SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 38



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


17.00 WIB


Jakarta, Kediaman Sunjaya.


"Xan, kok gue ngerasa gak enak setelah denger ucapan Papi tadi," ujar Xavier yang saat ini mengunjungi Xander di ruang kerjanya.


Xander yang tadi menatap layar laptop kini memandang Xavier yang duduk di sofa.


"Ucapan Papi kayak mengandung arti tertentu," sambung Xavier sembari memasukan kue ke dalam mulut.


"Cukup berdoa semoga dia baik-baik aja," sahut Xander berusaha tenang.


Xander juga merasakan hal yang sama dengan Xavier, ia merasa seperti akan terjadi hal yang besar. Tapi ia sendiri tidak tahu kejadian apa yang akan menimpanya nanti.


"Gue kepengen pergi ke Swiss, tempatnya bagus," ucap Xavier dengan pandangan fokus ke layar ponsel. "Gue jadi pengen ajak Sanaya, kayaknya seru dah tinggal di sana."


"Urus kerjaan! Jangan banyak ngehalu," tegur Xander.


"Yaelah, emang kenapa sih? Orang lagi asik ngebayangin malah ganggu," gerutu Xavier.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


07.00 WIB


Jakarta, Winter's Highschool.


"Pagi Kana cantik," sapa Leon sembari tersenyum lebar.


Kanaya menatap Leon tak suka kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas. Leon tetap tersenyum menyusul langkah Kanaya.


Kanaya meletakan tas yang dibawanya ke atas meja kemudian duduk di kursi, Leon tiba di samping Kanaya masih tetap tersenyum. Leon mengeluarkan sekuntum bunga mawar yang sedari tadi disembunyikan ke hadapan Kanaya.


"Bunga ini cantik, sama kayak lo," ucap Leon.


Kanaya memandang bunga yang ada di tangan Leon. "Buat apa lo kasih gue bunga? Lo kira gue udah mati?"


"Gak gitu Kana, bunga ini menandakan cinta gue yang tulus ke lo," jawab Leon.


"Cih! Cinta apaan? Cinta yang maksa orang buat nikah sama lo? Itu yang lo bilang cinta?"


"Iya, itu yang namanya cinta versi gue. Gue gak suka penolakan, jadi lo harus nikah sama gue," jawab Leon.


Mendengar kata pernikahan semua mata yang ada di kelas memandang keduanya dengan heran.


"Cinta dilakukan tanpa ada paksaan, lo gak pernah dengar ucapan kayak gitu?"


"Gak. Di dalam hidup gue, apapun yang gue mau gue harus dapatin itu walaupun harus dipaksa," jawab Leon lagi.


Leon meletakan bunga mawar di atas meja Kanaya, satu lengannya memegang sandaran kursi Kanaya untuk menopang tubuhnya yang dicondongkan ke depan.


Leon berbisik di telinga Kanaya. "Kemanapun lo pergi, gue bakal dapatin lo. Lo gak akan bisa lepas dari gue."


Leon menjauhkan diri dari Kanaya sembari tersenyum puas melihat raut terkejut di wajah Kanaya. Leon lantas meninggalkan Kanaya sendiri menatap bunga mawar di depannya.


"Sampai kapanpun gue gak akan bisa jadi milik lo! Dan gue gak takut sama lo!" tegas Kanaya.


Kanaya mengambil bunga mawar tersebut lalu berjalan ke arah jendela, Kanaya membuang bunga pemberian Leon. Kanaya menatap Leon yang tersenyum di kursinya.


Oh baby, you are so cute huh. Gue jadi makin suka sama lo, batin Leon.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


10.10 WIB


Jakarta, Winter's Highschool


"Xander di mana, sih," ucap Ilona sembari menengok kanan dan kiri guna mencari keberadaan Xander.


Ilona membawa langkahnya menelusuri kantin yang lumayan luas dan ramai, kaki kecilnya berhenti melangkah ketika sepasang bola matanya melihat punggung tegap seseorang yang dicarinya.


Ilona tersenyum senang lantas berlari kecil menghampirinya, Ilona menatap takjub punggung tegap Xander.


"Xander," panggil Ilona tersenyum.


Xander menoleh kebelakang, ia menunduk menatap Ilona yang berdiri di depannya.


"Lo siapa?" tanya Vian yang berada di samping Xander.


"Apa?" seru Nean, Arka, dan Vian bersamaan. Mereka terkejut mendengar pengakuan dari seorang Ilona.


"Pacar siapa?" tanya seorang gadis imut yang memunculkan kepala di balik pinggang Xander.


