SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 26



07.00 WIB


Jakarta, Winter's High School.


"Pagi!" sapa Leon.


Kanaya mendongak menatap Leon yang berdiri di samping mejanya.


"Pagi," sahut Kanaya.


Leon duduk di kursi depan yang biasa dipakai Tania, kebetulan Tania belum datang ke kelas.


"Lo lagi ngapain?" tanya Leon seraya tersenyum.


Kanaya tersenyum paksa. "Mandi," jawabnya.


"Mandi? Kenapa gak di kamar mandi?" tanya Leon menanggapi candaan Kanaya.


"Lo gak liat gue lagi baca buku?" kesal Kanaya.


Leon tersenyum lebar sehingga barisan gigi putihnya terlihat. "Pulang sekolah nanti lo ada acara gak?"


"Gue-"


Ting


Ucapan Kanaya terhenti, ia melihat notifikasi yang masuk ke ponselnya. Kanaya membaca sebuah pesan dari Xander.


Xander


- Pulang sekolah nanti, kita lanjut les


^^^Anda^^^


^^^- Siap, Pak!^^^


Setelah membalas pesan Xander, Kanaya tersenyum simpul. Leon memperhatikan Kanaya yang tersenyum.


"Jadi gimana, pulang sekolah nanti lo ada acara apa gak?" tanya ulang Leon.


Kanaya menatap Leon. "Ada, gue harus les. Barusan guru les gue bilang kalo hari ini ada les," jawab Kanaya.


"Yahh ...." Leon nampak sedih mendengarnya.


"Woy! Ngapain lo duduk di kursi gue? Minggir sana!" usir Tania yang baru saja tiba.


Leon menatap jengkel Tania, lantas ia berdiri lalu beranjak pergi duduk di kursinya sendiri.


"Kan, gue denger Xander sakit ya?"


"Iya, kemaren gue jenguk dia ke rumahnya," jawab Kanaya.


"Wahh ... kayaknya ada kemajuan nih," goda Tania.


"Kemajuan apa maksud lo?"


"Kemajuan hubungan lo sama dia, berawal dari guru les lalu jadi guru anak-anak kalian." Tania tertawa kecil menertawakan pikirannya terhadap Kanaya dan Xander.


"Apaan sih, lo? Gak usah ngurusin gue, urus aja hubungan lo sama Vian!" omel Kanaya.


"Yaelah, lebih seru hubungan lo dari pada hubungan gue sama dia,"


"Emang kenapa? Kalian lagi berantem?" tanya Kanaya.


"Gak sih, dia 'kan udah nembak gue kemaren. Tapi, semalam dia bilang lagi kalo abis lulus bakal ke London," jelas Tania dengan raut wajah sedih.


"London? Dia mau kuliah di sana?" tanya Kanaya.


Tania mengangguk. "Iya, dia bilang kayak gitu."


"Lo 'kan nanti bisa nyusul ke sana, lagian gue yakin kalo Savian gak bakal selingkuh dari lo!" ujar Kanaya.


"Kenapa lo bisa seyakin itu?" tanya Tania bingung.


"Dia 'kan bukan Xavier yang suka mainin cewek," jawab Kanaya.


"Iya juga, ya. Tapi tetep aja, mereka 'kan sahabatan, siapa tau sifatnya gak beda jauh."


"Iya udah, yang penting sekarang lo jalani aja dulu. Masalah yang akan datang nanti bisa dibahas lagi, 'kan?" tutur Kanaya.


Tania kembali mengangguk. "Iya, gue bakal jalani apa yang ada sekarang!"


.....¤◇¤.....


10.10 WIB


Jakarta, Winter's High School.


"Xan!" panggil Xavier.


"Apa?" Xander menoleh.


"Lo, bisa gak jauhin Kanaya?" tanya Xavier dengan menatap dingin Xander.


"Ya, gak apa-apa. Dahlah, gue mau ketemu Sanaya dulu!" Xavier berlalu pergi begitu saja tanpa penjelasan lebih dalam.


Xander diam termangu mencerna ucapan Xavier.


Apa maksudnya? Batin Xander.


Xander melanjutkan kembali perjalanannya menuju rooftop sekolah, siang ini tak ada jadwal les jadi ia bisa bersantai di atap sekolah menikmati angin siang. Cuaca tak begitu panas, sehingga Xander memilih untuk bersantai di sana.


KLAK


Xander membawa langkahnya keluar, ia menatap suasana atap sekolah. Syukurlah tidak ada siapapun di sana, Xander berjalan menuju pembatas atap. Ia melihat beberapa siswa dan siswi berlalu lalang di bawahnya.


