SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 11



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


15.00 WIB


Jakarta, Mansion Sunjaya.


TING


TONG


KLAK


"Cari siapa Mbak?" tanya seorang pembantu.


"Kak Yunda nya ada?"


"Ada Mbak, nyonya di dalam. Silakan masuk," jawab pembantu tadi sambil mempersilakan masuk.


"Duduk dulu Mbak, saya panggilkan nyonya sebentar. Mbak mau minum apa? Biar saya ambilkan,"


"Teh bunga," jawabnya.


Pembantu itu mengangguk kemudian bergegas pergi meninggalkan ruang tamu.


"Nyonya!" panggilnya saat ia menghampiri Yunda di taman.


"Ada apa?" Yunda berbalik dengan membawa beberapa bunga.


"Ada tamu di depan,"


"Tamu? Siapa?" tanya Yunda bingung sambil menghampiri pembantu itu.


"Saya kurang tau Nyonya,"


"Iya sudah, sana kamu buatkan minuman!"


"Nyonya mau minum apa?" tanyanya.


"Seperti biasa aja, kebetulan hari udah mulai sore."


"Baik Nyonya! Saya permisi ke dapur," lantas pembantu itu pergi menuju dapur.


"Siapa ya?" guman Yunda.


Ia meletakan bunga yang dibawanya ke dalam vas berisi air dingin lalu pergi menemui tamu.


"Halo, ada apa ya?" ucap Yunda saat melihat seorang wanita duduk membelakanginya.


Wanita itu berdiri, Yunda mengernyitkan dahinya. Saat ia berbalik, barulah Yunda terkejut melihat wajahnya.


"Senna?" pekiknya tak percaya. "Ya ampun, kapan kamu sampai?" Yunda memeluk Senna erat.


"Siang tadi, Kak. Kakak apa kabar?"


"Kabar Kakak baik, kamu sendiri gimana?"


"Aku juga baik Kak,"


Yunda mengangguk, ia melepaskan pelukannya. "Ayo duduk!"


Keduanya lantas duduk di sofa, tak berapa lama pembantu tadi datang sambil membawa minuman dan makanan.


"Silakan dinikmati!" ucapnya.


"Terima kasih," sahut Senna.


Pembantu itu mengangguk lalu pergi menuju dapur.


"Kamu ke sini sendiri?" tanya Yunda.


"Iya, kak. Suami sama anak-anak masih di Amerika," jawab Senna.


Yunda mengangguk. "Gak nyangka kamu datang ke sini. Kakak seneng banget,"


Senna tertawa kecil. "Ngomong-ngomong, kak Angga ke mana? Kok ngga keliatan, dia belum pulang kerja?"


"Mas Angga lagi di luar negeri, ngurusin perusahaan di Paris. Katanya ada masalah, udah 6 bulan ngga pulang," jawab Yunda setelah meneguk tehnya.


"Ya ampun, segitu lamanya? Sebenernya masalah apa sampai harus lama-lama di sana?"


"Kakak juga kurang tau, mas Angga gak pernah bilang apa-apa."


Senna bangkit, ia berjalan menuju sofa Yunda dan duduk di sampingnya.


"Kakak doain aja semoga kak Angga cepet pulang dan masalah di sana cepet selesai,"


"Iya, kakak sering berdoa kok."


"Kalo cuma kak Angga yang gak ada, kenapa rumah sepi kayak gini?" tanya Senna bingung.


"Anak-anak lagi pada keluar. Xander pergi ke luar negeri, katanya mau ketemu orang penting. Xavier juga sama, tapi dia cuma pergi ke kafe tapi sampai sekarang belum pulang juga," jelas Yunda.


Senna mengangguk. "Kayaknya anak-anak pada sibuk, udah mirip aja kayak bapaknya."


"Ya begitulah, namanya juga ayah dan anak. Sifatnya gak akan beda jauh dari ayahnya, 'kan?"


"Iya sih,"


"Oh ya, anak-anak kamu bakal ke sini gak?" tanya Yunda.


"Iya, mereka bakal pindah ke sini. Cabang perusahaan di sana udah ada yang urus, kami akan menetap di sini dan mengurus perusahaan utama di sini," tutur Senna.


"Syukurlah, nanti anak-anak kamu bakal pindah sekolah ya?"


"Iya Kak, anak aku yang pertama bakal sekolah di sekolah si kembar."


"Baguslah, nanti si kembar punya temen baru."


Senna tertawa. "Temen baru apa sih Kak? Mereka kan udah berteman lama."


