SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 24



12.40 WIB


Jakarta, Kediaman Sunjaya.


KLAK


"Cowok itu siapa, sih?" tanya Xavier sambil duduk di sofa setelah ia menutup pintu.


"Siapa?" tanya balik Xander.


"Cowok yang nganter Kanaya pulang, lo tau dia siapa?"


"Oh ... dia asisten bokapnya," jawab Xander.


Xavier mengangguk lalu mencomot keripik kentang dari dalam toples.


"Eh, ada kabar terbaru gak soal di Jepang?" tanya Xavier.


"Ada," jawab Xander singkat.


"Apaan tuh? Kasih tau gue, dong!"


"Orang yang bakar gudang itu namanya Hans, kayaknya dia anggota kelompok itu," jelas Xander.


Xavier manggut-manggut, ia mengambil toples keripik lalu memeluknya sambil mencomot keripik kentang tersebut.


"Kira-kira mereka siapa, ya? Kenapa mereka ngincar keluarga kita? Apa ada sesuatu yang spesial dari kita?" tanya Xavier dengan kening berkerut.


"Kayaknya ada, kita gak pernah tau apa yang tersembunyi di balik keluarga kita sendiri," sahut Xander.


"Kalian lagi ngomongin apa, sih? Serius banget kayaknya," ujar Yunda setibanya ia di ruang keluarga.


"Bahas ular yang masuk ke rumahnya Savian, Mi!" jawab Xavier asal.


"Ular?" Kening Yunda berkerut.


"Iya, Mi! Ularnya gede banget, diduga ular itu memiliki motif untuk membunuh Savian! Polisi telah menyelidikinya secara menyeluruh," cerocos Xavier.


"Haduh ... ada-ada aja kamu, masa iya ular bisa ngaku motif dia apa." Yunda menggelengkan kepalanya.


"Hehehe ... Vier bercanda, Mami!" Xavier cengengesan.


"Iya sudahlah, Mami mau istirahat dulu. Kalian jangan keluyuran kemana-mana, kalo mau pergi izin dulu sama Mami, paham?"


"Paham, Mi!" jawab Xavier.


"Iya, Ma. Mama istirahat aja," sahut Xander.


Yunda berbalik membawa langkahnya menuju kamar dia berada. Yunda masuk ke dalam kamar, bersiap untuk tidur.


.....¤◇¤.....


07.30


Jakarta, Winter's High School.


"Selamat pagi, anak-anak!" sapa wali kelas.


"Pagi, Bu!" jawab murid serentak.


"Hari ini Ibu mau memberitahu kalian perihal kedatangan murid baru," ucapnya.


"Wah, siapa tuh Bu?" tanya salah satu murid laki-laki.


"Kamu akan tau nanti," jawab sang guru. "Nah, ayo masuk!" Ia menatap ke luar pintu yang nampak seorang murid baru berdiri di ambang pintu.


Ia bawa langkahnya masuk ke dalam kelas, sontak para siswi memandang lekat ke arahnya. Mereka ternganga dan terpesona melihat ketampanan murid tersebut.


"Ayo perkenalkan diri kamu!" ucap sang guru.


"Perkenalkan, Saya Leon Abiputra," ujarnya memperkenalkan diri.


"Kyaa ... suaranya candu ...." jerit salah satu siswi.


"Ganteng banget! Gue suka!" sahut yang lain.


"Nak Leon, silakan duduk. Yang lain, jangan berisik ya dan bertemanlah dengan Leon," tutur wali kelas.


Leon mengangguk lalu melangkah menuju sebuah kursi kosong di ujung kelas.


"Eh, lo pindah aja ke belakang! Biar Leon di sini aja," ucap salah seorang siswi pada laki-laki di belakangnya.


"Ogah! Gue kagak mau pindah!" tolaknya.


"Baiklah semuanya, itu saja kabar dari Ibu. Selamat belajar semua!" Wali kelas keluar dari kelas.


Leon tampak memandangi punggung Kanaya, Kanaya sibuk mengamati buku tulisnya sehingga tidak menyadari Leon yang menatap ke arahnya.


Jam pembelajaran selesai berganti dengan waktu istirahat. Seluruh siswa dan siswi kelas berhamburan keluar menuju kantin sekolah. Berbeda dengan Kanaya, dengan semangat ia keluar kelas menuju perpustakaan.


Leon mengernyitkan dahi melihat Kanaya begitu terburu-buru keluar dari kelas, saat ia hendak menyusulnya seorang siswa mencegatnya.


"Bro! Lo mau ke mana?" tanyanya.


"Gue gak tau, lo sendiri?" sahut Leon.


"Gue mau ngisi perut, lo ikut sama gue aja!"


Setibanya di kantin, Leon menatap sekitar mencari seseorang. Raka, teman baru Leon menatapnya penuh tanda tanya.


"Lo cari siapa?" tanya Raka.


Leon menoleh, menatap Raka. "Gak, gue gak cari siapa-siapa," jawabnya.


