
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
10.00 WIB
Jakarta, Winter's High School.
Bel istirahat berbunyi, seluruh siswa berbondong-bondong menuju kantin sekolah yang selalu ramai pengunjung. Mereka terburu-buru memesan makanan dan menempati meja sebelum terisi penuh.
Hari ini, Kanaya mendapatkan meja di kantin. Itu semua berkat Leon, ia telah memesan satu meja di kantin, siapapun yang ingin duduk di sana diusir secara kasar.
Haah ... kenapa sih nih cowok? Kenapa dia kayak ngejar-ngejar gue terus. Batin Kanaya mengeluh.
Leon tiba di mejanya sambil membawa nampan berisikan makanan. Lantas Leon menata semua makanan yang dibawanya ke atas meja. Leon duduk di depan Kanaya sambil tersenyum lebar. Tania yang melihat Leon tersenyum bergidik ngeri.
"Hay!" sapa Gendis yang kebetulan lewat.
Tania dan Kanaya menoleh. "Halo!" sahut keduanya.
"Gue boleh ikut duduk di sini gak?" tanya Gendis meminta izin.
"Gak!" tolak Leon dengan cepat, ia menatap sinis Gendis.
"Iya udah." Gendis berlalu pergi dari sana.
"Lo ini kenapa sih? Kenapa gak biarin dia duduk di sini?" tanya Kanaya sedikit kesal dengan tindakan Leon barusan.
"Dia bakal ganggu kita, ada baiknya kalo dia gak duduk di sini," jawab Leon dengan entengnya. "Dia juga!" Leon menunjuk Tania.
"Hah? Gue?" Tania menunjuk dirinya sendiri.
Leon mengangguk. "Iya, lo bakal jadi nyamuk di sini. Lebih baik lo pindah aja."
"Lo!" kesal Tania. "Iya udah, gue pindah!" putusnya, Tania lantas beranjak dari kursinya meninggalkan makanan yang tersaji di meja.
Leon melambaikan tangannya tersenyum puas melihat kepergian Tania. Kanaya menggelengkan kepala melihat perilaku Leon.
"Lo bener-bener, yah. Apa sih mau lo?" tanya Kanaya.
"Gue cuma mau makan berdua bareng lo aja," jawab Leon.
"Ogah gue!" Kanaya hendak berdiri namun Leon mencegahnya dengan memegang tangan Kanaya.
"Lo jangan pergi! Lo harus temenin gue makan, lebih bagus kalo lo juga ikutan makan bareng gue," ucapnya.
"Gue kagak mau!" tolak Kanaya. "Lepasin tangan gue!" Kanaya berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Leon.
"Lo di sini?" tanya seseorang di samping Kanaya.
Kanaya dan Leon menoleh ke samping, keduanya mendapati Xander berdiri menjulang di hadapan keduanya. Xander menatap tajam tangan Leon yang memegang lengan Kanaya. Lantas tatapannya tertuju pada wajah tampan Leon.
"Lepasin tangan dia!" titah Xander dengan tatapan tajamnya.
"Siapa lo berani ngatur gue?" tanya Leon jengkel.
Xander tak menjawab dia hanya menatap tajam netra hitam milik Leon. "Bukan urusan lo! Lepasin tangan dia atau tangan lo yang bakal lepas!" ancamnya penuh penekanan.
"Emang lo berani?" tanya Leon menatap remeh Xander.
Kanaya merasa aura di sekitarnya cukup mencekam, terasa sesak berada di antara keduanya. Kanaya melepas paksa tangan Leon yang mencengkram lengannya, lantas ia berdiri menghadap Xander.
"Lo kenapa ada di sini?" tanya Kanaya mengalihkan atensi Xander.
Xander menatap Kanaya sambil menunjukan beberapa helai kertas di tangannya.
"Gue kirim lo pesan 15 menit yang lalu. Lo gak baca pesan itu?" tanya Xander.
"Hah? Pesan?" Kanaya cepat-cepat mengeluarkan ponselnya dan melihat sebuah pesan masuk dari Xander.
"Sorry, gue gak buka HP tadi," ucap Kanaya setelahnya.
Xander membuang nafas panjang. "Ikut gue!" Xander menarik pelan tangan Kanaya agar ikut bersamanya.
Xander membawa Kanaya keluar dari kantin, Leon berdiri, geram melihat Xander yang membawa Kanaya tanpa izin darinya.
"Sialan!" umpat Leon kesal.
Seorang pria menghampiri Leon yang sedang kesal memperhatikan Kanaya dan Xander berjalan bersama keluar dari kantin.
"Bro!" Pria itu menepuk pundak Leon, Leon terkejut lalu menoleh ke belakang.
"Siapa lo?" tanya Leon dengan nada tak bersahabat. "Eh? Bukannya lo ...." ucapannya terhenti karena sebuah jari telunjuk tertempel di bibirnya.
