SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 20



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


15.30


Jakarta, Winter's High School


"San!" panggil Xavier seraya melambaikan tangan.


Sanaya menoleh ke samping, tersenyum melihat Xavier berlari ke arahnya. Xavier tiba di depan Sanaya dengan nafas terengah-engah.


"Capek kan? Makanya jangan lari!" marah Sanaya.


Xavier memasang cengiran kudanya, Gendis yang melihat itu tertawa kecil.


"Cowok lo udah dateng, gue pulang duluan." Gendis menepuk bahu Sanaya.


"Iya udah, hati-hati di jalan ya! Jangan mampir kemana-mana, langsung pulang!"


"Iya-iya, bawel amat sih," gerutu Gendis namun tetap tersenyum.


"Aku itu takut kamu kenapa-kenapa, nanti kalo diculik Om-Om gimana?"


"Justru dia suka kalo ada Om-Om yang mau nyulik dia," timpal Xavier


"Diem deh lo!" marah Gendis.


Setelah selesai berdebat kecil, Gendis akhirnya pulang saat sang abang menjemputnya.


"Yuk!" ajak Xavier sambil menggenggam tangan Sanaya.


"Kemana?" tanya Sanaya bingung.


"Jalan-jalan, gak lama kok," jawab Xander.


"Bener gak lama?"


"Iya, Sanaya," gemas Xavier.


Xavier menarik lengan Sanaya berjalan menuju motornya terparkir. Xavier memasangkan helm di kepala Sanaya, karena akhir-akhir ini ia sering pulang bersama Sanaya, Xavier membeli helm baru untuk dipakai Sanaya. Khusus untuk Sanaya.


"Udah?" tanya Xavier saat merasakan motor bergoyang karena Sanaya.


"Udah," jawab Sanaya.


Xavier melajukan motornya keluar dari halaman sekolah, Sanaya berpegangan pada pinggang Xavier. Sebelumnya, Sanaya berpegangan di bahu Xavier, namun Xavier menyurunya untuk pegangan di pinggang. Alasannya? Xavier bilang lebih aman pegangan di pinggang. Dasar modus.


"Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Sanaya yang masih penasaran.


"Nanti juga lo tau," jawab Xavier.


Xavier tersenyum melihat wajah Sanaya dari kaca spion, ia tidak bisa melihat kecantikan Sanaya sebab gadis itu memakai helm yang menutup wajahnya.


Xavier kembali fokus melajukan motornya, membelah jalanan yang nampak sepi pengendara.


Sanaya merentangkan tangannya saat ia berada di jalanan sepi, di kanan dan kirinya berjejer rapi pohon-pohon rindang. Udara sejuk nenerpa tubuhnya, membuat Sanaya merasa seperti terbang di udara.


"Pegangan, entar lo jatoh!" ucap Xavier.


Sanaya tertawa kecil, ia sangat senang menikmati perjalanannya bersama Xavier. Biasanya Xavier akan langsung membawanya pulang ke rumah, berbeda dengan sekarang.


Xavier menggelengkan kepala melihat Sanaya yang tak kunjung berpegangan padanya. Xavier sengaja memperlambat kecepatan motor agar Sanaya tak terjatuh.


Tak berapa lama kemudian, keduanya tiba di sebuah tempat yang indah. Sanaya turun dari motor, Xavier membantu Sanaya melepaskan helm yang terpasang di kepalanya.


"Kita di mana?" tanya Sanaya seraya menatap takjub keindahan di depannya.


Danau yang indah dengan warna airnya berwarna biru, langit cerah terbentang luas di atas kepalanya. Pohon-pohon rindang yang hijau mengelilingi tubuh kecilnya, semilir angin menyejukan tubuhnya. Kicauan burung memanjakan telinganya, Sanaya menyukai tempat itu.


Xavier menggenggam tangan Sanaya, Sanaya menatap lengannya kemudian menatap wajah Xavier.


