SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 30



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


12.10 WIB


Jakarta, Winter's Highschool.


"Hari ini kita mau makan apa?" tanya Tania sembari memasukan barang-barangnya ke dalam tas.


"Mie ayam, lo mau apa?" jawab sekaligus tanya Kanaya.


"Samain ajalah," sahut Tania. "Yuk ke kantin!" ajaknya setelah ia berdiri.


Kanaya ikut berdiri dari kursi, tiba-tiba ponsel Tania berdering. Tania mengangkat panggilan telepon dari Vian.


"Halo Kak?"


"Tani, gue ada di kantin. Makan siang bareng gue yuk!" ajak Vian di seberang telepon.


"Bareng sama Kana ya Kak?" pinta Tania pelan.


"Jangan, gue maunya berdua sama lo aja," larang Vian, sebetulnya ia tak enak hati melarang Kanaya makan siang bersama. Tapi, mau bagaimana lagi, saat ini Vian ingin makan siang berdua bersama Tania.


"Umm ... iya udah deh Kak, nanti aku ke sana," putus Tania.


Setelahnya Tania menutup sambungan telepo, ia menatap Kanaya yang tengah menatapnya juga dengan bingung.


"Kana, gue minta maaf kak Vian minta gue buat makan siang bareng. Dia juga larang lo buat ikut," ucap Tania ragu.


"Gak masalah, gue bisa makan sendiri kok. Kita bareng ya ke kantinnya?"


Tania mengangguk senang. "Ayo."


"Tunggu!" cegah seseorang di belakang Kanaya.


Kanaya dan Tania menatap seorang pria di belakang Kanaya dengan heran.


"Biar Kanaya sama gue aja, lo mending pergi sendiri," ucapnya.


"Idih, lo mau modus ya?" tuduh Tania.


"Kagak. Udah sono pergi sendiri."


Tania melirik Kanaya sekilas.


"Gak apa-apa, lo pergi aja biar gue sama Leon," sahut Kanaya seolah mengerti pikiran Tania.


"Iya udah, gue pergi dulu." Setelahnya Tania meninggalkan kelas walau tak enak hati membiarkan Kanaya bersama Leon.


"Ayo!" ajak Leon sambil menggandeng tangan Kanaya.


Kanaya terdiam, ia melirik tangannya yang digenggam Leon. Kanaya menarik pelan tangannya agar terlepas dari Leon. Kemudian Kanaya jalan lebih dulu meninggalkan kelas.


Setibanya di kantin, Leon menuntun Kanaya untuk di salah satu meja yang tersisa. Kanaya duduk di kursi diikuti Leon di depannya.


"Tumben kita kebagian meja, biasanya udah penuh," ucap Kanaya heran.


"Gak tahu," jawab Leon, sebetulnya ia meminta pada Raka untuk menyiapkan meja kantin.


Leon pamit membeli makanan, tak lama setelahnya Leon kembali sambil membawa nampan berisi makanan.


"Nih, dimakan." Leon meletakan semangkuk mie ayam ke atas meja Kanaya.


"Thanks." Kanaya menatap makanan di atas meja.


Leon tersenyum sekilas kemudian menyantap makananya. Selesai makan, Leon memberikan makanan manis sebagai pencuci mulut pada Kanaya.


"Lo suka kue 'kan?"


"Iya, gue suka," jawab Kanaya menerima kue coklat pemberian Leon.


Leon kembali tersenyum karena Kanaya memakan kue pemberiannya. Leon terus menatap Kanaya yang sedang makan, sembari meneguk minumannya.


Leon melihat noda coklat yang menempel di pipi Kanaya, Leon mengambil tisu yang berada di meja di belakangnya.


Sek


Saat berbalik, Leon terkejut dengan kehadiran Xander yang lebih dulu menyeka pipi Kanaya menggunakan ibu jarinya. Kanaya tersentak kaget dengan tindakan tiba-tiba dari Xander.


Kanaya memegang pipinya yang terasa panas apalagi wajahnya telah berubah menjadi merah. Kanaya menatap Xander yang tersenyum kecil ke arahnya.


"Makannya berantakan, kayak anak kecil," ucap Xander sambil menjilat sisa coklat di jarinya yang ia dapat dari pipi Kanaya. "Manis."


"Ngapain lo di sini?" tanya Leon kesal.


"Makan," jawab Xander singkat.


