
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
Prang!
"Kyaaa!!"
"Siapa di sana? Cepat kejar dia jangan sampai lolos!"
Jeritan pelayan yang berada di luar selepas bunyi pecahnya jendela mengundang atensi keluarga Trivara. Para pengawal berlalu-lalang dengan cepat mengejar seseorang yang kabur.
"Ada apa ini?" tanya Aileen panik.
Ivan merangkul pundak Aileen berusaha menenangkannya. "Tunggu di sini, biar aku yang liat." Ivan bergegas keluar dari villa menghampiri seorang pelayan yang nampak syok.
"Ada apa ini?" tanya Ivan.
"Seseorang melemparkan batu hingga kaca jendela pecah Tuan," jawab tukang kebun villa.
"Batu? Apa kalian tahu siapa dia?"
"Tidak Tuan, kami tidak mengenalnya. Hanya saja sepertinya dia bukan berasal dari sini," jawab petugas keamanan.
"Kami menangkapnya!" seru seorang pengawal bersama 2 orang pengawal lain meringkus seorang pria yang mengenakan pakaian hitam.
"****!" umpat pria itu kesal sembari memberontak.
Seorang pengawal keluar dari villa sambil membawa sebuah kotak hitam, begitu tiba di depan pria mencurigakan pengawal itu membuka kotaknya mengeluarkan suntikan yang berisi obat bius.
Pria itu memberontak saat pengawal akan menyuntiknya.
"Aarghh!" erangnya kesakitan, tak lama kemudian ia kehilangan kesadaran.
Ivan melangkahkan kaki mendekat ke arah pria misterius tersebut. "Siapa dia?"
"Kami akan menginterogasinya bersama Tuan muda, sebaiknya Anda tetap waspada," ujar seorang pengawal yang terlihat seperti ketua dari para pengawal.
"Di mana kalian akan menyekapnya?" tanya Ivan penasaran.
Mateo, ketua pengawal villa terdiam menatap Ivan. "Markas," jawabnya singkat. "Kalian bawalah pria itu, kurung dia di penjara sampai Tuan muda datang ke markas!" titahnya kepada para pengawal.
"Baik!" sigap mereka.
Pria itu dimasukan ke dalam mobil bersama 4 pengawal, satu mobil mengikuti mereka untuk berjaga-jaga bila ada halangan.
"Tuan, Anda masuklah ke dalam. Biarkan kami yang mengurus hal ini," ujar Mateo.
"Baiklah, jika kalian perlu bantuan dengan senang hati aku akan membantu."
"Terima kasih," sahut Mateo sopan.
Ivan berjalan masuk ke dalam villa, ia melirik jendela yang pecah. Pecahan kaca berserakan di lantai, seorang pengawal mengambil batu yang diselimuti oleh sebuah kertas.
"Apa itu surat ancaman?" tanya Ivan.
"Sepertinya begitu," jawab pengawal itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Ivan bingung.
"Mas, ada apa?" tanya Aileen setelah Ivan kembali ke ruang makan.
"Kayaknya ada penyerangan kecil," jawab Ivan.
"Pelakunya ketangkep gak?" tanya Kanaya.
"Iya, mereka membawa pelakunya ke markas," jawab Ivan. "Apa di sini aman untuk kalian? Papa takut kalian kenapa-kenapa."
Kanaya dan Sanaya saling bersitatap. "Kami baik-baik aja, di sini lebih aman di bawah perlindungan Sunjaya," jawab Sanaya.
"Gimana pun Sunjaya pasti punya musuh, Papa khawatir kalian juga akan masuk dalam bahaya."
"Mas, kamu berdoa aja supaya kita baik-baik aja. Jangan terlalu dipikirin," ujar Aileen.
Drap
Drap
Drap
"Naya/Aya!" teriak Xander dan Xavier bersamaan sembari masuk ke dalam rumah.
Kanaya dan Sanaya terlonjak kaget lantas keduanya menghampiri sang kekasih.
"Ander," sahut Kanaya melihat Xander berlari ke arahnya.
Xander memeluk Kanaya begitu ia tiba di depan gadisnya. "Kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Xander panik.
"Aya, kamu juga baik-baik aja 'kan sayang?" Xavier ikut bertanya sembari membolak-balikan badan Sanaya.
