SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 51



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


08.30 CEST


Jenewa, Kediaman Utama Sunjaya.


"Tuan Jarvis, silakan masuk." Kepala pelayan mempersilakan Jarvis masuk ke dalam mansion.


Jarvis bersama Noah masuk ke dalam mansion, ia melangkahkan kaki menuju ruang kerja kepala keluarga. Di dalam Xander dan Xavier telah menunggu kehadiran keduanya sedari tadi.


"Kenapa baru datang Om?" tanya Xavier sedikit kesal karena ia dibuat menunggu lama.


"Maaf, ada kendala di perjalanan," jawab Jarvis merasa bersalah.


"Duduklah!" suruh Xander kepada kedua pria yang masih berdiri di depannya.


Jarvis dan Noah sama-sama menjatuhkan bokong mereka ke atas sofa yang empuk.


Tak membiarkan keduanya bernapas lega, Xander mengajukan pertanyaan membuat keduanya kembali tegang. "Jadi, apa kalian tahu ke mana mereka membawa papa?" tanya Xander dengan nada dingin.


Jarvis menggeleng pelan. "Belum, tapi kami pasti menemukannya."


"Oh ya? Aku kurang yakin jika kalian bisa menemukannya," ujar Xander sedikit meremehkan Jarvis dan Noah.


"Tuan, izinkan saya untuk bicara. Saya mendapat laporan dari seorang penduduk yang melihat kepergian Tuan besar, beliau di bawa menuju kereta dengan jurusan Lausanne-Aarau," ucap Noah menjelaskan.


"Sepertinya Om kalah dari Noah, apa karena Om udah tua jadi kemampuan Om menurun?" tanya Xavier dengan sinis.


"Kemungkinan dia berada di sekitar kota Aarau," kata Xander sembari menopang dagu.


Drrtt


Dering ponsel Xavier mengejutkan mereka kecuali Xander. Xavier menangakat panggilan telepon untuknya kemudian suara seorang pria terdengar berbisik.


"Bos, gue tahu posisi mereka sekarang," lapornya dengan nada suara kecil.


"Di mana Nik?" tanya Xavier ikut berbisik.


Setelah kepergian sang ayah menuju Swiss, Xavier memerintahkan Niko mengawasi pergerakan ayahnya. Sekaligus mengamati jika ada suatu hal tak terduga seperti saat ini. Xavier beruntung memiliki Niko sebagai bawahan yang bisa ia percaya, meski Niko sedikit perhitungan dan genit, tapi kesetiaannya sangat luar biasa.


"Mereka tinggal di rumah lama yang ada di sebuah gang kecil di kota Aarau, gue gak bisa terlalu dekat soalnya penjagaannya ketat banget," jawab Niko sekaligus menjelaskan situasi tempat tersebut.


"Oke, lo bisa balik Nik. Tapi, hati-hati jangan sampe ketahuan sama mereka," ingat Xavier.


"Siap Bos!" sigap Niko kemudian sambungan terputus.


"Siapa dia?" tanya Jarvis yang mendengar percakapan keduanya karena Xavier memakai loadspeaker.


"Niko, bawahan Vier Om," jawab Xavier.


"Oh ya, Tuan. Kami juga mendapat surat yang menempel di jasad Bobby," ucap Noah yang teringat dengan sebuah surat di atas mayat.


"Sebuah surat di atas mayat, keren banget dah!" kagum Xavier dengan ekspresi wajah berbinar seperti anak kecil yang mendapat preman dari permen.


"Apa yang ditulis di surat itu?" tanya Xander mengabaikan raut bahagia dari Xavier.


"Mereka meminta untuk bertemu di taman Borncity besok, mereka juga menyampaikan untuk membawa kunci harta karun," jelas Jarvis.


"Apa Om tahu soal harta karun itu?" tanya Xavier antusias.


"Ya, harta itu berada di pulau Gesula. Pulau itu terletak di bagian tenggara negara Swiss," jawab Jarvis setelah ia mengangguk sebelum menjawab.


"Apa isi dari harta karun itu?" tanya Xavier lagi karena ia masih penasaran, sebelumnya ia hanya membaca judul bab 2 dari buku harian Sunjaya.


"Tambang kristal, berlian, dan rubi." Xander menjawab.


"Woah! Berarti keluarga kita kaya raya dong!" pekik Xavier tak percaya.


"Bukankah kau memang sudah kaya dari dulu? Dan kau tahu itu," ujar Jarvis menggeleng pelan tak habis pikir dengan tingkah Xavier.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


09.00 CEST


Swiss, Aarau.


"Selamat pagi, Al!" sapa Yohan dengan senyum cerianya.


"Kau mengabaikan aku, apa kau tidak mendengar sapaan dariku?" tanya Yohan sedih.


