SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 34



...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...


11.10 WIB


Jakarta.


Setelah Xander mengungkapkan perasaannya, Kanaya hanya terdiam menatap manik mata hazel milik Xander. Kanaya memalingkan wajahnya, menyembunyikan wajah merah padamnya.


Xander mengangkat sebelah lengannya menggapai pipi Kanaya, Xander mendorong pelan wajah Kanaya untuk menatapnya lagi.


"Xander ... gu--"


"Gue cuma bilang kalo gue suka sama lo, bukan berarti gue cinta sama lo," sela Xander.


Kanaya menatap wajah Xander, Xander melepaskan tangan Kanaya ia berbalik menghadap ke depan sambil memegang setir mobil.


Kanaya kembali terdiam, saat ini jantungan berpacu dengan cepat.


"Jadi, lo gak cinta sama gue?" tanya Kanaya ragu.


Xander terdiam sesaat. "Gak, gue gak cinta sama lo," jawabnya pelan.


Xander membuang muka ke samping, menghindari tatapan Kanaya.


"Xander, gue tau kalo lo--"


TOK


TOK


TOK


"Keluar lo!" pinta seorang pria dengan nada marah.


Xander mengernyitkan dahi, ia bingung melihat beberapa pria mengepung mobilnya. Kanaya terbelalak kaget melihat segerombolan pria di depan mobil Xander.


"Xander, sebaiknya lo jangan keluar. Kita pergi aja," usul Kanaya panik.


"Gak bisa, Kan. Mereka datang ke sini tanpa sebab, gue bakal urus mereka. Tunggu di sini," ujar Xander.


"Gak Xander! Lo jangan keluar, gimana kalo mereka mukul lo? Lo baru aja dikeroyok, Xander," cegah Kanaya.


Xander menatap Kanaya, tangannya terulur mengelus wajah Kanaya. "Tunggu di sini, jangan keluar!" larangnya.


"Xander, gue mohon jangan keluar!" pinta Kanaya.


Xander tersenyum kecil kemudian keluar dari mobil, Kanaya berteriak memanggil Xander memerintahkannya untuk kembali masuk ke dalam mobil.


"Keluar juga lo," ucap salah seorang pria.


Xander menatap tajam segerombolan pria di depannya. Tadi lima, sekarang tujuh, batin Xander.


"Apa masalah lo? Siapa yang nyuruh kalian?" tanya Xander.


"Gak perlu tau siapa yang suruh kita," sahut seorang pria berkulit gelap.


"Habisi dia!" seru pria lainnya.


Seorang pria maju ke depan Xander melayangkan pukulan tinjunya, Xander mengelak kemudian memegang tangannya, Xander memelintir tangan pria tersebut ke belakang punggung lalu memukul bahu pria tersebut dengan sikunya.


Pria lainnya menyerang Xander secara bersamaan, Xander melawan mereka sekuat tenaga meski dirinya masih kesakitan. Kanaya mengetuk-ketuk kaca mobil sambil berteriak memanggil Xander.


Xander memukul salah satu pria hingga tersungkur, Xander dicekal dengan kuat oleh seorang pria lalu kedua tangan Xander dipegang erat oleh kedua pria.


Satu pria memukul Xander tanpa ampun, dua orang pria menghampiri mobil Xander. Salah satu dari mereka membuka pintu mobil lalu menarik paksa Kanaya untuk keluar.


"Lepas! Lepasin tangan gue!" Kanaya memberontak berusaha melepaskan diri.


Xander menatap tajam kedua pria yang berani menyentuh Kanaya bahkan sampai menyakiti lengannya.


"Lepasin dia!" Xander berteriak kemudian ia melepaskan diri dari cengkraman kedua pria.


Xander menendang pria di depannya, dari arah samping seorang pria memukul wajah Xander. Di belakang Xander berdiri pria sambil membawa tongkat, Xander berbalik menangkap tongkat yang melayang ke arahnya kemudian memukulnya.


Kedua tangan Xander kembali dicekal oleh dua orang pria, perut Xander menjadi sasaran pria di depannya untuk dipukuli. Xander kembali terbatuk sampai ia mengeluarkan darah.


"Xander!"


"Tuan!"


Keano dan Noah berseru sambil berlari menghampiri Xander. Keduanya membantu Xander melawan ketujuh pria yang menyerang Xander. Xander berhasil bebas dari cekalan kedua pria yang kini menjadi sasaran Noah dan Keano.


Xander berlutut lemas di tanah dengan wajah yang penuh dengan luka, keadaan sekitar gedung telah sepi. Seluruh pengunjung telah pulang kembali ke rumah mereka sehingga tak ada yang membantu Xander.


Noah dan Keano hampir kawalahan menghadapi ketujuh pria yang tak pernah tumbang.