Atap gedung yang saat ini di tempati Xander adalah gedung kelas 10, di sanalah tempat Xander bersantai. Ia lebih suka bersantai di atap gedung kelas 10 dari pada yang lain.


Xander menghirup oksigen dalam-dalam sambil merentangkan kedua tangannya. Seketika ia teringat dengan keadaan saat ini, bernafas dengan nyaman seperti yang dilakukannya tadi tidak akan dinikmati setiap hari.


Masalah akan terus datang di hidupnya, kecil atau besar Xander harus siap melawannya. Xander teringat dengan sebuah foto yang dikirim Xavier padanya.


Xander mengambil ponsel dan melihat foto tersebut, 3 orang pemuda saling merangkul satu sama lain. Mereka tampak tersenyum lebar dengan pakaian rapi, di belakang foto itu terdapat tulisan dengan bahasa Swiss.


"Apa kakek berasal dari Swiss?" gumam Xander.


Xander kembali memasukan ponselnya ke dalam saku, ia menatap ke bawah atap melihat beberapa orang di sana.


.....¤◇¤.....


10.10 WIB


Jakarta, Winter's High School.


"Lo kenapa sih ngikutin gue terus?" kesal Kanaya.


"Emang kenapa? Gue pengen jalan bareng lo," jawab Leon.


Semenjak bel istirahat berbunyi, Leon senantiasa membuntuti Kanaya kemanapun dia pergi. Kanaya risih dengan keberadaannya, ia ingin bebas dari Leon.


Ck! Nyebelin banget sih!


"Leon, lo bisa kan pergi bareng Raka? Bukannya kalian temenan?"


"Raka lagi bareng ceweknya, gue ditinggal sendiri di kelas. Makanya dari tadi gue ngikutin lo!" jawab Leon.


"Ya ampun ...." Kanaya menepuk dahinya.


Lantas ia bergegas menjauh dari Leon menuju perpustakaan, Leon tak menyerah ia kembali mengikuti Kanaya sampai masuk ke dalam perpustakaan.


Kanaya berkeliling ke setiap rak buku, mencari-cari sebuah buku yang ingin ia baca. Saat menemukannya, Kanaya tidak bisa mengambilnya sebab buku itu berada di saf paling atas.


Kanaya berjinjit guna mengambil buku tersebut, namun usahanya sia-sia karena meski ia berjinjit dirinya tidak akan menggapai buku itu.


Sebuah tangan kekar terulur di atasnya mengambil buku yang dicari Kanaya.


"Ini buku yang lo mau?" tanya Leon menyerahkan buku itu ke hadapan Kanaya.


"Lo masih ngikutin gue?" tanya Kanaya kesal, ia mengambil kasar buku yang ada di tangan Leon.


"Iya, gue kan udah bilang kalo gue mau jalan bareng lo," jawab Leon.


"Leon, please jangan ngikutin gue lagi. Lo udah kayak anak ayam yang ngikutin induknya, tau gak?" kesal Kanaya.


"Gak apa-apa, anak ayam kan lucu. Kayak lo!" sahut Leon, Kanaya melongo.


"Apa-apaan, masa gue disamain sama anak ayam?"


"Canda, lo cantik kok. Imut, lucu lagi, pokoknya paket komplit!" ucap Leon.


Kanaya membuang nafas panjang, lantas ia memilih untuk pergi dari Leon. Akan tetapi, Leon mencegahnya. Leon menghalangi jalan Kanaya dengan pergelanga tangannya.


Leon mengunci Kanaya dengan kedua tangan kekarnya, Kanaya mengernyitkan dahi menatap Leon dengan bingung.


"Lo kenapa sih?" tanya Kanaya.


"Lo cantik Kanaya," ujar Leon.


"Apaan sih? Gak jelas, tau gak!"


"Gak masalah, karena yang jelas itu ada di depan mata gue," sahutnya.


"Apa?" Kanaya menaikan sebelah alisnya.


"Lo! Lo jelas-jelas cantik dan imut, gue suka," ungkapnya.


Kanaya mengusap wajahnya lalu menatap tajam pria di depannya ini. "Leon, berhenti ganggu gue!"


Kanaya mendorong dada Leon hingga menjauh darinya, lalu Kanaya beranjak pergi dari tempat tersebut. Leon menatap kepergian Kanaya dengan senyum di wajahnya.


Lo berhasil bikin gue suka sama lo! Dan gue gak bakal lepasin lo, Kanaya!


......Xiexie......