"Gue bisa bantu lo buat dapetin Kanaya," ucapnya seraya tersenyum.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
Jakarta, Winter's High School.
"Lo bawa gue kemana?" tanya Kanaya saat ia berjalan melewati lorong bersama Xander.
"Ruang tata usaha," jawab Xander tanpa menatap Kanaya.
Kanaya menatap pergelangan tangannya yang digenggam oleh Xander. Xander begitu berhati-hati ketika menggenggam tangannya. Tak seperti beberapa orang yang pernah melakukan hal itu dengan kasar.
"Gue kirim lo pesan supaya lo dateng ke ruang tata usaha, beberapa peserta yang lain pergi ke sana." Xander melirik Kanaya sekilas.
"Ngapain?" tanya Kanaya.
"Isi soal, gue lupa kasih tau lo kalo ada seleksi," ucap Xander.
Xander menghentikan langkahnya di depan pintu ruang tata usaha, Kanaya menatap pintu itu.
"Ini soal buat lo, isi dengan baik. Gak usah buru-buru, yang penting jawaban lo bagus," ujar Xander sedikit memberi nasihat sambil memberikan beberapa lembar kertas ke hadapan Kanaya.
Kanaya mengambilnya. "Lo ikut masuk?" tanya Kanaya.
"Gue tunggu lo di sini. Lo masuk aja." Xander membukakan pintu untuk Kanaya masuk.
Kanaya mengambil nafas dalam-dalam, dengan ragu ia melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Permisi, Bu!"
Seorang guru wanita mendongak melihat kedatangan Kanaya. "Silakan. Siapa nama kamu?" tanya guru tersebut.
"Saya Kanaya, Bu. Saya mau ikut seleksi buat jadi perwakilan sekolah di Olimpiade Fisika Nasional," sahut Kanaya.
"Ohh ... kamu yang diajukan Xander?"
Kanaya mengangguk. "Iya, Bu!"
"Iya sudah, silakan duduk lalu isi soalnya. Xander udah kasih soalnya ke kamu, 'kan?"
"Sudah, Bu!" jawab Kanaya.
Kanaya duduk di depan sang guru, dengan teliti ia kerjakan satu persatu soal tersebut. Kanaya memegang dagunya, memikirkan hasil jawaban dari soal nomor 20 di hadapannya kini. Kertas soal tersebut memiliki jumlah soal yakni 50 buah. Kanaya berhasil menjawab 20 soal. Sang guru memperhatikan Kanaya sambil tersenyum menganggumi kemampuan Kanaya.
"Ini, Bu. Saya sudah mengerjakan semuanya." Kanaya menyerahkan kertas soal yang telah dikerjakannya.
Sang guru menerima kertas tersebut dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajahnya. "Terima kasih atas partisipasi kamu untuk ikut jadi perwakilan sekolah kita di acara Olimpiade kali ini," ucapnya.
"Sama-sama, Bu. Saya punya alasan kenapa saya ikut Olimpiade ini," sahut Kanaya.
"Baiklah, kamu boleh kembali ke kelas. Senin depan akan saya umumkan hasil dari seleksi hari ini," tuturnya lembut.
Kanaya pamit kembali ke kelasnya dengan diiringi senyuman manisnya.
KLAK
Kanaya menutup pintu ruang tata usaha, ia berbalik namun ia tidak melihat keberadaan Xander di sekitar ruangan tersebut.
"Lah? Dia kemana, kok ilang? Katanya mau nunggu gue," guman Kanaya sedikit menggerutu.
"Nyari gue?" tanya seseorang di belakang Kanaya.
Kanaya tersentak kaget lantas berbalik menatap sosok pria di belakangnya.
"Lo ngagetin gue aja. Dari mana, sih?" tanya Kanaya.
Xander memberikan bungkusan paperbag ke hadapan Kanaya. "Buat lo, dimakan!" ucapnya.
Kanaya mengernyitkan dahi melihat paparbag tersebut, dengan ragu ia mengambilnya dari tangan Xander.
"Thanks. Tapi, kenapa lo bawa makanan?" tanya Kanaya setelah melihat isi dari paperbag tersebut.
"Gue liat makanan lo di kantin belum lo makan, jadi gue beli makanan buat lo," jawab Xander. "Gue balik dulu, pulang sekolah kita lanjut les."
"Masih ada les?" tanya Kanaya.
"Kenapa? Udah gak minat lagi?" tanya balik Xander.
"Gak lah! Gue seneng banget bisa les sama lo," jawab Kanaya cepat.
"Gue bercanda, hari ini gak ada les. Lo pulang aja ke rumah," ucap Xander.
"Gue kira beneran ada les."
"Gue pergi dulu," pamit Xander lalu pergi menuju gedung kelasnya berada.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...