Sanaya memerhatikan mobil Xander keluar dari halaman villa.
Ada apa ya? batin Kanaya.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
21.00 WIB
Jakarta, Luxury Bar.
"Sialan! Bisa-bisanya dia memutuskan kontrak gitu aja tanpa ada imbalan apapun!"
Brak!
Leon memukul meja bar dengan keras membuat pasang mata menatap ke arahnya. Leon meneguk minumannya sekaligus sampai habis.
"Gue gak akan pernah lepasin lo Kanaya! Apapun bakal gue lakuin demi bisa dapetin lo!" ucapnya dengan sorot mata tajam menatap ke depan.
Siang hari yang lalu Ivan menghubungi Leon untuk bertemu dengannya. Leon dan Ivan bertemu di sebuah kafe, Ivan mengatakan bahwa ia memutuskan kontrak kerja sama dengan perusahaan Abiputra.
Tentu Leon merasa marah akan hal itu, bagaimana bisa Ivan memutuskan kontrak sebelum ia berhasil mendapatkan Kanaya. Selepas bertemu, malam ini ia mendapat notifikasi yang memberitahukan mengenai masuknya uang ke rekeningnya.
"Pria tua itu beraninya main-main sama gue! Gue Leon Abiputra, gue bakal dapetin apa yang gue mau!" kesal Leon setelahnya ia kembali meneguk minumannya langsung dari botol. "Xander Victor Sunjaya, tunggu pembalasan gue!"
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
08.30 WIB
Jakarta, Villa Sunjaya.
Pagi yang damai di hari minggu, suasana villa terasa tenang meski mereka kedatangan tamu tak terduga yang menetap semalam. Aileen bersama pelayan lain sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan.
Ivan keluar dari kamar setelah ia membersihkan tubuh. Mencium aroma wangi dari makanan yang dibuat Aileen membuatnya melangkah menuju ruang makan.
Ivan tersenyum melihat sang istri sibuk menyiapkan makanan. Sudah sangat lama ia tak melihat pemandangan tersebut. Melihat wajah cantik sang istri di pagi yang cerah.
"Kenapa kamu berdiri di sana? Ayo duduk sini," ucap Aileen tersenyum menatap sang suami.
Ivan berjalan mendekati Aileen lalu ia memeluk Aileen dari belakang. "Selamat pagi," sapa Ivan lembut.
"Pagi juga, Mas," sahut Aileen.
"Emm ... apa yang lain dengar soal semalam?" tanya Ivan ragu.
Sontak wajah Aileen memerah mendengarnya. "S-semoga aja nggak," jawabnya.
Ivan tertawa kecil melihat ekspresi sang istri. "Lucu."
"Ekhem!" Deheman Kanaya mengagetkan keduanya dengan cepat Ivan melepaskan pelukannya.
"Aduh, pagi-pagi udah umbar kemesraan aja nih," ucap Sanaya diselingi tawa kecil.
"Haaa ... biarin aja Kak, maklum udah lama mereka gak kayak gitu," sahut Kanaya menepuk pelan bahu Sanaya.
Lantas mereka tertawa melihat wajah sang ibu yang memerah padam.
"A-ayo makan, jangan pada ketawa terus," ujar Aileen sedikit kesal.
"Lho, Mama kenapa? Kok merah-merah gitu, Mama digigit serangga?" tanya Kanaya dengan wajah polosnya melihat bercak merah di leher Aileen.
"Pft--" Sanaya menahan tawanya melihat ekspresi polos dari Kanaya. Sementara Aileen dan Ivan menyembunyikan wajah merah mereka.
"Kok gak ada yang jawab?"
"I-iya, tadi malam ada serangga yang masuk ke kamar Mama," jawab Aileen.
"Padahal selama ini gak ada serangga, gimana sih pelayan di sini masa gak bersihin kamar dengan benar," omel Kanaya.
"Udah, ayo kita makan!" ajak Ivan setelah ia berhasil mengontrol wajahnya.
Kanaya mengangguk lantas duduk di kursi begitupun dengan yang lain.
Prang!
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...