
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
10.00 WIB
Jakarta, Winter's High School.
"Temuin gue di perpustakaan, kita lanjut pembelajarannya selama istirahat!" ujar Xander saat ia bertemu Kanaya di depan kelasnya.
Xander sengaja menemui Kanaya ke kelas untuk memberitahunya hal itu. Setelahnya Xander pergi dari depan kelas Kanaya.
"Lah? Dia ngapain ke sini?" tanya Tania.
Sebelumnya, saat Xander tiba di depan kelas Kanaya riuh para siswi menyerukan namanya. Kanaya melihat sosok Xander di ambang pintu, Kanaya bergegas menghampiri dan menimbulkan tanda tanya di benak para siswi kelasnya.
"Nyuruh gue ke perpustakaan," jawab Kanaya.
"Hah? Mau ngapain kalian?" tanya Tania syok.
"Les private," jawab Kanaya singkat lalu ia masuk ke dalam kelas.
Kanaya mengambil buku les nya beserta alat tulis lalu bergegas menuju perpustakaan.
"Lo gak mau gue temenin?" tanya Tania.
"Gak usah, entar lo malah ganggu gue lagi," tolak Kanaya.
"Yaelah, bilang aja lo mau berduaan," ucap Tania seraya menggoda Kanaya.
"Idih, sana pergi temuin Vian tuh!" Kanaya menunjuk sesosok laki-laki berjalan ke arah kelasnya.
Tania menoleh ke belakang melihat Savian mendekat.
"Dah, gue pergi dulu. Selamat kencan!" Kanaya menepuk bahu Tania lalu beranjak pergi dari sana.
Kanaya berjalan dengan riang menuju perpustakaan, entah kenapa rasanya ia tak sabar bertemu dengan Xander.
Sesampainya di perpustakaan, Kanaya mengedarkan pandangan mencari sosok Xander di dalam. Kanaya memilih berjalan masuk ke dalam untuk mencari Xander.
Kanaya berhenti melangkah saat melihat Xander tengah memeluk seorang gadis kecil di antara rak buku. Kanaya merasa syok dan sesuatu menyakiti hatinya, entah kenapa ia jadi bersedih.
Kanaya berjalan mendekati Xander, terlihat Xander melepaskan pelukannya, ia mengusap lembut puncak kepala gadis itu seraya tersenyum kecil.
Xander menoleh ke samping saat mendengar langkah kaki mendekat. Kanaya berhenti di depan Xander, dan gadis kecil itu menatap Kanaya.
"Kakak, dia siapa?" tanya gadis itu.
"Kanaya, murid Kakak," jawab Xander.
"Ohh ... yang tadi Kakak bilang, ya?"
Xander mengangguk, gadis itu tersenyum menatap Kanaya, Kanaya ikut tersenyum canggung.
"Halo, kenalin aku Edrea. Panggil aja Rea, aku adik sepupunya kak Xander dan bang Xavier. Juga adik kandung dari bang Kenan," cerocos Rea memperkenalkan dirinya.
Kanaya tertawa kecil, ia menyambut uluran tangan Edrea.
"Kanaya, panggil aja Kana," balas Kanaya.
"Dek? Kamu di mana?" teriak seseorang memanggil.
Edrea menoleh ke samping. "Di sini Abang!"
Terlihat seorang laki-laki muncul dari balik rak buku, berjalan mendekat ke arah mereka.
"Di sini rupanya, Abang dari tadi nyariin kamu, seneng banget bikin Abang capek nyari!" marahnya.
"Maaf deh, Rea cuma mau liat perpustakaan terus gak sengaja ketemu kak Ander," jawab Rea.
Kenan menoleh ke samping. "Ada lo ternyata, gue kira kagak ada orang."
"Lo kira gue bukan orang?" sungut Xander.
"Bukan, lo lebih mirip kulkas!" jawab Kenan.
Kanaya menahan tawanya, selepas itu Kenan dan Rea pergi dari perpustakaan. Kanaya menatap keduanya hingga hilang di balik rak buku.
"Ayo!" Xander menarik pelan tangan Kanaya menuju sebuah meja di pojok.
"Duduk!" titahnya dan Kanaya duduk di kursi.
Kanaya mengernyitkan dahinya melihat ada makanan di meja.
Kanaya menatap dua potong kebab di atas piring putih, sebetulnya itu salah satu makanan kesukaan Kanaya.
