
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
21.00
Paris, Pranciss
"Kamu benar-benar hebat, bisa menangkap penjahat seperti dia."
"Papa pikir aku ini anak kecil?" sahut Xander dingin.
"Tidak, hanya saja Papa tidak menyangka kamu akan berhasil memecahkan masalah ini."
Xander menghela nafas panjang.
"Pria itu benar, Papa sudah tua. Kemampuan Papa menurun,"
"Apa? Meski umurku tidak lagi muda, kemampuanku masih yang terbaik," sangkal Angga tak terima.
"Terserah saja, masalah di London sudah kuatasi, semuanya baik-baik saja sekarang. Earthen dan Jhon sepertinya berada di kelompok yang sama, tujuan keduanya sama-sama ingin menghancurkan Sunjaya. Terlebih, aku menemukan lambang kelompok mereka," jelas Xander dengan tampang seriusnya.
Angga menatap Xander, Xander mengeluarkan sebuah benda mirip koin berukuran besar. Di sana terukir bentuk yang terlihat rumit namun tergambar bentuk burung elang. Angga menatap benda itu lekat-lekat dengan dahi yang mengernyit tajam.
"Tuan, ibu anda menelepon." Noah memberikan ponsel Xander pada pemiliknya.
Xander mengambil ponselnya, segera ia menjawab panggilan telepon dari sang Mama.
"Ya?"
"Ander, kapan kamu pulang?"
Xander tersenyum kecil. "Ada apa? Apa Mama merindukan Ander?"
"Tentu saja, rumah ini terasa sepi tanpa ada kamu. Xavier sering keluar rumah dan pulang larut malam," tutur Yunda di seberang telepon.
"Xavier pergi untuk mengurusi perusahaan papa, Ander 'kan di sini jadi Xavier yang bertugas di sana."
"Haa ... kalian para pria di keluarga ini semuanya memikirkan pekerjaan. Selalu sibuk dengan alasan pekerjaan," oceh Yunda dengan nada kesal.
"Apa dia mengomel?" tanya Angga berbisik.
Xander mengangguk.
"Berikan!" Angga mengulurkan tangannya, Xander memberikan ponselnya.
"Mama kesepian di sini, kalian gak pikirin perasaan Mama apa? Lama-lama Mama mati karena kesepian."
"Siapa yang mati, hm?" suara berat Angga mengejutkan Yunda.
"Eh? Mas?"
"Ya, ini aku."
"Mas, kapan kamu pulang? Aku kangen banget sama kamu."
"Iya, nanti aku pulang. Jangan mati dulu sebelum aku pulang. Mengerti?"
Xander dan Noah beserta Jarvis melanjutkan pembicaraan mereka mengenai Earthen dan Jhon. Membiarkan Angga sibuk dengan sang istri.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
20.30 WIB
Jakarta, Perusahaan Sunjaya.
"Tuan, ini laporan perusahaan!"
Pria berjas memberikan sebuah dokumen berwarna biru ke hadapan Xavier.
"Oke," singkatnya.
Pria itu pergi dari ruang kerja Xavier, Xavier membaca dokumen tersebut dengan teliti sambil memakan kukis buatan Sanaya.
"Hm, gak ada yang aneh. Semuanya normal, perusahaan ini belum terkena wabah rupanya," gumamnya.
Xavier bangkit dari sofa, berjalan menuju lemari yang berisi buku dan dokumen lainnya. Ia mengernyitkan dahi saat melihat secarik kertas yang terselip di antara buku. Xavier menariknya keluar, lalu membacanya.
"Apaan nih?" Xavier menggigit kukisnya, membiarkannya bertengger di mulut.
Xavier meletakan dokumen yang tadi ia baca lalu berjalan menuju kursi kerja.
"Hm?" Xavier memegang kukisnya memasukannya ke mulut dan mengunyahnya. "Menarik," ucapnya.
Xavier melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. "Lah? Udah malem ternyata, Mami pasti nyariin gue. Balik ah,"
Xavier keluar dari ruang kerja Angga, seluruh karyawan perusahaan telah pulang ke rumah masing-masing. Tadi ada seorang pria yang menyerahkan dokumen, dia merupakan sekertaris di perusahaan Angga.
Xavier keluar dari gedung, melangkahkan kaki menuju mobilnya terparkir.
"Jaga keamanan perusahaan, jangan sampai kebobol maling!" ingat Xavier pada petugas keamanan.
"Siap!" jawab kedua petugas.
Xavier melajukan mobilnya menjauh dari halaman perusahaan megahnya, sekilas ia memandang gedung itu dari kaca spion lalu kembali fokus menyetir.