"Iya aku gak kenapa-kenapa," jawab Sanaya.
"Aku khawatir sama kamu setelah dengar laporan dari Mateo," ucap Xander menatap manik mata Kanaya. "Bener kalian baik-baik aja?"
"Iya Ander, kita baik-baik aja. Kayaknya mereka cuma mau nakut-nakutin kita aja," jawab Kanaya.
"Syukurlah kamu baik-baik aja." Xander menghembuskan napas lega.
Xander menerimanya dengan kening berkerut. Kanaya ikut mengintip surat yang dipegang oleh Xander. Xavier mendekat ke arah Xander sambil menggandeng Sanaya.
Xander membuka surat tersebut lantas membacanya.
"Bahasa apa itu?" tanya Sanaya.
-Rispettato successore di Sunjaya. In questo momento tuo padre è con noi, vieni a salvarlo. E non dimenticare di portare la tua chiave del tesoro-
"Italia," jawab Xavier dengan wajah serius.
"Apa yang mereka katakan?" tanya Kanaya bingung.
"Penerus Sunjaya yang terhormat. Saat ini ayah kalian bersama kami, datanglah dan selamatkan dia. Dan jangan lupa untuk membawa kunci harta karun kalian. Itu kata mereka," jelas Xander, ia meremas dengan kuat kertas tersebut.
"Harta karun? Apa maksud mereka?" tanya Xavier bingung.
"Haaa ... sepertinya kita harus pergi ke Swiss," ujar Xander.
"Tuan, pelaku teror saat ini berada di markas," ujar Mateo memberi tahu.
"Oke. Xavier, ikut gue!"
"Ander tunggu!" cegah Kanaya.
Xander menoleh. "Kenapa, hm?"
"K-kamu mau pergi ke Swiss?" tanya Kanaya menatap sendu Xander.
"Belum pasti, tapi aku harus pergi ke sana," jawab Xander. "Nanti aku kasih tau kamu lagi, sekarang izinkan aku buat pergi."
Kanaya mengangguk. Xavier ikut pamitan pada Sanaya kemudia menyusul sang kakak keluar dari villa.
"Mateo, jagalah villa ini!" titah Xander pada Mateo sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.
"Baik Tuan!" sigap Mateo.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
09.20 WIB
Jakarta, Markas The Dark Boy.
"Lasciami andare! (Lepaskan saya)" teriak seorang pria sembari berusaha melepaskan batang besi penjara.
Klang
Klang
Klang
"Lasciami andare!" teriaknya lagi kali ini lebih keras dari sebelumnya.
"Berisik! Lo teriak kayak gitu gak bakalan di denger! Gak ada yang ngerti bahasa lo!" kesal Bara yang hanya duduk di atas ranjang penjara.
"Chi sei? E dov'è questo? (Siapa kamu? Dan di mana ini?)" tanya pria tersebut membuat Bara menghela napas.
"Dibilangin gak ada yang ngerti masih aja ngomong," gerutu Bara. "Speak in English!"
"Who are you? And where is it?" tanya pria itu setelahnya.
"Bara, I don't know where this is," jawab Bara malas.
"What do you mean you don't know?" kesal pria itu.
"Ya gue gak tau, gimana sih!"
Pria itu nampak bingung mendengar jawaban dari Bara. "What are you saying?"
Klang
"Get out!" Seorang pengawal masuk ke dalam penjara menarik paksa pria asing tersebut.
"Gue kapan keluar dari sini?" tanya Bara jengkel.
"Bersabarlah," jawab pengawal yang berada di depan penjara setelahnya menutup kembali pintu penjara.
Keduanya lantas membawa pria asing tersebut ke ruang interogasi. Mereka mengikatnya di kursi khusus.
"Let me go!" Pria itu memberontak berusaha melepaskan diri.
"Stai zitto! Molto rumoroso,(Diamlah! Berisik sskali,)" ujar seorang pria yang masuk ke dalam ruangan tersebut bersama dengan pria lainnya.
Pria asing itu mengernyitkan dahi melihat kelima pria berada di depannya. "Chi sei? (Siapa kalian?)"
"Come ti chiami?" tanya seorang pria menatap tajam pria asing di depannya.
"Basten," jawabnya.
"Oh namanya Basten, gue kira baskom."
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...