"Gue suka kebab, lo kok bisa kepikiran buat beli kebab?"
"Gue suka liat lo beli itu," jawab Xander seadanya.
Kanaya menganggukan kepala.
"Mana buku lo? Tugasnya udah selesai?" tanya Xander, dan Kanaya kembali mengangguk.
Kanaya menyerahkan bukunya pada Xander, Xander memeriksa buku Kanaya.
"Lo makan dulu, selesai makan kita lanjut belajar!" ujar Xander tanpa menatap Kanaya.
Dengan cepat Kanaya mengambil sepotong kebab dan melahapnya, kebetulan ia sudah sangat lapar. Niat hati ingin pergi ke kantin untuk mengisi perut, tapi kedatangan Xander ke kelasnya menggugurkan niatnya itu.
Xander nampak fokus memeriksa jawaban Kanaya dari soal yang kemarin ia beri. Kanaya selesai memakan sepotong kebab, Xander menyingkirkan piring yang masih tersisa sepotong kebab dan menyodorkan botol minum ke depan Kanaya.
Kanaya meneguknya, Xander mengeluarkan sebuah buku tebal ke atas meja. Kanaya mengernyitkan dahi.
Sejak kapan dia ngambil buku itu? pikirnya.
Xander meletakan buku Kanaya, Kanaya menyimpan botol minumnya.
"Lingkaran merah ini artinya jawaban lo kurang tepat, coba lo liat apa kesalahan lo di sini." Xander menunjukan beberapa lingkaran merah di buku Kanaya.
Kanaya mendekatkan bukunya, memeriksa dengan teliti.
"Oh, gue salah di bagian akar," jawab Kanaya.
"Lo tau soal akar kan?" tanya Xander.
Kanaya mengangguk. "Tau!"
"Liat, dari sini kesalahan awalnya sehingga akar yang lo buat juga salah. Biar gue jelasin, dari sini yang pertama lo jumlahin perkalian, terus pembagian." Xander menuliskan jawaban yang benar di buku Kanaya.
Kanaya fokus memperhatikan."Oh gitu, gue salah dong kemaren."
"Coba lo jawab soal ini, kalo kurang ngerti bisa tanya gue!" Xander menyerahkan kembali buku Kanaya.
Kanaya fokus mengerjakan soal dari Xander, sesekali ia bertanya saat tidak mengerti mengenai soal yang diberikan Xander.
Kanaya sibuk menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, melihat itu Xander inisiatif untuk mengikatnya. Xander berpindah tempat ke belakang Kanaya, ia mengambil karet gelang yang tak sengaja ditemukannya di lantai.
Xander mengumpulkan rambut Kanaya menjadi satu, lalu mengikatnya dengan rapi. Kanaya terkejut saat Xander memegang rambutnya, terlebih saat Xander mengikat rambutnya.
"Lain kali kalo lo les private sama gue ikat rambut lo supaya gak ganggu," ujar Xander.
"Sorry,"
Xander mengangguk, ia duduk di samping Kanaya. "Lanjutin kerjaan lo!"
Kanaya melanjutkan mengerjakan soal, Xander menjelaskan mengenai soal yang diberikannya. Xander juga menerangkan beberapa materi dari buku yang ia bawa.
Xander memperhatikan Kanaya yang sedang menulis soal untuk dirumah nanti.
Cantik, Eh? Apa gue bilang tadi? Xander menggelengkan kepala pelan.
Tak lama setelah itu bel masuk berbunyi.
"Udah?" tanya Xander.
Kanaya mengangguk.
"Besok, gue mau lo selesain tugas dari gue. Kalo ada yang gak lo pahami, hubungin gue aja!" ucap Xander.
"Nomor lo? Gue kan kagak tau nomor HP lo."
"Ambil ini!" Xander memberikan kartu nama miliknya. "Gue pergi dulu, makan sisa kebabnya!" Xander bangkit dari kursi.
"Lo gimana? Lo udah makan?" tanya Kanaya mendongak menatap Xander.
"Gue gak laper, buat lo aja!" jawab Xander.
"Oke." Kanaya mengambil kebabnya lalu melahapkannya ke dalam mulut.
Kanaya berdiri, keduanya berjalan bersama keluar dari perpustakaan lalu berbelok ke arah yang berlawanan.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...