
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
08.30
Paris, Perusahaan Jaya's Group
"Keluargamu pasti menunggu kepulanganmu, apa kau tidak ada niat untuk pulang?" tanya seorang pria, dia asisten pribadi tuannya, Jarvis.
"Masih banyak hal yang harus aku lakukan di sini, kita tidak bisa pulang tanpa menyelesaikan semuanya," jawab tuannya, Angga.
"Haaa ... kau sangat keras kepala. Ingat, umurmu itu sudah tua, jangan memaksakan diri, kemarin kau sudah jatuh sakit tapi tetap memaksa untuk bekerja." Helaan nafas Jarvis terdengar panjang.
"Kau tau siapa diriku bukan? Aku lakukan ini juga demi keluargaku," sahut Angga dengan pandangan sibuk menyapu halaman demi halaman dokumen di tangannya.
"Aku yakin, kedua putramu akan menjaga ibu mereka dengan baik. Mereka memiliki darahmu dalam tubuhnya," ujar Jarvis ia membawa secangkir kopi setelah tadi membuatnya sambil berbicara.
"Aku tau, mereka putraku tentu darahku mengalir dalam tubuhnya. Tapi, aku khawatir dengan Xavier, dia agak berbeda denganku."
"Hey? Apa kau berniat menuduhku kembali? Sumpah aku tidak pernah menghasutnya berperilaku seperti itu!" Jarvis mengangkat kedua tangannya.
Angga tersenyum kecil, putra keduanya itu memang memiliki pribadi yang berbeda dari dirinya. Meski begitu, Angga tetap menyayanginya. Pandangan Angga berhenti, ia menatap Jarvis dengan raut wajah serius.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Jarvis mengangkat sebelah alisnya.
"Ada yang tidak beres di sini, setelah mengunjungi London bulan kemarin, aku rasa masalah di sini juga sama seperti masalah di sana," ucap Angga.
"Kau merasakannya juga? Sedari dulu aku berusaha menyelidiki hal itu," sahut Jarvis.
Angga terdiam, begitupun Jarvis yang duduk di sofa ruang kerja Angga.
"Kerahkan kekuatan kita untuk mencari tahu lebih dalam tentang ini, perintahkan mereka untuk berhati-hati saat bekerja!" titah Angga setelah terdiam cukup lama.
Jarvis mengangguk, dengan cepat ia mengambil ponsel dan menelepon seorang pria untuk mengatakan tugas yang di perintahkan Angga.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
09.20 WIB
Jakarta, Winter's Highschool
"Hari ini, hari penentuan! Gue harap nilai gue sempurna!" ucap Tania dengan perasaan tidak tenang.
Sedari pagi ia terus khawatir mengenai nilai rapor yang akan diterimanya hari ini, namun wali kelas mereka tak kunjung tiba membawa tumpukan rapor yang bisa dibilang sangat berat.
"Lo kok diem aja?" tanya Tania melirik Kanaya.
Kanaya menunduk dalam sambil menyatukan tangannya, berdoa dalam hati kepada Tuhan.
"Gue berharap banyak kali ini," ucapnya sambil membuka mata dan menatap ke depan.
"Usaha lo gak akan ngecewain lo, Kana!" ujar Tania memberi semangat, ia menepuk bahu Kanaya.
Tak lama setelah itu wali kelas tiba membawa setumpuk rapor, di belakangnya terdapat 2 orang siswa laki-laki membantu membawakan buku rapor.
Tania melebarkan matanya saat tahu siapa laki-laki itu.
"K-kak Vian?" gumamnya pelan.
"Ini Bu, capek banget saya bantuin Ibu," ucap Arka.
"Iya tuh, Ibu gak ada niatan ngasih upah apa?" timpal Vian.
"Kalian bantuin Ibu gak ikhlas?" balik tanya guru.
"Ikhlas gak ikhlas sih Bu," jawab Arka.
"Sudah sana, terima kasih sudah membantu Ibu."
"Iya bu, pamit dulu ya," pamit Arka lalu melangkah keluar kelas bersama Vian.
Vian berhenti sejenak, pandangannya terhenti pada Tania. Vian tersenyum, Tania menundukan kepalanya malu.
"Cieee ... ayang nya mampir ke kelas nih," goda Kanaya sambil menyenggol tangan Tania.
"Apaan sih lo! Gue belum jadian sama Kak Vian!" ujar Tania kesal.
"Belum jadian tapi udah mesra gitu, bilang dong ke cowok lo supaya ngasih kejelasan."
"Biarin aja, gue gak akan maksain dia buat ngasih kepastian dengan cepat," jawab Tania.
Wali kelas sedang berpidato di kelas, namun Kanaya dan Tania tak mendengarkannya, mereka terhanyut dalam obrolan.
"Lo sendiri kagak ada niatan buat deketin Kak Xander?" tanya Tania yang membuat Kanaya memelototkan matanya.
"Diem deh lo," ucapnya kesal.
