
09.35 WIB
Jakarta, Kediaman Sunjaya.
"Tuan, ini susu dan cemilannya." Mira masuk ke ruang kerja Xander.
"Taruh di sana!" Xander menunjuk meja di depan Kanaya.
Mira melangkahkan kaki menuju meja tersebut, ia meletakan susu dan kukis di atas meja.
"Silakan, Mbak!" ucapnya ramah.
Lantas ia beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Kok dua? Lo minun susu juga?" tanya Kanaya.
"Iya," jawab Xander singkat.
"Cowok kok minum susu, udah gede lagi," ucap Kanaya kemudian ia meneguk gelas susunya.
"Itu bukan sembarang susu," sahut Xander.
Xander menatap Kanaya yang meminum gelas susunya.
"Itu susu untuk membentuk otot," lanjutnya membuat Kanaya tersedak.
"Apa?" kagetnya.
"Itu susu untuk membentuk otot," ulang Xander. "Lo suka?" tanya Xander.
Kanaya terdiam, melihat ekspresi Kanaya membuat Xander menahan tawanya. Ia tak ingin tawanya meledak dan didengar Kanaya.
"Bercanda, itu susu kotak kemasan. Minum aja, susu pembentuk otot milik gue dan Xavier selalu diminum pagi dan malam hari aja," jelas Xander.
Kanaya menghela nafas lega, hampir saja. Kanaya takut jika nanti tiba-tiba ototnya membesar. Ngeri kan diliatnya.
"Lanjutin kerjaan lo!" ucap Xander.
Xander kembali fokus menatap layar laptopnya, mengetik sesuatu di sana, sesekali ia memihat lembaran berkas di atas mejanya.
"Ini gimana? Gue gak ngerti," tanya Kanaya.
Xander melirik Kanaya, kemudian ia mengambil laptop dan sebuah berkas dari atas meja. Xander berjalan mendekati Kanaya, Kanaya menatap Xander dengan bingung. Xander duduk di samping Kanaya, meletakan barang bawaannya ke atas meja.
"Mana?" tanya Xander.
Kanaya menunjukan sebuah soal yang tidak ia mengerti, Xander dengan sabar menjelaskan semuanya agar Kanaya cepat paham. Setelah dirasa cukup paham, Kanaya mencoba mengerjakan soal tersebut. Dan Xander kembali melanjutkan pekerjaannya di samping Kanaya.
Sesekali Kanaya melirik Xander, melihat Xander yang sedang fokus memeriksa berkas kantor sangat menarik untuk dilihat. Seandainya Kanaya bisa menggambar, saat itu juga Kanaya akan melukiskan wajah tampan Xander ke atas kertas sketsa.
Kanaya tersadar dari lamunannya, ia memegang kepalanya lalu menggeleng pelan.
Kanaya! Apa yang lo pikirin sih? Fokus Kanaya! Fokus!
Xander mengernyitkan dahi melihat tingkah Kanaya yang menggelengkan kepala.
"Lo pusing?" tanya Xander.
"Hah?" Kanaya sontak menatap Xander penuh tanda tanya.
"Lo kenapa geleng-geleng kepala terus? Pusing?" tanya Xander lagi.
"Ohh ... nggak, gue gak pusing. Cuma lagi mikir," jawab Kanaya disusul senyuman manisnya.
Xander tertegun melihat senyuman Kanaya, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya kembali menatap layar laptop.
.....¤◇¤.....
12.30 WIB
Jakarta, Kediaman Sunjaya.
"Mami! Vier pulang, nih!" teriak Xavier setelah memasuki rumah.
"Sayang, Mami di sini!" sahut Yunda dari arah ruang makan.
Xavier bergegas menghampiri sang ibu, setelah tiba di ruang makan. Xavier menghambur ke pelukan sang ibu.
"Mami, Vier kangen banget sama Mami," ucapnya.
"Halah, kangen apanya? Baru beberapa jam gak ketemu kan?" sahut sang ibu.
"Lama lho, Mi. Vier kangen tau," Xavier merengek sambil tetap memeluk Yunda dari samping.
"Pft-" Kanaya menahan tawanya melihat tingkah kekanakan Xavier.
"Suruh siapa kamu keluar? Bukannya diam di rumah," omel Yunda.
"Mami! Vier kan pengen jalan-jalan, Mami juga gak mau pergi waktu Vier ajak Mami!" bela Xavier.
"Astaga ... lo manja juga, ya?" ucap Kanaya, lepas sudah pertahanan ia untuk tidak tertawa.
Kanaya tertawa lepas, Xavier seketika merasa malu. Terlihat wajahnya memerah padam, Xander menggelengkan kepala, Yunda tertawa pelan.