"Lo kalo butuh bantuan, bilang aja ke gue. Nanti gue bantuin lo!" Raka menepuk bahu Leon. "Iya udah, yuk makan!" ajaknya.


Leon menurut, ia dan Raka memesan makanan di salah satu warung lalu duduk di meja mereka yang berdekatan dengan meja Dark Boy.


"Mereka siapa?" tanya Leon melihat sekumpulan pria di belakang Raka.


Raka menoleh ke belakang untuk melihat, lalu kembali menatap Leon. "Mereka Dark Boy, salah satu grup yang disukai di sekolah ini. Anggotanya cakep-cakep dan kaya juga, gak sembarang orang bisa jadi anggota mereka," jelas Raka.


"Kenapa?" tanya Leon.


"Entah, mereka kayak udah kenal satu sama lain dari orok," sahut Raka.


Raka melihat sekitar lalu mencondongkan badan ke hadapan Leon.


"Mereka punya kuasa di sini, jangan sekali-kali lo ganggu mereka. Memang sih belum ada laporan soal mereka, tapi bisa aja kan diluar itu mereka ngelakuin hal yang berbahaya?" bisiknya.


Leon menganggukan kepala. Cih, apa-apaan. Mereka cuma segerombolan semut biasa. Gue gak bakalan takut sama mereka.


.....¤◇¤.....


10.05 WIB


Jakarta, Winter's High School.


"Gimana? Udah paham?" tanya Xander setelah ia selesai menjelaskan materi.


Kanaya mengangguk. "Udah, gue udah paham semuanya," jawab Kanaya senang.


"Bagus kalo lo paham. Semua kerja keras lo akan membuahkan hasil nanti, terus belajar dengan diiringi doa supaya apa yang lo harapkan bisa terkabul," tutur Xander.


"Gue tau, setiap hari gue berdoa supaya usaha gue bisa membuahkan hasil yang bagus," sahut Kanaya.


Xander tersenyum kecil. "Kerjain soal itu, kalo ada yang gak lo mengerti bilang aja."


Kanaya mengangguk kemudian mulai mengerjakan soal yang di berikan Xander untuknya, selama ini ia benar-benar belajar dengan baik. Berkat Xander nilai fisikanya selalu mendapat nilai sempurna, Kanaya sangat berterima kasih pada Xander.


Sementara Kanaya sibuk mengerjakan soal, diam-diam Xander mengambil foto Kanaya. Setelah mendapatkannya, Xander tersenyum kecil.


Tunggu! Kenapa gue ambil foto dia? Buat apaan coba? Batinnya.


Xander menggeleng pelan, ia memijat pelipisnya. Tiba-tiba ia merasa pusing dan lemas, Kanaya menatap Xander.


"Lo kenapa?" tanya Kanaya.


"Gak apa-apa," jawab Xander.


"Bohong. Lo sakit 'kan?"


"Gak Kanaya, gue gak sakit. Lanjutin aja pekerjaan lo," sahut Xander.


Kanaya kembali melanjutkan pekerjaannya menyelesaikan soal dari Xander. Xander mengambil botol minum lalu meminumnya sampai habis.


"Lo keliatan haus banget, udah berapa hari gak minum?" Kanaya terkekeh pelan.


Xander menatap botol minum di tangannya, lalu beralih menatap Kanaya. "Gue baru minum pagi tadi, rasanya di sini panas jadi bikin gue haus berat," jawab Xander.


"Panas? Perasaan di sini dingin, dah." Kanaya mengernyitkan dahi.


Kanaya bangun dari duduknya lalu menghampiri Xander, Kanaya menempelkan telapak tangannya di kening Xander.


"Lo demam, Xander!" pekik Kanaya kaget.


"Gue gak demam, suhu di sini yang panas," elak Xander.


"Lo ini keras kepala, ya!" Kanaya berdecak kesal. "Ayo, ikut gue ke UKS. Lo harus istirahat!"


"Gak, gue gak mau!" tolak Xander. Xander menatap buku tulis Kanaya. "Kerjaan lo udah selesai?"


"Lo masih peduli soal itu? Nanti gue kerjain, yang penting lo istirahat dulu!" sahut Kanaya.


"Gue gak kenapa-kenapa, Kanaya. Lo gak usah peduliin gue."


Kanaya menghela nafas panjang. "Bener-bener, yah. Ayo Xander, lo harus istirahat di UKS!"


"Kenapa lo maksa gue?" tanya Xander dengan kening berkerut.


"Gue khawatir sama lo! Gue gak mau lo kenapa-kenapa!" ucap Kanaya.


Xander terkejut dengan ucapan Kanaya. "Lo khawatir sama gue?"


Kanaya terdiam. Haduh ... pake keceplosan segala sih!


"Pokoknya lo harus ikut gue!" Kanaya menarik paksa tangan Xander untuk ikut bersamanya menuju UKS sekolah.


"Susah banget sih cuma diajak ke UKS doang juga!" omel Kanaya saat keduanya berada di lorong sekolah menuju UKS.


......Xiexie......