
...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...
17.30 WIB
Jakarta, Kediaman Sunjaya.
Setelah kejadian siang lalu, Xander hanya berdiam diri di dalam ruang kerjanya sambil membereskan pekerjaannya.
TOK
TOK
TOK
"Ander, kamu di dalam, Nak?" tanya Yunda memanggil sang putra.
"Iya, Ma," sahut Xander.
Xander melangkan kaki menuju pintu kemudian membukanya, terlihat Yunda tersenyum di depan ruangannya namun senyuman itu mendadak luntur dari wajah cantik Yunda.
"Kamu kenapa, Ander? Kok luka gini," tanya Yunda cemas sembari mengusap wajah Xander.
"Gak kenapa-kenapa, Ma," jawab Xander seraya menurunkan tangan Yunda dari wajahnya.
"Apanya yang gak kenapa-kenapa, ini wajah kamu babak belur begini kamu bilang gak kenapa-kenapa?" Yunda bertolak pinggang sambil menatap tajam Xander.
Xander tertawa kecil. "Ada kecelakaan dikit tadi, Xander baik-baik aja. Mama gak perlu khawatir," ucap Xander.
"Kecelakaan? Dimana?" tanya Yunda makin panik.
"Bukan kecelakaan mobil, Ma. Cuma ada suatu kejadian," ralat Xander.
"Mama kira kecelakaan lalu lintas, Mama panik dengernya," sahut Yunda. "Kamu dipukul siapa?"
Xander terdiam. "Mama bikin kue gak? Ander lapar," tanya Xander mengalihkan topik pembicaraan.
Yunda membuang napas kasar, ia kesal dengan Xander karena tak menjawab pertanyaannya. "Bukannya di jawab malah ganti topik, kamu ini," kesal Yunda.
Xander tersenyum, kemudian merangkul Yunda. "Ander lapar, Ma."
"Iya-iya. Kalo kamu lapar makan kue aja sana, tadi siang Mama buat kue brownis bareng Mira," ucap Yunda.
"Kayaknya enak tuh. Ayo Ma, Ander mau makan kuenya." Xander menuntun Yunda pergi ke dapur untuk memakan kue buatannya.
Selesai memakan kue, Xander kembali ke ruang kerjanya. Saat ia hendak masuk ke dalam, Xavier berjalan melewatinya.
"Vier, tunggu!" cegah Xander.
Xavier tetap berjalan tak memperdulikan panggilan Xander.
"Xavier tunggu! Denger gue dulu!" cegah Xander lagi sambil menyusul Xavier.
"Gue gak mau denger apa-apa dari lo!" sahut Xavier dengan nada dingin.
"Xavier! Sanaya bukan kakak kandung Kanaya!" seru Xander.
Xavier berhenti melangkah saat ia akan masuk ke dalam ruang kerjanya, Xavier menoleh menatap Xander yang berdiri tak jauh di belakangnya.
"Bohong! Tau dari mana lo soal itu?" tanya Xavier dengan nada jengkel.
"Kanaya sendiri yang bilang, Sanaya cuma anak adopsi dari panti. Keluarga Trivara angkat dia sebagai anak mereka," jelas Xander.
"Gue gak percaya!" ketus Xavier kembali membalikan badan hendak masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Lo bisa tanya Sanaya kalo lo gak percaya sama omongan gue," ujar Xander lalu beranjak pergi dari sana.
Xavier menoleh menatap kepergian Xander, Xavier terdiam menunduk memikirkan ucapan Xander kemudian ia masuk ke dalam ruangannya.
...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...
09.30 WIB
Jakarta.
Keesokan harinya Xander bersiap untuk pergi menuju gedung Wallet, tempat Kanaya akan mengikuti olimpiade fisika.
Xander dalam perjalanan menuju gedung akan tetapi di tengah perjalanan ia dicegat oleh beberapa pengguna sepeda motor besar. Xander keluar dari mobil menatap tajam para pria di depannya.
