SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 10



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


11.00 WIB


Jakarta, Bengkel Setia


"Sepeda aku bisa dipake lagi gak?" tanya Sanaya pada seorang montir.


"Ini udah penyok gini, berapa kali kamu rusakin sepeda kamu?" tanya montir itu.


"Sering, hampir setiap hari. Tapi bukan sama aku," jawab Sanaya menunduk.


Xavier yang duduk tak jauh darinya, menatap punggung Sanaya. Xavier mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya dengan cepat.


Xavier berdiri menghampiri Sanaya.


"Ikut gue yuk!" ajak Xavier.


"Kemana? Sebentar lagi aku harus pulang,"


"Ikut dulu. Cuma bentar doang,"


Sanaya tampak berpikir sejenak, jika ia menolak takut menyakiti hati Xavier. Maka ia mengangguk sebagai jawaban. Xavier kembali menggenggam tangan Sanaya, membawanya menuju sebuah tempat.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


20.30


London, Sword Hotel


"Tuan, makan malam anda." Noah meletakan makanan di atas meja.


Ia menatap Xander yang sedang menatap layar laptopnya.


"Noah, lo belum makan kan? Makan dulu!" ujarnya.


"Baik, terima kasih tuan." Noah duduk di kursi sofa di samping Xander lalu menyantap makanannya.


"Saat saya berada di Paris, saya melihat Tuan besar. Beliau tampak keluar dari perusahaan, dari kejauhan terlihat seseorang tengah mengintai beliau," ucap Noah di sela makannya.


Xander melirik Noah. "Kerja bagus. Tapi, tugas lo saat ini cuma nyari orang-orang kita, jangan sampai musuh tau keberadaan lo."


Noah mengangguk paham, "Saya sangat berhati-hati."


"Jangan kecewain gue."


"Tidak akan tuan. Anda telah melatih saya dengan baik sehingga saya dapat menjaga diri," tutur Noah.


"Hmm ...." Xander melipat tangan lalu bersandar disofa.


Apa yang gue khawatirkan beneran terjadi batin Xander.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


11.30 WIB


Jakarta, Toko sepeda.


"Nah, lo pilih dah sepeda mana yang lo suka!" ujarcap Xavier mempersilakan Sanaya memilih sepeda.


"Untuk apa? Aku masih punya sepeda lama aku," jawab Sanaya.


"Lo gak denger yang tadi montir itu bilang? Sepeda lo udah rusak parah," sahut Xavier sedikit kesal. "Udah pilih aja, mumpung gue baik," lanjutnya dengan menaik turunkan kedua alisnya.


Sanaya tersenyum kecil, ia melangkah masuk ke dalam toko melihat-lihat sepeda. Langkah Sanaya berhenti di depan sepeda berwarna merah muda dengan sebuah keranjang di depannya.


"Lo suka itu?" tanya Xavier yang berada di belakang Sanaya.


"I-ini mahal banget, lebih baik aku beli di toko sepeda bekas. Di sana harganya lebih murah," Sanaya menatap Xavier setelah melihat harga dari sepeda itu.


Xavier sedikit memiringkan tubuhnya, mencoba melihat label harga yang menggantung di keranjang sepeda.


"Segitu doang kagak mahal kok, kalo lo suka sama sepeda itu lo bisa ambil. Urusan biaya, serahin semuanya ke gue,"


"Gak enak, kamu kan cuma orang asing yang nolongin aku. Masa aku terima barang dari kamu," jawab Sanaya.


"Kalo gitu, lo harus bayar nanti."


"Bayar berapa? Nanti aku bayar kalo uangnya kekumpul," jawab Sanaya dengan binar dimatanya.


"Gue bercanda, serius amat sih!" Xavier gemas melihat wajah menggemaskan Sanaya.


Ia tidak dapat menahan diri sehingga tangannya refleks mengacak rambut Sanaya.


Sadar tindakannya salah, Xavier berdehem dan menghindari kontak mata dengan Sanaya.


Xavier melihat karyawan toko itu, ia melambaikan tangan memanggilnya.


"Ada yang bisa saya bantu Mas?" tanya karyawan itu sopan.


"Gue mau sepeda ini, entar sore anterin ke alamat cewek ini." Xavier menunjuk sepeda lalu kemudian menunjuk Sanaya.


"Baik, Mbak alamatnya di mana?"


"Saya di jalan Mawar putih nomor 4, Jakarta, gang Teratai." Jawab Sanaya.


Karyawan itu mencatat alamat Sanaya, Xavier pergi menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Selesai membayar, ia kembali ke samping Sanaya.


"Udah, yok pulang!" ajak Xavier sambil menggenggam erat tangan Sanaya. "Entar ortu lo nyariin lo, lo bilang tadi harus pulang."


Sanaya mengangguk kecil, ia membuntuti langkah kaki Xavier.


Kamu cowok baik, aku bener-bener ngucapin terima kasih banyak sama kamu! Batin Sanaya


Setelah mengantar Sanaya pulang, Xavier pamit untuk kembali pulang.


Di tengah perjalanan pulang, ponsel Xavier berbunyi. Xavier menepi untuk mengangkat panggilan telepon.


