
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
19.00 WIB
Jakarta, Villa Sunjaya.
"Naya, kamu udah siap belum?" tanya Sanaya dari luar kamar Kanaya.
"Bentar lagi Kak, Kakak masuk aja," sahut Kanaya.
Klak
Sanaya membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar Kanaya. Sanaya tersenyum melihat penampilan Kanaya yang tampak sangat cantik.
"Cantik banget sih adiknya Kakak," puji Sanaya seraya tersenyum.
Kanaya menolehkan kepala ke belakang. "Kakak juga cantik," balas puji Kanaya.
Kanaya mengenakan dress berwarna biru muda dan biru tua yang selaras, rambut coklat panjangnya ia buat bergelombang diujung dengan sedikit ia ikat di bagian atas. Tak lupa jepitan rambut bunga berwarna biru menghiasi kepalanya.
Penampilan Sanaya tak kalah cantiknya, ia menenakan dress berwarna kuning mengkilap dengan hiasan rambut yang sama dengan Kanaya hanya saja berbeda warna. Kedua pakaian gadis itu dibelikan oleh kekasih masing-masing untuk mereka kenakan pada acara makan malam hari ini.
"Kenapa tiba-tiba ada acara makan malam ya?" tanya Kanaya bingung.
"Kakak juga kurang tau," sahut Sanaya sama bingungnya.
Selesai berhias, Kanaya dan Sanaya pergi bersama ke lantai bawah menemui sang ibu di meja makan.
"Uwaahh ... banyak banget makanannya," ucap Kanaya takjub.
Aileen tertawa kecil, ia sama takjubnya dengan penampilan kedua putrinya yang cantik dan tampak bersinar.
"Haaa ... mereka benar-benar cantik 'kan Mas?" gumam Alieen menatap kosong meja makan.
"Silakan masuk Nyonya dan Tuan muda," ucap pelayan pria mempersilakan para tamu masuk ke dalam rumah.
Aileen beserta kedua putrinya menyambut kedatangan tamu di depan pintu. Keluarga Sunjaya masuk ke dalam Villa dengan sambutan hangat dari Aileen.
"Selamat datang, Nyonya," sapa Aileen pada Yunda.
"Aihh ... gak usah formal gitu. Sebentar lagi 'kan kita mau jadi besan, masa kamu panggil saya 'Nyonya' sih?"
Aileen tersenyum, Yunda memeluk Aileen sebatas formalitas bagi para penduduk Indonesia jika berkunjung ke rumah tamu.
Xander menatap takjub Kanaya, begitupun dengan Xavier. Xander dan Xavier mengenakan setelan jas dengan style rambut mereka yang terlihat rapi. Xavier menghilangkan poni rambutnya ke belakang, sementara Xander memakai style rambut side block.
Xander berjalan mendekat ke arah Kanaya begitupun dengan Xavier yang mendekati Sanaya. Keduanya mengangkat tangan kanan gadis mereka dengan sebelah tangan berada di belakang punggung.
Secara bersamaan mereka mencium punggung tangan gadis mereka kemudian mereka tersenyum manis.
"Kamu terlihat cantik," puji keduanya bersamaan.
Kanaya dan Sanaya tertegun dengan perlakuan manis dari si kembar Sunjaya. Wajah keduanya terlihat merah merona tersipu malu.
"P-permisi."
Mendengar suara seseorang, semua orang menatap sosok pria yang tengah berdiri sembari membawa buket bunga.
Kanaya dan Sanaya saling menatap. "Kenapa dia ada di sini?" tanya Kanaya pelan.
"Kakak juga gak tau," jawab Sanaya. Sanaya berjalan mundur perlahan, namun Xavier menarik tangannya membawa Sanaya berdiri di sampingnya.
Keadaan seketika hening setelah kedatangan tamu tak terduga tersebut. "S-silakan masuk semuanya," ucap Aileen memecah keheningan.
Semua orang masuk ke dalam kecuali Aileen dan tamu tak terduga tersebut. "Ai, s-selamat," ucapnya gugup sembari memberikan buket bunga ke hadapan Aileen.
Aileen tersenyum menerima buket tersebut. "Terima kasih, Ivan."
Ivano Trivara, tersenyum mendengar sang istri menyebutkan namanya. Betapa bahagianya ia dapat melihat sang istri setelah 3 bulan lamanya. Tanpa ia sadari air mata menetes membasahi pipi.
