
06.20 WIB
Jakarta, Kediaman Sunjaya.
"Vier," panggil Yunda.
Xavier menoleh menatap sang ibu. "Iya, Mi?" sahut Xavier.
"Kamu keliatan beda hari ini, ada apa? Apa ada masalah?" tanya Yunda.
"Gak ada, Mi. Vier kayak biasanya kok, gak ada yang berubah," jawab Xavier, meletakan kembali alat makannya.
Xander melirik Xavier sebentar lalu kembali fokus menyantap sarapan paginya.
"Beneran gak ada?" tanya Yunda memastikan.
Xavier mengangguk. "Bener, Mi. Gak ada apa-apa."
"Terus kenapa kamu merokok? Gak biasanya lho kamu merokok, kalo kamu merokok itu artinya kamu lagi ada masalah. Bener kan?"
Xavier terdiam, tak lama setelahnya ia tersenyum. "Xavier kangen aja ngerokok, udah lama juga Vier gak ngerokok," jawabnya setenang mungkin.
TAK
Xavier dan Yunda menatap Xander, Xander berdiri dari duduknya setelah meletakan alat makannya. Memang agak keras, karena Xander sedang menahan amarah.
"Xander pamit sekolah dulu," pamitnya lalu mencium kening Yunda.
Xander melangkah dengan cepat keluar dari dalam rumah, Xander masuk ke dalam mobilnya yang telah terparkir di depan rumah.
Mobil mewah Xander melesat dengan cepat keluar dari halaman mansion.
"Vier juga pamit, Mi!" Xavier mencium kening Yunda lalu ikut keluar dari rumah.
Yunda terdiam melihat kelakuan kedua putranya yang dirasa sangat aneh dan tak biasanya mereka seperti itu.
"Kenapa sih?" gumam Yunda bingung.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
10.00 WIB
Jakarta, Winter's Highschool.
"Kamu kenapa?" tanya Sanaya bingung saat ia melihat raut sedih yang terlukis di wajah tampan Xavier.
Xavier menatap Sanaya sembari memasukan kue ke dalam mulut. "Emang aku kenapa?" tanya balik Xavier dengan mulut penuh kue.
"Kamu keliatan lagi sedih. Kamu lagi ada masalah?"
"Nggak tuh, aku biasa aja," jawab Xavier sambil terus melahap kue.
"Bohong, kamu keliatan jelas lagi sedih. Kenapa?"
"Gak ada Sanaya, aku gak lagi sedih," sanggah Xavier mengelak.
Sanaya menghela napas panjang. "Iya udah kalo emang gak ada apa-apa," ucap Sanaya.
"Wihh ... ada kue nih." Nean menghampiri keduanya yang duduk di meja langganan mereka, tanpa meminta izin dari Sanaya, Nean menyomot kue kemudian memasukannya ke dalam mulut.
"Main comot aja lo!" kesal Xavier.
"Biarin." Nean tak peduli dan malah duduk di depan keduanya.
"Ngapain lo duduk di sini?" tanya Xavier dengan nada marah.
"Ini meja yang sering kita pake, jadi gak ada salahnya 'kan gue duduk di sini?"
"Serah lo! Intinya gue gak mau liat muka lo di sini!"
"Kalo gitu tutup aja mata lo, bereskan?"
Xavier menatap tajam wajah Nean, sementara yang ditatap mengabaikan Xavier. Nean terus melahap kue buatan Sanaya hingga habis tak tersisa.
"Dahlah, gue balik dulu. Thanks ya, Sanaya." Nean beranjak dari kursi kemudian berjalan menjauh dari meja tersebut.
Xavier menatap kesal ke arah Nean yang menjauh, ia menggerutu sembari tangannya mengambil kue di dalam kotak.
"Lho? Kok ilang?" pekik Xavier kaget.
"Udah abis dimakan Nean," jawab Sanaya sambil tertawa kecil.
"Neandro sialan! Balikin kue gue woy!" teriak Xavier menggelegar membuat siswa yang ada di kantin terkejut.
Neandro tertawa puas saat ia mendengar teriakan Xavier.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖ ...
10.00 WIB
Jakarta, Winter's Highschool.
Xander terdiam memikirkan perilaku Xavier yang berbeda, hal itu membuat Kanaya dan Edrea bingung.
"Kakak, Kak Xan kenapa?" tanya Rea sembari menggoyangkan tangan Xander.
