
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
07.00 WIB
Jakarta, Winter's High School
6 bulan berlalu, semenjak Kanaya mendapat ancaman dari sang Ayah ia tak lagi menemui Sanaya. Jika berpapasan pun, Kanaya tak memperdulikannya, ia lebih memilih menghindar.
Dan semenjak Xavier menangkap Bara, selama 6 bulan pula Bara ditahan di ruang bawah tanah. Bara yang tak dapat dihubungi membuat Trivara keheranan, sudah beberapa kali ia menyuruh bodyguard yang lain mencari keberadaan Bara namun tak kunjung ditemukannya.
Xander yang selalu memperhatikan Kanaya merasa heran karena Kanaya tak lagi dekat dengan Sanaya. Xavier tahu bahwa Kanaya itu adalah adik dari Sanaya karena Sanaya menceritakannya, Xavier selalu meyakinkan Sanaya mengenai Kanaya yang selalu menghindarinya.
Xavier masih sering menjahili Kanaya, meski berujung mendapat ceramah dari Sanaya. Xavier melakukannya karena ingin menghibur diri juga menghibur Kanaya.
Ujian akhir semester dimulai, para siswa dan siswi sibuk menghafal materi sebelum ujian dimulai. Kanaya duduk diam di kelas sambil membaca sebuah buku, Tania tiba di kelasnya, ia menyapa Kanaya.
"Kana, lo kenapa ngejauh terus dari kak Sana?" tanya Tania.
Sebenarnya ia sudah dari dulu bertanya, namun Kanaya memilih diam tak menjawab.
"Bukan apa-apa sih, gue cuma kasian liat dia murung terus. Lo gak kasian sama dia yang terus lo diemin kayak gitu?" sambung Tania setelah tak mendapat respon Kanaya sebelumnya.
"Gue bisa apa, Tan?" sahut Kanaya dengan nada getir.
Mendengarnya, Tania paham bahwa selama ini Kanaya memendam luka yang dalam. Salahkan dia yang terus mendesak Kanaya dengan pertanyaan yang sama. Tania mengelus lembut punggung Kanaya.
"Sorry ya? Gue cuma ngerasa kasian sama kak Sana, dan gue gak tau apa yang lo rasain selama ini," tuturnya lembut. "Pasti karena ulah bokap lo kan? Dia masih sering buat lo tertekan?" tanya Tania.
Kanaya mendesah pelan, ia menghembuskan nafas panjangnya. Ia sangat lelah hidup di bawah kekangan dari sang ayah. Ia juga ingin merasakan hidup bebas seperti gadis lainnya.
"Pagi anak-anak!" suara guru mengalihkan pandangan Tania.
Kanaya menyimpan bukunya ke dalam tas, sepanjang perkataan guru tak didengarkannya. Ia sibuk dengan pikirannya.
Ujian dimulai, sang guru memberikan kertas ujian pada setiap murid kecuali Kanaya karena jam pertama diisi dengan pelajaran Agama Islam.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
08.00 WIB
Jakarta, Winter's High School
Hari berlalu dengan cepat, tak terasa hari libur kembali tiba. Ujian telah selesai seminggu yang lalu, hari ini adalah hari pengumuman juara kelas umum.
Seluruh murid berkumpul di lapangan utama sekolah Winter, mendengarkan ceramah singkat kepala sekolah. Kebanyakan dari para siswa tidak mendengarkannya karena dirasa tak begitu penting.
Kanaya merasa gugup, jantungnya berdetak tak karuan. Ia tidak sabar menunggu hasil dari usahanya selama ini, akankah dirinya mendapatkan peringkat umum ini? Entahlah, Kanaya berusaha berpikir positif.
"Baiklah, kita mulai dengan pengumuman kejuaraan kelas terlebih dahulu," ucap kepala sekolah. "Dari kelas 10, peringkat ketiga diraih oleh Sabrina Ferguso!" riuh tepuk tangan menggema lapangan tersebut.
Seorang gadis terlihat berjalan maju kehadapan kepala sekolah, kepala sekolah melanjutkan membaca.
"Dan terakhir, peringkat pertama diraih oleh ... Kanaya Zyva Trivara!" kembali riuh tepuk tangan menggema.
Mendengar Kanaya peringkat pertama membuat Sanaya bangga, ia ikut bertepuk tangan dengan semangat. Di sampingnya hadir Xavier menemani, Xavier melihat wajah bahagia Sanaya membuatnya ikut tersenyum.
Berikutnya kepala sekolah mengumumkan kejuaraan tingkat kelas 11. Peringkat ketiga di raih oleh Sanaya, kedua Xavier, dan pertama diraih oleh Xander.
Pengumuman berlanjut, dan inilah saat-saat yang paling ditunggu semua orang. Pengumuman kejuaraan peringkat umum. Kejuaraan ini tidak dilihat dari kelas, melainkan dari nilai keseluruhan murid tersebut.
"Baik, selanjutnya kejuaraan umum. Juara ketiga diraih oleh Sanaya Yusha!"
"Juara kedua diraih oleh Xavier Vijendra Sunjaya!"