Aileen menyerahkan buket tersebut pada seorang pelayan yang kebetulan lewat, lantas ia menghampiri sang suami.
"Tapi kamu selalu terlihat cantik, Ai," balas Ivan masih dengan air mata yang mengalir. "Aku minta maaf karena bersikap keras pada putri kita, tetapi kamu tau bukan alasanku melakukan itu?"
Aileen ikut menangis mendengarnya. Ia lantas memeluk sang suami, menyembunyikan kesedihannya di dada bidang suaminya tersebut. "Aku tahu, aku sangat mengerti dirimu."
Ivan mencium pucuk kepala Aileen dengan penuh kasih sayang sembari membalas pelukannya. "Selamat ulang tahun pernikahan, Ai."
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
16.00 CEST
Swiss, Aarau city.
"Ahh ... akhirnya kami berhasil menangkapmu," ucap seorang pria bule dengan memakai tudung kepala.
Pria itu berjalan mendekat ke sebuah kursi yang mengikat seorang pria. Pria itu terlihat lemah dengan darah yang menetes dari kepalanya.
"Eung? Kenapa kau diam saja?" tanya pria itu dengan mimik wajah sedih.
"Haah ... memangnya aku harus mengatakan apa?" tanya balik pria tersebut.
"Oh ayolah ... apa kau tidak ingin berteriak atau memberontak? Bukankah itu akan terlihat menyenangkan dari pada kau terus terdiam seperti ini?"
"Heh!" Pria itu tersenyum mengejek. "Kenapa aku harus melakukan itu? Tak akan ada untungnya untukku."
"Ah, kau ini. Kenapa sikap sombongmu itu masih terus kau tunjukan padahal kondisimu seperti ini?"
"Dari pada itu, kenapa kita tidak berkenalan saja? Mengenal satu sama lain lebih baik bukan?" tanya pria lemah tersebut sembari menampilkan senyum manisnya.
Sebuah ruangan gelap menjadi tempat keduanya berinteraksi, hanya sedikit cahaya yang masuk ke dalam ruangan tersebut. Dua orang pria lain berada di luar ruangan menunggu tuan mereka keluar dari dalam.
"Berkenalan?" tanyanya dengan kening berkerut.
Pria itu mengangguk pelan.
"Tapi, aku sudah tahu namamu."
"Jika begitu aku tidak akan menyebut namaku lagi padamu. Katakanlah, siapa dirimu ini?"
"Ugh ... baiklah." Pria itu mengubah ekspresi wajahnya menjadi murung seperti anak kecil. "Namaku Yohan, senang bertemu denganmu Al," jawabnya seketika kembali merubah eskspresi menjadi ceria.
"Ah, jadi kau itu Yohan. Ya, senang bertemu denganmu juga," sahut Al ramah.
"Al, kenapa kau tidak takut padaku? Apa aku tidak terlalu menyeramkan bagimu?" tanya Yohan sedih sembari berlutut di depan Al.
"Astaga ... kau tidak terlihat menyeramkan, justru kau itu sangat imut Yohan," jawab Al tersenyum manis.
"Aku iri padamu, kau memiliki wajah yang tampan. Tak seperti diriku," ungkapnya.
"Ada apa denganmu? Kau terlihat bagus."
Terdengar helaan napas dari Yohan, ia membuka tudung yang menutupi kepala dan sebagian wajahnya. Al sedikit terkejut melihat wajah Yohan.
"Kau lihat bukan? Sebelah mataku hilang, dan lagi terdapat luka bakar di samping kiri wajahku. Bukankah aku terlihat menyeramkan?"
Al tertawa kecil mendengarnya. "Oh ayolah, itu sama sekali tak menyeramkan. Kau sangat imut, Yohan."
"Benarkah? Kau sangat baik hati, Al." Yohan tersenyum ceria mendengarnya. "Tapi aku tidak akan berbelas kasihan padamu."
"Yah ... aku tahu itu," sahut Al santai.
"Katakanlah di mana penerusmu? Di mana kau sembunyikan kunci harta karun itu?" tanya Yohan menatap tajam kedua mata Al.
"Di mana ya? Aku sedikit lupa tentang itu, sudah lama sekali tidak ada yang menanyakan hal itu padaku. Jadi, wajar saja jika aku melupakannya," jawab Al sembari menampilkan senyum miring di wajahnya.
Bugh!
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...