
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
09.00
Paris, Prancis
"Haa ... kenapa masalah ini tidak cepat selesai?" keluh Angga sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Begitulah pekerjaan, banyak masalah yang tidak mudah diselesaikan," sahut Jarvis.
"Sebelumnya tidak pernah ada sebuah masalah yang sulit diselesaikan," ucap Angga.
"Itu dia! Aku juga berpikir begitu, kau tau bukankah ini terasa janggal?" ujar Jarvis.
"Apa maksudmu janggal?" tanya Angga heran.
KLAK
"Janggal maksudnya, adalah seseorang telah berusaha menjatuhkan perusahaan kita satu persatu."
Mendengar seseorang berbicara, Angga dan Jarvis menoleh ke arah pintu. Terlihat sosok Xander yang bersidekap dada, di belakangnya berdiri Noah setia menemani.
"Xander? Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Angga bingung.
"Membantumu," jawab Xander singkat.
Noah memberikan dokumen dengan map biru ke hadapan Xander, Xander menerimanya, ia berjalan ke arah kursi Angga.
"Lihat ini, ini adalah hasil kerja kerasku selama berada di London. Perusahaan kita mendadak mengalami kerugian besar, setelah aku periksa dokumen keuangan. Aku menemukan hal janggal di sana," jelas Xander sambil meletakan dokumen itu di atas meja.
Angga meraihnya, membacanya kemudian menatap Xander.
"Bagaimana bisa kau menyelesaikannya?" tanya Angga.
"Karena aku seorang Sunjaya," jawab Xander.
Angga tersenyum kecil. "Kau memang putraku,"
"Aku di sini untuk membantu menyelesaikan masalahmu, Papa."
Xander berbalik, hendak berjalan ke arah pintu.
"Tunggu! Sampai kapan kau akan tinggal di sini?" tanya Angga.
"Tidak lama, aku tidak seperti dirimu yang terlalu lama berada di sini," jawabnya. "Oh, ya." Xander berbalik menatap sang ayah.
"Xavier ikut andil dalam urusan ini. Perusahaan kita di Indonesia dalam keadaan baik-baik saja, Xavier berhasil menghubungi salah satu anggota 'kelompok' itu yang berada di Italia."
"Kenapa kalian mencari orang-orang itu?" tanya Angga
"Apa maksudmu?" bingung Jarvis.
"Orang-orang mana yang putramu cari?"
"Kau akan tau nanti," Angga menjawab singkat.
"Aku merasa, seseorang menginginkan kehancuran Sunjaya. Jika kita tidak bertindak cepat, kita akan kalah dari mereka. Benar, kan Pa?"
Angga mengangguk. "Kau benar. Lalu, apa yang akan kau lakukan di sini?"
Xander tersenyum miring. "Tentunya bukan untuk menggoda pegawai wanita di sini."
"Ya, kau Xander, bukan Xavier." Angga menggeleng pelan, Jarvis mengangguk setuju. "Dan bukan Jarvis," lanjut Angga yang membuat Jarvis terkejut.
"Apa? Aku?" Jarvis menunjuk dirinya sendiri, Angga mengangguk. "Apa maksudmu?" kesalnya.
"Lupakan." Angga menatap Xander. "Pergilah, bantu Papa menyelesaikan masalah ini!" ujar Angga.
Xander mengangguk, ia kembali melanjutkan langkahnya keluar dari ruang kerja Angga.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
15.30 WIB
Jakarta, Kediaman Sunjaya.
"MAMI!!"
"Ada apa? Kenapa teriak-teriak?" tanya Yunda yang bergegas menghampiri Xavier.
"Buatin sandwich," Xavier tersenyum lebar.
"Kamu ini, 'kan bisa panggil Mami baik-baik gak usah teriak begitu!"
"Maaf, Mi. Buatin ya? Sama susu putih juga!" pinta Xavier lagi.
Yunda menggeleng, ia mengusap kepala Xavier dengan penuh kasih sayang.
"Duduk sana, Mami buatin," ucapnya lembut.
"Hehehe ... Mami yang terbaik!"
CUP
Xavier mencium pipi Yunda lalu ngacir pergi ke ruang TV.
"Kak!" panggil Senna.
Yunda yang tengah menyiapkan roti berbalik menghadap Senna.
"Ya?"
"Perlu bantuan?" ucap Senna tersenyum.
"Gak usah, cuma buat sandwich doang kok."
"Tapi, aku mau bantu Kakak!" Senna menghampiri Yunda, membantunya memasak sosis.
"Kapan anak-anak kamu ke sini?" tanya Yunda.
"Lusa mereka ke sini. Kakak gak akan usir aku dengan cepat kan?"
"Gak lah, kenapa kakak harus usir kamu? Justru kakak seneng kamu ada di sini, jadi ada teman buat ngobrol," ujar Yunda.
"Aku juga di sana sendirian, kadang ngobrol sama pembantu. Sepi, gak ada teman," balas Senna.
"Yah ... beginilah nasib ibu rumah tangga," keluh Yunda.
Senna mengangguk setuju, Yunda melanjutkan membuat susu hangat untuk Xavier.
"Kakak, kenapa kak Angga belum pulang?" tanya Senna.
"Kuharap tidak ada hal besar yang terjadi." Gumam Yunda.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
09.30
Paris, Perusahaan Sunjaya.
BRAK
"Katakan! Siapa yang menyuruhmu?!" ujar Angga marah.
"Heh!" Seorang pria yang tengah duduk tersenyum meremehkan. "Sudah kubilang, tidak ada yang menyuruhku," jawabnya.