"Aku mendengarnya," jawab Al mencoba mendongak menatap wajah Yohan.


"Syukurlah kau mendengarnya. Aku kira kau tuli karena ulahku kemarin," ujar Yohan memasang raut wajah menyesal atas perubatan yang dilakukannya kemarin.


"Ck! Aku tak selemah itu," decak Al kesal menatap jengkel ke arah Yohan.


"Benarkah? Tapi, kemarin kau sama sekali tidak melawanku saat aku memukulmu."


"Bodoh! Bagaimana aku bisa memukul dengan keadaan terkunci seperti ini?"


Yohan tertawa mendengarnya, Al menatap malas pria di depannya. Jika saja kedua tangan dan kakinya tak terkunci, sudah pasti Al akan membuat wajah Yohan semakin buruk.


"Kau sangat lucu Al sampai-sampai aku menangis karena tertawa," ujar Yohan setelah ia selesai tertawa sembari mengusap cairan bening di ujung matanya.


Dia bahkan hanya memiliki satu mata, aku kira dia tidak bisa mengeluarkan air mata, pikir Al terdiam melihat Yohan.


Yohan menopang tubuhnya di sandaran kursi dengan mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku menyesal telah membuat wajah tampanmu hancur seperti ini," ucapnya sembari mengelus wajah tampan Al yang terluka.


"Singkirkan tangan kotormu dari wajahku!" hardik Al marah.


Yohan tersentak, ia lantas menjauhkan diri dari Al. "Aku minta maaf, aku hanya mengagumi ketampananmu. Sebagai pria aku terpesona melihatnya." Yohan tersenyum menggoda Al.


Menjijikan! Aku pikir dia pria sejati, nyatanya bunga melati! batin Al bergidik merasa jijik.


"Kenapa kau menatapku begitu? Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Yohan terlihat panik sambil memeriksa wajahnya.


Ya, wajahmu terlihat aneh! Aku tidak sudi menatapnya lagi, batin Al jengkel.


"Alsangga! Kenapa kau diam saja? Aku bertanya apakah ada sesuatu di wajahku?" tanya Yohan sedikit berteriak karena Al hanya diam.


"Alsangga ya," gumam Al, ia tersenyum getir mendengar namanya sendiri.


"Al!" sentak Yohan.


"Haah ... tidak ada apapun di wajahmu, seperti biasa wajahmu itu terlihat imut," jawab Al setelah ia menghela napas panjang.


Apakah mereka memutuskan untuk menyusulku? Ah, bagaimana dengan istriku? Aku harap dia baik-baik saja, batin Al sejenak ia menutup mata merasa lelah mendengar ocehan dari Yohan.


"Mendengar ocehan Xavier lebih baik ketimbang dirinya," gumam Al, ia kembali membuka mata memperhatikan Yohan yang bercerita panjang lebar.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


09.10 CEST


Jenewa, Kediaman Utama Sunjaya.


"Mereka tidak mungkin dengan mudah menyerahkan tawanan begitu saja," ujar Jarvis.


"Lalu, apa rencana kita?" tanya Vian.


"Gimana kalo kita pakai pasukan samurai untuk mengepung mereka?" tawar Arka yang sejatinya adalah keturunan dari pengusaha Jepang. Arka memiliki pasukan samurai yang siap membantunya.


"Kau ingin melakukan perang pakai segala pasukan hanya untuk mengatasi hal kecil ini?" tanya Jarvis sedikit kesal karena usulan dari Arka.


Saat ini, mereka berada di sebuah ruangan khusus yang biasa dijadikan ruang pertemuan. Satu orang pria dewasa nampak duduk di samping kiri Xander, sementara Xavier berada di samping kanan Xander.


Meja panjang menjadi pemandangan Xander  kali ini, ia memilih diam dengan pikiran yang menerawang jauh.


"Bagus dong, mereka udah berani ngeremehin Sunjaya. Kalo mereka nyulik Papi itu artinya mereka minta perang!" seru Xavier menyetujui tawaran Arka.


"Kita juga bisa menambah pasukan berpedang dari keluarga gue," tambah Nean yang sedari tadi hanya diam memakan kue kering.


"Pasukan senjata api milik keluarga Alteza juga siap membantu!" imbuh Savian ikut bersemangat.


Jarvis memijat pelan kepalanya, ia merasa pusing mendengar tawaran yang dilontakan anak kecil.


"Tidak perlu sampai seperti itu," ucap Xander angkat bicara. "Pasukan Sunjaya sudah lebih dari cukup untuk mengatasi masalah ini," tambahnya dengan tersenyum miring.


"Apa rencanamu?" tanya Jarvis penasaran.


Semua mata memandang ke arah Xander yang hanya menampilkan senyum miring pertanda bahaya akan datang.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...