SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 31



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


17.20 WIB


Jakarta, Kediaman Sunjaya.


"Vier, lo belum beresin kerjaan lo?" tanya Xander sambil memperlihatkan berkas di tangannya.


Xavier yang tengah menyantap cemilan sembari menonton menoleh melihat berkas di tangan Xander lalu kembali menatap televisi.


"Nanti gue beresin," jawab Xavier.


"Sampai kapan lo bilang nanti?" tanya Xander mulai kesal dengan sikap Xavier yang semena-mena.


"Entar juga gue beresin, berisik amat," jawab Xavier.


TAK


Xander melempar berkas di tangannya ke meja, Xander menatap tajam Xavier yang menoleh ke arahnya.


"Gue tau lo punya masalah sama gue, jadi lo bebas mau bersikap apapun ke gue. Tapi ini soal kerjaan, bersikap profesional bisa, 'kan?" marah Xander.


"Ck!" Xavier berdecak kesal lalu berdiri. "Kalo lo mau kerjaan cepet beres, mending lo aja yang kerjain, jangan nyuruh gue!"


Xavier melangkah melewati Xander dengan sengaja mendorong bahu Xander. "Minggir! Jangan halangi jalan gue!" ucapnya.


Xavier pergi dari ruang keluarga memasuki lift untuk tiba di kamarnya. Xander mengusap wajahnya, ia sangat marah dengan sikap Xavier padanya.


"Sial!" umpatnya, Xavier membawa kembali berkas yang tadi dilemparnya menuju ruang kerjanya.


Yunda tiba di ruang keluarga setelah mendengar suara keributan, saat sampai Yunda tak mendapati kehadiran kedua putranya.


"Astaga ... ada apa semua ini, apa mereka bertengkar?" gumam Yunda bingung.


Xander melempar berkas di tanganya ke meja kerjanya, Xander menduduki kursi dengan kasar hingga berputar. Xander memijat kepalanya yang terasa pening.


Drrrtt


Dering ponsel menyadarkan Xander, Xander mengambil ponsel yang berada di atas meja. Nama Noah tertulis di layar ponselnya.


"Ya, katakan!" ucap Xander.


"Tuan, tuan Angga telah meninggalkan Jepang dalam keadaan selamat. Besok pagi beliau akan tiba di Indonesia, saya sudah memeriksa keadaan bandara Jepang dan semuanya baik-baik saja. Pesawat lepas landas dengan baik, saya juga memeriksa keadaan bandara Jakarta dari seorang koneksi saya, akan saya pastikan tuan Angga selamat sampai rumah," jelas Noah menjelaskan laporannya.


"Ya, kerja bagus," ujar Xander.


"Tuan, saya akan kembali dua hari lagi. Kebetulan saat tuan Angga dalam perjalanan ke bandara, saya menemukan dua orang tikus yang menganggu. Jadi, saya akan mengurusnya bersama tuan Jarvis."


"Tikus? Apa sekarang lo pake nama samaran untuk orang-orang itu?" tanya Xander tersenyum miring.


Noah tertawa. "Benar, Tuan. Tuan Jarvis yang mengajarkannya pada saya," jawab Noah.


"Gue suka itu, lanjutkan!"


"Baik, Tuan muda. Saya akan kembali bekerja, selamat malam." Noah menutup sambungan telepon.


Xander menunduk, menopang dahinya dengan kedua tangan. Apa salah gue sama lo, Vier? pikir Xander.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


09.30 WIB


Jakarta, Rose's Cafe


"Gimana, makanan di sini enak, 'kan?" tanya Leon.


Kanaya mengangguk. "Enak juga, apalagi lo yang traktir," jawab Kanaya.


"Iyalah, makanan gratis pastinya enak." Leon memakan kembali makananya.


Sesuai apa yang dijanjikan, Leon membawa Kanaya pergi jalan-jalan di hari minggu. Xander memberi Kanaya waktu libur untuk mengistirahatkan diri, ia sebetulnya sangat lelah membereskan pekerjaan yang ditinggal oleh Xavier.


"Untung lo gak ada rencana apa-apa hari ini, jadi gue gak sia-sia dateng ke rumah lo," ujar Leon setelah meneguk air minumnya.


"Hari ini gue libur, gak ada les," jawab Kanaya.


"Kenapa? Apa Xander pergi jalan sama ceweknya?" tanya Leon sengaja memancing emosi Kanaya.


Kanaya meletakan garpu yang dipegangnya lalu menatap Leon. "Gue gak tau, lagian itu bukan urusan gue," jawabnya berusaha tenang.


Sebenarnya Kanaya memikirkan hal itu sedari tadi, karena tak biasanya Xander memberi Kanaya waktu libur. Meski Xander sibuk sekalipun, Xander akan meminta Kanaya datang ke rumahnya untuk belajar. Berbeda dengan hari ini, Xander benar-benar menyuruhnya untuk berlibur.