"Apaan?" tanyanya.


"Dimana?" tanya balik suara di seberang.


"Gue nanya, lo malah nanya balik. Gue di jalan," sahut Xavier sedikit kesal.


"Gue mau ke rumah lo, ada something yang mau gue bahas."


"Sing penting bisa. Gas buru balik,"


"Gue masih ada urusan bentar, lo nunggu aja di rumah. Nyokap gue baik, gak bakal makan lo!" tutur Xavier.


"Gue tau, gak cuma sekali gue ke rumah lo! Nyokap lo emang gak bakalan makan gue, tapo gue yang bakal makan dia!" sahutnya lalu terkikik.


"Sialan lo! Awas aja kalo lo apa-apain nyokap gue!" ancam Xavier.


"Mana berani gue, entar gue abis ama bokap lo!"


"Dahlah, gue mau jalan lagi. Ganggu aja lo," kesal Xavier.


"Yelah, gitu amat ama Dede Vian," sahut Vian sedikit dramatis.


Jengkel dengan jawaban Vian, Xavier menutup panggilan teleponnya kemudian melanjutkan perjalanan.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


12.00 WIB


Jakarta, Cafe Dahlia


Kring


Seorang pria masuk ke dalam cafe yang tampak ramai pengunjung. Ia merapikan rambutnya yang berantakan sambil berjalan menuju meja seseorang.


Pria yang sedari tadi duduk di kursi menatap ke depan, lalu ia berdiri untuk menyambut kedatangan orang yang ditunggunya.


"Siang bos, lama amat sih lo!" ujarnya.


"Bentaran doang, kagak lama," timpal Xavier.


Pria itu hanya mengangguk, Xavier duduk di kursi disusul pria tadi.


"Bentar!" Xavier mengangkat tangannya ke depan ketika pria di depannya hendak bicara. "Pesen minum dulu lah, haus gue," ucapnya.


Xavier memanggil pelayan, ia memesan Americano coffe lalu pelayan itu pergi untuk membuat pesanan Xavier.


"Btw, gimana perjalanan lo? Aman kan?" tanya Xavier.


"Aman bos, gak ada masalah." Pria itu mengacungkan jempol dengan cengiran khasnya.


"Oh, terus keluarga lo baik kan?"


Pria itu mengangguk, tak lama kemudian pesanan Xavier tiba. Xavier meneguk kopi nya.


"Nah, apa yang mau lo bilang?" tanya Xavier.


"Jadi gini, bos. Kan gue pergi ke London sesuai keinginan bos, tapi orang itu pergi lagi ke Paris gue ikutin lah. Kan kata bos gue kudu ikutin orang itu,"


Xavier mengangguk. "Terus, terus?"


"Nah, gue waktu itu ngintipin dia di depan perusahaannya. Gue nemuin orang mencurigakan, kayak merhatiin terus orang itu!" sambungnya.


"Siapa? Lo ingat ciri-cirinya?" tanya Xavier.


"Orangnya cakep sih, tapi yang jelas cakepan gue. Ya gak bos?" ungkapnya dengan percaya diri.


"Idih, cakepan gue kali. Ngaku-ngaku lo!" tukas Xavier.


Pria itu menunjukan barisan gigi putihnya. "Gue gak liat mukanya, cuma kayaknya orang itu seumuran sama gue. Pakean dia agak lain, rapi. Pake kemeja, masker and topi."


Xavier mengangguk.


"Sempet gue foto sih,"


"Ngapa kagak bilang dari tadi, bego!" ujar Xavier merasa kesal.


Lagi-lagi pria itu menunjukan barisan gigi putihnya. Lalu ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya, menunjukannya pada Xavier.


"Nih bos,"


"Kirim ke gue, biar gue tanya kembaran gue."


"Sip!"


"Nik, lo kudu balik lagi ke Paris. Kagak apa-apa kan?" tanya Xavier.


"Kagak lah, malahan gue seneng jalan-jalan ke luar negeri. Ketemu cewek cakep," jawabnya dengan disusul cengiran.


TAK


"Bisa-bisanya lo ngelirik cewek di tengah misi!" ujar Xavier setelah menjitak kepala Niko.


Niko mengelus kepalanya. "Yaelah bos, gue juga butuh yang kayak gitu buat nganu."


"Nganu apaan lo?"


"Ya ... nganu bos, itu lho bos."


"Oohh ... paham gue, berapa ronde lo?" tanya Xavier dengan menaik turunkan alisnya.


"Hehehe ... jangan dibahas lah bos, malu gue."


"Punya malu juga lo,"


"Punya lah, gue kan manusia bos!" ucap Niko tak terima.


"Yodah, sana balik lagi lo! Kalo ada apa-apa telepon gue aja."


"Kalo mendadak, emang lo bakal cepet nyampe sono bos?"


"Iyalah, gue kan punya amaterasu." Jawab Xavier bangga.


"Kamui bos! Bukan amaterasi," ralat Niko


"Iye dah, itu pokoknya. Buru balik, entar lo ketinggalan pesawat!"


"Yodah, gue pergi dulu. Hati-hati bos!" pamit Niko lalu pergi meninggalkan kafe.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...