"Oh iya, harusnya Kakak bilang 'si kembar ketemu teman lama' gitu ya." Yunda ikut tertawa.


"Wah, wah. Ada apa nih pada ketawa-tawa?" ujar Xavier yang baru saja tiba di rumannya.


"Udah dong Mi," Xavier menghampiri Mami-nya, mencium pipi sang Mami, mencomot kue di atas meja, lalu duduk di samping mami tercinta.


"Eh ada Tante, apa kabar Tan?" sapa Xavier.


"Baik kok Vier, kamu sendiri gimana?"


"Baik juga, Tan. Tante sendirian?" tanya Xavier.


"Iya, nanti mereka nyusul ke sini."


Xavier mengangguk.


"Kamu udah besar aja, makin ganteng lagi."


"Ah, Tante bisa aja," jawab Xavier dengan cengiran khasnya.


"Udah punya cewek tetap belum? Atau masih suka gonta-ganti cewek?" tanya Senna menggoda Xavier.


"Mana ada Vier gonta-ganti cewek. Tante ini mengadi-ngadi,"


"Apa iya?"


"Iyalah, Tan! Vier 'kan beda sama om Jarvis,"


"Xavier, gak sopan ngomongin orang" Yunda mencubit tangan Xavier.


Senna tertawa, begitupun Xavier. Yunda cemberut, Xavier memeluk erat Yunda dari samping.


"Iya Mami, Vier 'kan bukan ibu-ibu yang suka ngegosip," sahut Xavier.


"Tapi, bawelnya kamu sama kayak ibu-ibu yang suka ngegosip," timpal Yunda.


"Mami! Mana ada Vier kayak gitu," bantah Xavier.


"Kamu dari kecil suka bawel, cerewet lagi," ucap Senna.


Xavier cemberut. "Kalo gitu Vier masuk kamar dulu. Mau bobo."


"Udah sore gini masa tidur?" ujar Yunda.


"Ngantuk Mami,"


"Iya udah sana, tapi jangan lama-lama!"


"Siap!" Xavier memberi hormat lalu ngacir menuju kamarnya berada.


Yunda dan Senna lanjut mengobrol, mereka saling bertukar cerita mengenai anak-anak mereka. Aib sang anak pun terbongkar disana.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


23.00


London, Sword Hotel.


"Urusan di sini udah selesai semua?" tanya Xander.


"Sudah," jawab Noah.


Xander mengangguk, "Besok atur persiapan gue buat pergi ke Paris."


"Baik, semua akan saya siapkan!"


"Ya udah, lo boleh istirahat!"


Noah mengangguk, "Saya pemisi, selamat malam Tuan!"


Noah menutup pintu kamar Xander lalu masuk ke kamarnya yang berada di depan kamar Xander.


Xander memainkan ponselnya, ia melihat banyak chat di layar ponselnya. Hanya ada satu yang menarik perhatiannya, yaitu pesan dari sang Ibu. Xavier menekan tombol telepon.


"Halo sayang, gimana keadaan kamu di sana?"


"Baik kok Ma, Mama gimana? Xavier jagain Mama 'kan?" tanya Xander.


"Iya sayang, Mama gak apa-apa. Kamu di sana jaga pola makan, ya? Jangan sampai melewatkan waktu makan!"


"Iya Ma, Ander tau."


"Kapan kamu pulang? Mama kangen sama anak Mama,"


"Belum tau Ma, besok Ander harus pergi ke Paris. Mau temuin papa di sana,"


"Kalo kamu mau ketemu papa, kenapa gak ajak Mama?"


"Kalo Ander bawa Mama, nanti papa marahin Ander. Mama tau sendiri kan papa kayak gimana, papa gak mau Mama sampai kenapa-kenapa."


"Haaa ... kalian ini kenapa, sih?"


"Kita gak mau Mami kenapa-napa, kita cuma mau Mami aman."


"Emangnya kenapa? Gak ada masalah serius 'kan, sayang?"


Xander terdiam cukup lama sampai Yunda memanggilnya.


"Ander? Kok diam?" panggil Yunda.


"Iya Ma? Gak ada masalah yang serius kok, Mama tenang aja."


"Benar gak ada? Kamu gak bohong sama Mama?"


"Bener Ma, udah dulu ya? Di sini udah malam, Ander mau tidur. Mama juga harus tidur, jangan begadang,"


"Iya sayang, selamat malam anak Mama tersayang."


"Malam, Ma!"


Xavier memutuskan telepon, ia melempar ponselnya ke atas kasur lalu melangkah masuk menuju kamar mandi.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...