"Sial! Udah beberapa kali kita hajar, mereka gak tumbang-tumbang!" umpat Keano kesal.


"Serang!" seru Vian menghampiri Noah dan Kean.


Xander menengadah menatap teman-temannya yang berusaha melawan mereka, Xander teringat dengan Kanaya yang dibawa paksa.


Disini ada tujuh, lalu kedua cowok tadi datang dari mana? pikir Xander.


Xander berusaha berdiri, seorang pria berlari ke arahnya. Xander mengepalkan tangan lalu menendangnya hingga terjatuh jauh darinya.


"Xan, lo baik-baik aja?" tanya Vian.


"Lo nanya apaan sih? Udah jelas Xander babak belur kayak gini," ucap Nean kesal.


"Iya sih," sahut Vian.


"Xan, mending kita ke rumah sakit aja, muka lo udah gak beraturan kayak gitu," usul Kean.


Xander menyeka darah yang tadi keluar dari mulutnya. "Gue harus cari Kanaya," ucap Xander.


"Tapi kondisi lo kayak gini, Xan! Ada baiknya lo ke rumah sakit," ucap Arka.


"Terus Kanaya?" tanya Xander.


"Biar saya yang mencarinya Tuan, Anda obati saja dulu luka Anda," sahut Noah.


"Gak bisa, gue mau cari Kanaya sendiri!" tolak Xander kemudian ia masuk ke dalam mobil, tak ingin mendengar ucapan teman-temannya lagi.


"Xander! Ada baiknya lo dengerin kita dulu!" cegat Vian.


Xander melajukan mobilnya menjauh dari mereka.


"Susah banget diomongin," kesal Arka.


"Kita bersihin dulu tempat ini, gak enak diliat," usul Kean.


"Ide bagus," sahut Nean.


...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...


11.30 WIB


Jakarta, Kediaman Trivara.


"Lepasin gue! Siapa kalian sebenernya?" tanya Kanaya kesal.


Mobil berhenti di depan rumah Kanaya, Kanaya terdiam melihat rumahnya. Kanaya dipaksa untuk keluar dari mobil, kedua pria tersebut menarik Kanaya menghampiri Trivara, ayah Kanaya.


Kanaya menghentakan kedua tangannya agar terlepas. "Apa maksud Papa bawa Kanaya kayak gini?" tanya Kanaya marah.


"Karena lo lama nyampe rumah, gue takut lo kenapa-kenapa jadi gue nyuruh mereka buat bawa lo," jawab Leon. Tiba-tiba saja dia muncul di balik punggung Trivara.


"Apa maksud lo? Mau apa lo?" tanya Kanaya kesal.


"Tenang, gue gak akan minta lebih dari lo. Gue cuma mau lo jadi milik gue," jawab Leon sambil menyeringai.


"Kanaya, setelah kamu lulus nanti Papa mohon kamu nikah sama Leon," pinta Trivara.


"Apa?" Kanaya terkejut. "Apa hak Papa nyuruh Kanaya buat nikah sama cowok kayak dia?" Kanaya menunjuk Leon yang berdiri di samping Trivara.


"Papa berhak karena Papa ayah kamu!" jawab Trivara.


"Gak, Naya gak mau nikah sama dia!" tolak Kanaya.


"Papa gak mau tau, pokoknya kamu akan nikah dengan dia!" putus Trivara.


"Cukup Pa! Jangan paksa Naya lagi, Naya capek terus dipaksa sama Papa!" marah Kanaya.


"Kanaya, kenapa lo nolak gue? Gue ini ganteng, gue juga kaya, kenapa lo nolak lamaran gue?" tanya Leon.


"Karena lo orang jahat!" jawab Kanaya marah. "Gue tau lo yang suruh mereka buat nyerang Xander, lo juga yang nyuruh orang buat ngeroyok Xander sebelum dia datang ke gedung, 'kan?"


"Kana, lo ngomong apa sih? Gue gak nyuruh mereka," sanggah Leon.


"Bohong! Gue tau lo yang lakuin itu!"


"Cukup Kanaya! Jangan bertengkar lagi, mau tidak mau kamu harus menikah dengan dia!" sela Trivara murka.


"Naya bilang, Naya gak mau Pa! Papa gak bisa paksa Kanaya!" tegas Kanaya.


"Berani bantah Papa, Papa akan pastikan kamu gak akan ketemu mereka!" ancam Trivara.


Kanaya terkejut, ia tahu betul siapa yang dimaksud sang ayah. "Papa selalu ancam Naya dengan mereka," lirih Kanaya.


"Kana, kenapa lo nangis? Lo gak rugi kok nikah sama gue," ucap Leon.


Tangan Leon terangkat hendak menyentuh wajah Kanaya, namun tangan seseorang mencegahnya melakukan hal tersebut.


...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...