Xavier tak kalah tampan dari Xander, ia memang dibilang kembar dengan Xander, namun sesungguhnya wajah mereka sangat jauh berbeda. Xavier hanya lahir di hari yang sama dengan Xander, bukan berarti ia memiliki wajah yang sama dengan sang kakak.


Xavier menarik pelan tangan Sanaya, membawanya mendekat ke arah danau.


Di hamparan rumput yang hijau, terbentang tikar lengkap dengan berbagai jenis cemilan ringan.


Kedua mata Sanaya berbinar kala melihat semua makanan di atas tikar.


"Xavier, apa ini semua?" tanyanya.


"Makanan," jawab Xavier.


"Aku tau ini makanan, tapi apa maksudnya semua makanan ini ada di sini?"


"Bukan apa-apa, cuma mau bawa lo ke sini doang," jawab Xavier.


Sanaya berjongkok di depan semua makanan, ia membuka sepatunya lalu duduk di atas tikar.


"Kamu yang buat ini semua?" tanya Sanaya menatap Xavier.


"Iya, lo suka?"


Sanaya mengangguk senang, Xavier ikut duduk di samping Sanaya menikmati keindahan danau di sore hari.


Tak lama dari itu terdengar suara yang berasal dari perut Sanaya. Xavier menoleh, menatap Sanaya.


Sanaya tersenyum menunjukkan barisan gigi putihnya sambil memegang perutnya yang rata.


"Lo laper?" tanya Xavier, Sanaya mengangguk.


"Kalo laper kenapa gak makan? Ini makanan sengaja gue beli buat lo," ujar Xavier.


Xavier menggelengkan kepalanya pelan, baru kali ini ia piknik bersama seorang gadis. Meskipun Xavier dulu sering menggoda banyak perempuan di sekolah, tak satupun dari mereka yang dijadikan pacar oleh Xavier.


Berbeda dengan sekarang, Xavier menyukai Sanaya dari pertama mereka bertemu. Entah sihir apa yang merasuki dirinya hingga begitu menyayangi gadis di sampingnya kini.


Xavier mengambil satu cupcake dari atas piring, ia menyodorkannya ke depan mulut Sanaya.


Sanaya hendak mengambilnya, namun Xavier menjauhkannya. Kening Sanaya berkerut sambil menatap Xavier penuh tanda tanya.


"Buka mulut lo!" pinta Xavier.


Sanaya ragu, tapi tak urung ia membuka mulutnya. Dengan perlahan Xavier mendekatkan kue itu ke mulut Sanaya, Sanaya menggigitnya kemudian mengunyahnya pelan.


"Enak?" tanya Xavier menunggu reaksi Sanaya.


Bola mata Sanaya kembali bersinar.


"Enak banget!" seru Sanaya senang.


Xavier tersenyum kemudian kembali menyuapi Sanaya, Sanaya mengambil kue donat rasa coklat dari atas piring lalu mendekatkannya ke hadapan Xavier.


Xavier membuka mulutnya, Sanaya menyuapkan donat itu ke mulut Xavier. Xavier menggigitnya, mengunyahnya perlahan.


Tak jauh dari keberadaan mereka, berdiri seseorang yang secara diam-diam memotret keduanya. Sosok itu tersenyum melihat hasil jepretannya, kembali ia arahkan kamera ke arah dua sejoli yang tengah bersama saling menyuapi makanan.


"Bos pasti suka dengan hasil jepretan gue!" ucapnya.


"Sana, lo kakaknya Kanaya, kan?" tanya Xavier setelah keduanya selesai makan.


Sanaya menganggukan kepala sebagai jawaban, Xavier melirik Sanaya sekilas lalu kembali menatap danau seperti yang dilakukan Sanaya.


"Terus kenapa kalian gak tinggal serumah? Kanaya tinggal di rumah mewah, sedangkan lo tinggal di rumah kecil," ujar Xavier.


"Ada alasan di balik semua itu," jawab Sanaya menatap nanar danau di depannya.


Xavier menoleh ke arah Sanaya.


"Lo ada masalah sama bokap lo?" tanya Xavier.