"Apa masalah kalian?" tanya Xander.
"Gak ada, kita cuma diperintahkan buat bikin lo gak jadi pergi ke gedung Wallet!" jawab salah satu pria.
"Siapa yang suruh kalian?" Xander bertanya dengan alis terangkat.
"Bukan urusan lo!" jawab pria lain.
"Hajar dia!" seru pria sebelumnya.
Para pria mengepung Xander yang berada di tengah, terhitung ada 5 orang pria yang mengepung Xander. Salah satu dari mereka melangkah maju menyerang Xander namun Xander berhasil mengelak. Pria lainnya ikut menyerang Xander hingga semua pria ikut menyerang secara bersamaan.
Xander berusaha melawan kelima pria yang menghalangi jalannya. Kepalan tangan seorang pria mengarah ke wajahnya, dengan cepat Xander menunduk kemudian memukul pria tersebut. Sebuah tendangan di dapatkan Xander saat ia baru saja berdiri tegak, Xander terdorong ke depan dan ditangkap seorang pria.
Pria tersebut mencengkram kerah kemeja Xander kemudian memukul wajah tampan Xander hingga membuat cengrakam di kerahnya terlepas dan Xander terdorong ke belakang.
Dua orang pria memegang tangan Xander, satu pria di depan Xander memukul perut Xander berulang kali. Xander terbatuk setelah merasakan sakit di bagian perutnya, napas Xander tercekat kelelahan menghadapi kelima pria tersebut.
Xander tertunduk lemas, kemudian pria yang memukul Xander menjambak rambut Xander membuatnya menengadah menatap wajah pria tersebut. Xander menatap tajam pria di depannya.
"Ternyata lo lemah, ya," ucapnya meremehkan Xander, keempat temannya tertawa mendengar ucapannya.
"Hey!" seru salah satu pria sambil berlari maju hendak menyerang Xander.
Langkahnya terhenti seketika, ia menoleh mendapati Xavier di belakangnya mencengkram kuat pakaiannya.
"Lo?" ucapnya bingung saat sekilas ia melihat Xavier mirip dengan Xander.
"Apa? Mirip ya?" tanya Xavier seraya tersenyum miring.
Xavier melempar pria yang di pegangnya ke samping, ia berjalan menghampiri Xander.
"Sorry gue telat," ucap Xavier merasa bersalah.
"Gak masalah." Xander tersenyum kecil sambil menepuk bahu Xavier.
"Kemarin lo baru aja kena pukulan gue, sekarang lo malah di keroyok. Kenapa kemarin lo gak lawan gue kayak lo lawan mereka?" tanya Xavier.
Seorang pria mendekati keduanya sambil membawa tongkat, Xander memegang tongkat yang diayunkan ke arahnya kemudian memukul perut pria tersebut. Seorang pria lagi berlari ke arah Xavier, dengan cepat Xavier menendang perut pria tersebut hingga terkapar di tanah.
"Gue gak mungkin lawan saudara gue sendiri, Vier. Lo adik gue, gue gak akan lawan adik gue sendiri," jawab Xander tanpa menatap Xavier, ia lebih memilih menatap pria yang terkapar di depannya.
Xavier tertegun mendengar jawaban Xander, tanpa sadar ia menangis. "Gue minta maaf, karena marah gue jadi hilang kendali."
Xander menatap Xavier yang tengah kerepotan mengusap air mata dan ingusnya. Xander berjalan mendekatinya lalu menepuk puncak kepala Xavier.
"Gak perlu minta maaf, gue seneng lo ternyata jago ngelawan," ucap Xander. "Jangan nangis, cengeng banget jadi cowok!" cibir Xander.
Xavier merengut cemberut mendengarnya. "Gini-gini gue juga kuat," sahut Xavier.
"Dahlah, gue mau cabut dulu. Tolong lo urusin mereka, minta bantuan yang lain buat bawa ke markas!" titah Xander.
