
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
18.15 WIB
Jalan Mawar Putih no.23
TOK
TOK
TOK
"Permisi!"
KLAK
"Lho? Nak Xander, ayo masuk Nak!" Xander mencium tangan wanita yang membuka pintu untuknya.
Lantas ia melangkah masuk mengikuti wanita tadi.
"Ayo duduk dulu,"
"Terima kasih," Xander duduk di sebuah sofa.
"Mau minum apa nih? Kopi atau teh?" tanya wanita itu.
"Gak usah, Xan gak haus," tolak Xander.
"Ehh ... gak boleh gitu. Ayo, ayo, bilang sama Ibu mau minum apa?"
"Beneran gak usah, Bu."
"Haishh ... ya sudah." Wanita itu duduk di sebelah Xander.
Xander mengedarkan pandangannya, menatap seisi rumah sederhana yang kini ia kunjungi. Xander melihat sebuah tv tua yang berada dilemari kayu, sofa yang diduduki nya kini sudah tak layak dipakai lagi. Banyak sobekan yang membuat busa dari sofa keluar.
"Kenapa, Nak?" tanya wanita tersebut.
"Gak apa-apa, Bu." Xander menggeleng pelan. "Syifa sama Dani ke mana?" tanya Xander.
"Mereka masih tidur, dari tadi siang belum pada bangun."
"Oh ya, Xander bawa bingkisan." Xander mengangkat barang bawaannya dan meletakannya di atas meja.
"Terima kasih, Nak. Kamu anak yang baik," ucap wanita tersebut penuh dengan syukur. "Beberapa hari yang lalu, Noah pulang ke rumah. Tapi, minggu kemarin dia pergi lagi," sambungnya
"Iya, Xan yang suruh dia untuk kerja lagi. Maafin Xan karena pisahin Ibu sama Noah," jawab Xander.
"Eh? Ibu gak nyalahin kamu, sayang." Wanita itu mengelus pipi Xander.
"Ibu justru berterima kasih sama kamu, karena kamu mau memperkerjakan Noah. Kamu juga membantu kami waktu itu," ucapnya.
Xander tersenyum.
"Kak Xan!" panggil seoarang anak perempuan.
Ia berlari ke arah Xander diikuti anak laki-laki di belakangnya. Gadis kecil itu kemudian memeluk Xander.
"Hey, apa kabar?" sapa Xander.
"Kabar aku baik Kak!" jawab gadis itu, ia bernama Syifa.
"Bagus, makan yang banyak ya, biar gak sakit!"
"Iya Kak, aku selalu makan banyak!" jawab gadis itu.
"Kakak!" kini seorang anak laki-laki tersenyum cerah ke arah Xander.
"Hey jagoan!" Xander mengelus puncak kepala anak tersebut.
"Dani bisa silat lho, Kak!" ucapnya senang.
"Oh ya?"
Sang ibu tertawa pelan, "Noah yang mengajari Dani saat dia pulang kemarin," ujar sang ibu memberitahu.
Anak kecil itu mengangguk.
"Kakak mau liat?" tanyanya menatap Xander dengan penuh keceriaan
"Boleh tuh," Xander mengangkat tubuh mungil Syifa dan mendudukannya di pangkuannya.
"Liat ya," Dani bersiap dengan kuda-kudanya.
"Siaaatt ...." Dani melakukan pukulan depan.
Dani menunjukan tendangan depan, samping, dan memutar namun saat berputar ia terjatuh ke lantai. Dani tertawa lalu mencoba bangkit lagi. Kemudian Dani menunjukan pukulannya, setelahnya menyatukan keduanya antara pukulan dan tendangan. Xander, Syifa, dan sang ibu tertawa pelan melihat tingkah Dani.
Saat ingin melakukan tendangan samping, Dani kembali terjatuh. Tiba-tiba Syifa turun dari pangkuan Xander dan menyerang Dani dengan pukulan tangan kecilnya.
"Siaat ... ciahhh ... Kak Dani kalah!" seru Syifa senang.
"Aakhhh ...." rintih Dani sambil memegang dadanya, ia berakting.
Dani berpura-pura pingsan setelah mendapat serangan dari Syifa. Xander dan sang Ibu bertepuk tangan.
"Syifa kuat juga, ya," ucap Xander mengelus kepala Syifa.
"Hehe ... karena Syifa banyak makan!" jawabnya.
Syifa turun dari tubuh Dani, Dani bangun lalu duduk di lantai.
"Kakak bawa hadiah buat kalian,"
"Waahh! Asyikk!!" seru keduanya senang.
"Bentar, Kakak ambil dulu di mobil!" Xander pergi keluar untuk mengambil barang.
"Nih, 2 buat Syifa, 2 lagi buat Dani." Xander meletakan 4 buah paperbag itu kehadapan Dani dan Syifa.
"Asyikk!! Yeyy!!" seru keduanya senang.