Sanaya menatap Xavier, ia tersenyum manis. "Kamu gak perlu tahu soal itu, aku gak mau lagi ungkit masa lalu," ucap Sanaya.


Xavier menunduk, ia merasa bersalah telah bertanya banyak hal pada Sanaya.


"Maaf, gue gak ada maksud buat bikin lo sedih kayak gini," ujar Xavier.


"Gak apa-apa," jawab Sanaya.


Sanaya mengambil piring berisi sepotong kue coklat lengkap dengan garpu, Sanaya memotong kecil kue itu kemudian menusukkannya dengan garpu.


"Aaaa ... buka mulutnya, kereta mau masuk ...." Sanaya tertawa pelan, ia arahkan garpu itu ke mulut Xavier.


Xavier nampak cemberut, ia memakan kue yang disuapkan Sanaya ke mulutnya.


"Apaan sih, gue bukan anak kecil kali!" seru Xavier tak terima.


"Tapi kamu lucu, kayak anak kecil!" Sanaya tertawa melihat Xavier kembali cemberut.


Sanaya mencubit gemas pipi Xavier, Xavier semakin memajukan bibirnya. Xavier tersenyum melihat Sanaya tertawa meski pipinya menjadi korban.


Xavier memegang tangan Sanaya yang menempel di pipinya, Sanaya berhenti tertawa menatap kedua mata Xavier.


Xavier terpejam sambil menguselkan pipinya pelan, Sanaya tersentak kaget, seketika wajahnya memerah. Xavier membuka matanya, membalas tatapan Sanaya. Xavier menurunkan tangan Sanaya dari pipinya, kemudian mencium telapak tangan Sanaya.


Sanaya terperangah kaget dengan wajah yang semakin memerah, Sanaya menarik tangannya kemudian memalingkan wajah. Xavier tersenyum puas, ia berhasil membuat gadis di depannya tersipu.


Degup jantung Sanaya berdetak dengan kencang, Sanaya berusaha mengatur nafasnya, ia memegang dadanya seraya memegang tangan yang tadi mendapat kecupan Xavier.


Xavier berusaha menahan tawanya, ia sangat menyukai wajah bersemu milik Sanaya. Xavier memasukan kue donat ke mulutnya, kemudian meneguk jus jeruk sampai habis tak tersisa.


"Udah sore, kita pulang yuk!" ajak Xavier.


Xavier bangkit berdiri, Sanaya membalikan badan dengan pandangan tertuju ke bawah masih dengan keadaan yang sama. Sanaya memakai kembali sepatunya.


Xavier berjongkok di depan Sanaya setelah selesai memakai sepatu, kemudian ia ulurkan tangannya ke depan Sanaya. Dengan ragu Sanaya menyimpan tangannya di atas tangan Xavier, Xavier menarik tangan Sanaya membantunya berdiri. Setelahnya Xavier menggenggam dengan erat tangan Sanaya.


"X-Xavier ...." panggil Sanaya pelan.


Xavier menoleh, menatap ke arah Sanaya.


"M-makasih, kamu udah bawa aku ke sini," ucapnya tulus.


Xavier tersenyum, ia menghentikan langkahnya begitupun Sanaya. Xavier mengangkat dagu Sanaya, menatap lekat kedua mata cantik Sanaya.


Sanaya memutar bola matanya, tak ingin menatap mata Xavier.


"Sama-sama," jawab Xavier.


"Asal lo tau, lo itu cewek pertama yang gue ajak ke sini. Cewek pertama dan terakhir," lanjutnya.


Sontak Sanaya menatap mata Xavier, wajahnya kembali bersemu merah.


"X-Xavier ...." cicit Sanaya. "K-kamu bikin aku malu, tau!"


Xavier tertawa pelan, lalu ia membelai lembut wajah Sanaya.


"Kenapa malu? Santai aja, kali!" sahut Xavier santai. "Udah, yuk pulang!" sambungnya.


Xavier kembali membawa Sanaya menuju motornya, keduanya pulang bersama sambil menikmati suasana sore hari.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...