Mobil mewahnya melaju di jalanan sepi, angin malam menerpa wajahnya melalui kaca mobil yang terbuka. Xavier mulai menyukai mengendarai mobil, biasanya ia lebih suka naik motor besarnya.
Karena ia sering pulang malam, sang Mami menyarankan agar menggunakan mobil saat pergi supaya Xavier tidak masuk angin.
Gue gak nyangka, sejarah keluarga Sunjaya serumit itu. Pikir Xavier.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
22.00
Paris, Centaur Hotel
Ting
Xvir
- Xvir mengirim foto
-Gue nemu ini
^^^ Anda^^^
^^^-Dari?^^^
Xvir
-Kantor
-Minat?
^^^ Anda^^^
^^^-Ya, simpan^^^
Xvier
-Oke
Setelah menjawab pesan singkat dari Xavier, Xander melempar ponselnya ke atas kasur lalu merebahkan diri di atasnya.
"Kasusnya berhasil terungkap, tapi siapa dalang di balik semua ini?" gumam Xander menatap langit-langit kamarnya.
Xander bangun, ia berjalan menuju jendela besar kamar hotel. Xander menyibak gorden yang menutupi kaca, ia menatap kota Paris yang indah. Terlihat menara Eiffel menjulang tinggi dengan lampu warna-warni.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
07.00
Paris, Centaur Hotel
KLAK
Xander keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang menutupi bagian bawahnya. Sementara ia menggunakan handuk kecil untuk menggosok rambutnya.
TOK
TOK
TOK
"Masuk!" sahut Xander.
Noah membuka pintu kamar Xander sambil membawa nampan, Noah meletakannya di meja.
"Lo udah makan?" tanya Xander.
"Belum, saya bisa makan nanti," jawab Noah.
"Makan dulu, kalo lo sakit yang jadi asisten gue siapa?" kata Xander.
"Baik, saya akan membelinya di bawah." Noah tersenyum.
"Cepet balik, kita harus cepet-cepet sampai di bandara!" ingat Xander.
Noah mengangguk, ia lantas pamit untuk membeli makanan.
Xander mengambil pakaian dari dalam lemari lalu mengenakannya, selesai berpakaian Xander menyisir rambut dengan tangannya kemudian menyantap sarapannya.
10 menit kemudian, Noah kembali dengan makanan di tangannya. Xander menyuruh Noah untuk makan, sementara ia mengepak pakaiannya.
"Gak ada yang ketinggalan, 'kan?" tanya Xander.
"Tidak ada, Tuan," jawab Noah.
Xander mengambil cup kopi yang kebetulan di bawa Noah saat mengantar makanan, ia berjalan menuju jendela besar. Membuka gorden jendela, Xander melihat pemandangan kota Paris dari atas gedung hotel sambil meneguk kopinya.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
09.00 WIB
Jakarta, Kediaman Sunjaya.
"Masih belum nyampe?" tanya Yunda.
Ia menghampiri Senna yang duduk di teras menunggu keluarganya tiba, Yunda meletakan jus jeruk dan kue kering di atas meja lalu duduk di kursi di samping Senna.
"Belum, Kak," jawab Senna.
"Kok lama ya, apa jalanan macet?" gumam Yunda.
"Mungkin aja, libur gini Jakarta pasti macet." Sahut Senna.
TIN
TIN
Tak lama kemudian, muncul sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Sunjaya. Kedua mata Senna nampak berbinar melihat mobil itu, lantas ia berdiri menghampiri mobil itu diikuti Yunda.
Seorang pria dewasa keluar dari dalam mobil dan langsung mendapat pelukan dari Senna. Seorang pemuda tampan turut keluar dari samping kursi kemudi, ia begitu tampan dengan sorot mata yang teduh.
Kemudian, seorang gadis cantik berkulit putih ikut keluar dari mobil. Ia tersenyum senang dan bernafas lega melihat rumah Sunjaya yang megah.
"Keano, Edrea! Selamat datang, sayang!" sambut Yunda memeluk keduanya.
"Makasih Tante, Tante makin cantik aja," sahut Edrea.
"Bisa aja kamu, kamu lebih cantik dari Tante," balas Yunda tersenyum.
"Masuk yuk! Kita ngobrol di dalam!" ajak Yunda.
"Mirna, Joni, tolong bawa barang-barang mereka ya!" titah Yunda pada pembantu dan petugas keamanan rumah.
"Kopernya biarkan di dalam, bawa bungkusan paper bag nya aja," ucap Keano.
"Baik, Mas!" jawab keduanya.