"Kau membuatku kesal!"
"Hey, Angga, semakin tua kau semakin tidak bisa mengendalikan amarahmu ya?"
"Bicara apa kau, hah?!" kesal Angga lagi.
Pria itu kembali menampilkan senyum miringnya, seperti sengaja memancing emosi Angga.
"Kubilang, semakin tua kau semakin tidak bisa mengendalikan amarahmu! Kau payah!" ulangnya dengan menekan kalimat terakhir.
BUGH
BUGH
BUGH
"Sialan!"
"Ohok!" pria itu terbatuk dengan darah yang keluar dari mulutnya.
Angga memukul pria itu di bagian wajah, ia sangat marah dengan perilaku pria di depannya.
"Hentikan itu, tidak ada gunanya menyiksa dia," cegah Xander yang mulai bosan menonton.
Xander bangun dari sofa, menghampiri pria yang tengah menatapnya.
"Oh? Apa kau Xander Sunjaya itu?" ucapnya.
"Bukan!" jawab Xander.
"Apa?" pria itu keheranan.
"Namaku bukan Xander Sunjaya. Tapi, Xander Victor Sunjaya!" tegas Xander tersenyum miring. "Jangan meninggalkan nama tengahku!" ia menoyor kepala pria di depannya.
"Nama itu, memiliki arti 'kemenangan'. Dan aku akan memenangkan pertarungan ini," Xander berbisik membuat si pria bergidik ngeri. "Namamu, Earthen bukan? Kau lahir di Paris, memiliki hubungan dengan keluarga Dorthen. Saat ini kau tinggal di Apartemen Britney, kamar nomor 2005."
Earthen tercengang, ia menatap tak percaya Xander.
"Aku benar bukan?" Xander tersenyum miring. "Kemarin, kau menemui seorang pria di cafe Dorothea pukul 09.00 pagi. Kau memesan Americano coffe, dan meminumnya habis sebelum orang yang kau tunggu datang."
"Cukup!" ujar Earthen. "Kau memata-mataiku?!" marah Earthen.
"Kau menemui seorang pria bernama Albert, dia seorang dokter di rumah sakit La vajor. Kau membahas masalah penyakit anakmu, yang bernama Feyrin. Penyakit itu berupa kanker darah putih atau biasa disebut leukimea."
Mendengar nama sang anak disebutkan, Earthen menundukan kepala dengan tangan mengepal kuat.
"Bagaimana, aku benar bukan?"
"Brengsek! Sialan! Keparat kau! Kenapa kau mencari tau tentang itu, hah?!" Earthen mengamuk, ia berusaha melepaskan diri dari kursi.
DUG
BRUK!
Karena kesal mendengar Earthen berteriak, Xander menendang dada Earthen hingga membuatnya terjungkal ke belakang.
"Berisik," ucapnya dengan sorot mata tajam. "Tahan dia, biarkan dia gila!"
Xander keluar dari ruangan itu, Angga mengikuti kepergian Xander. Noah yang kebetulan datang bersama Xander membangunkan kursi tahanan Earthen, Earthen menunduk lemah merasakan sakit di bagian dadanya.
"Kau ... kenapa mengikuti orang itu?" tanya Earthen menatap Noah.
"Apa kau perlu tahu?" tanya balik Noah.
"Heh!" pria itu tersenyum miring. "Jika yang kau butuhkan hanya uang, aku bisa memberikannya padamu. Bahkan lebih banyak dari mereka berikan padamu! Kau bisa membuat istanamu sendiri, kau akan kaya jika kau mau mengikutiku!" Earthen membujuk Noah.
Noah terdiam, tatapannya datar, pikirannya bertanya-tanya.
Ngomong apaan sih?
"Ikutlah denganku, bergabunglah! Aku akan memberikan banyak uang untukmu!"
"Ngomong apaan sih lo?" tanya Noah bingung.
"Huh?" Earthen mengernyit.
"Gue kagak butuh uang lo! Lagian lo bentar lagi bakalan mati, kagak ada untungnya buat ngikutin lo yang udah mati!"
"Apa? Kau bilang apa?" tanya Earthen yang tak mengerti bahasa Indonesia Noah.
"Haaa ...." Noah menghela nafas panjang.
"Aku tidak butuh uangmu! Aku tidak tertarik dengan itu. Lagi pula kau akan mati, untuk apa aku mengikutimu yang akan mati sebentar lagi?" Translate Noah.
"Mati? Aku tidak akan semudah itu mati!" bantah Earthen.
"Terserahlah!" acuh Noah.
Noah menekan sebuah tombol yang ada di samping pintu keluar, kemudian muncul suara ultrasonik yang sangat mengganggu telinga. Earthen mengernyit kemudian menjerit.
"HENTIKAN!!"
"APA SEMUA INI?!" teriaknya.
Noah menggedikan bahu lalu keluar dari ruangan tersebut, ia tak mau menderita mendengar suara itu.
Ruang Interogasi, ruangan yang sengaja dibuat di bawah tanah gedung perusahaan Sunjaya. Ruangan tersebut biasa digunakan untuk menginterogasi orang yang mencurigakan, di setiap gedung perusahaan Sunjaya yang ada di beberapa negara memiliki ruangan tersebut.
Ruangan itu dilengkapi dengan CCTV, alat pemancar suara ultrasonik, kedap suara, cahaya yang cukup terang, AC, dan juga ventilasi udara meski berada di bawah tanah.
"HENTIKAAN!! KUMOHON HENTIKAN SUARA INI!!"
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...