"Gak kenapa-kenapa, cuma lagi ada yang dipikirin," jawab Xander lembut. "Mana soal kamu? Udah selesai belum?"
Edrea mengangguk sembari menunjukan buku tulisnya. Xander mengambilnya, memeriksa jawaban Edrea. Xander melirik Kanaya yang tengah menatapnya.
"Punya lo udah selesai?" tanya Xander menyadarkan Kanaya.
"Ya? Oh, udah," jawab Kanaya salah tingkah. Ia ketahuan Xander ketika menggagumi ketampanan pria itu.
Xander memeriksa kedua buku gadis cantik di depan dan sampingnya. Xander memberikan buku tulis Edrea, lantas memberikan buku tulis Kanaya sembari menjelaskan kembali materi fisika untuknya.
Edrea merasa pekerjaannya telah selesai, tugas yang diberikan guru untuk dikerjakan di rumah ia selesaikan bersama Xander. Edrea memerhatikan Xander dan Kanaya sambil makan makananya.
Mereka keliatan cocok, pikir Edrea.
"Setelah ini, lo kerjain soal buat di rumah," ucap Xander setelah selesai menuliskan soal di buku tulis Kanaya.
Kanaya mengangguk. "Thanks."
"Enak gak?" tanya Xander saat melihat Edrea tengah menyantap makananya.
Kanaya tersenyum melihat interaksi antara Xander dan Edrea. Keduanya terlihat akrab, jika saja orang lain melihat mereka maka mereka akan mengira Xander dan Edrea memiliki hubungan khusus. Sebetulnya keduanya memang memiliki hubungan keluarga.
Apa gue juga bisa diperlakukan kayak gitu sama Xander? batin Kanaya.
"Kakak sama kak Kana keliatan cocok, lho," celetuk Edrea saat Xander mencubit kedua pipinya.
"Hm? Masa sih?" tanya Xander menanggapi ucapan Edrea.
"Iya Kak!" sahut Edrea, ia menatap Kanaya sambil menurunkan tangan Xander dari pipinya. "Kak Kana mau gak jadi pacar kak Xan?"
Kanaya tersentak kaget begitupun dengan Xander. Kanaya tersenyum canggung, sementara Xander menasehati Edrea agar ia tak lagi asal bicara.
"Emangnya Rea salah ya tanya kayak gitu?" tanya Edrea dengan wajah cemberutnya.
"Gak salah, cuma gak sopan," jawab Xander.
"Gak sopan apanya? Jelas-jelas Rea udah sopan banget," bantah Edrea kesal.
"Intinya jangan tanya itu lagi."
Edrea membuang wajahnya ke samping, menghindari tatapan Xander.
"Rea," panggil Keano menghampiri sang adik. Keano menatap heran melihat sang adik cemberut. "Lo apain adik gue?" tanya Keano marah.
"Gue cuma nasehati dia," jawab Xander.
"Terus, kenapa dia cemberut?"
"Dia cuma ngambek." Xander menatap Edrea yang masih memalingkan wajahnya. "Kakak minta maaf, jangan cemberut kayak gitu nanti cepet tua."
"Kakak bukannya dibujuk malah diperburuk!" kesal Edrea menatap jengkel wajah Xander.
"Iya, Kakak minta maaf. Jangan ngambek lagi, sana balik ke kelas." Xander mengusap lembut kepala Edrea.
"Makanya jangan asal ngomong aja sama dia," tegur Keano.
"Gue gak asal ngomong," bantah Xander.
Keano mengabaikannya, ia menggendong Edrea lantas ia pamit membawa Edrea kembali ke kelasnya.
Tinggalah Xander dan Kanaya yang diselimuti suasana canggung. Kanaya menggaruk lehernya yang tak gatal, ia tengah memikirkan topik untuk pembicaraan mereka.
"Udah mau masuk, sebaiknya lo balik ke kelas," ucap Xander lebih dulu berbicara.
"Oh iya." Kanaya beranjak berdiri dari kursi membereskan barang-barangnya.
"Jangan lupa belajar lagi di rumah, soal dari gue juga jangan lupa kerjain," ingat Xander.
"Iya, siap. Pasti gue kerjain, kok," jawab Kanaya setelahnya ia pamit kembali ke kelas.
Xander menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sembari menghela napas.
"Pacar?" gumam Xander pelan. "Mungkin nanti."
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...