Yunda menggandeng tangan Edrea menuju rumah megahnya, sepanjang perjalanan Yunda dan Edrea asik mengobrol. Sementara Senna dan sang suami masih sibuk dengan dunia mereka, dan Keano hanya diam memperhatikan.
"Ayo duduk!"
Senna dan keluarganya duduk di kursi, begitupun dengan Yunda. Yunda duduk bersama Edrea dan Keano.
"Gina!" panggil Yunda.
"Iya, Nyonya," sahut Gina dari dalam dapur, ia bergegas menghampiri Yunda.
"Buatkan 3 teh dan 2 susu, jangan lupa cemilannya juga!" ucapnya.
"Baik," sanggup Gina.
Lantas ia kembali menuju dapur membuatkan minuman. Tak lama kemudian, terlihat Joni dan Mirna masuk sambil membawa bingkisan paper bag.
"Ini di simpan di mana, Bu?" tanya Joni.
"Simpan di sini aja," Senna menunjuk sisi sofa di sampingnya.
Mirna dan Joni meletakan bingkisan itu lalu kembali pamit mengerjakan tugas masing-masing.
"Gimana kabar kalian?" tanya Yunda membuka percakapan.
"Baik kok, Mbak. Mbak sendiri kabarnya gimana?" sahut suami dari Senna, Dimas.
"Mbak juga baik, kerjaan kamu gimana? Gak apa-apa ditinggal begitu?"
"Gak apa-apa, Mbak. Saya percaya sama suruhan saya untuk menjaga perusahaan itu, justru perusahaan di sini lebih membutuhkan saya ketimbang di sana," tutur Dimas menjelaskan.
"Iya sih, terus anak-anak sekolahnya gimana nih?" Yunda menatap Edrea.
"Baik Tante, Rea dapat peringkat 1 di kelas!" jawab Edrea nampak senang bercerita.
"Pintarnya, Tante bangga sama kamu!" Yunda mengelus lembut kepala Edrea.
Yunda melirik Keano yang terdiam dengan pandangan fokus pada layar ponsel.
"Kean, kenapa diem aja?"
Keano menatap Yunda sambil tersenyum, "Kean harus bilang apa, Tan?" tanya balik Keano.
"Apa anak-anak cowok sekarang pendiem semua kayak gini, ya?" guman Yunda bingung sendiri.
"Xander sama Xavier kemana, Tan?" tanya Keano dengan mengedarkan pandangan.
"Xander lagi di Paris ketemu papanya, kalo Xavier lagi diperusahaan ngurusin kerjaan papinya," jawab Yunda.
"Pada sibuk, rupanya. Mereka udah bisa diandelin, hebat," ucap Dimas. "Kamu gimana nih? Masih gini-gini aja, gak ada niatan buat bantu Papa?" tanya Dimas pada Keano.
Keano melirik Papanya sekilas. "Kean juga bantu Papa ngurusin perusahaan, Papa lupa?"
Dimas tertawa pelan, "Iya, iya. Anak Papa juga hebat, iya kan sayang?"
"Bener banget, anak-anak kita memang hebat!" jawab Senna.
Mereka melanjutkan obrolan dengan topik yang terkadang selalu berubah-ubah lalu kembali lagi pada topik awal begitu seterusnya sampai suara mobil di luar saja tidak mereka dengar.
"Ma?" panggil Xander.
Xander masuk ke dalam rumah, di belakangnya Noah membawa koper milik Xander.
Xander mengangkat sebelah alisnya saat melihat ruang tamu yang ramai.
Xander tersenyum kecil, saking kecilnya semut pun tidak bisa melihat senyumannya.
"Ekhem!" Xander berdemem keras.
Sontak semua mata tertuju padanya, Yunda nampak berbinar melihat Xander begitupun dengan Edrea. Edrea bergegas menghampiri Xander, Xander merentangkan tangannya, Edrea diangkat ke atas lalu digendongnya ala koala, tubuhnya yang kecil memudahkan semua orang untuk membawanya.
Meski kecil, kekuatan Edrea sebanding dengan pria seumuran Xander. Edrea pandai dalam latihan bela diri, ia menguasai semua teknik taekwondo, silat, karate, bahkan kung fu sekalipun. Di usianya yang masih muda, semua keturunan Sunjaya mengikuti pelatihan bela diri bahkan seorang gadis pun harus ikut serta.
"Kakak! Rea kangen banget sama Kakak!" seru Edrea senang.
"Kakak juga kangen sama kamu," sahut Xander.
Keduanya saling menempelkan kening dengan senyum mengembang di wajah mereka.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...