SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 44



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


09.00 WIB


Jakarta, Perusahaan Sunjaya.


"Tuan, ini dokumen yang Anda minta." Seorang pegawai memberikan sebuah dokumen berwarna biru ke hadapan Xander.


Xander menerimanya lalu ia periksa dengan teliti. "Bagian sini masih kurang, perbaiki lalu serahkan padaku nanti." Xander menunjuk bagian yang dirasa kurang kemudian kembali menyerahkan dokumen tersebut.


"Baik Tuan, saya permisi kembali," pamitnya lalu ia keluar dari ruangan Xander.


Hari ini adalah hari libur, tak banyak pegawai kantor yang bekerja di hari libur ini. Beberapa dari mereka bekerja untuk menyelesaikan deadline yang harus segera selesai dan di serahkan pada Xander.


Xander mengetik sesuatu di layar laptopnya, sesekali ia melirik dokumen di tangannya. Xander terlihat begitu fokus dan itu menambah kesan ketampanannya. Setelan kemeja dan jas membalut tubuh atletisnya, style rambut terlihat rapi dengan kacamata menghiasi wajahnya.


TOK


TOK


TOK


"Tuan, apa Anda di dalam?" tanya seorang pria dari luar pintu.


"Ya, masuklah," sahut Xander tanpa menoleh ke arah pintu.


Klak


Pintu terbuka menampilkan sosok pria bertubuh jangkung dengan setelan jas yang rapi. Pria itu terlihat lebih tua dari Xander dan ia bekerja sebagai sekertaris perusahaan.


"Tuan, ada tamu untuk Anda," ucapnya sembari sedikit membungkuk sopan.


"Suruh dia masuk dan buatkan teh," titah Xander melirik sekilas pria tersebut.


"Sesuai perintah Anda," sanggupnya lantas ia keluar memanggil tamu untuk dipersilakan masuk.


"Silakan masuk, Tuan Xander ada di dalam," ucapnya pada tamu Xander.


"Terima kasih." Lantas tamu itu masuk ke dalam ruang kerja Xander, sementara sekertaris membuatkan minuman untuk keduanya.


"Selamat pagi," sapanya ramah.


Xander mengangkat kepalanya menatap tamu yang berdiri sedikit jauh dari meja kerjanya. "Oh, Anda sudah datang. Silakan duduk Tuan Trivara." Xander menujuk sofa mempersilakan Trivara untuk duduk.


"Terima kasih," ucapnya dengan senyuman tulus lantas duduk di sofa.


Xander bangkit dari kursi berjalan menuju sofa lalu duduk di single sofa. "Jadi, apa Anda sudah menyiapkan berkas yang saya minta?" tanya Xander setelah ia menumpangkan kakinya.


"Ya, sudah saya siapkan. Ini, silakan Tuan muda lihat terlebih dahulu," jawab Trivara sembari memberikan dokumen kepada Xander.


"Ah, silakan panggil saya senyaman Anda saja Tuan," ujar Xander tersenyum kecil setelah ia menerima berkas dari Tuan Trivara.


"Begitu, baiklah Nak Xander," sahut Trivara kembali ia sunggingkan senyumannya.


Xander memeriksa berkas yang diserahkan Trivara. Berkas tersebut berisi rincian penjelasan mengenai proyek yang akan di lakukan keduanya juga berisi seluruh dana yang dibutuhkan, tak lupa dengan perkiraan keuntungan yang akan di dapat bila proyek tersebut berjalan lancar.


"Apa Anda yakin proyek ini akan berjalan dengan lancar?" tanya Xander ingin memastikan.


"Saya yakin, kebetulan proyek ini baru saja hadir di Indonesia. Beberapa klien mungkin saja tertarik karena proyek yang baru ini," jawab Trivara.


"Hmm ...." Xander terdiam, ia kembali memeriksa berkas dari Trivara. "Apa saya boleh menambahkan sesuatu di proyek ini?" tanya Xander setelah cukup lama terdiam.


Trivara sedikit terkejut. "Tentu saja, Anda bisa menambahkan apapun di dalam proyek ini," jawab Trivara meski ia sedikit bingung.


Xander tersenyum miring mendengar jawaban Trivara, hal itu menambah kesan bingung pada wajah Trivara.


Xander menarik napas perlahan kemudian ia mulai menjelaskan perihal penambahan sesuatu di dalam proyek tersebut. Trivara hanya menganggukan kepala dengan ekspresi takjub mendengar penjelasan Xander.


"Bagaimana Tuan? Apakah Anda menyetujuinya?" tanya Xander sedikit tersenyum.


"Ah, itu sangat luar biasa. Tentu saya menyetujuinya, proyek ini juga milik Anda sudah pasti Anda berhak mengubahnya," jawab Trivara kagum.


"Baiklah. Sebelum saya memberikan dana untuk proyek ini, apakah saya boleh mengajukan satu permintaan?" tanya Xander setelah ia meletakan berkas di atas meja kemudian menatap Trivara.


"Apa itu?"


Xander tersenyum, ia membetulkan letak kacamata sebelum menjawab. "Saya mohon Anda hadir di acara makan malam bersama saya di Villa Sunjaya."


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


09.30 WIB


Jakarta, Villa Sunjaya.


"Tumben kamu gak pergi jalan-jalan," ucap seorang wanita seraya duduk di samping sang putri.


Kanaya menoleh menatap sang ibu. "Ngga Ma, Xander lagi kerja, Tania lagi jalan-jalan sama pacarnya. Kakak juga lagi main sama kak Gendis, jadi Naya mending di rumah aja temenin Mama," jawabnya sembari memeluk sang ibu.


