SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 32



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


09.50 WIB


Jakarta


"Dia siapa? Ibu lo?" tanya Xander sambil menyetir mobil.


Kanaya mengangguk seraya mengusap air matanya.


"Kenapa lo gak temuin dia?" tanya Xander lagi.


"Gue gak mau dia kenapa-kenapa, kalo gue katahuan ketemu sama dia, bokap bakalan marah dan nyakitin dia," jawab Kanaya parau.


"Apa dia setega itu nyakitin istrinya sendiri?" tanya Xander.


"Dia bakal tega kalo dia udah marah," jawab Kanaya.


"Sebenernya apa yang terjadi sama keluarga lo, Kana?"


Kanaya menatap Xander yang kini tengah menatapnya. Kanaya kembali memalingkan wajah lalu membuang napas perlahan.


"5 tahun yang lalu, tepatnya waktu gue kelas 1 SMP bokap pernah marah besar. Dia marah karena kakak gak nurutin ucapan dia. Kakak pernah sehari ngelewatin waktu belajar, dia keasyikan main sampai malam. Sebenernya kakak mau pulang, cuma dia ditahan sama temennya. Alhasil kakak terpaksa pulang malam dan kena amarah bokap. Bokap gak mau lagi liat wajah kakak, dia usir kakak dari rumah dan bilang kalo kakak bukan anak kandung dia."


"Jadi, Sanaya bukan kakak kandung lo?" tanya Xander.


Kanaya mengangguk. "Orangtua gue bawa Sanaya dari panti, mereka adopsi kakak yang baru lahir. Alasannya karena udah 3 tahun orangtua gue belum punya anak, jadi mereka adopsi anak dari panti," jelas Kanaya.


"Lalu?"


"Setahun kemudian, gue lahir. Jarak usia gue sama kakak cuma beda 1 tahun, nyokap bilang kalo bokap gue seneng banget liat gue. Dia senang punya 2 anak perempuan. Dan ya, bokap mau anak-anaknya berprestasi supaya bisa membanggakan nama keluarga. Kami selalu dipaksa untuk giat belajar, itu sebabnya bokap marah waktu kakak pulang malam. Bahkan sampai dia usir kakak, dan nyokap ikut kakak gue pergi dari rumah." Kanaya terisak mengingat kejadian pahit yang menimpa keluarganya.


Xander menepikan mobilnya, ia menoleh menatap Kanaya yang menangis. Xander melepas sabuk pengamannya, ia mendekat ke arah Kanaya. Lengan Xander terangkat menghapus air mata Kanaya.


Kanaya menatap Xander dengan berurai air mata, Xander memeluk Kanaya memberikan kehangatan pada gadis itu.


Kanaya kembali terisak, tangisnya pecah hingga membasahi bahu kokoh Xander.


"Dia larang gue buat ketemu nyokap dan kakak gue, kalo gue ketahuan ketemu mereka dia bakal nyakitin mereka. Gue bisa apa, Xan? Gua gak bisa apa-apa," ucap Kanaya lirih.


Xander mengelus rambut Kanaya. "Gue dan Xavier ada buat kalian, gue bakal jaga lo dan Xavier bakal jaga Sanaya. Kita akan jaga nyokap lo. Jangan nangis lagi, ya?"


Kanaya mengangguk namun tetap menangis, Kanaya mengalungkan tangannya ke leher Xander, Xander mengeratkan pelukannya pada Kanaya.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


10.30 WIB


Jakarta, Kediaman Sunjaya.


SET


Xander baru saja akan memasuki gerbang kediamannya namun motor Xavier dengan cepat menghalangi jalannya. Xander menghentikan mobilnya mendadak hingga membuat dirinya terdorong ke depan.


Xander kesal dengan ulah Xavier, ia keluar dari mobil dengan menutup kasar pintu mobilnya. Xavier membuka helm kemudian turun dari motornya.


"Lo apa-apaan berhenti di depan mobil gue? Lo mau gue tabrak, hah?!" tanya Xander marah.


Xavier berdecak kesal. "Gue udah pernah bilang sama lo buat jauhin Kanaya, lo masih inget 'kan?"


"Atas dasar apa lo nyuruh gue buat jauh dari Kanaya?" tanya Xander.


"Lo jangan pura-pura gak ngerti, ya!" sentak Xavier.


"Gue mana ngerti kalo lo sendiri gak mau jelasin ke gue apa alasannya!" sahut Xander.


"Gak mungkin lo gak paham sama keadaan ini, Xan!"


"Apa maksud lo?" tanya Xander benar-benar bingung.


"Jangan pura-pura gak tau, bajingan!" Xavier menonjok wajah Xander.