Tania tertawa kecil, wali kelas selesai berpidato singkat. Ia kemudian duduk di bangkunya mengambil salah satu rapor paling atas.
Tuhan, semoga usaha gue gak ngecewain! ucapnya dalam hati.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
Tepuk tangan memeriahkan kelas, para siswi nampak bahagia sekaligus bangga pujaan hati mereka menjadi peringkat pertama di kelas.
Sementara Xander hanya diam tak berbicara dengan ekspresi datarnya, ia berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah meja guru untuk mengambil buku rapor nya.
"Selamat ya Nak, pertahankan terus. Semangat belajarnya!" ucap Guru tersenyum memberikan buku rapor Xander.
"Terima kasih," singkat Xander, ia kembali duduk di bangkunya.
"Baik, untuk peringkat kedua diraih oleh saudara kembar Xander yakni Xavier!" ucap Guru setelahnya.
Xavier dengan bangga melangkah ke depan, tepuk tangan murid bagaikan melodi indah di telinganya. Yah, setiap tahun si kembar itu selalu mendapat peringkat dengan Xander menjadi yang pertama.
Akan tetapi, saat mereka kelas 8 dan 9 mereka berpisah kelas. Xander dan Xavier masing-masing mendapat peringkat pertama. Nilai Xander dan Xavier tak jauh berbeda, hanya berbeda 1 angka.
"Kalian memang 2 bersaudara yang hebat, Ibu bangga sekali pada kalian. Orang tua kalian juga pasti bangga!" ucapnya terharu memberika buku rapor pada Xavier.
"Makasih banyak Ibu Cantik," sahut Xavier tersenyum manis.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
17.30 WIB
Kediaman Trivara
"Papa kok belum pulang," ucap Kanaya yang lesu duduk di ruang TV.
"Tuan sebentar lagi pulang, Non. Non mau makan apa?"
"Nggak usah Mbok, nanti aja makannya bareng papa," jawab Kanaya.
"Iya sudah, Mbok buatkan susu aja ya?"
Kanaya mengangguk, setelahnya Mbok Darmi menuju dapur untuk membuatkan susu hangat.
Lama Kanaya menunggu, jam menunjukan pukul 8 malam. Namun, sang papa tak kunjung pulang. Kanaya sedih, ia hendak berbalik menuju kamarnya. Mendengar pintu terbuka, langkah Kanaya berhenti ia berbalik.
"Papa!" pekiknya senang.
Sang papa pulang dengan wajah kusut, pakaian yang ia kenakan sangat berantakan. Kanaya menghampirinya, bau rokok dan alkohol tercium indra penciuman Kanaya.
"Pa," panggilnya pelan, Kanaya memeluk buku rapor yang selalu ia pegang saat menunggu tadi.
"Hm," jawab papanya singkat.
Sang papa berjalan melewati Kanaya, Kanaya sesaat merasa sedih namun ia kembali ceria. Kanaya mengejar langkah papanya.
"Pa, Naya dapet peringkat pertama di kelas! Nilai Naya juga semuanya sempurna!" ujar Kanaya riang.
Mbok Darmi tersenyum senang melihat nona-nya begitu antusias memperlihatkan rapornya pada sang papa.
"Papa liat deh, nilai Naya pasti buat Papa bangga!" ucap Kanaya lagi.
Sang papa meringis, ia memijit pelan pelipisnya.
"Papa, nanti Papa tanda tangan ya di rapor Naya?" pinta Kanaya.
"Kanaya," ujar papanya yang berhenti melangkah dan menatap Kanaya.
"Iya Pa?"
"Bisa gak kamu gak berisik? Kepala Papa pusing, denger kamu ngoceh terus bikin tampah pusing kepala Papa! Diam sebentar bisa kan?" ucap Papanya marah.
Kanaya terkejut, ia hanya terdiam dengan tetap menatap sang papa.
"Dan lagi, kamu cuma peringkat satu dikelas. Itu belum cukup bikin Papa bangga!" lanjutnya.
Perkataan itu menyakiti hati Kanaya, memang kenapa jika dirinya hanya peringkat pertama di kelas, bukannya orang tua akan bangga dan menyemangati anaknya untuk lebih berusaha lagi?
Kanaya tersenyum pahit. "Iya Pa, Naya bakal berusaha jadi peringkat umum disekolah."
"Baguslah! Pergi ke kamar mu! Jangan berisik!" sang papa kembali melangkah.
"Pa," panggil Kanaya pelan.
"Papa gak ambil rapor Naya? Naya butuh tanda tangan Papa," ucapnya.
"Simpan saja dulu, nanti Papa kasih!" jawab sang Papa sambil berlalu meninggalkan Kanaya.
Kanaya kembali tersenyum pahit, ia berbalik berjalan menaiki anak tangga masuk ke dalam kamarnya.
Kanaya menutup dan mengunci pintu kamarnya, Ia lalu meletakan buku rapor itu di meja belajarnya. Kanaya naik ke atas kasur, berbaring di sana dan tak lama kemudian ia terlelap dalam tangis yang ia tahan.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...