"L-lo kenapa ada di sini?" tanya Xavier geram.
"Les private," jawab Kanaya setelah tawanya mereda.
"Ck! Cuma les doang ngapa di rumah, sih?" kesal Xavier.
Xavier cengengesan. "Ya maaf."
"Sudah-sudah, ayo kita makan. Kana, ayo dimakan," ujar Yunda menghentikan perdebatan.
Lantas Xavier duduk di kursi, mulai menyantap makan siang di meja makan. Kanaya ikut makan bersama atas paksaan Yunda. Kanaya hendak pamit untuk pulang karena sudah siang, namun Yunda menghentikannya dan mengundangnya untuk makan siang bersama.
Tak enak hati bila terus menolak, Kanaya akhirnya setuju untuk ikut.
"Gimana, enak gak?" tanya Yunda pada Kanaya.
"Enak, Tante. Ini Tante yang masak?" sahut Kanaya.
"Iya, dibantu sama Mira tadi. Syukur deh kalo enak, dimakan sampai habis, ya!" ucap Yunda.
"Iya Tante, makasih." Kanaya tersenyum.
Dering ponsel milik Xander mengalihkan atensi semua orang, Xander meneguk air kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku.
"Ander angkat telepon dulu," ucapnya lalu beranjak pergi dari ruang makan.
Xander menggeser tombol hijau ke atas, sambungan telepon diterima.
"Tuan," sapa seseorang di seberang telepon.
"Ada apa, Noah?" tanya Xander menyahut.
"Saya tau pelaku yang membakar gudang di perusahaan anda," ucap Noah.
"Siapa?" tanya Xander dengan alis terangkat.
"Hans, Tuan. Saya menduga jika dia berada di kelompok yang sama dengan Earthen," jawab Noah.
"Lo udah selidiki dia lebih jauh?" tanya Xander.
"Sudah, Tuan. Saya juga sudah menyekap Hans dan menyerahkannya pada Tuan Angga," tutur Noah.
"Bagus, semoga papa bisa mengatasi semuanya," kata Xander.
"Lo kapan pulang? Syifa kangen sama lo, dia kepengen liat lo," lanjut Xander.
"Pekerjaan saya belum selesai di sini, mungkin seminggu lagi saya bisa pulang," jawab Noah.
"Kalo lo ngerasa kesulitan, bilang ke gue. Paham?" ujar Xander.
"Mengerti, Tuan!"
.....¤◇¤.....
13.05 WIB
Jakarta, Kediaman Sunjaya.
"Tante, Kana pamit pulang, ya! Udah siang, takut Papa nyariin Kana," pamit Kanaya.
"Yahh ... padahal Tante pengen ngobrol lebih lama lagi sama kamu," sahut Yunda.
Kanaya tertawa kecil, "Kana minta maaf, Tante. Lain kali kita ngobrol bareng."
"Iya sudah. Kamu dijemput siapa?" tanya Yunda.
"Om Arman, asistennya papa," jawab Kanaya.
Yunda menganggukan kepala. "Iya sudah, hati-hati di jalan ya!"
"Iya Tante. Kana pamit pulang." Kanaya menatap Xander yang sibuk dengan ponselnya.
Tak lama, Xander menangkat kepala menatap Kanaya. Kanaya tersenyum dan dibalas anggukan kecil dari Xander.
"Lo udah mau balik?" tanya Xavier yang baru saja tiba di halaman depan rumahnya.
"Iya, kenapa emang?"
"Kagak, cuma nanya doang," balas Xavier.
"Dah, gue balik dulu. Bye-bye bayi gede!" Kanaya menarik kelopak matanya ke bawah disusul dengan menjulurkan lidah.
Xavier geram, ia lantas mengejar Kanaya yang telah lebih dulu melarikan diri.
"Haduhh ... udah kayak kucing sama anjing aja," ucap Yunda.
"Mereka udah biasa gitu di sekolah juga," Xander menyahut.
Kanaya tertawa melihat Xavier yang kesal dengan kelakuannya. Kanaya saat ini berada di luar pagar, sementara Xavier masih ada di dalam pagar.
"Awas aja lo! Gue balas entar!" ujar Xavier kesal.
"Balas aja, gue gak takut," sahut Kanaya.
Sebuah mobil hitam berhenti di belakang Kanaya, Kanaya membalikan badan melihat mobil tersebut. Arman keluar dari dalam mobil, ia membukakan pintu mobil untuk Kanaya.
"Ayo!" ajak Arman.
Kanaya mengangguk lalu masuk ke dalam mobilnya, Xavier termangu menatap kepergian Kanaya.
"Siapa dia? Bokapnya?" gumam Xavier.
......Xiexie......