Gadis itu menatap Ilona dengan bola mata yang indah dan terkesan lucu, lantas ia mengalihkan pandangannya menatap ke atas tepatnya pada Xander. Xander yang menyadarinya mengelus lembut rambut gadis tersebut.


"Dia bukan pacar Kakak," ujar Xander menegaskan pernyataan Ilona.


"Kenapa lo bilang gitu? Gue ini kan emang pacar lo," ucap Ilona tak terima.


"Sejak kapan?" tanya Xander dengan nada dingin dan raut wajah datar.


Mata gadis imut di sebelah Xander nampak berbinar melihat paperbag yang dibawa oleh Ilona.


"Apa itu?" tanya gadis tersebut menunjuk paperbag coklat di tangan Ilona.


"Rea," panggil Kean dari kejauhan, ia setengah berlari menghampiri sang adik tercinta.


"Abang, Rea di sini," sahut Rea melambaikan tangannya.


"Eh iya, kita belum kelar bahas soal masalah kita. Kita lanjut aja gimana?" ajak Nean yang teringat dengan pembahasan mereka sebelumnya.


"Nah iya, gue setuju. Tapi, Xavier di mana?" tanya Arka.


"Palingan lagi jalan sama Sanaya," jawab Vian.


Ilona menunduk, lengannya terkepal dengan kuat. Ia kesal karena semua orang mengabaikannya, mereka melupakan keberadaan dirinya.


Vian, Arka, dan Nean sibuk mengobrol dan bercanda bersama. Sedangkan Keano dan Edrea terlihat berdebat namun sesekali Edrea menjahili sang kakak. Lalu Xander, ia sibuk menatap layar ponselnya tanpa mempedulikan keadaan sekitar.


"Xander, gue ba--"


"Oy bro!" seru Xavier memotong ucapan Ilona.


Ilona menggigit bibirnya menahan amarah, tangannya terus terkepal. Ia mendongak menatap tajam kedatangan Xavier.


"Lo di sini," ujar Vian menatap Xavier dengan melipat kedua tangan di depan dada.


"Kita semua nungguin lo dari tadi, lo tau 'kan kalo hari ini ada pembicaraan penting?" tanya Arka sedikit kesal.


Xavier mengggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan memasang wajah tak berdosa. "Ya maaf, gue kebabablasan tadi."


"Kalian ada di sini." Sanaya dan Kanaya mendekati ketujuh manusia yang tengah berkumpul, dan jangan lupakan dengan kehadiran Ilona diantara mereka.


Keterlaluan! Mereka gak peduliin gue! Apa mereka lupa kalo gue ada di sini? batin Ilona kesal.


"Xander, gue bawa kue buat lo. Gue sama kakak yang buat." Kanaya menyerahkan paperbag pada Xander.


Dengan senang hati Xander menerimanya dan mengesampingkan perhatiannya pada ponselnya. Ilona mengerutkan dahi, ia benar-benar marah saat ini.


"Cuma buat kak Xan?" tanya Edrea yang saat ini sebuah tangan bertengger di kepalanya, dan Edrea berusaha melepaskannya.


"Buat kalian semua. Ayo kita makan!" jawab Sanaya, ia mengajak semua teman-temannya untuk makan kue bersama.


Bruk


Mendengar benda jatuh semua mata memandang ke arah Ilona. Ilona menatap tajam orang-orang di depannya, kemudian ia berbalik pergi meninggalkan kantin sekolah.


"Lah, gue lupa kalo ada dia di sini," ucap Arka sambil menepuk dahinya.


"Gue juga. Dia diem aja dari tadi, jadi kita lupa kalo ada dia di sini," sahut Vian.


Sanaya menatap sebuah paperbag yang dijatuhkan Ilona tadi, Sanaya berjongkok mengambil untuk mengambilnya.


"Dia bawa kue juga," guman Sanaya.


Kanaya mengintip isi dari paperbag yang kini ada di tangan Sanaya. "Kalian gak terima kuenya?" tanya Kanaya menatap bingung semua teman-temannya.


"Oh! Tadi mau aku ambil, tapi abang Kean datang jadi aku lupa buat ambil," jawab Edrea.


"Iya sudah, ayo kita makan sama-sama," ajak Sanaya lagi.


Lantas semuanya duduk di meja kantin, tak banyak waktu istirahat yang tersisa tapi mereka menggunakan waktu tersebut untuk mengobrol ringan ditemani cemilan yang di bawa Kanaya dan Ilona.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...