"Dan juara pertama diraih oleh Xander Victor Sunjaya!"
Ketiganya lantas maju ke depan, sebenarnya nilai Xavier hanya berbeda satu dari Xander.
Mendengar namanya tak disebut, membuat Kanaya bersedih. Ia menunduk dalam, ia tau apa yang akan terjadi setelah ini.
Namun, di sisi lain ia senang sang kakak memenangkan kejuaraan umum itu. Tania melihat Kanaya yang bersedih, ia mengelus punggung Kanaya. Merebahkan kepala Kanaya di bahunya, tanpa sadar air mata Kanaya jatuh. Dengan cepat Kanaya menyekanya, ia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan.
Pulang sekolah, Sanaya melihat Kanaya di parkiran. Ia menghampiri Kanaya, menyapa dan memberikan ucapan selamat.
"Naya, selamat ya! Kakak bangga sama kamu!" ucapnya tulus.
Kanaya melirik sekilas Sanaya, lalu kembali menatap ke depan. Tak lama sebuah mobil berhenti di depan Kanaya, seorang supir keluar.
Kanaya segera masuk ke dalam mobil setelah sang supir membukakan pintu untuknya.
Sanaya hanya tersenyum melihat kepergian sang adik yang bahkan tidak merespon ucapannya. Meski merasa sakit, namun ia tak ambil hati. Xavier tiba di depan Kanaya mengendarai motor besar kesayangannya.
"Ayo naik, gue anter pulang!" ujarnya namun Sanaya tak mendengar.
Pandangan Sanaya terus menatap mobil Kanaya hingga hilang di tikungan, Sanaya membuang nafas panjang.
"Hey? Kok bengong? Liat apa?" tanya Xavier beruntun.
Sanaya tersadar, ia menatap Xavier yang menatapnya bingung. Sanaya tersenyum kikuk.
"Maaf, aku gak denger tadi," ucap Sanaya.
"Iya gak apa-apa, ayo naik. Gue anter pulang,"
Sanaya mengangguk, ia menaiki motor besar Xavier dengan berpegangan pada bahu Xavier. Xavier melajukan mobilnya keluar meninggalkan halaman sekolah.
Sanaya menatap Xavier, ia tersenyum.
Entah sejak kapan aku suka sama kamu. Batin Sanaya.
Xavier melirik Sanaya dari balik kaca spion, ia memergoki Sanaya yang sedang menatapnya.
"Kenapa liatin gue terus? Gue ganteng ya?" ujar Xavier dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Hah? A-aku gak liatin kamu kok, aku liat jalanan," elak Sanaya, bola matanya berputar menghindari tatapan Xavier di kaca spion.
Xavier tertawa kecil, ia sangat menyukai gadis di belakangnya itu. Ingin sekali Xavier memilikinya, menjadikan dia miliknya selamanya.
Suatu saat nanti, gue pasti bisa jadiin lo milik gue
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
15.00 WIB
Jakarta, Kediaman Trivara.
PLAK!
"Apa ini? Apa hah?! Kamu kalah dari dia? Kamu?" marah Trivara.
Ia menatap Kanaya penuh amarah setelah menampar wajahnya.
"Ngapain aja kamu selama ini? Gak belajar? Main-main terus? JAWAB KANAYA!!"
Kanaya tersentak kaget, ia terus menunduk tak ingin menatap wajah sang ayah.
Trivara mengusap wajahnya kasar.
"Malu-maluin! Trivara gak pernah kalah! Gak pernah, Kanaya! Dan kamu, kamu berhasil kalah dari anak jalanan kayak dia! KAMU KALAH KANAYA!!"
PRANG!
Trivara melempar vas bunga ke samping Kanaya. Untung pecahan kaca itu tak mengenai kulit Kanaya.
"Papa selama ini kasih didikan yang baik buat kamu! Papa sekolahin kamu di tempat terbaik! Papa rela buang-buang uang demi sekolahin kamu! Tapi apa? Apa balasan kamu atas semuanya? Dia cuma anak jalanan yang bodoh! Kamu itu Trivara! Kamu itu pintar, Kanaya!" bentak Trivara.
Trivara menjambak rambut Kanaya, menariknya kebawah membuat gadis itu meringis menahan sakit.
"Kamu ngapain aja, hm? Males-malesan?"
"G-gak Pa, Naya belajar setiap hari. Naya gak pernah bolos belajar, Pa," jawab Kanaya dengan terisak.
"Terus kenapa kamu kalah?"
Kanaya terdiam, ia juga tidak tau kenapa dirinya kalah dari sang kakak. Mungkin saja nilainya hanya kurang sedikit dari Sanaya.
"Hari ini kamu buat Papa marah! Ikut Papa!" Trivara menarik tangan Kanaya keluar dari ruang kerja.
Kanaya terus memohon agar sang ayah melepaskannya, namun Trivara tak menggubrisnya. Mbok Darmi yang sedari tadi mendengar keributan itu muncul dari balik dapur.
Ia merasa iba, namun apa daya. Ia tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan nona nya itu.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...