Kring


Lonceng pintu kafe berbunyi, Xander masuk ke dalam kafe lalu mengedarkan pandangan mencari seseorang. Seorang pria berdiri di meja VIP, Xander menatapnya lantas menghampirinya.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Noah.


"Pagi, duduk!" Xander duduk di kursi.


"Anda ingin memesan apa Tuan?" tanya Noah.


"Baik, Tuan." Noah menjelaskan semua laporannya perihal kejadian di Jepang.


3 hari yang lalu Angga kembali ke rumah dengan selamat, Yunda begitu senang melihat kedatangan suaminya.


"Terus, gimana soal anggota yang lain?" tanya Xander.


"Saya menemukan 10 orang yang berada di Jepang, satu dari mereka mengatakan markas besar kelompok tersebut," jawab Noah.


"Markas besar?" tanya Xander meminta penjelasan.


"Benar, Tuan. Beliau mengatakan bahwa markas tersebut dipimpin oleh ketua saat ini," jawab Noah.


"Katakan di mana markas itu dan jelaskan kondisi di sana!" pinta Xander.


"Markas tersebut berada di--"


"Xander?" ucap seseorang.


Xander dan Noah menoleh ke samping melihat sosok Kanaya berdiri di samping keduanya. Xander berdiri menatap Kanaya kemudian beralih menatap Leon yang menyeringai di sampingnya.


"Lo di sini? Ngapain?" tanya Kanaya.


Xander melirik Noah, Noah lantas berdiri seakan mengerti bahwa itu adalah kode dari Xander.


"Saya pamit kembali, Tuan muda. Informasinya akan saya sampaikan malam nanti," pamit Noah lalu pergi keluar dari kafe.


Tuan muda? Sekaya apa dia sampe di panggil tuan muda, pikir Leon.


"Ohh ... lo lagi ngobrol penting ya? Sorry gue ganggu," ujar Kanaya merasa tak enak hati.


"Gak masalah," sahut Xander. "Lo abis makan di sini?" tanya Xander.


"Iya, Leon traktir gue makan," jawab Kanaya sambil melirik Leon.


"Pulang yuk, bosen gue," ajak Leon.


"Lo pulang duluan aja, biar Kanaya yang gue anter pulang," ucap Xander menarik tangan Kanaya agar berada di sampingnya.


Leon berdecak kesal lalu pergi dari kafe tersebut. Kanaya mendongak menatap Xander yang terlihat tampan dengan setelan kasualnya.


"Lo kenapa biarin gue libur?" tanya Kanaya.


Xander membalas tatapan Kanaya. "Gue sibuk, lo tadi liat 'kan gue ketemuan sama orang itu?"


"Iya, gue kira lo lagi jalan sama dia," ucap Kanaya.


"Siapa?" Xander mengernyitkan dahi.


"Cewek lo yang kemaren minta anter pulang," jawab Kanaya malas.


Xander tersenyum kecil lalu mengacak-acak rambut Kanaya. "Dia bukan siapa-siapa gue. Dah, yuk pulang!" Xander menggenggam tangan Kanaya, menariknya pelan untuk pergi dari kafe.


"Naya!" panggil seorang wanita yang berada di luar kafe.


Kanaya terdiam setelah mendengar panggilan tersebut. Xander ikut berhenti lalu menoleh ke belakang, terlihat seorang wanita tampak senang melihat Kanaya.


"Kana, dia manggil lo. Kenapa lo diem aja?" tanya Xander.


Kanaya mengusap air matanya yang sempat jatuh, ia menggeleng. "Gue gak kenal, ayo pulang!" ajak Kanaya.


"Tapi Kana, gak baik lo main tinggal gitu aja. Setidaknya lo liat dulu orang itu," cegah Xander.


"Gue mau pulang Xander, gue mau pulang," ucap Kanaya berikeras.


Xander menghela napas kemudian melangkahkan kaki menuju mobilnya terparkir.


"Kanaya tunggu! Naya tunggu, Nak!" teriak wanita itu sambil berurai air mata.


Wanita tersebut berlari menghampiri mobil Xander yang mulai menjauhi kafe. Sanaya yang baru saja keluar dari kafe setelah menjual kue terkejut melihat sang ibu bersimpuh di jalanan.


Sanaya bergegas menghampirinya berusaha menenangkan sang ibu. "Ma, Mama kenapa? Kenapa Mama nangis?" tanya Sanaya panik.


"Naya ... putri Mama ... Naya ...."


Sanaya menangis mendengarnya. "Mama liat Naya, ya?"


"Sana, kenapa Naya pergi? Kenapa dia gak berhenti waktu Mama panggil dia?" tanyanya dengan suara parau.


Xavier yang melihat kejadian itu dari kejauhan bergegas menghampiri Sanaya dan sang ibu.


"Sana, kenapa? Apa yang terjadi sama ibu kamu?" tanya Xavier.


"Mama liat Naya, dia sedih karena Naya gak berhenti buat temuin Mama," jawab Sanaya.


"Iya udah, mungkin dia gak denger. Kita pulang aja, ya!" ajak Xavier.


Xander sialan! Awas aja lo!


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...