Ibu Kanaya tersenyum seraya mengelus rambut panjang Kanaya. "Kenapa gak coba main ke perusahaan Xander? Gak masalah bukan kalo kamu main ke sana?"


"Gak sih, Ander selalu nyuruh aku datang ke perusahaannya kalo aku bosan dan dia lagi kerja," jawab Kanaya.


"Naya gak mau ganggu dia Ma. Takutnya Ander lagi sibuk banget, jadi Naya mendingan di sini aja bareng Mama." Kanaya semakin mengeratkan pelukannya.


"Aduh manisnya anak Mama ...." Ibu Kanaya membalas pelukan Kanaya.


"Ma," panggil Kanaya pelan.


"Kenapa sayang?"


"Emm ... Mama kangen papa gak?" tanya Kanaya mendongak menatap wajah sang ibu.


Ibu Kanaya terdiam tak lama kemudian senyum manis menghiasi wajahnya.


"Iya, Mama kangen sama papa kamu. Meskipun Mama keluar dari rumah, dan meski papa kamu tau keberadaan Mama dia sama sekali gak kasih surat perceraian. Maka dari itu, Mama sama papa kamu masih punya hubungan suami istri."


"Mama sayang sama papa meski dia cuek ke Mama selama ini?" tanya Kanaya lagi.


"Siapa bilang papa kamu cuek? Setiap sebulan sekali papa kamu selalu mampir ke rumah dan kasih uang ke Mama. Meski begitu, dia masih punya kewajiban menafkahi Mama," jelas Aileen, ibu Kanaya.


"Papa kasih uang ke Mama setiap sebulan sekali? Naya gak salah denger, Ma?" tanya Kanaya terbelalak kaget.


"Iya, papa kamu suka kasih Mama uang tuh," jawab Aileen tersenyum.


"Hah? Gimana ceritanya sih Ma?"


"Permisi Nyonya," ucap seorang pelayan sembari sedikit membungkukkan badan.


"Ya, ada apa?" sahut Aileen.


"Tuan muda datang berkunjung."


"Hm? Ander ke sini?" tanya Kanaya antusias.


Pelayan itu mengangguk seraya tersenyum. "Benar Nona, Tuan muda berada di ruang tamu saat ini."


"Baik, terima kasih ya. Tolong buatkan teh sama bawakan cemilan!" suruh Aileen yang diangguki pelayan tersebut.


"Baik Nyonya, saya pamit pergi ke dapur," pamitnya lantas bergegas menuju dapur.


Kanaya mengontrol ekspresinya lalu ia pergi menemui Xander di ruang tamu. Aileen tertawa kecil melihat tingkah sang putri lantas menyusulnya menemui Xander.


"Lo di sini?"


Mendengar suara sang kekasih, Xander menolehkan kepala dengan senyum kecil di wajahnya. Kanaya tertegun melihat penampilan Xander, ia lantas duduk di depan Xander dengan pandangan lekat menatap Xander.


"Kenapa jauh? Sini duduk di sampingku," suruhnya sembari menepuk bagian sofa di sampingnya.


Kanaya memutar bola mata ke samping, ia tengah mencoba mati-matian mengontrol ekspresi wajahnya.


Xander memiringkan kepalanya dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa diam aja?"


Kanaya tersadar lantas menghampiri Xander lalu duduk di sampingnya. "B-bukannya lo lagi sibuk, ya?"


Xander menarik pinggang Kanaya agar lebih dekat dengannya. Kanaya tersentak kaget dengan perlakuan Xander padanya.


Tak


"Aaw ...." Kanaya meringis memegangi dahinya yang mendapat sentilan maut dari Xander. "Hobi banget sih nyentil jidat gue," kesal Kanaya.


Xander tersenyum seraya mencubit gemas kedua pipi Kanaya. "Ubah cara bicara kamu, sampai kapan mau pakai 'lo, gue'?"


"Ihhh emuangnyua kenuapa?" tanya Kanaya susah payah sebab Xander masih mencubitnya.


Xander melepaskan cubitannya lalu mengelusnya lembut. "Gak sopan."


Kanaya cemberut dengan tangan ia lipat di depan dada. Ia telah berusaha mengendalikan diri agar tak terlalu terlena dengan sikap manis dari Xander, namun sungguh tak bisa ia tahan.


"Bisa-bisanya dia ke kantor dengan penampilan kayak gitu," gumam Kanaya.


"Kenapa penampilan aku?" tanya Xander yang mendengar dengan jelas gumaman Kanaya.


"Terlalu ganteng! Entar kalo ada yang lirik-lirik kamu di kantor gimana? Terus nanti ada yang naksir kamu gimana? Gak rela aku!" cerocos Kanaya.


"Dari dulu juga banyak begitu," jawab Xander enteng.


"Oh, gitu ya? Tuan muda ini emang populer banget ya," sinis Kanaya.


"Aduh, kenapa kalian malah ribut sih?" Aileen tiba sembari membawa nampan berisi teh dan cemilan.


"Bukan ribut Tante, cuma lagi main-main aja," jawab Xander tersenyum ramah.


Aileen tertawa kecil melihat wajah cemberut Kanaya dan Xander menjahilinya dengan membuat Kanaya semakin panas.


"Oh ya, ada apa Nak Xander datang ke sini? Bukannya lagi sibuk, ya?" tanya Aileen setelah menyesap tehnya.


"Xander mau ikut makan malam di sini," jawab Xander dengan tatapan yang sulit diartikan.


Kanaya mengernyitkan dahi melihat tatapan aneh dari Xander yang tertuju ke arah sang ibu. "Kalian lagi ngerencanain apa sih?"


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...