"Siap! Lo pergi aja, entar keburu acaranya beres," sahut Xavier.
Xander mengangguk, ia menepuk bahu Xavier lalu pergi dari tempat tersebut.
...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...
11.00 WIB
Jakarta, Gedung Wallet.
Prok prok prok
Tepuk tangan dan siulan menggema di dalam gedung, kini Kanaya berdiri di atas panggung tengah menerima hadiah. Ia berhasil memenangkan olimpiade menjadi juara satu, Leon tersenyum senang melihat Kanaya berdiri di atas panggung. Sedari awal ia duduk menyaksikan perlombaan tersebut.
Kanaya mengangkat tropi di tangannya sambil tersenyum bahagia, Leon memotret Kanaya dengan ponselnya. Ia tersenyum melihat hasil dari ia memotret.
Setelah menerima hadiah dan bersalam dengan para juri juga peserta lainnya, Kanaya beranjak keluar dari gedung bersama dengan Leon. Kanaya terus mengedarkan pandangan sejak ia mengikuti lomba sampai saat ini.
"Lo nyari siapa?" tanya Leon.
"Xander," jawab Kanaya.
"Dia gak dateng, mungkin dia lupa," ucap Leon.
Kanaya menatap Leon sekilas kemudian kembali mencari keberadaan Xander.
Gue yakin Xander gak lupa, dia pasti ada di sini, batin Kanaya.
Saat ia berada di luar gedung, Kanaya berhenti kala melihat sosok Xander berdiri di samping mobil tak jauh darinya. Kanaya bergegas menghampiri Xander membuat Leon kesal.
"Xander!" pekik Kanaya senang melihat Xander.
Kanaya berhenti di depan Xander, ia memamerkan hadiah di tangannya serta senyuman manis di wajahnya. Xander tersenyum kecil, ia memberikan sebuket bunga mawar ke hadapan Kanaya sambil mengelus lembut kepala Kanaya.
"Selamat, gue tau lo pasti menang," ucap Xander ikut senang melihat kebahagiaan di wajah Kanaya.
Kanaya menerima buket dari Xander, Leon meremas buket di tangannya. Saat keluar tadi Leon memberikan buket untuk Kanaya, namun Kanaya meminta Leon untuk memegangnya karena ia harus memegang tropi.
Leon membuang buket tersebut ke tanah lalu pergi dengan rasa kesal, marah, dan kecewa.
Senyum di wajah Kanaya luntur saat ia melihat kondisi wajah Xander yang babak belur.
"Xander, lo kenapa? Lo abis berantem?" tanya Kanaya khawatir.
"Gak, gue gak kenapa-kenapa," jawab Xander.
"Jawab yang bener, lo abis berantem sama siapa?"
"Jangan nanya mulu, masuk ke dalam mobil bantu gue obatin luka gue," suruh Xander.
Kanaya mencebik lalu masuk ke dalam mobil Xander. Di dalam mobil, Kanaya membantu Xander mengobati lukanya setelah Xander bercerita soal kejadian ia dikeroyok.
"Siapa yang keroyok lo sampai kayak gini, sih?" tanya Kanaya kesal.
"Gue gak tau," jawab Xander. "Sshh ... pelan-pelan, jangan pake emosi." Xander memegang tangan Kanaya yang tengah memoleskan obat di lukanya.
Kanaya menatap Xander, begitupun dengan Xander yang menatap Kanaya. Xander mengambil kapas dari tangan Kanaya, ia meletakannya di dalam kotak lalu mencium telapak tangan Kanaya.
Sontak Kanaya terkejut dengan wajahnya yang memerah, Xander menempelkan tangan Kanaya ke pipinya.
"X-Xander, lo mau ngap--"
"Gue suka sama lo," sela Xander, Kanaya bungkam setelah mendengar ucapan Xander.
...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...