"Sial!" umpat Xander saat ia meraba bagian sisi bibirnya yang mengeluarkan darah.


"Gue cinta Sanaya, Xan! Gue gak mau pisah dari dia, lo bisa 'kan jauhin Kanaya?!"


"Apa hubungannya sama gue dan Kanaya?" tanya Xander.


"Ada hubungannya, bodoh!" Xavier mengacak rambutnya frustasi. "Lo tega biarin ibu Sanaya duduk di jalanan, lo gak bisa apa berhenti sebentar? Dia mau ketemu Kanaya, Xan! Kenapa lo gak berhenti?!" tanya Xavier dengan nada marah.


"Kanaya sendiri yang minta, dia paksa gue buat bawa dia pulang. Jadi, itu bukan salah gue!" sanggah Xander.


"Bohong!"


DUGH


Xavier kembali memukul wajah Xander membuat para pengawal menghampiri keduanya, mereka melerai perkelahian antara Xavier dan Xander. Dua orang pengawal memegangi Xavier yang memberontak hendak memukul Xander kembali.


"Kanaya gak mungkin ninggalin ibunya! Dia pasti pengen ketemu sama ibunya sendiri! Lo yang bawa dia pergi! Lo yang paksa Kanaya buat pergi, Xander!" sentak Xavier marah.


"Buat apa gue larang Kanaya buat temuin ibunya sendiri, Xavier?!" kesal Xander.


"Sialan lo! Bajingan! Lo tega biarin seorang ibu duduk bersimpuh di jalanan! BAJINGAN!" Xavier berteriak marah dan terus memberontak minta dilepaskan. "Lawan gue kalo lo jantan, Xander!"


Xander berdecak kesal. "Gue gak akan lawan lo, Vier."


"Banci lo! Jauhin Kanaya! Jangan pernah lo deket lagi sama dia!"


"Apa hak lo buat larang gue?" tanya Xander.


"Sialan lo!" Xavier berhasil melepaskan diri dari para pengawal, ia melangkah maju mendekati Xander dan kembali memukul wajah Xander.


Beberapa pengawal menghalang tubuh Xander dari jangkauan Xavier, pengawal lainnya kembali memegangi Xavier yang ingin melawan para pengawal yang menghalangi tubuh Xander.


"Lepasin gue! Lepas!" teriaknya meminta di lepaskan. "Lawan gue Xander! Jangan cuma sembunyi di belakang pengawal! Banci! Lo banci Xander!"


"Hentikan!" seru seorang pria.


Sontak semua mata tertuju padanya. Angga berjalan mendekat ke arah Xavier.


"Apa kalian tak malu berkelahi di depan rumah?!" tanya Angga dengan membentak.


"Cih! Sial!" umpat Xavier.


"Xavier! Apa alasan kamu memukul Xander? Apa, hah?!" tanya Angga lagi.


"Bukan urusan Anda!" jawab Xavier kesal. "Lepas!" Xavier melepaskan diri dari para pengawal lalu menaiki sepeda motornya.


Xavier melajukan motornya menjauh dari kediaman, Xander memegang pelipisnya yang terluka. Angga membuang napas gusar, para pengawal kembali bertugas di posisi masing-masing.


"Jelaskan apa yang terjadi!" titah Angga pada Xander.


"Bukan apa-apa," jawab Xander lalu masuk ke dalam mobil.


Xander melajukan mobilnya masuk ke pekarangan kediaman. Setelah memarkirkan mobil di garasi, Xander bergegas memasuki lift untuk sampai di lantai 2 dimana kamarnya berada.


Angga masuk ke dalam rumah, ia berusaha memanggil Xander untuk meminta penjelasannya atas kejadian tadi. Yunda menghampiri sang suami setelah mendengar ia berteriak memanggil sang putra sulung.


"Ada apa, Mas?" tanya Yunda dengan kening berkerut.


Angga menoleh menatap Yunda yang berada di sampingnya. Sebaiknya Yunda tidak perlu tau tentang kejadian tadi, pikir Angga.


"Tidak ada," jawab Angga sembari tersenyum.


"Mas, kalo gak ada apa-apa, kenapa Mas panggil Ander dengan nada marah?" tanya Yunda lagi.


"Mas gak marah, Mas cuma suruh Xander buat bawa berkas-berkas perusahaan ke ruang kerja Mas," jawab Angga.


Yunda menghembuskan napas panjang. "Iya sudah, tumben kamu pulang cepat Mas?"


"Iya, ada berkas yang lupa Mas bawa pagi tadi, Mas ambil dulu." Angga mengelus lembut rambut Yunda lalu beranjak pergi menuju ruang kerjanya berada.


Aneh, perasaan tadi aku dengar Mas Angga marah-marah, batin Yunda.


...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...