Dani membuka bagiannya, begitupun dengan Syifa.
"Wahh ... boneka cantik! Ada baju baru juga!" ucap Syifa mengeluarkan hadiah dari dalam paperbagnya.
"Liat! Dani dapat mobil mainan, sama baju juga!" Dani mengeluarkan hadiahnya juga.
"Kemarin, Noah juga bawa hadiah buat mereka," ucap sang Ibu.
"Iya, kakak bawa boneka panda besar buat Syifa!" ujarnya senang.
"Kakak juga bawa sepatu baru buat Dani!"
Xander tersenyum, "itu bagus. Sekarang buka hadiah satunya!"
Dani dan Syifa mengangguk, keduanya lantas membuka hadiah selanjutnya.
"Wahh! Kue!" Syifa senang mendapat sebuah cake coklat.
"Ada baju lagi! Eh? Ada baju cewek juga," ucap Dani bingung sambil mengangkat sebuah baju untuk perempuan.
"Itu untuk kalian, Syifa bagi kuenya dengan Dani. Dani juga bagi bajunya buat Syifa, oke?" ucap Xander.
"Oke, Kak!" jawab keduanya.
Sang ibu tersenyum bahagia, ia bersyukur bertemu dengan Xander yang baik hati.
"Bilang apa ke Kakak-nya?" ucap sang ibu.
"Makasih Kak!" Syifa dan Dani memeluk Xander dengan erat.
Xander tersenyum, ia membalas pelukan keduanya. "Sama-sama. Kakak gak bisa lama-lama disini," ucap Xander melepaskan pelukannya.
"Kakak gak nginep di sini?" tanya Syifa.
Xander menggeleng. "Lain kali aja ya?"
Syifa mengangguk patuh. "Iya Kak."
Xander mengelus puncak kepala Syifa dan Dani. Ia bangkit berdiri, disusul yang lain. Xander berjalan keluar.
"Xan, pamit pulang ya, Bu." Xander mencium punggung tangan ibu Noah.
"Iya Nak, terima kasih banyak, ya," ucap ibu Noah.
Xander mengangguk, ia berbalik berjalan menuju mobilnya. Xander masuk ke dalam mobil, ia memarkirkan mobilnya.
"Bye-bye Kak!" Syifa dan Dani melambaikan tangan.
Xander balas melambai dari dalam mobil, kemudian ia melajukan mobilnya menjauh dari rumah Noah.
"Sudah, ayo masuk! Kalian mandi dulu lalu makan, ya!" sang Ibu mengusap rambut keduanya.
"Iya Bu!" lantas keduanya masuk ke dalam.
"Xander, terima kasih banyak Nak ...." gumam ibu Noah.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
Mobil biru tua melaju di jalan raya yang cukup sepi, Xander melihat sebuah gerobak. Ia memberhentikan mobil di depan gerobak tersebut. Xander keluar dari mobil, dan berjalan ke arah gerobak.
"Bang, Martabak manis rasa coklat keju 1, full coklat 1, martabak telor 1!" ucap Xander memesan.
"Siap!" sang penjual martabak membuatkan pesanan Xander.
Xander duduk di sebuah bangku, seorang gadis yang duduk tak jauh dari Xander terus menatap Xander. Sementara Xander sibuk memperhatikan ponselnya.
Gadis itu lantas berjalan mendekat, ia menyodorkan ponselnya kehadapan Xander.
Xander mendongak menatap gadis itu, gadis tersebut tersenyum.
"Hai! Gue Ilona, boleh minta nomor hp lo gak?" ucapnya.
Xander mengacuhkannya, ia kembali fokus menatap layar ponselnya.
"Hei? Lo gak denger gue?" tanya Ilona.
Ia lalu duduk di sebelah Xander, Ilona memperhatikan wajah Xander tanpa berkedip. Tangan Ilone terangkat, ia mengusap wajah Xander. Dengan cepat Xander menangkapnya, mencengkramnya dengan erat.
"Apa yang lo lakuin?" tanya Xander dingin.
Ilona ketakutan saat melihat tatapan tajam Xander.
"G-gue ... g-gue gak ngapa-ngapain lo ...." ucap Ilona.
"Jangan sentuh gue!" tegas Xander marah.
"M-maaf, gue tadi reflek. L-lepasin tangan gue ...." Ilona memberontak mencoba melepaskan tangannya.
"Neng, ini martabaknya!" ujar si penjual martabak.
Xander melepaskan tangan Ilona, Ilona bergegas berdiri dan menerima martabaknya.
"Makasih ya, Bang!" Ilona memberikan uang lalu melangkah pergi.
Xander kembali menatap ponselnya, dari jauh Ilona menatap Xander.
"Liat aja nanti, lo udah berani narik perhatian gue. Sekali gue suka, gak bakalan gue lepasin lo!" ucapnya lalu masuk ke dalam mobil.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...