Sebetulnya sudah sedari tadi ia berada di kantin memperhatikan keduanya, saat itu ia tengah bersama teman-temannya mengobrol. Melihat Kanaya yang makan bersama Leon membuat Xander merasa sedikit kesal. Ia lantas menghampiri Kanaya, dan tepat saat itu Xander menyeka pipi Kanaya sebelum Leon melakukannya.


"Lo bisa makan di meja lain," ucap Leon menatap tak suka ke arah Xander.


"Meja lain udah penuh," jawab Xander masih tetap berdiri di samping Kanaya.


"Iya udah lo duduk aja di sini, kita berdua mau balik." Leon beranjak berdiri dari kursi. "Ayo Kanaya!" ajaknya.


Kanaya mendongak menatap Leon lalu beralih menatap Xander. "I-iya," jawab Kanaya terbata.


Kanaya berdiri dari kursi lalu berjalan lebih dulu menuju kelas. Leon kembali menatap kesal ke arah Xander, sementara Xander terus memerhatikan punggung Kanaya yang menjauh.


"Lo jangan ganggu kita lagi!" tegas Leon kemudian pergi menyusul Kanaya.


Sudut bibir Xander terangkat membentuk sebuah senyuman. Entah sudah berapa kali ia tersenyum semenjak kehadiran Kanaya di hidupnya. Rasanya setiap bertemu Kanaya ia tersenyum.


Dari kejauhan seorang pria menatap tajam Xander, ia merasa marah karena Xander mengabaikan peringatannya.


"Seharusnya lo jaga jarak sama Kana," desisnya.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


15.30 WIB


Jakarta, Winter's Highschool.


"Lo pulang bareng siapa?" tanya Kanaya setelah selesai membereskan barang bawannya ke dalam tas.


"Bareng kak Vian," jawab Tania sambil menggendong tasnya.


"Oh, iya udah deh. Hati-hati di jalan, ya!"


"Lo sendiri sama siapa?"


"Gak tau, paling dijemput sopir," jawab Kanaya malas.


"Tani!" panggil Vian yang berada di luar kelas melambaikan tangan ke arah Tania.


Tania menoleh menatap Savian kemudian kembali menatap Kanaya. "Gue pulang duluan ya! Lo hati-hati pulangnya. Bye!"


Setelahnya Tania keluar dari kelas menghampiri Vian.


Leon berjalan mendekat ke arah Kanaya. "Lo mau pulang bareng gue gak?" tawar Leon.


"Gak usah, gue minta sopir aja buat jemput," tolak Kanaya sambil memainkan ponselnya untuk mengirim pesan pada salah satu sopir pribadinya.


Setelah selesai mengirim pesan, Kanaya melangkahkan kaki meninggalkan kelas disusul oleh Leon.


"Hari minggu nanti ada acara gak?" tanya Leon sambil mengiringi langkah kaki Kanaya.


"Gak tau, liat nanti aja. Kenapa emang?"


"Mau ajak lo jalan," jawab Leon sembari tersenyum lebar.


Kanaya terdiam, keduanya tiba di halaman parkir. Kanaya menunggu mobil jemputannya bersama Leon, sebuah mobil mewah berhenti di depannya. Xander keluar dari dalam mobil menghampiri Kanaya.


"Mau pulang bareng?" tawar Xander.


"Xander!" panggil seorang gadis sedikit berteriak, ia berlari menghampiri Xander. "Ayo kita pulang!" ajaknya setelah sampai di samping Xander sambil menggandeng tangannya.


Kanaya menatap tak suka gadis itu saat menempel pada Xander.


"Lo siapa? Lepasin gue." Xander menarik tangannya.


"Ihh ... masa lo lupa, gue Ilona pacar lo Xander!" jawab Ilona sembari merengek kecil.


Mendengar jawaban Ilona membuat Kanaya merasa sedih, secara kebetulan mobil jemputan Kanaya tiba. Ia masuk ke dalam mobil lantas pergi meninggalkan sekolah.


Leon tersenyum miring menatap Xander. "Lo kalo udah punya pacar sebaiknya jangan deketin cewek lain, jaga pacar lo dengan baik!" ucapnya sedikit menyindir Xander.


Leon tertawa rendah meremehkan Xander lantas pergi meninggalkannya Xander yang terdiam. Xander merasa kesal, ia memilih masuk ke dalam mobil mengabaikan panggilan dari Ilona.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...